Menjadi seorang anak yatim piatu yang ditinggalkan kedua orang tuanya karena kecelakaan, kini Ayuna Kinanti Pradipta diasuh dan dibesarkan oleh om nya, Davian Robert adik dari Ibu Ayuna.
Biasa tinggal bersama Davian, membuat perasaan Ayuna perlahan berubah, jantung Ayuna bahkan berdebar kencang saat berada di dekat Davian.
Tak bisa lagi menahan perasaannya, Ayuna pun akhirnya mengungkapkannya kepada Davian.
Lantas bagaimana tanggapan Davian saat keponakannya sendiri mengungkapkan cinta padanya?
Akankah Davian menolak perasaan Ayuna atau justru menerimanya?
Ikuti ceritanya yuk di novel berjudul You Are My Sunshine, hanya di Noveltoon!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 1PM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Davian menatap Ayuna yang kini menatapnya penuh harap. Davian kini menghela nafas, dirinya perlu menegaskan sesuatu kepada Ayuna.
"Om, Om mau kan tidur sama Ayuna?" ucap Ayuna mengulang perkataannya apalagi melihat Davian yang hanya diam saja.
"Tidak bisa Ayuna, kamu sudah besar, jadi kamu harus tidur sendiri, lagian ini di rumah sakit, dan lagi kamu tidak perlu takut, karena Om akan tetap menemani kamu, Om akan tidur di sofa," kata Davian berharap keponakannya itu akan mengerti.
"Tapi Om, Ayuna tidak bisa tidur, pokoknya Ayuna ingin tidur sama Om, titik!"
"Ayuna!"
"Om."
Ucap mereka bersamaan.
Davian lagi-lagi menghela nafas panjang, "Baiklah, tapi kamu harus langsung tidur!"
Ayuna mengangguk semangat, dirinya kemudian bergeser, memberi ruang untuk Davian agar bisa tidur di sampingnya.
Davian pun dengan perlahan membaringkan tubuhnya di samping Ayuna. Ayuna yang tadinya tidur dengan posisi telentang, kini menghadap ke arah Om nya.
"Berikan lengan Om! Aku ingin tidur berbantalkan lengan Om," ucap Ayuna dan Davian pun hanya bisa pasrah, mengangkat sedikit kepala Ayuna, mengulurkan tangannya ke samping, membiarkan Ayuna tidur berbantalkan lengannya.
Ayuna kemudian memeluk Davian. Davian dengan ragu, mengulurkan tangannya balas memeluk Ayuna, Davian menepuk-nepuk punggung Ayuna berharap agar Ayuna cepat tidur, dan dirinya bisa keluar dari situasi ini yang menurutnya aneh.
Davian memejamkan matanya, berusaha untuk menghindar menatap Ayuna apalagi dalam jarak sedekat ini.
"Om!"
"Hmm."
"Bolehkan Yuna bertanya sesuatu?"
"Hmm."
"Apa Om pernah pacaran?" Tanya Yuna mendongak menatap Davian.
Davian yang tadinya memejamkan mata, kini spontan membuka matanya.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Tanya Davian yang tidak suka saat Ayuna menyebut kata pacaran.
"Tidak ada, hanya bertanya saja."
"Jangan harap kamu bisa pacar-pacaran, kamu masih kecil, dan Om tidak ingin nantinya hati kamu terluka," ucap Davian tegas.
"Yuna tidak pacaran kok," jelas Yuna.
"Bagus!" Kata Davian mengacak rambut Ayuna kemudian kembali memejamkan matanya.
"Om jangan tidur dulu, Om belum menjawab pertanyaanku," kata Yuna menggoyang-goyangkan tubuh Davian, agar pria itu tidak tertidur.
"Pertanyaan apa?"
"Tuhkan Om pura-pura lupa, tadi loh, hmm apa Om pernah pacaran?" Tanya Yuna lagi.
"Pernah dulu," jawab Davian.
"Sekarang?"
"Tidak."
"Tapi apa Om menyukai seseorang?"
Davian terdiam cukup lama, memikirkan pertanyaan Ayuna tadi.
"iya, sudah sekarang kamu cepat tidur!"
"Om tidak asyik," gerutu Ayuna karena Davian justru menyuruhnya tidur.
Davian kemudian kembali memejamkan matanya.
"Om, Ayuna tidak bisa tidur! Ayuna ingin dengar om bercerita," kata Ayuna yang sengaja ingin tahu informasi lebih lanjut tentang wanita yang tadi siang memeluk om nya.
Davian menghela nafas kemudian menceritakan tentang masa kecilnya yang tentunya bersama sang kakak yang tak lain adalah ibu Ayuna. Ayuna mendengarkan dengan seksama, hingga akhirnya dapat Davian dengar nafas Ayuna yang mulai teratur.
Davian merapikan rambut Ayuna, dan dengan perlahan menyentuh wajah Ayuna yang begitu halus, "Kamu tahu Om melakukan ini karena melihat kamu yang sedang sakit, kalau tidak, Om akan menolak dengan tegas, akan keinginan kamu ini," ucapnya dalam hati, alasan kenapa akhirnya dirinya mengiyakan tidur bersama Ayuna.
Saat Davian merasa tidak ada pergerakan dari Ayuna lagi, dia pun sedikit menundukkan kepalanya, memastikan jika keponakannya itu benar-benar tertidur.
Saat melihat Yuna memejamkan mata, Davian melepaskan tangannya dari tubuh Yuna, tapi Ayuna justru memeluk Davian semakin erat.
"Om jangan pergi!" Kata Ayuna masih dengan matanya yang terpejam.
"Om tidak akan pergi," Davian kembali melingkarkan tangannya di pinggang Ayuna, agar gadis itu yakin jika Davian masih disana dan tidak meninggalkannya.
"Tetap tinggallah bersama Yuna, Om!" kata gadis itu lagi.
"Baiklah, Om akan selalu tinggal di samping Yuna, kapanpun Yuna mau, sekarang tidurlah! Yuna harus istirahat!" Davian kemudian kembali menepuk-nepuk punggung gadis itu, hingga akhirnya keduanya sama-sama terlelap.
*
*
Davian mengerjapkan mata, tangannya meraih ponsel di atas nakas yang kini tengah berdering. Diambilnya ponsel itu, dengan mata menyipit Davian melihat siapa yang menghubunginya. Dan begitu melihat nama Reza lah yang tertera di layar ponselnya, buru-buru Davian menggeser ikon berwarna hijau. Davian mendengarkan dengan seksama, apa yang asisten sekaligus orang kepercayaannya itu katakan. Dari mengernyitkan dahi hingga mengepalkan tangannya erat, Davian lakukan saat mendengar penjelasan Reza dari seberang telepon.
"Siapa? Kamu sudah cari tahu tentang keluarganya? Baiklah, kamu hancurkan perusahaan keluarganya, jangan beri ampun, anggap saja itu sebagai hukuman karena sudah berani-beraninya mengusik hidup keponakanku," kata Davian penuh amarah.
Setelah mengatakan itu pada Reza, Davian pun mengakhiri panggilan itu, dan dia baru menyadari jika Ayuna sudah tidak ada lagi di ranjangnya. Davian buru-buru turun dan keluar dari ruangan Ayuna. Pria itu berlari kesana-sini sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari-cari keberadaan Ayuna yang entah pergi sejak kapan.
Sementara itu Ayuna yang berjalan-jalan mencari udara segar, memutuskan untuk berhenti di taman, tadinya Ayuna ingin membangunkan Davian, tapi melihat om nya yang tidur nyenyak, membuat Ayuna tidak tega, dan memutuskan untuk keluar sendiri, karena berada di dalam ruang rawatnya, entah kenapa membuat Ayuna merasa sesak.
Ayuna duduk di kursi besi panjang, melihat orang yang berlalu lalang, walaupun masih begitu pagi. Hingga tiba-tiba Ayuna terkejut saat sesuatu yang hangat menempel di pipi kirinya, spontan membuat Ayuna langsung menoleh.
"Sudah lebih baik kan? Bisa kita berbicara sekarang?" Bara memberikan bubur pada Ayuna dan meletakkan teh hangat di sampingnya.
"Untuk apa kau masih kesini?" Tanya Ayuna ketus, dia masih berpikir jika pria yang sekarang duduk di sampingnya adalah orang yang menjadikannya sebagai taruhan.
"Apa kamu benar-benar tidak percaya padaku?" Tanya Bara menatap Ayuna.
"Ay, aku tahu jika kamu sebenarnya tahu tentang perasaanku padamu, apa kamu pikir aku rela menjadikanmu seperti barang yang dijadikan taruhan, bukankah jika seperti itu sama saja aku memberikan kamu pada orang lain jika aku sampai kalah? Tidak itu tidak boleh terjadi, dan aku memang tidak boleh melakukannya, tapi apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya," tambahnya hanya dalam hati.
"Entahlah," jawab Ayuna tanpa menatap Bara, bahkan melirik pun tidak.
"Jika aku punya bukti, jika bukan aku pelakunya, apa kamu akan percaya padaku, bukankah kita teman? Tapi kenapa kamu meragukanku bahkan Winda, kalian selalu bersama bukan? Kenapa kamu langsung menuduhnya yang melakukan itu, padahal kamu sendiri tidak memiliki bukti yang membenarkan itu semua?"
Bara merapikan rambut Ayuna yang berantakan karena baru bangun tidur.
"Aku akan mencari bukti, bahwa memang bukan aku pelakunya," ucapnya kemudian.
Davian yang melihat itu mengepalkan kedua tangannya erat, dirinya benar-benar tidak terima, saat anak bau kencur itu kembali mendekati Ayuna bahkan kedua kalinya Davian lihat, anak itu menyentuh Yuna nya.
Davian kemudian buru-buru pergi ke ruang dokter, meminta izin, agar Ayuna diperbolehkan pulang saat itu juga, dia tidak ingin jika anak itu lagi-lagi mendekati Yuna, jika di rumah sakit, Davian tidak bisa melarangnya, karena bagaimana pun rumah sakit adalah tempat umum, tapi jika di rumah, Davian tersenyum menyeringai.
"Akan aku pastikan jika anak itu, tidak bisa menginjakkan kakinya di rumahku."
Apakah cinta baru akan mampu bertahan saat cinta pertama memiliki kenangan dan ruang tersendiri? Cari jawabannya di MY OWN KOREAN DRAMA
Chris McKenzie akan membawa kalian mengarungi indahnya cinta pertama dan bagaimana akhirnya dia dipertemukan dengan cinta baru. Siapa yang akhirnya dapat memenangkan aktris Korea Selatan Christina MacKenzie? Mantan bosnya atau member boyband GuBoy? Well.... kalian harus mengikuti kisahnya agar mengerti.
baru nyimak💪💪💪