Arav, pria yang menjadi Ayah bagi anak Lisa secara tiba-tiba muncul kembali setelah 5 tahun berpisah. kehadiran yang tidak diinginkan membuat Lisa syok akan sosok laki-laki tersebut.
Masa kelam hidup yang berhasil ia lewati bersama anaknya tanpa sosok kehadiran seorang suami, tapi malah mempertemukan mereka kembali.
Akan kah Lisa menyerah atau semakin mendekati pria itu, apalagi dengan kekayaan dunia yang di tunjukkan pria itu.
"Aku membencimu Arav, aku membeci takdir yang mempertemukan kita!"
Jus Anggur (jangan lupa subcraib ya cantik)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edi Suheri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
"Sa-Saya tidak tau," sahut Lisa pelan.
Semua orang kini mengalihkan pandangannya menatap ke Lisa penuh tanda tanya, apa yang dilakukan Lisa hingga membuat sang Presdir baru berita demikian.
"Lalu pakai jalur apa lagi kamu sekarang dekat Presdir, orang dalam lagi?" Bu Imelda semakin sinis, sangat jelas ketidak sukanya terhadap Lisa.
Lisa tampak terdiam, begitu juga dengan lainya. Tidak ada yang salah dari omongan Bu Imelda barusan memang benar dulu ia masuk ke perusahaan ini melalui orang dalam dan dekat dengan mantan presiden juga karena orang dalam, Arya.
"Entah apa yang dilihat dari ob sepertimu, padahal tidak ada yang menarik sama sekali, aku rasa semua mata laki-laki buta tidak bisa melihat dengan jelas," ucap pedas Bu Ilmeda lalu setelahnya pergi dari ruangan istirahat.
"Sial kenapa dia selalu beruntung sih, apa kurangnya aku coba, aku juga gak kalah cantik dari Lisa. sia sia saja aku menjadi ob pagi tadi hanya ingin mendapatkan sedikit perhatian, tapi malah Lisa yang beruntung. Lihat saja aku tidak akan tinggal diam," batin Imelda.
"Pedas banget omongan Bu Imelda gak ada filter sedikitpun, keknya dia pakai hp jadul makanya gak ada filter," cicit Chesa tak luput kedua matanya menatap ke arah Lisa.
"Apa itu benar Lis, apa kamu dekat dengan Presdir baru kita?" tanya Ade penasaran tingkat akut.
Lisa tidak menjawab dia hanya diam saja, tidak tau harus menjawab apa. Sangat tidak mungkin jika ia harus mengatakan yang sebenarnya, seisi kantor pasti akan gempar jika ia sedikit saja salah berbicara.
"Itu, emm-pas kemaren awal pak Presdir datang kan yang membersihkan ruangan Presdir kan Lisa mungkin dia suka kinerja Lisa rapi jadi dia ingin Lisa yang membersihkan ruanganya itu," ucap Chesa membela, ia sangat tau pasti Lisa akan sangat sulit memberikan jawaban.
"Iya sih bener, di antara kita cuma Lisa yang paling rajin dan tekun jadi aku rasa wajar sih kalau pak Presdir hanya mengizinkan Lisa membersihkan ruanganya," kata Ade percaya setelah menimbang nimbang omongan Chesa barusan.
Lisa dan Chesa akhirnya bernafas lega, syukurlah mereka tidak terlalu berpikir jauh. Kalau tidak mungkin ada banyak pertanyaan yang akan dilontarkan.
***
Pukul 12 siang Lisa yang sudah ditugaskan di ruangan Presdir mendapat panggilan dari sarah untuk naik ke lantai atas, padahal ia sudah bersiap-siap menjenguk Dion.
Mau tidak mau suka tidak suka Lisa harus ke lantai atas, lagi pula ini masih sangat terlalu ramai orang bukan. Tidak mungkin Arav akan melakukan hal seperti kemarin.
"Sabar Lisa sabar hanya 1 minggu saja, setelahnya kamu akan bebas dari dia," gumam Lisa menguatkan mental. Walaupun kejadian semalam masih membekas di otaknya.
"Bu Sarah, ada apa ya? kenapa saya dipanggil kesini?" tanya Lisa tak kala sampai dilantai Presdir dan langsung menghampiri Sarah.
"Lisa akhirnya kamu datang juga, Pak Presdir sudah menelpon beberapa kali bertanya kamu sudah tiba apa belum, huffff..." Sarah menarik nafasnya terlebih dahulu.
"Kamu mungkin sudah tau kan, mbak Imelda pasti sudah mengabarimu kalau ruangan tu pak Presdir hanya diizinkan kamu yang masuk, dan sekarang pak Presdir ingin dibuat kan kopi dengan takaran yang tidak terlalu manis, jadi saya harap kamu bisa membuat kopi sesuai yang di inginkan dia, kalau tidak bukan hanya kamu yang dapat masalah bisa jadi saya juga," sambung Sarah lagi.
Manik-manik matanya penuh permohonan agar Lisa tidak membuat kesalahan, kemaren Sandi yang dipecat tidak hormat jangan sampai hari ini dirinya.
"Akan saya usaha kan Bu," ujar Lisa.
Ia masih sangat ingat bagaimana dulu dia menyiapkan kopi untuk Arav, takaran yang ia taruh sangat pas di lidah pria blesteran itu. Apa mungkin seleranya sekarang masih sama.
Lisa tidak terlalu memperdulikan itu, yang ia harus lakukan segera menyiapkan apa yang diminta Arav agar dirinya bisa sesegera mungkin bertemu Dion. Anak itu pasti menunggu dirinya sekarang.
Sesuai takaran yang diingat Lisa dulu, setelah rasanya pas baru Lisa melangkah masuk ke dalam ruangan Presdir. Arav tipe orang yang tidak suka manis juga tidak suka hambar, ia lebih suka kedua rasa itu seimbang. Tidak manis dan tidak hambar juga.
Tok ... Tok .... Tok ....
"Masuk!"
Setelah mendapatkan perintah masuk baru dengan memberanikan diri Lisa masuk kedalam ruangan itu, ruangan yang hampir membuat dirinya trauma atas kejadian semalam.
Dilihatnya Arav terlihat sangat fokus pada laptop didepannya dengan sang asisten disamping terlihat menjelaskan sesuatu.
Sehingga setelah pintu tertutup baru kedua laki-laki itu menoleh ke arah Lisa.
Dengan tanpa ekspresi Lisa berjalan mendekati mereka berdua lebih tepatnya meja kerja Arav menaruh kopi itu tanpa mengatakan apapun. Lalu setelahnya berencana keluar.
"Siapa yang mengizinkanmu keluar!" suara baristo Arav terdengar tegas di telinga Lisa.
"Maaf Pak, apa ada sesuatu lagi yang bisa saya kerjakan?" tanya Lisa menghadap ke arah Arav namun sama sekali tidak menatap kearah pria itu melainkan ia menundukkan kepalanya ke bawah.
"Kalau orang bicara itu di tatap, emang kamu pikir yang bicara lantai apa!" kata Arav bersikap tegas lagi ia merasa kesal karena Lisa sama sekali tidak menatap ke arahnya.
"Apa dia marah atas kejadian semalam," batin Arav. "Seharusnya aku yang marah bukan" sambung Arav kembali membatin.
"Kamu mendengar tidak apa yang dibilang pak Presdir barusan." Zaki ikut menimpali.
Dengan terpaksa Lisa mengangkat kepalanya menatap kearah Arav.
"Maaf!" hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Arav memperhatikan wajah Lisa dengan jarak lumayan dekat seperti ini ia bisa melihat wajah Lisa dengan jelas, bahkan wajah Lisa terlihat sangat pucat kantung matanya pun terlihat menghitam.
Ada rasa bersalah mendalam dihatinya melihat keadaan wanita yang mengisi hatinya itu, karena kejadian semalam akibat ulahnya tidak bisa menahan emosi Lisa pasti kehujanan pulang kerumah. sehingga membuat tubuhnya terlihat kurang fit.
"Wajah kamu pucat, apa kamu sakit?" tanya Arav pada akhirnya, ia sudah menurunkan nada suaranya.
"Tidak, saya baik-baik saja, terimakasih atas perhatiannya Pak. kalau tidak ada apa-apa lagi saya mau kembali ada banyak tugas yang harus saya kerjakan," jawab Lisa langsung secara cepat.
"Ini sudah waktu jam makan siang, untuk apa bekerja saya tidak mau karyawan saya sampai sakit karena kelelahan bekerja," ujar Arav setelahnya menyeruput kopi yang dibawa Lisa untuknya.
Arav tersenyum senang ternyata Lisa masih tau rasa kopi yang ia suka, hal kecil ini sungguh membuat hatinya berbunga-bunga.
"Sudah kamu duduk saja disana, temani saya makan siang." Tunjuk Arav kearah sofa. "Zaki cepat belikan kami makanan," lanjut Arav kini mengalihkan pandangannya kearah asisten pribadinya.
"Baik Pak," zakin menyahut cepat.
"Saya tidak bisa, maaf saya ada kegiatan, kalau begitu permisi," tutur Lisa tanpa menunggu lagi melangkah pergi keluar dari ruangan Presdir.
"Ck," Arav berdecak kesal, baru saja hatinya berbunga-bunga namun sudah dibuat kesal kembali dengan tingkah Lisa begitu jutek.
Bersambung .....
Jangan lupa like nya kakak-kakak.
terimakasih up nya,semoga masih bisa bersambung dan gak lama
saya suka ceritanya
selamar bebuka dan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan