NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6 : Dokter Baik

Salah seorang preman langsung melayangkan pukulan ke arah Arga.

Bugh!

Namun Arga dengan sigap menghindar. Sebelum pria itu sempat menarik tangannya kembali, Arga mendorong tubuhnya hingga terjatuh ke tanah.

"Aargh!"

Dua preman lainnya langsung maju bersamaan.

"Kita keroyok dia!"

Arga mundur selangkah sambil tetap berdiri di depan Winarsih. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam.

"Winarsih, mundur!" ucapnya tanpa menoleh.

Winarsih yang masih gemetar segera merangkak menjauh sambil memeluk bagian bajunya yang robek.

Salah satu preman mengambil sebatang kayu yang tergeletak di pinggir jalan. "Mampus lo!"

Ia mengayunkan kayu itu ke arah kepala Arga.

Bug!

Arga menahan serangan itu dengan lengannya hingga wajahnya meringis menahan sakit. Tanpa membuang waktu, ia menendang perut pria tersebut.

Bruk!

Preman itu terlempar dan mengerang kesakitan. Namun, preman lainnya langsung memukul punggung Arga dari belakang hingga membuatnya tersungkur.

"Dokter!" teriak Winarsih panik.

Arga segera bangkit kembali, napasnya mulai memburu. Saat ketiga preman itu kembali mendekat, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara sirene.

Wiuu... wiuu...

Ketiga preman itu langsung menoleh.

"Sial! Polisi!"

"Cabut!"

Tanpa berpikir panjang, mereka bertiga langsung berlari masuk ke dalam kebun tebu yang gelap hingga menghilang dari pandangan.

Arga tidak mengejar, ia lebih memilih menghampiri Winarsih. "Winarsih... kamu tidak apa-apa?"

Winarsih masih menangis, tubuhnya gemetar hebat.

"Saya... saya takut, Dok...."

Arga segera melepaskan jas yang dikenakannya, lalu menyampirkannya ke bahu Winarsih untuk menutupi baju yang robek.

"Sudah... sekarang kamu aman."

Winarsih menggigit bibirnya, berusaha menghentikan tangis, tetapi air matanya justru semakin deras.

"Terima kasih... Dok...."

Tak lama kemudian, mobil patroli melintas. Setelah Arga menjelaskan kejadian singkat itu, polisi segera melakukan pencarian ke sekitar lokasi.

Sementara itu, Arga memandang Winarsih yang masih syok. "Kamu mau ke mana malam-malam begini?"

Pertanyaan itu membuat Winarsih terdiam, ia menunduk. "Saya... sudah tidak punya rumah lagi."

Arga mengernyit. "Maksudnya?"

Pelan-pelan Winarsih menceritakan bahwa dirinya diusir dari rumah mertuanya. Ia tidak menceritakan semua masalah rumah tangganya, tetapi cukup membuat Arga memahami bahwa gadis itu benar-benar tidak memiliki tempat untuk pulang.

Arga terdiam cukup lama. "Kalau begitu... untuk sementara kamu ikut sama saya."

Winarsih langsung menggeleng. "Tidak usah, Dok. Saya tidak ingin merepotkan."

"Ini bukan soal merepotkan. Kondisimu sedang tidak memungkinkan."

"Tapi...."

"Kebetulan di sebelah rumah dinas saya ada rumah kontrakan milik seorang ibu yang saya kenal. Coba kita ke sana dulu. Kalau memang masih ada kamar kosong, setidaknya kamu bisa beristirahat malam ini."

Winarsih kembali menolak. "Saya tidak punya uang untuk membayar kontrakan."

"Soal itu nanti dipikirkan belakangan."

Melihat Winarsih masih ragu, Arga berkata dengan tenang. "Saya hanya mengantarkan, keputusan tetap ada di tanganmu."

Winarsih menatap tasnya yang tergeletak di pinggir jalan. Ia benar-benar tidak memiliki tujuan lain.

Akhirnya, dengan suara pelan ia mengangguk. "Baik, Dok."

Beberapa menit kemudian...

Mobil Arga berhenti di depan sebuah rumah sederhana yang berdampingan dengan rumah dinasnya. Lampu teras masih menyala.

Arga turun lebih dulu lalu mengetuk pintu.

"Assalamu'alaikum."

Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya berusia sekitar lima puluh tahun membuka pintu. "Wa'alaikumsalam, Dok Arga? Malam-malam begini ada apa?"

"Bu Ratna. Maaf mengganggu."

Tatapan Bu Ratna kemudian beralih kepada Winarsih yang berdiri di belakang Arga sambil membawa dua tas. Wajah gadis itu sembap karena terlalu lama menangis.

"Ya Allah... ada apa ini?"

Arga menjelaskan kejadian yang baru saja terjadi tanpa menceritakan hal-hal yang terlalu pribadi.

Bu Ratna langsung memandang Winarsih dengan penuh iba. "Kasihan sekali kamu, Nak."

Winarsih menundukkan kepala.

"Kalau memang masih ada kamar kosong, apakah Ibu bersedia menyewakannya untuk dia?" tanya Arga.

Bu Ratna tersenyum hangat. "Kebetulan kamar sebelah masih kosong."

Wajah Winarsih sedikit berbinar, tetapi ia kembali menunduk. "Maaf, Bu... saya belum punya uang untuk membayar."

Bu Ratna tersenyum lembut. "Soal itu nanti saja, yang penting malam ini kamu punya tempat untuk beristirahat."

Air mata Winarsih kembali menetes. "Terima kasih, Bu."

Bu Ratna lalu menatap Winarsih dengan ramah. "Tapi ada satu aturan di rumah kontrakan Ibu."

Winarsih segera mengangguk. "Apa itu, Bu."

"Selama tinggal di sini, tidak boleh membawa laki-laki masuk ke kamar atau membuat keributan. Ibu ingin semua penghuni merasa aman dan nyaman."

Winarsih mengangguk tanpa ragu. "Baik, Bu. Saya akan mematuhinya."

Bu Ratna lalu menoleh kepada Arga sambil tersenyum kecil. "Termasuk Dokter juga, ya."

Arga yang sempat terpaku langsung tersenyum canggung. "Tentu, Bu. Saya mengerti."

"Bagus. Bukan Ibu tidak percaya, tapi aturan tetap aturan."

Arga mengangguk hormat. "Saya paham."

Bu Ratna kemudian mengambil kunci kamar dan menyerahkannya kepada Winarsih. "Mulai malam ini, anggap saja tempat ini sebagai tempatmu beristirahat. Semoga kamu betah ya."

Winarsih menggenggam kunci kamar itu dengan kedua tangan. Dadanya terasa hangat. Sejak diusir dari rumah mertuanya, baru kali ini ada seseorang yang benar-benar peduli padanya.

Ia menoleh kepada Dokter Arga. Mata yang sejak tadi sembap karena menangis kembali berkaca-kaca.

"Dok..."

Arga menatapnya lembut. "Iya?"

"Terima kasih banyak. Kalau bukan karena Dokter... saya benar-benar tidak tahu harus ke mana malam ini."

Arga tersenyum tipis. "Jangan dipikirkan. Yang penting sekarang kamu sudah aman."

Winarsih menggeleng pelan. "Bagi Dokter mungkin ini hal biasa. Tapi buat saya... bantuan Dokter sangat berarti."

Arga hanya mengangguk kecil. "Sudah, istirahat saja. Kamu pasti masih syok."

"Iya, Dok." Winarsih kemudian menoleh kepada Bu Ratna. "Terima kasih juga, Bu, sudah mau menerima saya."

Bu Ratna mengusap pelan lengan Winarsih. "Istirahat ya, Nak. Besok pagi baru kita bicarakan semuanya."

"Baik, Bu." Winarsih kembali membungkukkan badan dengan sopan. "Kalau begitu saya permisi."

Ia membawa kedua tasnya menuju kamar yang berada di samping rumah utama. Setelah membuka pintu perlahan, Winarsih masuk ke dalam lalu menutup pintu.

Ruangan itu memang sederhana. Hanya ada sebuah ranjang kayu, lemari kecil, meja, dan kipas angin. Namun bagi Winarsih, kamar itu terasa jauh lebih menenangkan daripada rumah mertuanya.

Begitu kedua tas diletakkan di lantai, lututnya langsung lemas. Ia terduduk di tepi ranjang, air mata yang sedari tadi berusaha ditahannya akhirnya kembali jatuh.

"Ya Allah..." Winarsih memeluk kedua lututnya sambil menangis dalam diam.

Sementara itu, di luar rumah...

Dokter Arga masih berdiri di teras bersama Bu Ratna. "Terima kasih banyak, Bu, sudah bersedia menolong Winarsih."

Bu Ratna mengembuskan napas pelan. "Hati Ibu tidak tega melihat keadaannya. Wajahnya masih sangat muda, tapi cobaannya berat sekali."

Arga mengangguk pelan. "Saya juga tidak menyangka akan bertemu dia dalam keadaan seperti itu."

Bu Ratna lalu tersenyum kecil. "Dokter kelihatannya sangat perhatian sama gadis itu."

Arga sedikit salah tingkah. "Saya hanya membantu orang yang sedang kesusahan, Bu."

"Iya... Ibu tahu."

Bu Ratna tidak melanjutkan godaannya. Ia justru mengambil buku catatan kecil yang biasa digunakan untuk mencatat uang sewa para penghuni kontrakan.

"Kalau begitu, besok saja saya bicarakan soal biaya sewanya dengan dia."

Mendengar itu, Arga menggeleng pelan. "Bu..."

"Iya, Dok?"

Arga mengeluarkan dompet dari saku celananya. Ia mengambil beberapa lembar uang lalu menyerahkannya kepada Bu Ratna.

"Ini untuk biaya sewa kamar Winarsih beberapa bulan ke depan."

Bu Ratna terkejut. "Lho, Dok... jangan begitu."

"Tolong diterima, Bu."

"Nanti dia pasti tidak enak kalau tahu."

"Itulah sebabnya saya minta Ibu jangan memberi tahu dia."

Bu Ratna memandang Arga beberapa saat. "Tapi, Dok...."

"Saya tidak ingin dia merasa punya hutang budi. Anggap saja dia membayar sewanya sendiri."

Bu Ratna tersenyum haru melihat ketulusan dokter muda itu. "Dokter benar-benar anak baik."

Arga hanya tersenyum tipis. "Saya hanya ingin dia bisa beristirahat dengan tenang tanpa memikirkan biaya dulu."

Akhirnya Bu Ratna menerima uang itu. "Baiklah. Ibu janji tidak akan memberitahunya."

"Terima kasih, Bu."

"Semoga kebaikan Dokter dibalas oleh Allah."

"Aamiin."

Arga menatap sesaat ke arah jendela kamar yang kini ditempati Winarsih. Lampunya sudah menyala redup. Dalam hati, ia berharap gadis itu bisa melewati malam yang berat ini dengan tenang.

Tanpa disadari Arga, di balik jendela, Winarsih yang baru saja hendak menutup tirai sempat melihat siluet dokter itu berdiri di halaman sebelum akhirnya masuk ke mobil dan meninggalkan rumah kontrakan. Gadis itu mengusap air matanya pelan.

"Terima kasih, Dokter Arga..." bisiknya lirih, sama sekali tidak mengetahui bahwa biaya sewa kamarnya telah dibayar diam-diam oleh pria yang baru beberapa hari dikenalnya itu.

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!