NovelToon NovelToon
Langit Yang Menyimpan Janji

Langit Yang Menyimpan Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Benua Tianyuan.

​Di tanah yang maha luas ini, keberadaan manusia biasa hanyalah bagian kecil dari tatanan dunia. Di atas mereka, berdiri para kultivator—mereka yang mampu menyerap energi spiritual dari langit dan bumi untuk memperkuat tubuh, memperpanjang usia, bahkan meraih kekuatan yang sanggup mengguncangkan gunung dan samudra.

​Sebab itulah, hukum utama Benua Tianyuan begitu sederhana sekaligus kejam: kekuatan adalah segalanya. Keluarga yang kuat akan dipuja, sekte yang hebat akan disegani, sementara mereka yang lemah... hanya akan dilupakan oleh zaman.

​Di wilayah selatan benua, berdirilah Kota Qinghe. Meski tergolong kota berukuran sedang, Qinghe menampung beberapa keluarga kultivator yang telah berakar selama ratusan tahun. Salah satunya adalah Keluarga Shen.

​Pagi itu, halaman latihan Keluarga Shen riuh oleh puluhan pemuda. Suara denting dan benturan pedang terdengar bersahut-sahutan.

​"Ha!" Seorang pemuda melompat tinggi. Pedangnya berkilat menembus sinar matahari sebelum menebas keras ke arah lawan.

​Bang!

​Lawannya terdorong mundur beberapa langkah hingga hampir terjatuh.

​"Shen Liang menang!" seru seorang penilai.

​Tepuk tangan meriah langsung membahana.

​"Luar biasa! Baru enam belas tahun, tapi sudah mencapai Pengumpulan Qi tingkat keenam!"

"Dengan bakat seperti ini, Shen Liang pasti punya peluang besar masuk ke Sekte Awan Biru tahun ini."

​Di tengah kerumunan yang bersorak, seorang pemuda justru tampak santai duduk bersandar di bawah rindangnya pohon. Ia mengenakan pakaian abu-abu sederhana dengan rambut hitam yang diikat seadanya. Tangannya memegang sebuah apel yang ia gigit sedikit demi sedikit.

​Pemuda itu tak ikut bertepuk tangan. Ia hanya menguap lebar. "Ngantuknya..."

​Namanya Shen Yunche, berusia tujuh belas tahun. Jika dibandingkan dengan para pemuda lain di Keluarga Shen, Yunche adalah definisi dari kata biasa—bahkan terlalu biasa.

​"Shen Yunche!" Sebuah suara berwibawa memecah ketenangan.

​Yunche membuka sebelah matanya. Pria tua dengan wajah keras dan serius tengah berdiri di tengah halaman, menatap lurus ke arahnya.

​Yunche menunjuk dirinya sendiri. "Kau!" seru pria tua itu lagi.

​"Saya?"

​"Ya, kau!"

​"Oh," Yunche beralih menunjuk pemuda di sampingnya. "Kiraian dia."

​"Shen Yunche!"

​"Baiklah, baiklah..." Yunche bangkit beridri sembari menghabiskan gigitan terakhir apelnya. Dengan langkah malas, ia berjalan santai menuju tengah halaman.

​Melihat gayanya, beberapa pemuda di tepi halaman mulai berbisik dan tertawa kecil.

​"Masih saja kelakuannya seperti itu."

"Sudah tujuh belas tahun, tapi kultivasinya baru menyentuh Pengumpulan Qi tingkat kedua."

"Kalau aku jadi dia, aku lebih baik berhenti berkultivasi. Cuma membuang-buang sumber daya keluarga saja."

​Yunche mendengar setiap cemoohan itu. Namun, ia tak peduli—atau setidaknya, berpura-pura tidak peduli.

​Ia berhenti tepat di depan sang pria tua, lalu membungkuk formalitas. "Penatua Ketiga."

​Penatua Ketiga menatapnya dingin. "Ulangi latihan pedang dasar."

​Yunche terdiam sejenak. "Di sini?"

​"Di sini."

​"Di depan semua orang?"

​"Memangnya kau mau latihan di depan ayam?"

​Yunche menoleh ke belakang. Tak jauh dari pagar, memang ada seekor ayam jantan yang sedang asyik mematuk tanah. Yunche menunjuknya polos. "Saya rasa dia jauh lebih menghargai seni bela diri dibanding orang-orang ini."

​"Shen Yunche!"

​"Baik, baik." Yunche menghela napas. Ia mengambil sebilah pedang kayu dan mengambil posisi siap.

​Kerumunan mulai memperhatikannya dengan tatapan meremehkan. Penatua Ketiga mengangguk pelan. "Mulai."

​Yunche mengangkat pedangnya. Satu langkah, tebasan. Dua langkah, tusukan. Tiga langkah, putaran.

​Gerakannya sangat sederhana, polos, dan sama sekali tak memiliki daya pikat. Bahkan bagi mata awam sekalipun, gerakannya terkesan buruk.

​Seorang pemuda di barisan depan menggelengkan kepala. "Benar-benar payah."

​Gerakan Yunche terhenti. Ia menoleh perlahan. "Kau bilang apa barusan?"

​Pemuda itu agak terkejut karena ketahuan, tetapi segera menegakkan dadanya.

​Yunche menunjuk dirinya sendiri. "Kalau mau membicarakan orang, jangan setengah berbisik. Kalau bersuara, sekalian—" Ia terhenti ketika menyadari semua mata tertuju padanya. Yunche berdeham pelan. "...maksudku, bicaralah yang jelas."

​Pemuda itu mendengus sinis. "Aku bilang, gerakanmu payah!"

​"Oh," Yunche mengangguk santai. "Ya."

​"Hah?"

​"Memang payah," sahut Yunche sambil mengangkat bahu. "Tapi setidaknya aku masih mau latihan."

​Beberapa pemuda menahan tawa, membuat wajah si penyerang mendadak merah padam karena malu.

​Penatua Ketiga memijat pelipisnya yang mendadak pening. "Cukup. Lanjutkan!"

​Yunche kembali melanjutkan latihannya. Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik senyum dan sikap santainya, jauh di dalam dada Yunche terendap rasa frustrasi yang mendalam.

​Ia tidak pernah malas. Ia berlatih sejak kecil, setiap hari, tanpa pernah absen satu kali pun. Namun, takdir memberinya bakat yang buruk. Meridian spiritualnya terlahir amat sempit, tidak mampu menyerap energi spiritual sebanyak orang lain. Jika pemuda lain membutuhkan waktu satu tahun untuk naik satu tingkat, Yunche butuh waktu tiga hingga empat tahun.

​Itulah sebabnya di usianya yang telah menyentuh tujuh belas tahun, ia masih tertahan di Pengumpulan Qi tingkat kedua. Di dunia kultivasi, itu adalah sebuah kemunduran yang memalukan.

​Usai latihan dibubarkan, Yunche berjalan sendirian menuju area belakang kediaman Keluarga Shen yang lebih tenang.

​Baru berjalan beberapa langkah, sebuah suara ceria memanggilnya. "Shen Yunche!"

​Yunche menoleh. Seorang gadis muda berlari menghampirinya dengan napas terengah-engah. Rambut hitamnya dikuncir dua, dan wajahnya masih menyisa kepolosan anak-anak.

​"Shen Ruowei," gumam Yunche. "Ada apa?"

​Ruowei berdiri di depannya sambil berkacak pinggang. "Kau... kau benar-benar membuat Penatua Ketiga marah lagi hari ini?"

​"Tidak juga."

​"Benarkah?"

​"Benar."

​Ruowei menyipitkan mata curiga. Yunche balas menatapnya tanpa kedip. Beberapa detik berlalu dalam hening.

​"Dasar pembohong," desah Ruowei akhirnya. "Kau pasti membuatnya naik darah lagi."

​"Ya, sedikit."

​"Kenapa lagi kali ini?"

​"Dia bertanya apa aku serius ingin berkultivasi. Aku jawab 'tentu saja'. Lalu dia bilang kalau aku serius, harusnya aku tidak tertidur saat meditasi." Yunche tersenyum tanpa rasa salah. "Masalahnya, udara pagi tadi memang sangat enak untuk tidur."

​Ruowei menepuk jidatnya sendiri. "Dasar bodoh."

​"Jaga bicaramu. Aku ini lebih tua darimu."

​"Kau bukan kakakkum dan umur tidak menentukan apa-apa di sini."

​"Lalu apa?"

​"Kekuatan," sahut Ruowei mantap.

​Yunche bungkam seketika. Ruowei tersenyum puas atas kemenangannya. "Benar, kan?"

​"Sana pergi," usir Yunche pura-pura cemberut.

​"Hehehe." Ruowei tertawa kecil lalu berjalan beriringan di samping Yunche. Namun, selang beberapa saat, raut wajah gadis itu berubah agak serius. "Yunche, besok Keluarga Gu akan datang."

​Langkah Yunche terhenti. "Keluarga Gu?"

​Ruowei mengangguk. "Keluarga Gu dari pusat Kota Qinghe. Mereka datang untuk acara pertukaran murid antar keluarga."

​"Oh." Yunche kembali melangkah santai.

​"Katanya mereka membawa beberapa murid muda terbaik," lanjut Ruowei cepat sambil menyamai langkahnya. "Termasuk Gu Qingli."

​Langkah Yunche terhenti untuk kedua kalinya. Ia menoleh. "Siapa?"

​Ruowei mengedipkan mata tak percaya. "Kau tidak tahu Gu Qingli?"

​"Memangnya aku harus tahu?"

1
Deutsch
mantap thor
Gia Uw
lanjut lagi
Alia Chans
Datang tiba-tiba, tujuan nya Darah 😭😭
apa gk syok tuh thor
obeng min
luar biasa
obeng min
hurra
obeng min
josss
obeng min
mana nih ketua
DeZigur: besok bang. 5 bab crazy up.
total 1 replies
obeng min
joss
obeng min
mantap
obeng min
lanjut thor
obeng min
gas thor mantap💪💪💪💪👍👍👍👍👍
Semoli Ginon
blom waktunga yunche. sabar 🤭
Semoli Ginon
🤣🤣
Semoli Ginon
duh yunche celamitan pula/Cry/
Semoli Ginon
dasar mc koplak emang 🤣
Semoli Ginon
merepet aja mulutnya yunche. husss diam dulu
Semoli Ginon
sangat tidak sopan 🤣
Semoli Ginon
mc nya rada koplak ini ya? 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!