Pernah merasa goblok saat mencintai seseorang?
Tenang, kalian tidak sendirian! Karena aku juga masuk dalam antrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi Artikasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bagai disambar petir di saat itu juga tubuhku mematung. Kedua lututku bahkan terasa ingin ambruk bak habis tersandung. Tersandung kenyataan pahit yang hampir saja membuatku pundung.
Sedari awal sepertinya takdir baik sama sekali tidak berihak padaku. Walaupun memang tidak bisa kupungkiri, bahwa Anis masih tetap menganggap keberadaanku. Bahkan ia sudah menyatakan bahwa ia juga mencintaiku. Paling tidak itu sudah cukup membuatku terharu.
Namun apa benar ia sudah bertunangan? Aku malah tidak percaya sebelum ia kembali menjelaskan.
"Siapa pria yang beruntung itu?" Dengan suara yang masih bergetar, kucoba untuk menagih penjelasan.
"Namanya Abdi Nusa. Seorang Pilot dari Pasukan TNI Angkatan Udara," jawabnya dengan suara parau. "Aku tidak mencintainya, Ru. Tapi Papa dan Mama yang memaksaku."
Belum sempat aku bertanya lebih lanjut, ia sudah menceritakan alasannya. Air pilu di kedua pipinya semakin mengalir deras bak keluar dari saluran pipa.
Sudah jelas bahwa ia tak menghendaki pertunangan itu. Kuhela napas lega karena ternyata hatinya memang hanya tercipta untukku. Bukannya narsis, namun itulah yang dia katakan padaku.
Kurengkuh tubuh rapuhnya dalam sekali dekapan. Ia semakin terisak di dalam pelukan. Bisa kurasakan getaran tubuhnya yang semakin memilukan.
"Kenapa kamu lama tidak menghubungiku, Ru? Kenapa kamu menghilang begitu saja? Kenapa kamu bersikap seolah tak pernah menginginkanku lagi selama ini?"
Berondongan pertanyaan darinya kembali membuat hatiku seperti disirami air keras. Perih, pedih dan mengeras. Ternyata tanpa aku sadari dia sangat menginginkanku dalam harapan yang sudah hancur terhempas.
"Sekarang jariku telah terikat, Ru. Gak akan ada lagi yang bisa kamu lakukan. Huhuhu ...." Tangisan Anis kembali pecah bersamaan dengan derasnya air hujan.
"Kapan kalian akan menikah?" Aku dengan nada sok tegar, masih mendekap hangat tubuh Anis di dalam pelukanku.
"Tiga bulan lagi ... hiks ... hiks." Anis menjawab dalam isakan.
Aku tertohok. Haruskah aku menggagalkan rencana pernikahan mereka?
Ah, aku tidak sejahat itu!
Kalau aku sampai melakukan hal tersebut, sama saja aku sudah menikam kedua orang tua Anis dari belakang. Dan otomatis, aku juga sudah mencoreng nama baik keluargaku dengan pedang tak terpandang. Pedang kebutaan dan ketidakwarasanku yang bahkan bisa melabeliku dengan sebutan pecundang.
Oh, Tuhaaan!
Tolong beri aku kekuatan. Tolong berikan juga aku kesempatan untuk melewati hari-hari menuju pernikahan. Pernikahan gadis yang aku cintai dengan sang tunangan yang mungkin akan menjadi hari yang paling menyakitkan.
***
Setelah hari itu Anis lebih sering bertemu denganku. Waktu luang di sela-sela kesibukan pekerjaan masing-masing, kami gunakan untuk sekedar melepas rindu.
Entah ini pengaruh setan ataukah nafsu, setiap hari rasanya aku selalu saja ingin bertemu dengannya. Dan ia pun juga merasakan hal yang sama. Tidak bisa melewati sedetik waktu pun tanpa bersua--begitu katanya. Ada sedikit rasa berdosa pada tunangannya. Namun, jika dipikir lagi, sekarang Anis belum lah sah menjadi istrinya.
Jadi, kembali lagi pada Demi Limanistia. Selama ia melakukannya dengan suka rela, aku pun tidak mungkin tega untuk memaksa.
"Udah kelar latihannya?" tanyaku dari balik sambungan.
"Udah, kamu dimana?" responnya balik dengan nada bicara yang sangat antusias.
Aku menyunggingkan senyuman penuh kemenangan. "Aku jemput ya, kebetulan posisiku gak jauh dari situ."
Tanpa terjadi perdebatan seperti adegan di dalam film-film romantis nasional, ia pun menyetujui tanpa adanya penolakan.
Kuakhiri sambungan dengan wajah sumringah. Lalu, kuinjak pedal mobil, meluncur pada alamat yang memang sudah berada pada satu arah.
***
Mobilku berhenti tepat di gerbang sebuah sanggar dimana tempat Anis melatih siswa bimbingannya.
"Motorku gimana, Ru?" tanyanya ketika sudah memasuki mobilku.
"Gampang," ucapku sembari putar balik, lalu memacu kendaraanku dengan kecepatan sedang.
"Kita mau kemana, sih?" tanyanya lagi yang mungkin mulai penasaran.
"Kejutan," jawabku singkat. Anis pun tampak manggut-manggut dengan senyuman memikat.
Kuulas senyuman serupa dengan terus fokus pada jalanan di hadapan. Jalan yang akan mengantarkan kami ke kediaman. Kediaman abah dan ummiku yang terletak berbeda kecamatan.
Anis menoleh ke arahku ketika mobil yang kukendarai memasuki pekarangan rumah megah milik abahku.
"Kenapa kita ke sini, Ru?"
"Kenapa? Gak suka?"
"Bukan gitu, tapi aku ...."
"Udah, gak papa, ummi pasti seneng banget ketemu kamu."
Pasalnya sudah lama sekali Anis tidak menginjakkan kaki di rumah ini. Mungkin ia merasa segan dan tak enak hati. Sudah kujelaskan padanya agar bisa relax diri, namun sepertinya ia masih saja tidak percaya diri.
"Anis apa kabar? Udah lama gak main ke sini." Ummi dengan wajahnya yang tetap ayu walau telah menginjak usia yang hampir kepala empat, bertanya dengan nada lembut.
"Baik, Tante. Saya ...."
"Anis baru balik dari rantauan, Mi." Kupotong kalimatnya yang terdengar ragu-ragu itu.
"Apaan, sih, kamu?" Ia berbisik di telingaku. Kini ia duduk tepat di sampingku berhadapan langsung dengan abah dan ummi.
Ummi tersenyum tipis, lalu bergegas ke dapur sejenak. Mungkin akan menyiapkan hidangan spesial untuk calon menantu idamannya itu.
Apa?
Menantu idaman?
Oh, ya, aku lupa menceritakannya. Anis adalah menantu idaman ummiku. Saat pertama kali Anis berkunjung ke rumah ini bersama Dini waktu ia duduk di bangku SMA, ummi sudah mulai menyukai perangai, adab, dan tutur bahasanya yang ramah.
Sejak itulah ummi mulai menyukai Anis, dan mengharapkannya sebagai menantu.
Sementara ummi berada di dapur, abah mengambil peran dan mulai menyapa gadisku itu.
"Sekarang kerja dimana, Anis?" Abahku, dengan suara baritonnya bertanya seolah sedang menginterogasi.
Anis menoleh sekilas ke arahku lalu menjawab, "Saya Pelatih Vocal freelance, Om. Tapi sekarang lagi kontrak sama sanggar kabupaten."
"Wah, hebat! Papamu sehat? Udah lama om gak ketemu sama beliau," lanjut abahku sembari menyesap asap kematian yang bertengger gagah di ujung jari tengah dan telunjuknya.
"Alhamdulillah papa sehat, Om."
Ingin rasanya aku tertawa lepas karena melihat ekspresi wajah Anis yang menegang seperti itu. Sekilas kulihat ia memelototiku karena sadar bahwa aku sedang menahan tawaku.
Beberapa menit kemudian, ummi kembali menghampiri kami, lalu menyuruhku membawa Anis menuju meja makan. Gadis itu tampak ragu berbalut rasa malu.
"Gak papa, Nis. Sana makan siang dulu sama Heru. Tante dan Om udah makan tadi." Ummi seakan mengerti dengan perasaan gadis itu.
"I-iya, Tante."
Ia lantas mengekori langkahku setelah berpamitan kepada abah dan ummi.
"Kamu tuh, bener-bener ya, bikin jantungku hampir copot tau gak?!" sergahnya ketika kami berdua sudah berada di meja makan.
"Emangnya kenapa?" Aku merespon sambil terkekeh geli. Kumasukkan satu sendok nasi beserta ikan dan sambal goreng favoritku dalam sekali suapan.
Anis melirikku sinis seakan tidak suka dengan tanggapanku. "Malu tau, Ru."
"Malu kenapa? Lagian abah sama ummi kayaknya seneng banget tuh bisa ketemu sama kamu," ucapku untuk menenangkan hatinya. Tetapi, memang begitulah kenyataannya, wajah abah dan ummi tampak sumringah setelah bertemu dengannya.
Setelah makan siang, aku pamit pada kedua orang tuaku untuk mengantar Anis pulang. Motor Anis yang tertinggal di sanggar pun telah diantarkan ke rumahnya oleh orang suruhanku.
Ketika hendak beranjak keluar, abah memanggilku. Kupinta pada Anis untuk menunggu di mobil, sementara aku kembali menghampiri abah.
"Ada apa, Bah?" tanyaku langsung.
"Kalau mau cari calon istri, ya kayak Anis itu. Pintar, baik, sopan lagi. Papanya juga sahabat abah. Jadi, untuk bibit dan bobotnya udah gak diragukan lagi. Bukan malah kayak gadis-gadis yang sering ke sini itu."
Abah sepertinya menyindirku. Memang benar, kedua orang tuaku selalu menegur jika ada gadis lain yang datang ke rumah menghampiriku. Katakan saja, mereka tidak menyukai gadis-gadis itu. Namun, apa boleh buat gadis-gadis itu yang mengejarku.
Wah, nasrisnya aku!
"Udah terlambat, Bah." Aku tertunduk lesu.
"Kenapa? Apa perlu abah yang bicara sama papanya Anis?" Abah sepertinya belum menangkap makna tersirat dari kalimatku.
"Anis itu calon istrinya orang, Bah. Dia udah punya tunangan."
Sejenak abah mematung. Bayangkan saja ekspresi wajahnya seperti wajahku saat itu yang hampir saja pundung.