NovelToon NovelToon
Cherophobia

Cherophobia

Status: tamat
Genre:Teen Angst / Persahabatan / Romansa / Tamat
Popularitas:28.5k
Nilai: 5
Nama Author: RR

Kafka Anzalion yang sedari masih bayi hidupnya tidak di inginkan orang tuanya karena kelahirannya adalah sebuah kesalahan. Cowok itu tumbuh besar di bawah asuhan seorang penjual bunga yang hidup sederhana.

Kafka bahagia bersama ibu angkatnya. Tapi semua itu berubah setelah kepergian Anggi yaitu ibu angkatnya tepat di hari ulang tahunnya. Sejak saat itu Kafka merasa tidak layak bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ke Apartemen Yohan

Sepulang sekolah Kafka naik bus bersama Yohan, Azam dan juga Nathan. Mereka berempat searah jika lewat jalur utama, karena Nathan tinggal di Vaga Apartemen yang lokasinya tidak jauh dari sekolah.

"Tumben lewat sini? Bukannya Lo malas lihat keramaian?" tanya Nathan yang duduk di samping Azam.

"Gue mau ke rumah si Yohan." jawab Kafka.

"Ngapain?" tanya Azam.

"Mau belajar beladiri." jawab Kafka sambil tersenyum.

Azam dan Nathan mengangguk mengerti. Azam tahu jika beladiri merupakan keterampilan yang setidaknya harus dimiliki setiap orang agar bisa menjaga diri. Sedangkan Nathan sudah tentu tahu apa alasan Kafka ingin belajar beladiri.

Oh, iya Kafka sudah izin ibunya lewat pesan singkat sebelum naik bus tadi kalau dia mau pergi ke rumah Yohan untuk latihan beladiri. Jadi bukan tanpa izin Kafka pergi.

"Patung!" panggil Kafka.

Yohan langsung memejamkan matanya dan menghela napasnya menahan kesal. Cowok itu menutup handphone dan beralih menatap Kafka yang duduk di sampingnya.

"Santai aja kali natapnya." ucap Kafka sambil cengengesan.

"Apa?" tanya Yohan.

"Nanti Lo bakal panggil guru Lo buat ngajarin gue?" tanya Kafka.

Yohan diam sejenak. Lalu cowok itu fokus ke handphonenya lagi tanpa menjawab pertanyaan dari Kafka.

"Woi! Ditanya jawab!" ucap Kafka dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.

Nyali Kafka mendadak ciut setelah mendapatkan tatapan menyeramkan dari Yohan. Padahal tadinya Kafka berani meninggikan suara, setelah di tatap oleh Yohan cowok itu langsung kicep dengan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V sambil cengengesan.

Azam dan Nathan langsung tertawa. Interaksi antara dua orang dengan sifat yang berbanding terbalik sangatlah menarik untuk dilihat, tentunya juga lucu. Kafka yang ceria dan cerewet dan Yohan yang dingin, kaku, irit bicara, dan agak galak

"Btw beladiri apa yang guru lo mau ajari ke gue? Taekwondo?" tanya Kafka.

"Karate." jawab Yohan singkat.

Pundak Kafka merosot lesu. Padahal cowok itu berharap di ajari seni beladiri taekwondo. Seperti yang sering dia lihat di televisi. Tapi tidak apa lah, yang penting dirinya bisa beladiri untuk melindungi dirinya sendiri dan juga orang-orang di sekitarnya.

"Emang guru Lo mau ngajari gue?" tanya Kafka lagi.

Yohan tidak menjawabnya. Telinga cowok itu sudah di sumpah menggunakan airpods sejak beberapa detik yang lalu. Azam langsung tertawa mendengar pertanyaan Kafka barusan.

"Dia yang akan ngajarin Lo." jawab Azam sambil tertawa.

"Dia bisa karate?" tanya Nathan.

"Udah pro kah?" tanya Kafka.

Azam tertawa kecil kemudian menjawab pertanyaan mereka. "Hm, pro banget. Pemegang sabuk hitam karate dia." jawab Azam sambil menunjuk Yohan menggunakan dagunya.

Kafka melongo dan menoleh melihat Yohan yang sedang memainkan handphonenya. Kafka melepas airpods di telinga kiri Yohan Kemudian mengatakan. "Ajari gue guru Yoh- eh ralat guru patung." ucap Kafka disusul tawanya.

Setelah sekitar 30 menit mereka naik bus dan melewati 3 perhentian sampailah Kafka, Azam, dan Yohan di Alpha Apartemen. Azam naik ke lantai 25 sedangkan Kafka dan Yohan keluar lift di lantai 23. Mereka menuju apartemen Yohan, yaitu nomor 136.

"Woah, luas banget rumah Lo." ucap Kafka sambil melihat setiap sudut apartemen Yohan.

"Duduk!" perintah Yohan. Setelah mengatakan itu Yohan masuk ke kamarnya.

Kafka menganggukkan kepalanya dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Pandangan cowok itu kembali melihat seisi ruangan. Sangat luas. Ruang tamu, dapur dan ruang makan menjadi satu ruangan dengan rak buku sebagai pembatas.

"Ibu pasti senang kalau tinggal di rumah sebesar ini. Gak panas karena ada AC. Tunggu Kafka sukses ya Bu, nanti Kafka beliin rumah yang kayak gini." batin Kafka.

Drrtt... drrtt... tiba-tiba handphonenya berbunyi. Dilihatnya layar handphone yang menampilkan nomor tidak di kenal. Kafka segera menjawabnya.

"Halo?"

"Halo, Kafka. Saya tante Olivia. Mamanya Kaila. Toko bunga kenapa tutup ya? Bu Anggi saya telepon juga handphonenya tidak aktif." ucap seseorang di balik telepon.

"Maaf tante, saya tidak tahu ibu dimana. Soalnya tadi pagi toko masih buka." jawab Kafka.

"Yah, pada saya mau pesan bunga untuk acara di kantor." ujar wanita tersebut.

"Nanti saya sampaikan ke ibu, Tante."

"Baiklah, tolong ya Kafka. Terimakasih."

"Iya Tante, sama-sama."

Tut. Sambungan telepon terputus.

Kafka terdiam menatap handphonenya. Cowok itu mencari nomor ibunya di daftar kontak dan segera menghubunginya karena khawatir. Anggi sama sekali tidak mengatakan apa-apa tadi pagi, bahkan saat dia telepon tadi ibunya tersebut juga tidak bilang apapun jika akan pergi. Beberapa kali Kafka mencoba menghubungi ibunya, tapi tidak di tersambung. Sampai di percobaan ke 5 Kafka menelepon barulah telepon tersambung dan di angkat oleh ibunya.

"Halo Kafka? Kenapa nak?" tanya ibunya di balik telepon.

Kafka mengerutkan alisnya ketika samar-samar mendengar keramaian dari balik telepon.

"Ibu dimana? Kayaknya ramai banget." tanya Kafka.

"Oh, ibu di toko benih bunga." jawab ibunya.

"Ah begitu. Oh iya Bu, tadi Tante Olivia telepon Kafka. Katanya mau pesan bunga untuk acara di kantornya." ucap Kafka menyampaikan pesan dari wanita yang merupakan pelanggan di toko bunga mereka.

"Tante Olivia? Makanya Kaila?"

"Iya Bu."

Tiba-tiba terdengar suara bel dari balik telepon. 'Ding Ding Ding. Panggilan kepada Nyonya Anggika Pratama. Silahkan--'

"Bu? Kenapa suaranya seperti di rumah sakit?" tanya Kafka.

"Gak kok, Yaudah ibu tutup ya."

Tut. Sambungan telepon terputus. Kafka semakin bingung ketika ibunya buru-buru mematikan telepon ketika suara itu terdengar.

"Di toko bunga ada bel begitu?" gumam Kafka.

Disaat Kafka bengong, tiba-tiba Yohan melemparkan sebuah baju berwarna putih bersih dan juga sabuk putih. Itu merupakan seragam karate milik Yohan dahulu.

"Pakai!"

"Disini?" tanya Kafka dengan wajah polosnya.

Yohan memutar bola matanya dengan malas, kemudian cowok itu menarik kerah seragam Kafka dan menyeretnya menuju kamar mandi yang ada di dekat dapur.

Yohan terdiam mengingat pembicaraan Kafka dengan ibunya tadi di telepon. Dia dengar dengan jelas Kafka menyebutkan kata rumah sakit. Cowok itu langsung teringat saat dia bertemu dengan ibunya Kafka di rumah sakit sebelum masuk SMA. Saat itu dia belum mengenal Anggi.

"Ibunya sakit?" batin Yohan. Di tengah lamunannya tiba-tiba bel berbunyi berulang kali. Yohan menatap pintu utama dengan tatapan kesal, cowok itu tahu betul bahwa Yora yang membunyikan bel tanpa jeda seperti ini.

Ceklek.

"Annyeong!" sapa Yora menggunakan bahasa Korea dengan menampilkan wajah imutnya.

"Apa?" tanya Yohan.

"Mama belum pulang, artinya di rumah belum ada makanan. Gue numpang makan di rumah Lo." ucap Yora kemudian langsung nyelonong masuk ke dalam apartemen Yohan.

Cowok itu tidak mempedulikan Yora dan segera menutup pintu. Yohan sudah terbiasa dengan itu karena orang tua mereka memanglah sibuk, jadi Yohan yang selalu memasak untuk adik sepupunya. Mamanya merupakan seorang dokter spesialis jantung dan papanya adalah CEO sebuah perusahaan besar. Sedangkan Mama dan Papanya Yora adalah seorang dosen yang mengajar di universitas yang ada di luar kota.

...***...

...Bersambung... ...

1
lyfiaa🎀
gilaaa sih
ni cerita bener² the best bgtt🤩💯
Vvirgo☆
BEST
Vvirgo☆
Thor S2 nya Thor please 🙏
pas Kafka nya udah jadi dokter
Riniii 💜: semangaat thor. ditunggu S2 nyaaaa
total 3 replies
Fadiylah19
kok tamat 😟😟😩😩😫😫😭😭😭
Fadiylah19
semangat thor,,next,,,, 🙃🙃🙃
Fadiylah19
tuh kan apa ku bilang,,,yu lanjut ✊✊
Fadiylah19
ohooooo,boleh nebak ga sih,,,
jangan" ada foto Natasha di sana🤔🤔🤔🤔d tunggu lah kelanjutannya 😊😊😊
Fadiylah19
pemikiran mu mulai terbuka Natasha,cewe klo mau dketin cowo, sewajarnya aja,jngan over ya,,, biar gak bikin ilfeel 👌👌👌karna klo emang sama" suka si cowo jga lama" peka ko sama perasaan kmu😉
Fadiylah19
entah kenapa gak terlalu suka sama cwe yg agresif,meski untuk mendapatkan/mencapai sesuatu itu harus berjuang,tp ttp aja kurang srek klo yg agresif si cewenya,,,🙏🙏hanya pendapat ✌🏻✌🏻✌🏻
Fadiylah19: ok,, selalu d tunggu kejutan" selanjutnya 😉
total 6 replies
Fadiylah19
kafka dah gede🤭🤭mulai tertarik sama cewe,cuma sayang,cewe'a duluan yg bilang suka,,agak gmna gituh😅
Fadiylah19
next,,,
Fadiylah19
bnerkan,udah pasti luka sayat yg d sembunyiin pke gelang,tp apa yg bikin arzel lukain diri sendiri,,,
Fadiylah19
ada apa sama arzel?,,,,ga ada doble up kah🙁🙁
LR
sama, aku juga kebut-kebutan kalau lagi seperti itu
Fadiylah19
siapakah gerangan yg di balkon itu,, oh apa mungkin saudara seayah kafka,,mungkin🤔🤔🤔 entahlah🤷‍♀️🤷‍♀️🤷‍♀️,,,,next,, di tunggu kelanjutannya 😊😊😊
LR
akhirnya terbongkar 🍃
LR
antara muji sama ngejek🤣🏃🏻‍♀️
Fadiylah19
yooo lanjuutt,makin dibuat penasaran saya🤭
LR
Kafka 🥺
LR
Kafka keinginan mu akan terwujud tanpa adanya luka yang terselip, tapi nanti 🍃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!