Demi terbebas dari tekanan Melia—ibunya, Olla memutuskan menikah dengan pria pilihan Melia bernama Alvin. Seorang pengusaha muda yang begitu kaku dan sombong.
Ia memberikan semuanya, agar di hari yang sama dia bisa melarikan diri dan hidup bebas.
Namun, kaburnya Olla setelah malam pertama, justru membawa petaka bagi Alvin Perkasa. Bagi Alvin, Olla adalah syarat mutlak agar dia bisa merebut kembali perusahaan warisan milik ibunya yang kini dikuasai oleh ayah dan kakak tirinya.
Bermacam cara Alvin lakukan, hingga akhirnya dia berhasil menemukan Olla, tetapi wanita itu justru selalu berhasil kabur setiap kali Alvin berusaha membawanya kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon misshel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebilah Sembilu Di Tangan Suamiku; Theresia
Hanya saja ... menjinakkan wanita itu sangat susah.
Alvin perlahan membuka pintu kamar yang ditempati Olla. Di luar, sudah banyak warga sekitar yang ingin memeriksakan diri, jadi Alvin tidak punya pilihan selain segera membuat perjanjian dengan wanita itu.
Begitu masuk, Alvin bertatapan dengan Olla yang duduk di ranjang. Sudah cantik dengan jas dokternya. Jujur saja, dengan kacamata itu, Alvin tidak mampu berkata apa-apa selain terpesona.
"Di luar sudah banyak yang menunggu aku, kan?" Olla menarik lengan jas dokternya hingga setengah lengannya terlihat. Ia menatap Alvin lelah. "Aku harus bekerja!"
"Dan merencanakan kabur lagi, kan?" potong Alvin perlahan tersulut.
"Kalau nggak sibuk, sih ... rencananya iya," jawab Olla santai. Memangnya siapa yang ingin menghabiskan waktu dengan orang nafsuan kaya gitu?
Dih, ogah banget ya!
"Jadi apa pendapatmu jika operasi Mama Melia gagal?" Alvin memilih rencana paling buruk yang pernah ia lakukan. Menjadi seperti seorang pecundang, pengecut murahan yang memakai orang lain untuk dijadikan sandra.
Olla melirik Alvin, begitu tak habis pikir dengan pria ini. Apa Alvin tidak melihat betapa hubungan ibu-anak diantara dia dan mamanya itu snagat tidak harmonis? Sangat buruk bahkan sudah masuk ke tahap toxic parah?
Olla semula membenarkan rambutnya, kini ia biarkan susunan rambut yang susah payah ia jalin itu kembali berantakan. Lantas dengan pelan dan pasti, Olla mendekat hingga wajah mereka saling beradu.
"Mama hanya akan menjalani liposuction doang, atau paling buruk, dia akan ambil lemak di kantung mata ... jadi apa yang mesti gue takutkan, ha?"
Ucapan Olla membuat Alvin kesal. Sialan, jadi Olla sudah tahu, ya?
"Dan ...?" Olla melanjutkan dengan raut wajah yang acuh.
Alvin semula mengalihkan bola matanya dari mata Olla, kini menatap wanita itu tanpa berkedip.
"Mari kita biarkan saja dia mati, kan? Seorang ibu tidak akan pernah menjual anaknya hanya demi uang ...!" Olla menggerakkan jarinya ketika menyebut uang.
Alvin kaget. Ucapan Olla agak sadis. Tapi, apa benar seperti itu? Hubungan mereka kaya apa sih?
Olla mengerti apa yang dipikirkan Alvin, jadi dia tersenyum sinis.
"Mama bilang aku anak yang baik, kan? Yang nurut, yang beli ini itu dari uang kamu setahun belakangan?"
Itu benar, kan? Alvin bahkan menganggarkan uang untuk biaya perawatan yang kata Mama Melia adalah untuk Olla.
"Meski aku nggak kerja, tapi aku nggak butuh apapun dari kamu, bahkan sampai ngemis ke kamu lewat Mama!"
Alvin tertohok mendengar itu.
Olla berpaling untuk menghadap jendela. "Aku pikir, warisan yang kamu dapat sudah lebih dari cukup, kan? Jadi aku beri kamu sebuah pernikahan tanpa syarat, tanpa kewajiban untuk menafkahi atau berurusan sangat rumit dengan orang kaya aku, Al ...." Olla memutar badan menghadap Alvin lagi.
"Tapi kenapa kamu malah cari masalah sama aku?" Olla tidak habis pikir. Uang yang dia curi, kah masalahnya?
"Aku—"
"Jawaban dari pertanyaanmu hanya akan bisa kamu ketahui jika kamu ikut denganku kembali ke rumah orang tuaku!" jawab Alvin dengan helaan napas berat.
"Jawab saja di sini, Al ... hal rumit apa yang tidak bisa aku pahami, memangnya?" Olla kesal.
"Bukan soal itu, tapi ... soal bagaimana kau menilai aku dan semua masalahku!"
Olla menatap Alvin penuh keheranan.
Alvin menganggukkan kepalanya. "Kata-kata tidak akan mampu menggambarkan bagaimana keadaanku sekarang."
Olla menilai Alvin terlalu mendramatisir keadaan. Di dunia ini, siapa yang paling menyedihkan selain dia? Alvin orang kaya, bahkan sudah ada warisan yang nilainya bisa membeli sepruh wanita di dunia. Tapi kenapa mesti dia? Olla yang jadi pilihan Alvin diantara ribuan wanita, yang masalahnya sudah bejibun, yang hidupnya sudah sangat rumit? Kenapa?
"Al ... aku nggak bisa—"
"Bisa, atau Rere yang harus jadi gantimu?" Alvin mengeluarkan ponsel di mana Devon berhasil menemukan Theresia atau Rere, anak adopsi Olla. Devon mencarinya melalui yayasan penyalur pengasuh, tempat Olla mencari pengasuh dan menitipkan Rere sementara waktu.
Olla berusaha tidak terpengaruh. Tetapi karena dia sendiri sedang rindu pada anak itu, jadi dia gemetaran.
"Ikut aku, atau Rere hanya akan jadi kenanganmu!"
ada apa dengan kak misshel?
tumben2an ini
Hanya karena wasiat harus memiliki pasangan baru dapat mewarisi bisnis tersebut, bukti nyata seperti buku nikah sudah cukup untuk memenuhi syarat. Hal seperti cinta tidak dapat dijadikan syarat karena sesungguhnya perasaan adalah suatu hal yg tak bisa di lihat, bisa dibuktikan tapi tetap tidak diketahui bukti tersebut tulus atau tidak.
Jadi, si tua Andika dan Damian kalian yg tidak memiliki perasaan dan hanya dibutakan harta harusnya lebih paham hal tersebut tapi malah sok² bijak/baik + sok tau menilai pernikahan seseorang demi mempertahankan yg bukan milik kalian. Sudah Jelas Tololnya + tak Tau malunya deh😏