NovelToon NovelToon
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Awan

**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.

Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:

> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.

Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*

Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.

*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*

Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*

…tapi malam itu, Mas ingkar janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32: Mas yang Mana?

Selasa pagi, Naila dan Gita menyusun seluruh kejadian di meja belajar.

"Dia selalu bertanya soal Mas-mu," kata Gita. "Minta lemon buatan Radhika, menyentuh kotak musik, menyimpan jaketnya, lalu mencuri lemon madu."

Naila memutar pulpen. "Menurutmu dia menyerangku karena suka sama Mas Radhika?"

"Bukan cuma suka. Dia iri karena semua barang itu khusus untukmu."

Gita menunjuk catatan satu per satu. "Waktu pertama lihat Radhika, dia langsung berubah. Setelah itu dia minta stoples buatan tangan, bukan lemon biasa. Dia juga berbohong soal jaket lalu merusak wajah penari yang mirip kamu. Polanya selalu sama."

"Sesuatu dari Mas Radhika."

"Atau sesuatu yang membuktikan dia memilih kamu."

Naila tidak nyaman mendengar kata memilih. Hubungannya dengan Radhika bukan perlombaan, tetapi Vania tampaknya menjadikannya demikian.

Penjelasan tersebut menyatukan potongan yang selama ini tampak terpisah. Vania tidak menginginkan lemon. Ia menginginkan bukti perhatian Radhika, dan membenci Naila karena menjadi penerimanya.

"Kita perlu bukti kalau dia kembali," kata Naila.

Dengan persetujuan Gita dan pengelola kos, kamera kecil tanpa rekaman suara dipasang di mata boneka milik Naila. Sudutnya hanya mengarah ke ranjang, meja, dan lemari Naila, tidak ke tempat tidur Gita atau area berganti pakaian. Tanda pemberitahuan kamera keamanan dipasang di pintu sesuai arahan pengelola.

Mereka menguji rekaman bersama. Wajah orang yang berdiri di meja terlihat jelas, tetapi ranjang Gita berada di luar bingkai. Rekaman tersimpan otomatis di akun pengelola dan salinan terenkripsi Naila, sehingga tidak bisa dihapus hanya dengan merusak kamera.

"Tidak ada audio," ujar pengelola. "Kalau ingin membuat laporan, rekaman visual harus disertai daftar barang, bukti kepemilikan, dan saksi masuk."

Naila memotret nomor seri kalung, nota pembelian, dan posisi kedua stoples. Ia tidak ingin mengandalkan dugaan seperti sebelumnya.

"Kalau ada yang tetap masuk setelah melihat tanda, itu pilihannya sendiri," ujar Gita.

Naila membeli bahan dan membuat empat stoples lemon madu. Dua disimpan dalam lemari terkunci, dua diletakkan di atas meja. Ia juga mengambil kalung kristal mahal dari koleksi pribadinya, memakainya, lalu berfoto.

Ia mengunggah foto ke Instagram Story dengan tulisan singkat.

Dari Mas. Suka banget.

Kurang dari lima menit, Radhika menelepon.

"Mas yang mana yang kasih kalung itu?"

Naila menahan tawa. "Mas-ku."

"Kamu punya berapa Mas?"

"Entahlah."

Hening di seberang.

"Ada hubungan darah sama kamu?" tanya Radhika, nadanya makin serius.

"Kenapa harus hubungan darah?"

Radhika tidak menjawab. Ia sadar pertanyaan itu justru membuka kegelisahannya sendiri: ia bukan saudara kandung, tidak punya hak keluarga untuk mengatur hadiah siapa pun.

Naila membiarkan dua detik berlalu, lalu tidak tega meneruskan.

"Aku cuma punya satu Mas. Kamu. Kalungnya punyaku sendiri. Story itu cuma umpan."

"Umpan untuk apa?"

"Menangkap orang yang suka mengambil barang. Nanti kuceritakan kalau sudah selesai."

"Kamu sudah bicara dengan pengelola?"

"Sudah. Gita juga tahu. Kamera cuma mengarah ke barangku."

"Jangan hadapi orangnya sendiri."

"Aku nggak akan."

"Kirim nama pengelola dan lokasi ke Mas."

Naila menurut. Meski Radhika menjaga jarak secara emosional, naluri keselamatannya tetap bekerja dengan ketelitian yang sama.

Radhika mengembuskan napas. "Oke. Jangan lakukan sesuatu yang berbahaya."

"Mas cemburu, ya?"

"Nggak."

"Tadi diam lama."

"Ada kerjaan."

Panggilan ditutup terlalu cepat. Naila menatap layar sambil tersenyum. Radhika jelas cemburu, dan entah kenapa pengetahuan itu membuat hatinya hangat.

Di kantor, Radhika menaruh ponsel dan mencoba membaca laporan. Reyhan datang membawa kopi, tetapi tiga halaman tetap tidak masuk ke kepala. Ia membayangkan “Mas” lain memasangkan kalung pada leher Naila dan merasa kesal pada sosok yang bahkan tidak ada.

Perasaan itu sekaligus membuatnya tidak berdaya dan putus asa. Sherly membuatnya jijik, Anindya hanya terasa seperti kewajiban keluarga, sedangkan satu kalimat palsu dari Naila mampu mengacaukan seluruh pagi.

Mungkin ia memang tidak akan menginginkan perempuan lain seumur hidup.

Pikiran itu seharusnya membuat keputusan sederhana: menolak perjodohan dan tetap sendiri. Namun, hidup dekat Naila tanpa boleh menginginkannya juga terasa seperti hukuman yang dipilih sendiri. Radhika menutup laporan dan membuka foto story sekali lagi.

"Pak, kopinya dingin," kata Reyhan.

"Buat baru."

Reyhan mengambil cangkir sambil melirik layar. Ia cukup bijak untuk tidak bertanya kenapa atasannya memperbesar foto kalung seorang mahasiswi di tengah jam kerja.

Lima menit setelah story diunggah, Vania sudah melihatnya. Ia masih mengikuti akun Naila dan membuka profil itu beberapa kali sehari. Foto kalung membuat wajahnya panas.

Siang itu, ia mengirim pesan kepada Gita.

Maaf soal kemarin. Aku emosi. Bisa ketemu? Aku mau ambil barangku yang ketinggalan.

Gita menunjukkan pesan tersebut kepada Naila dan pengelola kos.

"Balas bahwa aku ada kelas besok siang," kata Naila. "Kalau dia datang, kamu jangan menghalangi. Keluar kamar dan hubungi pengelola."

"Kalau dia menyerang lagi?"

"Makanya jangan sendirian. Kita nggak sedang menjebak untuk berkelahi. Kamera, saksi, dan pengelola yang bekerja."

Mereka juga sepakat tidak menyebarkan rekaman ke media sosial. Bukti hanya akan diberikan kepada pengelola, kampus, atau polisi jika ada tindak pidana. Naila ingin menghentikan Vania, bukan memancing kerumunan internet untuk menghukumnya tanpa batas.

Keesokan harinya, Naila sengaja meninggalkan kamar sesuai jadwal kelas asli. Ia tidak berbohong soal lokasi atau mengundang Vania mengambil barang. Stoples dan kalung tetap berada di area miliknya, di balik tanda kamera keamanan.

Menjelang tengah hari, pesan dari pengelola masuk: Vania telah datang dan meminta masuk dengan alasan mengambil kabel.

Gita sudah keluar menuju ruang pengelola. Pintu kamar dibuka dengan kunci cadangan resmi, dan Vania dipersilakan mengambil barangnya sambil diberi tahu bahwa area tersebut diawasi kamera. Vania tetap memilih masuk sendirian.

Naila mematikan pratinjau langsung. Ia tidak mau menonton setiap gerakan seperti hiburan. Pengelola akan menghubungi jika barang berpindah.

Naila hendak kembali ketika sebuah Alphard berhenti di depan gedung kuliah. Biasanya Bi Rohmah mengirim makan siang dengan mobil itu.

Pintu belakang tidak terbuka otomatis. Naila berjalan ke sisi pengemudi dan mengetuk kaca.

Kaca turun.

Radhika duduk di balik kemudi.

"Mas? Kok datang?"

"Bawa makan siang. Sekalian memastikan rencanamu nggak berubah jadi perkelahian."

"Aku sudah janji nggak menghadapi sendiri."

"Mas mau dengar langsung."

Tatapannya tenang, tetapi jelas masih menyimpan pertanyaan tentang story kemarin.

"Aku nggak boleh datang?"

Naila melihat dua kotak bekal di kursi penumpang. Salah satunya diberi label bebas kacang dengan segel dapur Menteng. Di antara semua pertanyaan yang belum mereka jawab, Radhika tetap datang membawa makan siang yang aman.

"Boleh," katanya pelan. "Aku benar-benar senang Mas datang hari ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!