Rania gadis manja yang dipaksa masuk ke sebuah pesantren karena kelakuannya yang tidak bisa diatur oleh kedua orang tuanya dan selalu membuat masalah.
Namun, Rania menolak mentah-mentah perintah orang tuanya lebih tepatnya perintah sang Mama.
Nikmati kisahnya hanya di NOVELTOON
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umul khaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
HAPPY READING!!!!!!!🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hanna membawa Rania keluar dari rumah Kiyai agar mereka tidak bisa mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
" Bisa Mama jelaskan ini maksudnya apa? Dan kenapa Mama dari tadi tidak bilang apa-apa sama Rania? Mama marah sama Rania?" Tanya Rania.
" Ia, Mama sangat marah sama kamu. Kamu membuat Mama dan Papa malu karena ulah kamu. Bisa tidak sekali saja dengarkan omongan Mama jangan membantah! Mama capek sayang, ini semua Mama lakukan untuk kebaikan kamu sendiri bukan untuk Mama ataupun Papa" ucap Hanna.
Semua sudah di ceritakan oleh Kiyai tentang Rania yang berniat kabur dari pondok, sudah dari tadi Hanna menahan emosinya di depan Kiyai.
" Aku udah bilang dari awal sama Mama kalau aku nggak mau masuk pondok. Mama saja yang tidak mau mendengarkan aku, jadi jangan salahkan aku kalau aku nekat kabur dari sini," balas Rania.
" Terus kamu mau apa sekarang? Kamu mau terus-menerus bermain bersama teman-teman kamu itu? Iya! Jangan harap Mama akan membiarkan kamu seenaknya, " ucap Hanna menahan emosi.
" Ma, mereka baik sama Rania. Kenapa Mama tidak menyukainya mereka, apa salah mereka sama Mama" bantah Rania.
" Baik kamu bilang! Sayang kalau mereka baik,mereka tidak akan membawa kamu ke jalan yang salah. Cabut sekolah, membuat onar setiap hari. Kamu ini perempuan!" Ucap Hanna lagi.
" Terserah Mama mau bilang apa, yang penting Rania tidak mau lagi berada di pondok ini. Kalau Mama tidak mau menuruti Rania jangan salahkan Rania kalau Rania akan kabur lagi dari pondok ini dan tidak akan pulang ke rumah," ancam Rania. Dia pikir mengancam Mamanya sama dengan mengancam Papanya yang akan mengalah dan menuruti kemauan Rania.
" Kamu tidak akan bisa kabur lagi dari pondok ini, karena Mama dan Papa sudah menerima pinangan dari Ustadz Salman. Dan hari ini kamu akan menikah dengannya," ucap Hanna.
" Ma, Mama jangan seenaknya mengatur kehidupan Rania. Rania masih muda, Rania nggak mau menikah sama ustadz Salman titik," bantah Rania berlalu dari hadapan Mamanya.
" Kalau kamu tidak mau mendengarkan Mama kali ini, jangan harap kamu bisa melihat Mama lagi di dunia ini," ucap Hanna mengancam Rania.
" Mama kenapa sangat egois. Kenapa Mama tidak menanyakan masalah ini sama Rania terlebih dahulu, Ma, yang menjalani pernikahan bukan Mama tapi aku, Mama mau menghancurkan hidup aku" pekik Rania. Rania sangat kesal saat Mamanya membuat keputusan seenaknya tanpa meminta persetujuan darinya terlebih dahulu
" Pilihannya ada sama kamu, kalau kamu tidak mau menerima pernikahan ini berarti ini adalah hari terakhir kamu melihat Mama di dunia ini," ucap Hanna berlalu di hadapan Rania kembali lagi ke dalam kamar.
" Kenapa jadi begini sih? Ini pasti karena ustadz sialan itu, kalau bukan karena dia siapa lagi. Aku sangat membencinya" lirih Rania sangat kesal dengan keputusan sepihak yang dilakukan Mamanya.
" Aku tidak mau menikah, apa yang harus aku lakukan. Apa Mama serius dengan ucapannya," gumam Rania.
Dia berada dia antara pilihan yang sulit, kenapa dia harus berada di posisi ini sekarang. Dia harus terjebak dengan ucapan Mamanya.
Yang Rania takutkan kalau Mamanya benar-benar berbuat nekat dia tau siapa Mamanya yang selalu melakukan segala cara supaya Rania mau menuruti ucapannya.
" Benar-benar sial" umpat Rania.
Dia tidak punya pilihan lain selain menerima pernikahan ini dengan sangat terpaksa. Rania masuk ke dalam rumah Kiyai lagi dan melihat orang tuanya lagi berbicara dengan orang tua Salman.
Rania melihat Salman dengan tatapan yang mematikan dia sangat benci dengan Salman mulai sekarang dan akan membuat Salman melepaskan Rania dengan sendirinya.
Rania berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan membuat Salman menyesal telah mengambil keputusan untuk menikahinya.
" Aku akan membuat kamu menyesal telah mengambil keputusan ini," batin Rania menatap Salman.
Salman yang di tatap oleh Rania berpaling ke arah lain.
" Nggak jelas banget sih jadi ustadz" gumam Rania duduk di samping Mamanya.
" Bagaimana Kiyai? Apa bisa kita mulai sekarang?" Tanya Penghulu.
" Kita tanya sama kedua mempelai saja, apa mereka sudah siap!" Ucap Kiyai.
" Bagaimana kalian sudah siap?" Tanya penghulu.
" Apa saya akan menikah dengan baju seperti ini sungguh tidak modal," sindir Rania.
" Rania" tegur Hanna.
" Ia, Ma" sahut Rania tidak merasa bersalah sama sekali.
" Begini saja, Rania biar saya dandanin dulu di kamar saya. Biar Salman bisa menghapal nama Rania terlebih dahulu" Ucap Aisyah.
" Boleh, biar saya temani Rania" balas Hanna tidak percaya dengan Rania.
Para wanita mendandani Rania ala kadarnya saja. Dan Salman menghapal nama lengkap calon istrinya.
Saat di dandani air mata Rania menetes begitu saja membasahi pipinya. Dia tau ini bukan salah Mamanya sepenuhnya ini karena sia yang sangat sudah di atur tapi Rania tidak ingin menikah di saat dia masih sekolah seperti ini. Bukan ini impiannya.
" Kenapa jadi begini, aku akan membuat ustadz itu membayar semuanya," batin Rania. Dia sudah menanamkan dendamnya kepada Salman, karena bagi Rania ini adalah karena Salman kalau bukan karena dirinya ini semua tidak akan terjadi.
" Jangan menangis nanti make up nya luntur" ucap Aisyah yang lagi mendandani Rania sedangkan Hanna lagi di toilet.
" Ini semua karena kalian yang memaksa saya untuk menikah di saat saya masih sekolah" ucap Rania.
" Rania dengarkan Ummi, Ummi tau kamu adalah anak yang baik. Ini semua adalah takdir yang digariskan oleh Allah untuk Rania jadi Rania harus ikhlas," nasehat Aisyah.
" Tapi bukan ini yang Rania mau," ucap Rania.
" Ummi tau, tapi Rania percaya nggak sama Ummi, kalau Ummi bilang kalau Ummi dan Kiyai dulu juga di jodohkan seperti ini. Tapi, lihat sekarang Ummi bisa bahagia," ucap Aisyah.
" Tapi Rania nggak mau Ummi," ucap Rania menangis di pelukan Ummi Aisyah.
" Kalau Rania nggak mau bilang saja sama Mama Rania, atau mau Ummi yang bilangin?" Tanya Aisyah tidak tega melihat Rania menangis karena dia bisa merasakan apa yang dirasakan Rania karena dia juga pernah di posisi seperti Rania.
" Jangan Ummi," ucap Rania menghapus air matanya sendiri.
" Kenapa? Rania takut! Jangan takut biar Ummi yang bilang inn syaa Allah mereka pasti mengerti, lagian Rania juga menikahnya sama anak Ummi" jelas Aisyah.
" Nggak pa-pa Ummi, Rania akan mencoba menerima ini semua. Tapi, Ummi jangan mengharapkan apapun dari pernikahan ini" ucap Rania terang-terangan.
" Ummi mengerti banget perasaan kamu, Ummi tidak akan memaksakan apapun sama Rania," ucap Aisyah.
" Rania juga nggak bisa masak, beres-beres, nyuci,ngepel, semua Rania nggak bisa," ungkap Rania membuat Aisyah tertawa