Semua orang bilang Laras sial.
Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.
Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…
*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Rantang ke Peternakan
Dua hari kemudian, aku memasukkan nasi, tumis daging, sayur asem, dan sambal ke dalam rantang susun.
Raka dan Bayu sudah berangkat sekolah. Sasa kutitipkan satu jam kepada Bu Sumi di warung seberang, bukan kepada Bik Inah. Setelah bukti gudang terbuka, aku tidak ingin meninggalkan balita itu berdua dengannya.
Bik Inah berdiri di dapur sambil mengawasiku mengunci rantang.
“Pak Arya biasa makan di peternakan,” katanya.
“Makanya saya bawa ke sana.”
“Banyak orang yang sudah mengurus makanannya.”
“Bagus. Berarti kalau dia tidak mau masakan saya, tidak akan kelaparan.”
Wajahnya mengeras. “Jangan terlalu percaya diri hanya karena diberi uang rumah.”
Aku mengangkat rantang. “Saya hanya mengantar makan siang, Bik. Kenapa Bik Inah terlihat lebih gugup daripada saya?”
Dia tidak menjawab.
Peternakan Sapi Rejo Makmur berada di ujung jalan yang membelah sawah. Aku berjalan sekitar lima belas menit melewati rumpun bambu dan saluran irigasi. Bahkan sebelum melihat gerbangnya, bau rumput fermentasi dan suara sapi sudah terbawa angin.
Tempat itu jauh lebih besar daripada dugaanku.
Beberapa kandang beratap tinggi berdiri berjajar. Truk bak tertutup keluar masuk melalui jalur beton. Pekerja dengan sepatu bot memindahkan karung pakan, sementara di bangunan depan ada papan kantor, timbangan kendaraan, dan ruang pendingin.
Ini bukan peternakan kecil milik seorang duda kampung.
Bang Gino melihatku lebih dulu. “Mbak Laras! Cari Pak Arya?”
“Iya. Saya bawa makan siang.”
Senyumnya melebar. “Wah, Bos pasti langsung lupa sama kami.”
“Kenapa?”
“Biasanya makan bareng pekerja. Kalau sekarang dapat rantang khusus, kami cuma kebagian lihat.”
Beberapa pekerja tertawa. Aku ikut tersenyum, tetapi langkahku melambat ketika melihat perempuan muda berdiri di depan pintu kantor.
Dia mengenakan blus merah muda dan celana kain, terlalu rapi untuk lingkungan kandang. Di tangannya ada keranjang makanan tertutup kain bermotif bunga.
“Tuti sudah datang duluan,” bisik salah seorang pekerja.
“Anaknya Bik Inah?”
“Iya. Sejak menjanda, sering antar makan Pak Arya.”
Tuti menoleh. Tatapannya langsung jatuh pada rantangku.
“Oh, jadi ini Laras.” Dia tersenyum tanpa kehangatan. “Kata Ibu, kamu suka mengambil alih urusan orang.”
“Saya tidak tahu mengantar makan siang termasuk mengambil urusan orang.”
“Aku sudah bawa makanan untuk Pak Arya. Kamu tidak perlu repot.”
“Biar beliau yang memilih.”
Beberapa pekerja berhenti bergerak. Dua perempuan yang sedang membeli susu segar di sisi kantor ikut mendekat. Lingkaran penonton terbentuk begitu alami, seolah orang desa memang selalu tahu kapan percakapan akan menjadi tontonan.
Tuti memandang pakaianku dari atas ke bawah. “Kamu memang suka bersaing, ya? Sudah bukan anak kandung keluarga perwira, masih nekat datang menggantikan Tiara. Sekarang mau langsung jadi istri juragan.”
“Saya tidak bersaing dengan siapa pun.”
“Semua orang tahu yang dilamar itu Tiara Kusumawardhani. Kamu cuma anak tertukar yang dibuang keluarga Santoso.”
Bisik-bisik terdengar.
“Benar juga, yang datang memang bukan calon awal.”
“Tapi Pak Arya sudah terima dia di rumah.”
“Belum akad, kan?”
Jari-jariku mengencang pada pegangan rantang. Bukan karena aku tidak pernah mendengar hinaan itu. Justru karena aku sudah terlalu sering mendengarnya dari orang yang mengira tes DNA memberi mereka hak menilai seluruh hidupku.
“Saya memang anak yang tertukar,” kataku. “Itu kesalahan orang dewasa saat saya bayi, bukan kejahatan yang saya lakukan. Soal siapa yang akan menikah dengan Pak Arya, biarkan beliau yang bicara.”
“Pak Arya butuh perempuan yang paham desa dan bisa mengurus anak,” balas Tuti. “Bukan nona Jakarta yang terbiasa dilayani.”
“Kalau begitu, kenapa Sasa penuh kutu dan gudang makanan dikunci saat orang yang paham desa mengurus rumah itu?”
Senyum Tuti membeku.
Pintu kantor terbuka.
Arya keluar dengan kemeja kerja lengan panjang dan sebuah berkas di tangan. Tatapannya menyapu kerumunan, lalu berhenti padaku.
“Ada apa?”
Tuti cepat mendekat. “Tidak ada apa-apa, Pak. Saya bawa ayam ungkep kesukaan Pak Arya. Ibu yang masak khusus.”
Dia mengangkat keranjangnya.
Arya tidak mengambilnya. Dia berjalan melewati Tuti dan berhenti di depanku.
“Untukku?” tanyanya sambil menunjuk rantang.
“Iya. Tapi kalau Mas Arya sudah punya makan siang, saya bisa bawa pulang.”
Tangannya langsung mengambil pegangan rantang dari tanganku. “Aku makan ini.”
“Mas Arya belum makan sama sekali?”
“Belum.”
“Sudah lewat tengah hari.”
“Ada sapi sakit sejak pagi.”
Baru kusadari keringat telah mengering di kerah kemejanya. Ada noda obat antiseptik pada salah satu lengan, dan sepatu botnya masih terkena lumpur. Lelaki ini bukan hanya duduk di kantor sambil memerintah pekerja.
“Sasa di mana?” tanyanya.
“Saya titip sebentar kepada Bu Sumi. Saya tidak mau meninggalkan dia sendiri dengan Bik Inah.”
Arya mengangguk tanpa mempertanyakan keputusanku. “Setelah makan, aku antar pulang.”
“Tidak perlu. Saya bisa jalan.”
“Matahari terlalu panas.”
“Tadi saya juga jalan kemari.”
“Karena aku tidak tahu.”
Jawaban itu sederhana. Namun cara dia mengatakannya membuat para pekerja di dekat kami saling bertukar pandang. Bang Gino bahkan menahan senyum sambil pura-pura memeriksa karung pakan.
“Baik,” kataku akhirnya.
Arya mengangkat rantang sedikit. “Lain kali, telepon. Aku yang ambil.”
Untuk sesaat, aku tidak tahu apakah kami sedang membicarakan makan siang atau caranya menerima keberadaanku dalam hidupnya.
Tuti kehilangan senyum. “Pak Arya belum lihat masakan saya.”
“Bawa pulang. Makan bersama ibumu.”
“Tapi saya datang jauh-jauh.”
“Aku tidak pernah memintamu datang.”
Kalimat itu pendek dan bersih. Tidak meninggalkan celah untuk salah paham.
Wajah Tuti memerah sampai telinga. “Pak Arya membela dia padahal dia menipu soal perjodohan?”
Arya meletakkan rantangku di atas meja dekat pintu. Lalu dia berbalik menghadap semua pekerja dan warga yang menonton.
“Laras tidak menipu siapa pun,” katanya. “Keluarga Pak Bimo mengirim dia karena Tiara menolak. Dia yang dikorbankan untuk menjaga nama keluarga itu.”
Kerumunan sunyi.
“Saya tidak butuh dibela karena kasihan,” kataku pelan.
Arya menoleh kepadaku. “Bukan karena kasihan.”
Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat napasku tertahan.
Dia kembali menghadap orang-orang.
“Mulai sekarang, jangan sebut Laras penipu atau pengganti seolah dia datang tanpa kehendakku. Dia adalah perempuan yang akan kunikahi.”
Bang Gino tersenyum lebar. Seseorang di belakang bersiul sebelum disikut temannya.
Tuti menggenggam keranjang sampai kain penutupnya kusut.
Arya tetap berdiri di sampingku. Suaranya tidak keras, tetapi seluruh halaman peternakan mendengarnya.
“Akad dan resepsi akan kami adakan dengan benar. Tidak diam-diam, tidak seadanya. Laras akan masuk ke rumahku dengan kehormatan yang pantas dia terima.”
Suara orang-orang pecah dalam keterkejutan.
Tuti membeku di tempat.
Sementara aku berdiri dengan tangan kosong di samping rantang yang sudah diambil Arya, dan untuk sesaat, aku lupa bagaimana caranya bernapas.