NovelToon NovelToon
Hasrat Tuan Majikan

Hasrat Tuan Majikan

Status: tamat
Genre:Duda / CEO / Beda Usia / Harem / Tamat
Popularitas:159.1k
Nilai: 5
Nama Author: teh ijo

Karena tuntutan hidup, Green harus menerima tawaran pekerjaan untuk menjadi seorang asisten rumah tangga. Green yang malang tidak tahu jika dia sedang bekerja pada orang yang telah memecatnya beberapa hari yang lalu. Dia adalah Anyer, pria yang sering bergonta-ganti pasangan setiap malamnya. Mampukah Green bertahan untuk mengahadapi majikan yang selalu menguji kesabarannya?

Ikuti terus kisah cerita Green dan Anyer ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teh ijo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hasrat Tuan Majikan | 11

Meskipun mulut Green terlalu kasar, tetapi tidak dengan hatinya mudah merasa iba. Pagi ini sebelum Anyer bangun, Green meminta ijin untuk pulang sebentar ke rumahnya. Dia hendak melihat keadaan abangnya terlebih dahulu.

Sebelum pulang dia membungkuskan sisa makanan tadi malam untuk diberikan kepada Biru. Green merasa sayang kepada makanan-makanan itu yang hendak dibuang oleh kepala pelayan.

"Sayang banget makanan enak seperti ini harus terbuang setiap hari. Coba jarak rumah gue dekat, pasti setiap hari Bang biru aku lemparin dengan sisa makanan ini." Green berkata sambil menenteng plastik yang ada di tangannya.

Di halaman dia bertemu dengan Pak Hari, sopir Anyer.

"Mau kamana?" tanyanya.

"Mau pulang sebentar, Pak. Mau lihat keadaan Abang yang baru saja terjatuh dari motornya. Kan kasihan kalau nggak dilihat, kalau mati gimana, nggak ada yang tahu dong," kata Green.

Mulut Green memang tidak bisa dikondisikan. Asal bicara saja. Seseorang jika tidak mengenal Green dengan baik, maka dia akan sakit hati.

"Sudah ijin?" tanya Pak Hari lagi.

"Sudah sih, Pak. Tapi sama Madam Re, bukan sama Tuan Anyer," jawab Re jujur.

"Ya sudahlah, kalau begitu Bapak antar ya, biar cepat," tawar Pak Hari.

Bagi Green, pantang untuk menolak kebaikan orang lain. Bagaimana Green bisa menolak jika ingin diantarkan dengan naik mobil. Selain untuk menghemat uangnya, diantar oleh Pak Hari dapat mempersingkat waktunya.

"Wah ... ngerepotin nggak nih? Kalau nggak ngerepotin sih, ayo Pak."

Green merasa sangat bahagia. Ternyata masih ada orang yang peduli dengan keadaannya saat ini. Green yakin jika Pak Hari adalah orang yang baik. Malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk membantu dirinya untuk menyelesaikan masalah hidupnya, meskipun itu harus masuk kandang buaya.

"Memangnya orang tuamu dimana? Mengapa dia tidak merawat kakakmu yang sedang sakit?" tanya Pak Hari.

"Orang tua saya sudah tidur nyenyak di alam sana, Pak," jawab Green dengan enteng.

"Orang tua kamu udah meninggal? Maaf Bapak gak tau," sesal Pak Hari yang belum tau jika Green adalah anak yatim piatu.

"Tidak apa-apa, Pak. Lagian aku sudah mengikhlaskan mereka agar mereka bisa tenang di alam sana," timpal Green.

Tak ada yang perlu di tangis lagi kerena air mata Green sudah habis saat itu, dimana dia belum bisa menerima keadaan. Namun, sekarang Green telah sadar, tidak ada gunanya larut dalam kesedihan. Dia harus bangkit dan melanjutkan hidupnya kembali bersama dengan Abang bangsutnya.

Tidak butuh waktu lama. Hanya sekitar 10 menit, mobil pak Hari telah sampai di pekarangan rumah yang terlihat tidak begitu terawat.

"Ini rumahmu?" tanya Pak Hari ragu. Jika melihat dari luar, bangunannya bagus dan besar. Namun, jika melihat kesekitarnya yang tidak terawat, membuat Pak Hari ragu jika rumah itu di tempati.

"Iya. Ini rumahku, Pak. Ayo masuk!" ajak Green.

Sesampainya di dalam rumah, dia melihat Biru sedang tertatih berjalan dari dapur dengan membawa sebuah mangkuk. Aroma khas yang menusuk hidung, membuat Green hanya bisa menelan kasar ludahnya.

"Ngapain Lu pulang? Bawa siapa itu?" tanya Biru dengan sinis.

"Emang siapa yang ngelarang gue pulang? Inget, rumah ini sudah beralih nama menjadi mana gue!"

"Gue gak nanya itu! Gue cuma nanya kenapa Lu pulang dan bawa siapa, itu aja!"

Perseteruan antara Green dan Biru hanya bisa Pak Hari lihat dengan senyum tipis dibibirnya. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, tanpa ingin menyela.

"Gue pulang bawa makanan enak, tapi ... sepertinya Lu gak tertarik, karena udah buat Indomie," ujar Green dengan mengerucut bibirnya.

"Kalau tahu Lu mau pulang, gue juga gak bakalan buat makanan untuk orang pengungsian seperti ini, Green." Biru meletakkan mangkok di atas meja. Dia pun segera menyambar kantong plastik yang ditentang oleh Green.

Karena tidak enak dengan Pak Hari, Green tidak ingin berlama-lama di rumahnya. Setelah memastikan jika Biru baik-baik saja, Green pun segera mengajak Pak Hari untuk pulang kembali. Green tidak mau kita Anyer sadar jika dirinya telah meninggalkan rumahnya tanpa seizin darinya.

"Kedatangan gue ke sini hanya ingin memastikan jika Lu belum mati. Berhubung Lu masih hidup, gue pergi ya. Jaga diri lo baik-baik Karena setelah sembuh Lu harus bekerja buat bayar utang lu, ngerti?!" sentak Green.

"Bawel Lu! Udah sana pergi! Tanpa Lu kasih tahu gue juga akan cari kerja besok," sahut Biru.

Mungkin orang akan melihat jika hubungan Green dengan abangnya tidak baik, tetapi itu hanya luarnya saja. Jika Green tidak menyayangi abangnya, lalu untuk apa dia sampai rela melihat keadaan abangnya yang sedang sakit. Rasa sayang dan rasa peduli yang Green memiliki tidak dia tunjukkan secara blak-blakan.

"Itu Abang kamu ya?" tanya Pak Hari pura-pura tidak tahu.

"Iya Pak. Dia itu manusia paling malas sedunia. Coba bapak pikirkan, mana ada seorang adik yang banting tulang untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari sementara abangnya hanya makan tidur dan keluyuran tidak jelas. Pulang-pulang bawa hutang. Jika bukan aku yang menjadi adiknya, mungkin Bang Biru sudah cincang untuk umpan mancing," adu Green pada Pak Hari.

Sambil mengemudikan mobilnya, Pak Hari hanya tersenyum tipis. Melihat hubungan Green dan abangnya, membuat Pak Hari teringat akan sosok kedua anaknya yang tidak bisa akur. Sama seperti Green dan Biru yang selalu beradu mulut.

"Ya seperti itulah namanya keluarga. Jika kita tidak bisa mengalah lalu siapa lagi?"

"Anda benar Pak, jika bukan aku yang mengurus Bang Biru, lalu siapa lagi yang akan mengurusnya. Hidup kami berubah drastis semenjak kedua orang tua kami pergi untuk selamanya. Bang Biru yang sudah terbiasa hidup dengan kemewahan, tiba-tiba dia harus berjuang demi untuk bertahan hidup. Mungkin itu adalah salah satu alasan mengapa Bang Biru menjadi manusia paling malas. Sampai sekarang Bang Biru belum terima atas kematian Papa dan Mama. Dia masih terus mencari penyebab kecelakaan yang menewaskann mereka." Green berkata sambil mengusap air mata yang tidak sengaja jatuh.

"Aku salut kepadamu, Green. Di usiamu yang masih muda kamu sudah bisa menghidupkan diri sendiri dan juga Abangmu. Terlebih kamu juga membiayai kuliahmu dengan hasil keringatmu sendiri. Sungguh kamu adalah wanita yang kuat."

Tanpa terasa mobil sudah berhenti di depan rumah kebesaran milik Anyer. Green mengucapkan banyak terima kasih kepada Pak Hari yang sudah mau mengantarkan dirinya pulang ke rumah.

"Aku akan merasa senang jika hidupku juga berguna untuk orang lain," ucap pak Hari sebelum membukakan pintu mobil untuk Green.

Tidak kata lain selain kata bersyukur. Green segera bergegas untuk mencari keberadaan Madam Re dan menanyakan apakah Anyer sudah Anyer atau belum. Beruntung saja saat Green menanyakan, Anyer belum bangun.

"Kamu anak baru pelayan Tuan Anyer?" Tanya salah seorang pelayan pada Green.

"Iya." Green menganguk cepat.

"Gimana udah dicobain belum?" tanyanya lagi.

Green menggaruk kepalanya. Dia tidak tahu apa maksud dari pertanyaan pelayan itu. Memangnya dia pakaian yang harus dicoba?

"Ye ... malah kebanyakan mikir. Udah—"

"Sinta!" sentak Madam Re.

Sinta tidak berani melanjutkan ucapannya lagi saat suara Madam Re hampir menggema di seluruh ruangan. Dia menunduk lalu meninggalkan Green saat itu juga.

"Maaf Madam," sesalnya.

Green sebenarnya merasa penasaran dengan ucapan Sinta. Sepertinya Madam Re sengaja membuat Sinta untuk tidak melanjutkan ucapannya.

Sebenarnya apa yang ingin Sinta tadi katakan tadi ya? Jangan-jangan Sinta nanya apakah gue udah ditidurin sama buaya darat itu, ya? Idih amit-amit jangan sampai itu terjadi. Green buang jauh-jauh pikiran kotor itu! Green bergidik geli saat pikiran membayangkan dia sedang melakukan hubungan dengan Anyer.

"Tidak, itu tidak mungkin!"

"Apanya yang tidak mungkin?" tanya Madam Re yang masih bisa mendengar komat-kamit mulut Green.

...🥕🥕🥕...

...BERSAMBUNG ...

1
est
ndak usah urus kakak kampret tu
Rena utami
jadi unboxing ini kyknya😎
Rena utami
bener2 si biru itu abang terkutuk..ga punya tg jwb dan ga ada sedikitpun kuatir sm adiknya😡
Rena utami
memecat thor..knapa jadi bolak.balik memencet?😁😁
Sari Rahayu
mana kelanjutan'a....
Rena utami
hishh.anyer jorok ah...baunyaaaa...smpe di mari .alhasil netijen tutup hidung berjamaah🫢😂😂
Rena utami
polosnya green...bukan itu dodol....ngajak.com🤣🤣
Rena utami
ya ampun, tuh abang lucknut bener dah ah....di sunat lagi aja green..
Rena utami
paling nnti anyer jatuh cinta sm green
Rena utami
aish..aish..enak kali kontraknya...sultan mah bebaasss...dasar anyer gelo😁
Rena utami
green, udh..cari kerja baik2...skripsimu selesaiin...kkmu ga usah kau urusin..biar aja dia cari makan ndiri.
Rena utami
mana ada yg begitu..green benar2 berlebihan, ga punya etika
melting_harmony
Luar biasa
Siti Nuzula
kasihan green
Haryati
Anyer sak Jane awakmu Ki piye je
𝑨𝒇𝒚𝒂ᵗᵃⁿ♡ѕ⍣⃝✰☕︎⃝❥ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©
Anyer tdk ada rasa tanggungjawab utk menikah sama setelah meragut perawan Green..... egois bgt kamu Anyer...
Nur Nuy
lanjut paling tar green di unboxing LG hihihi
Rabiatul Addawiyah
Lanjut thor
Haryati
waah biru sesat nih...
Ama
ku kira biru kerja di rumah itu bakalan jadi maling🤣 ternyata gk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!