Setelah enam tahun berpisah, secara tidak sengaja Vicky dipertemukan lagi dengan Viviane yang dulu adalah pacarnya dan mereka terpaksa dipisahkan saat Viviane sedang hamil.
Bukannya ingin menyia-nyiakan, tapi Vicky yang saat itu masih terlalu muda sangat takut pada orang tuanya meski dia adalah anak yang pembangkang dan sedikit berandalan.
Ane, sapaan Viviane saat ini, telah memiliki seorang putri cantik dan cerdas yang bernama Angelia, tapi dia lebih suka dipanggil Lia.
Vicky yakin jika Lia adalah putrinya meski Ane bersikukuh untuk menyangkal. Karena wajah dan watak anak perempuan biasanya akan menurun dari ayahnya.
Sedangkan kondisi saat ini telah berbeda, Vicky telah berumahtangga dan memiliki seorang putra yang seusia Lia.
Bagaimana bisa putra Vicky seusia Lia?
Bisakah Vicky memperjuangkan haknya sebagai ayah dari Lia?
Dan bagaimana dengan Lia jika tahu bahwa ayahnya seorang yang kaya sedangkan ibunya hanya orang biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bund FF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita Bertemu Lagi
"Apa benar di kampung kita jadi sarangnya penculik, To?" tanya Pak RT sedikit ragu.
"Sepertinya benar pak RT. Tadi kita dikejar sama orang bertubuh kekar dengan mobil bagus waktu mau ke kantor polisi, pak" ujar Anto, pemuda yang berbaik hati mau membantu Lia dan Johan.
Sudah ada pisang goreng dan teh hangat tersaji diatas meja, buatan Bu RT yang sejak tadi sibuk merawat luka Loa dan Johan.
"Wah, gawat eta mah To. Kita harus ekstra hati-hati dan meminta bantuan polisi untuk mengamankan kampung kita To. Hadeh, kecolongan saya mah jadi ketua RT" gerutu pak RT.
"Tolong antar kami ke kantor polisi ya pak" ujar Lia.
"Oh, tentu neng gelis. Sebentar bapak telepon teman bapak dulu" ujar Pak RT yang meminta bantuan warga untuk mengantar mereka dengan mobil.
Keamanan mereka menjadi taruhannya kali ini, karena para penjahat tak akan membiarkan langkah mereka mulus sampai ke kantor polisi.
Tak lama setelah Pak RT menutup panggilannya, selang sepuluh menit kemudian nampak sebuah mobil carry datang dengan seorang pria paruh baya yang berpostur tinggi tegap di usia senjanya datang.
"Terimakasih atuh Pak RW sudah mau datang" ujar Pak RT.
"Mana korban penculikannya?" tanya pak RW tegas.
"Itu pak, kasihan mereka mengalami beberapa luka" kata Pak RT.
"Baiklah, Anto dan Pak RT ikut saya ke kantor polisi agar jadi saksi karena kalian masih butuh pengawalan ketat" kata Pak RW yang ternyata seorang purnawirawan TNI, pantas saja sikap dan perilakunya sangat berwibawa.
"Siap atuh komandan. Hayuklah kita berangkat sekarang saja pak. Lebih cepat lebih baik" kata Pak RT.
"Sok atuh berangkat, lukanya sudah ibu bersihkan kok pak" kata bu RT yang baik hati.
"Terimakasih atas bantuannya ya bu" ujar Lia sopan sambil menyalami tangan bu RT, tentunya Lia harus sedikit memaksa Johan untuk melakukan hal yang sama karena Johan tak terbiasa melakukan itu.
"Sama-sama atuh neng geulis. Hati-hati di jalan ya Pak RW, semoga selamat sampai tujuan" ujar Bu RT mengingatkan rombongan.
Dengan sebuah mobil tua, rombongan itu membawa Lia dan Johan dan Pak RW meminta beberapa orang untuk mengawal mereka dengan motor karena pak RW menginginkan keselamatan semuanya.
"Sialan, mereka dikawal banyak orang bos" kata bro yang melihat mobil tua keluar dari rumah RT setempat tapi dikawal beberapa motor warga yang sigap dengan senjata khas pedesaan.
Johan masih saja gemetar, dia takut kalau para penjahat itu akan berhasil menangkapnya lagi. Sesekali Jihan nampak mengusap air matanya yang mulai turun.
"Tenanglah Jo, semua akan baik-baik saja" kata Lia yang berusaha menenangkan Johan.
Perjalanan terasa sangat lama saat dalam situasi genting seperti ini. Tapi untungnya, cukup tiga puluh menit berkendara, mereka sudah sampai di kantor polisi terdekat.
Rombongan Lia dan Johan segera masuk setelah Pak RW memerintahkan warganya untuk pulang karena mereka harus melaporkan kejadian penculikan itu.
"Mama..." teriak Lia sesaat setelah memasuki kawasan kantor polisi dan melihat Ane tengah duduk dalam dekapan Vicky.
Ane terkejut mendengar suara cempreng Lia. Segera dia beranjak untuk mencari sumber suara. Dan senyumnya merekah saat netranya berhasil melihat gadis kecilnya tersenyum sambil berlari ke arahnya.
"Lia... Oh Tuhan, terimakasih kau telah mengembalikan Lia padaku Tuhan" kata Ane sambil menangis semakin tersedu.
Dua wanita berbeda generasi itu saling berpelukan haru, sementara Johan yang ikut menangis sambil bergelayut di kaki papanya yang hanya memberi sedikit respon.
Ane menciumi wajah Lia dan kembali mendekapnya erat. Lalu segera mendudukkan Lia di pangkuannya sambil menceritakan drama pelarian yang mereka lakukan. Tapi, Lia tak memberitahukan mengenai Ruby yang namanya disinggung oleh para penculik.
"Kau sangat pemberani ya, Lia. Om bangga padamu" ujar Vicky yang duduk disamping Ane. Tangannya terulur untuk membelai sayang pada rambut panjang Lia.
"Johan juga membantu Lia saat menaiki jendela yang tinggi, papa" kata Johan.
"Terimakasih ya, Johan. Kau sangat kuat" kata Ane.
"Lapor komandan! Kami telah menangkap pelaku penculikan sekaligus mobil yang mereka gunakan" kata seorang polisi yang baru datang dengan banyak orang dan empat orang penculik yang kemarin sempat menyekap Lia dan Johan.
"Hai om Bro! Maafkan aku yang tadi sempat menendangmu ya, om" kata Lia sambil bersembunyi di belakang tubuh mamanya.
"Bocah tengik sialan! Awas kau ya" ancam Bro yang lupa sedang berada dimana.
"Oh iya om polisi, mereka berencana untuk menjual kami tadi" kata Lia.
"Kurang ajar, bocah sialan! Awas kau ya" kembali bro mengancam Lia yang cekikikan tapi takut juga.
"Hei bodoh! Kau lupa sedang berada dimana? Semua perlakuanmu ini akan memberatkanmu di persidangan nanti. Siap-siap saja untuk mendekam sampai mati di penjara" bentak Vicky.
"Bawa mereka ke sel. Dan segera introgasi" perintah komandan polisi.
"Terimakasih atas kerjasamanya pak. Kami berjanji akan segera menyelesaikan kasus ini dan kami minta kesediaan bapak, ibu dan adik-adik untuk memberi keterangan jika nanti kami membutuhkannya" ujar komandan polisi yang turut turun tangan dalam kasus ini.
"Tentu. Apa sekarang kami sudah boleh pulang, Pak?" tanya Vicky.
"Ya, silahkan pak. Nanti kami akan menghubungi bapak jika ada perkembangan dari kasus ini" kata pak polisi.
"Terimakasih pak, kalau begitu kami permisi dulu" ujar Vicky sembari menyalami para polisi dan juga beberapa warga yang tadi sempat menolong Lia dan Johan.
Tak hanya itu, Vicky menjanjikan hadiah bagi para warga yang sudah bersedia menolong anaknya dari para penjahat. Dan hadiah itu akan dikirimkannya esok hari melalui orang-orang suruhannya.
Hati Ane sedikit melunak melihat kebaikan hati Vicky. Namun masih tak membuatnya bisa memaafkan semua kesalahannya di masa lalu. Masih terlalu tinggi tebing kekecewaan yang harus Vicky runtuhkan demi bisa mengembalikan Ane ke dalam pelukannya.
"Kau sangat pemberani ya, Lia" lagi, pujian dari Vicky terdengar untuk Lia.
Melihat keadaan Lia dan Johan yang memprihatinkan, Vicky memutuskan untuk membelikan pakaian dan mengajak mereka untuk sarapan sebelum kembali ke Jakarta.
"Kami bekerjasama untuk bisa kabur, om" kata Lia yang tak enak melihat Johan yang cemberut.
"Tapi kau kan yang punya semua ide brilian itu. Darimana kau bisa berfikiran seperti itu?" tanya Vicky lagi.
"Lia sering nonton film sama kak Gita, om. Hehehe" ujar Lia sambil terkekeh.
Sementara Ane sudah merasa sangat tidak nyaman saat melihat Johan yang keberatan mendengar segala pujian Vicky terhadap Lia.
"Terimakasih ya, Johan. Kalau kau tidak membantu Lia, pasti para penculik itu masih menyekap kalian. Dan tante akan sangat sedih jika kalian tidak bisa ditemukan" kata Ane sambil memeluk Johan kecil.
"Terimakasih Tante. Sudah seharusnya kami saling membantu" kata Johan senang, karena semua yang sudah dilakukannya mendapat respon yang baik dari mama Ane.
"Aahhh.... Sialan, brengsek! Kurang ajar" umpatan demi umpatan keluar dari mulut Ruby pada Robi dan anak buahnya yang baru saja melapor.
"Bodoh! Kenapa anak buahmu bisa tertangkap? Aku sangat menyesal karena bekerjasama dengan kalian, kumpulan orang bodoh!" geram Ruby sambil memukuli anak buahnya yang gagal.
"Anak itu terlalu cerdik, bos. Anak buahku sampai kewalahan saat mengamankannya" kata si pelapor.
"Tenanglah sayang, lagipula mereka pasti tidak akan menyeret nama kita" ujar Robi yang terlihat tenang.
"Tapi aku sudah muak melihat gadis kecil itu. Dia dan ibunya bisa menjadi ancaman dalam rumah tanggaku. Karena Vicky cinta mati pada Viviane" geram Ruby.
"Tenanglah sayang, kalau Vicky melepasmu, kau masih bisa terus bersamaku" ujar Robi sambil memainkan rambut Ruby.
"Tutup mulut sampahmu itu, Rob. Kau bahkan hidup dibawah ketiakku. Jika Vicky menceraikanku, kekayaanku akan berkurang. Sedangkan kau hanya bisa menggerogoti hartaku tanpa bisa menambahnya" ejek Ruby.
Entah mengapa Robi merasa sedikit geram mendengar penuturan Ruby kali ini. Diapun mencengkeram pipi Ruby cukup kuat dengan tangannya hingga Ruby kesakitan.
"Jaga bicaramu, sayang. Atau aku bisa saja membinasakanmu dan membuang mayatmu ke laut untuk makanan para hiu" ancaman Robi membuat mulut Ruby bungkam dan takut.
Bagaimanapun dia sedang berada di sarang buaya. Sedikit saja lengah, Ruby bisa saja tergelincir dan dimakan oleh mereka.
"Hahahaha, kau takut? Makanya, jangan sembarangan dengan mulutmu itu. Karena kesabaranku pun juga ada batasannya sayang" ujar Robi sambil ******* bibir Ruby di hadapan anak buahnya tanpa rasa malu.
"Huft, tapi aku sedang muak padamu. Cepat carikan wanita cantik untuk kita berpesta malam ini" perintah Robi pada anak buahnya.
"Dengan senang hati, bos" jawab mereka gembira.
Mendengar kata pesta tentu tak jauh dari para wanita dan gemerlapnya lampu disko. Dan mereka menyukai semua itu.
Ruby hanya bisa cemberut kali ini. Kegagalan dalam misinya, Robi yang masih saja suka wanita, dan Vicky yang tak pernah mencintainya.
"Ah sialaaannnn!!!" teriak Ruby saat semua meninggalkannya sendirian di rumah Robi.
Hubungan terlarangnya bersama Robi sudah terjalin sejak masa kuliahnya dulu. Bahkan ide untuk hamil dan mengaku bahwa Vicky adalah pelakunya juga tercetus dari kepala Robi yang berhasil mengambil keperawanan Ruby hingga hamil.
Hal itu mereka lakukan saat hati Ruby yang hancur saat melihat Vicky menghabiskan malamnya bersama Viviane kala itu.
Ruby hanya bisa menangis dalam kesendiriannya kali ini.
.
.
.
oh siapa jodoh lia saat dewasa nanti? johan / bayu?