Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Cklek!
Bara membukakan pintu dan langsung disambut oleh senyum manis Nadhira yang sore ini terlihat sangat menawan.
Wanita pengusaha itu memakai setelan kerja kasual berwarna krem dan memeluk sebuah map dokumen tebal di dadanya.
"Maaf kalau aku datang tiba-tiba ke tempat pribadimu Bara, tapi ada hal penting yang harus kita bahas secepatnya," sapa Nadhira dengan nada sedikit terburu-buru.
"Tidak masalah Nadhira, silakan masuk, pintuku selalu terbuka lebar untuk mitra bisnis terbaikku," jawab Bara sambil mempersilakannya masuk.
Nadhira melangkah masuk dan matanya langsung menyapu seluruh desain interior apartemen mewah Bara dengan pandangan kagum.
"Apartemen yang sangat indah Bara, selera desain ruanganmu ternyata tidak kalah tajam dengan selera bisnismu," puji Nadhira dengan tulus.
Bara hanya tersenyum dan mengarahkan Nadhira untuk duduk di sofa ruang tamu yang empuk.
"Duduklah, aku akan membuatkan sedikit teh hangat untuk menenangkan pikiranmu yang sepertinya sedang tegang itu," tawar Bara sambil berjalan menuju dapur bersihnya.
Tidak lama kemudian Bara kembali membawa dua cangkir teh dan meletakkannya di atas meja kaca di antara mereka berdua.
"Jadi, berita buruk apa yang dibawa oleh si pecundang Aris hari ini sampai kamu harus datang kemari membawa setumpuk dokumen?" tanya Bara sambil duduk bersandar santai.
Nadhira meletakkan map tebal itu di atas meja dan meminum tehnya sedikit sebelum mulai berbicara.
"Tebakanmu tadi pagi ternyata seratus persen akurat Bara, keluarga Aristha mulai melakukan serangan balik secara kotor," ucap Nadhira dengan raut wajah serius.
"Mereka tahu kalau produk kosmetik baru kita sangat bergantung pada pasokan tanaman herbal dari para petani di daerah pinggiran kota."
"Sore ini, Aris menyebarkan puluhan anak buahnya untuk menemui semua ketua kelompok tani herbal langganan kita."
"Aris menawarkan harga beli bahan baku yang sedikit lebih tinggi dari harga normal asalkan para petani itu memutus kontrak pasokan dengan perusahaan kita."
Bara mendengarkan penjelasan Nadhira dengan tenang sambil mengetukkan jari telunjuknya ke atas meja secara berirama.
"Cara monopoli pasar yang sangat klasik dan kampungan," komentar Bara dengan senyum meremehkan.
"Kalau mereka berhasil memonopoli semua bahan bakunya, pabrik kita akan berhenti berproduksi dalam tiga hari dan kita akan kehilangan momentum penjualan emas ini."
"Lalu berapa banyak uang yang sedang disiapkan oleh Aris untuk menimbun semua bahan baku dari para petani itu?" tanya Bara pada intinya.
Nadhira membuka mapnya dan menunjukkan sebuah kertas berisi perhitungan estimasi biaya bahan baku.
"Menurut perhitunganku, keluarga Aristha menyuntikkan dana darurat sekitar lima miliar rupiah untuk memonopoli seluruh panen bulan ini," jawab Nadhira.
"Dana perusahaanku sendiri sekarang sedang diputar habis-habisan untuk biaya pemasaran dan produksi pabrik, jadi kita kesulitan kalau harus perang harga tunai dengan mereka."
Mendengar angka lima miliar rupiah, tawa pelan langsung keluar dari mulut Bara memecah ketegangan di wajah Nadhira.
"Lima miliar? Aris rupanya benar-benar sudah menjadi gembel miskin sekarang," ejek Bara sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Bara mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap mata Nadhira dengan sorot mata dominan yang sangat kuat.
"Nadhira, hubungi manajer lapanganmu sekarang juga dan suruh dia mengumpulkan semua ketua petani herbal itu malam ini."
"Katakan pada para petani itu, berapa pun harga yang ditawarkan oleh keluarga Aristha, perusahaan kita akan membelinya dengan harga dua kali lipat lebih mahal secara tunai."
Mata Nadhira seketika membulat lebar mendengar instruksi gila dan luar biasa berani dari Bara barusan.
"D-dua kali lipat? Bara, kalau kita membeli dengan harga semahal itu, kita butuh uang tunai setidaknya sepuluh sampai belasan miliar malam ini juga!" seru Nadhira tidak percaya.
"Dan kalau harga bahan bakunya kita beli terlalu mahal, margin keuntungan produk kita akan sangat tipis."
Bara tersenyum miring dan langsung mengeluarkan ponsel dari sakunya lalu membuka aplikasi perbankan.
Dia meletakkan ponsel itu di atas meja tepat di depan Nadhira agar wanita itu bisa melihat layar utamanya.
"Kamu tidak perlu memikirkan dari mana uangnya berasal, sepuluh miliar rupiah akan aku transfer ke rekening perusahaanmu sekarang juga sebagai suntikan dana pribadiku," ucap Bara dengan nada yang sangat tenang layaknya seorang sultan.
Nadhira menatap deretan angka saldo belasan miliar di layar ponsel Bara dengan napas yang tertahan di tenggorokan.
Bara benar-benar tidak sedang membual, pria muda di depannya ini memiliki kekuatan finansial tunai yang sangat mengerikan.
"Soal margin keuntungan yang menipis, itu sama sekali bukan masalah untuk kita saat ini Nadhira," lanjut Bara memberikan pemahamannya.
"Tujuan kita sekarang bukan sekadar mencari untung kecil dari penjualan, tapi kita sedang mencekik leher keluarga Aristha sampai mereka kehabisan nafas."
"Kalau semua bahan baku herbal berhasil kita kuasai malam ini, pabrik kosmetik milik Aris akan lumpuh total tanpa bahan produksi."
"Mereka sudah terlanjur mengeluarkan biaya operasional besar, tapi tidak ada produk yang bisa mereka jual ke pasar besok pagi."
Bara menyandarkan kembali punggungnya ke sofa dengan gaya seorang raja yang sedang menyusun strategi perang penghancuran.
"Biarkan mereka kelaparan tanpa bahan baku selama seminggu penuh, dan aku jamin saham anak perusahaan mereka akan hancur lebur menjadi debu."
Mendengar penjelasan strategi bisnis yang sangat kejam dan tanpa ampun dari Bara, bulu kuduk Nadhira sampai berdiri saking takjubnya.
Bara bukan sekadar pria dengan otot kuat dan uang banyak, tapi pria ini adalah monster predator yang sangat pintar memainkan psikologi pasar.
"Baiklah Bara, kalau kamu berani mengeluarkan dana sebesar itu, aku sebagai direktur juga tidak akan setengah-setengah mengeksekusinya," putus Nadhira dengan senyum penuh keyakinan.
Nadhira langsung mengambil ponselnya dan menelepon manajer lapangannya untuk segera bergerak memblokade pergerakan orang-orang Aris malam ini juga.
Ting!
Bara juga langsung mengeksekusi janjinya dengan mentransfer uang sebesar sepuluh miliar rupiah ke rekening perusahaan kosmetik milik Nadhira.
Uang tunai itu bagaikan amunisi nuklir yang siap diledakkan untuk menghancurkan sisa-sisa pertahanan bisnis keluarga Aristha malam ini.
"Aris pasti akan langsung muntah darah untuk kedua kalinya malam ini saat tahu semua petaninya kita rampas dengan harga dua kali lipat," ucap Bara sambil tertawa membayangkannya.
"Terima kasih Bara, kamu benar-benar malaikat pelindung sekaligus rekan bisnis paling menakjubkan yang pernah aku kenal," balas Nadhira dengan tatapan mata yang sangat lembut dan penuh kekaguman pada Bara.
Mereka berdua lalu mengangkat cangkir teh mereka dan bersulang ringan untuk merayakan kemenangan perang bahan baku malam ini.
Kini Bara tinggal menunggu kabar dari sisa-sisa anak buah preman bayaran Aris yang pasti sedang melaporkan kegagalan mereka di tempat parkir tadi siang.
Aris akan menerima dua pukulan fatal secara bersamaan hari ini, kehancuran bisnisnya dan kegagalannya membunuh Bara.
Mental pria brengsek itu pasti akan hancur berantakan malam ini dan Bara sangat menantikan reaksi keputusasaan musuhnya tersebut.