Dicintai dua orang yang mereka adalah kakak beradik membuat Arra bimbang bukan main. Awalnya ia jatuh cinta dengan sang adik, namun kebersamaan Arra dengan sang kakak, Edo Ajiwasita, membuat cinta itu lambat laun tumbuh.
Edo yang terlalu mencintai sang adik, lebih memilih mengalah, meskipun Arra protes dan merasa di permainkan.
Bagaimana kisah mereka? Apakah benar Edo ikhlas melihat gadis yang ia cintai bersanding dengan sang adik? Atau ada jalan lain yang membuat mereka bisa bersatu?
Spin off dari Novel pertama saya di platform ini "CINTA JAS PUTIH"
Sangat disarankan untuk mampir kesana sejenak supaya tahu awal mula kisah ini berawal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elza Veronika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Cemburu, Arra
Edo mematikan mesin mobilnya dan bergegas melangkah masuk ke dalam gerbang kost Arra.
Ia bebas keluar masuk karena memang diperkenalkan pada pemilik dan security kost sebagai keponakan dari papanya Arra, itu sedikit menguntungkan bukan?
Ditangannya ada beberapa plastik berisi Boba, takoyaki dan setengah lusin donat kesukaan Arra. Edo menghela nafas berat sebelum kemudian mengetuk pintu kamar Arra.
Tak perlu waktu lama Arra sudah membuka pintu kamarnya, senyumnya mengembang menyambut kedatangan Edo, membuat hati Edo yang dongkol setengah mati karena Dicky yang mengantar gadisnya itu pulang, mendadak lenyap.
"Masuk kak!" guman Arra lalu membuka lebar-lebar pintu kamarnya.
"Tidak usah, kakak cuma mau antar ini saja kok. Dan memastikan bahwa kamu benar-benar dalam kondisi yang baik-baik saja," tolak Edo kemudian menyodorkan plastik-plastik yang ia bawa.
"Astaga, kenapa banyak sekali, kak?" Arra terperanjat ketika plastik itu sudah berpindah ke tangannya. Ia menatap Edo yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Buat teman baca buku, kamu benar-benar baik-baik saja bukan? Tidak ada yang kurang ajar padamu kan?" cecar Edo sambil memandangi Arra dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Arra sontak tertawa, "Astaga, aku baik-baik saja kak!" Arra menatap wajah teduh itu, senyumnya makin mengembang, wajah itu benar-benar enak dipandang!
"Syukurlah, kakak benar-benar khawatir, Ra. Lain kali kakak usahakan tidak telat lagi menjemput mu," Edo benar-benar kesal dengan dirinya sendiri.
"Sudahlah, Arra mengerti kok kak."
"Aku cuma tidak ingin kamu sampai kenapa-kenapa, Ra. Hanya itu," desis Edo lirih, tangannya sontak terulur mengelus lembut kepala Arra, lalu turun mengelus pipi halus gadis itu.
Arra mematung di tempatnya berdiri, ia seolah membeku dengan sentuhan Edo di wajahnya itu.
"Baik, karena kakak sudah memastikan dengan mata kepala sendiri bahwa kamu sudah di kost dan baik-baik saja, kakak sekarang izin pulang ya," Edo tersenyum, dapat akses bebas masuk ke kost Arra bukan berarti membebaskan dia untuk masuk ke kamar Arra bukan? Apalagi kalau hanya berdua seperti ini, ia laki-laki normal!
"Oke, sekali lagi terimakasih banyak ya, kak. Maaf Arra merepotkan," desis Arra sambil tersenyum manis.
"Tidak apa, kamu cepat istirahat dulu, nanti sore atau malam baru belajarnya ya," Edo kembali mengelus lembut pipi Arra, ia kemudian berbalik dan melangkah meninggalkan Arra yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
Jantung Edo berdegup kencang, kulit Arra memberi sensasi luar biasa dalam dirinya. Tidak! Ia tidak boleh melakukan hal yang tidak-tidak pada gadis itu, ia masih kecil! Dan Edo tidak ingin merusak gadis kesayangannya itu, ia sudah berjanji bahwa ia akan menjaga sosok itu dengan sebaik-baiknya.
Sementara itu, Arra masih tetap berdiri di depan pintu kamarnya, ia menatap nanar kepergian sosok itu. Kenapa rasanya hampa? Kenapa Arra ingin sosok itu selalu bersamanya? Kenapa dengan dirinya ini?
Edo sudah menuruni tangga, Arra menghela nafas panjang, ia mengelus pipinya yang tadi dielus dengan begitu lembut oleh Edo. Kenapa ia sangat suka dengan sentuhan itu? Kenapa rasanya begitu aneh?
Arra menggeleng perlahan, ia kemudian masuk dan menutup rapat-rapat pintu kamar kostnya. Tepat di saat itu lah iPhone miliknya berdering, Arra bergegas melangkah meraih benda itu, senyumnya mengembang ketika membaca siapa yang meneleponnya itu.
"Hallo papa? Arra kangen!"
***
Edo membawa Honda Civic turbonya itu menuju kost Zadid. Kemana lagi memangnya ia pergi selain kesana? Kabar terkahir yang ia dapatkan Wahyu, teman sekelas mereka juga sedang berada di sana.
Edo langsung memarkirkan mobilnya lalu turun dan melangkah keluar dari mobil, benar saja mereka berdua sedang sibuk membaca buku-buku kedokteran di depan kamar kost Zadid.
"Nah datang juga lu!" wajah Wahyu sumringah ketika melihat sosok Edo muncul.
"Lu nggak bawa camilan apa gitu kek?" protes Zadid ketika Edo muncul dengan tangan kosong.
"Pesen gofood ajalah, jangan bawel gitu. Pusing pala gue!" gerutu Edo lalu duduk dan bersandar di samping Zadid.
"Mikir cewek inceran elu lagi?" tebak Zadid tepat sasaran.
Mendengar kata cewek, Wahyu bergegas menutup bukunya dan menyimak dengan serius pembicaraan dua temannya itu. Edo jatuh cinta? Wah rekor dong! Siapa gadis yang kemudian bisa mencuri hati sosok Edo itu?
"Belum selesai gue jalanin saran elu nih, saingan gue udah nambah aja!"
Zadid tercengang, gila! Most wanted girl banget dong? Tapi siapa sih yang nggak ngincer cewek model kayak gitu? Cakep, jenius lagi!
"Siapa?"
"Anak temen bokap juga, adik tingkat semester lima dia sekarang," jawab Edo kesal.
"Siapa namanya?" Zadid benar-benar penasaran, sedangkan Wahyu masih serius menyimak, gadis mana sih yang Edo bidik?
"Dicky Chandra Wijaya."
Zadid hanya mengangguk pelan tanda mengerti. Ia tahu juga siapa orang yang Edo sebut tadi, dulu ia ikut BEM fakultas, dan ketika Ospek, Zadid ikut dalam panitia, tentu kenal dong dengan nama yang disebut Edo tadi.
"Yang anaknya putih, tinggi jago main piano itu ya, anak BEM yang hampir dua periode itu?" tanya Wahyu yang juga tidak asing dengan sosok itu.
Edo hanya menghela nafas panjang dan mengangguk.
"Wah berat juga ya," komentar Wahyu sambil menerawang jauh, "Dia masuk jajaran cowok most wanted di kampus, Do."
Edo sontak lemas, Wahyu benar. Dicky punya pesona yang lebih, ditambah dia masuk jajaran BEM juga.
"Gue ada ide supaya elu bisa dapetin tuh cewek tanpa perlu takut kalah dari dia!" guman Wahyu dengan berapi-api.
Edo sontak menoleh, Zadid menatap Wahyu penuh curiga, ia tidak yakin saran yang akan diberikan Wahyu akan cukup membantu. Zadid tahu betul kapasitas otak Wahyu tidak terlalu bagus untuk urusan seperti itu, dia saja jomblo kongenital!
"Apa memangnya?" tanya Edo penasaran.
"Hamilin aja, Do. Mau nggak mau kan bakal nikah sama elu kan?"
Edo melotot kesal menatap Wahyu yang tanpa rasa berdosa itu. Sontak ia dan Zadid dengan kompak menipuk punggung Wahyu dengan buku.
"Aduh ... gile lu, kan gue kasih saran!"
"Tapi saran elu itu sama aja bikin gue bakal dikirim ke liang lahat, Yu!" teriak Edo gemas, tidak bisa ia bayangkan betapa murkanya Om Yudha jika ia sampai melakukan saran gila Wahyu itu! Bisa habis Edo dihajar Om Yudha!
"Tau tuh, kasih saran yang bener dong! Bukan malah menjerumuskan teman kayak gitu!" Zadid menggebuk gemas punggung Wahyu.
"Tapi kan bener, bakal langsung dinikahin kan kalian kalau semisal tu cewek hamil?" Wahyu masih tidak mau kalah.
Edo hanya mendengus kesal, ia memejamkan matanya sambil mengacak rambutnya dengan gemas. Ia benar-benar tidak mau sampai kalah dari Dicky! Tidak boleh!