"Aku tidak akan bersaing dengan masa lalumu. Sebelum kamu mendepakku, aku yang akan berjalan keluar."
Nayara tahu posisinya di kediaman Dewangga hanya sebatas hitam di atas putih. Melalui pernikahan kontrak dua tahun, ia menjadi tameng bagi Arkananta Dewangga untuk mempertahankan hak asuh anaknya, Kenzie, dari kejaran mantan istrinya, Saskia. Naya menjalani perannya dengan profesionalitas tinggi, sembari mengunci rapat hatinya di balik dinding es yang tebal.
Namun, situasi memanas saat Gisella—cinta pertama Arka—kembali dalam kondisi hancur. Dalih tanggung jawab membuat Arka kerap berpaling, memicu kelicikan Clarissa (saudara Saskia) untuk menjebak Arka hingga skandal kemesraannya dengan Gisella viral di media sosial. Foto viral ini menjadi senjata maut Saskia untuk merebut Kenzie kembali di sidang banding. Di depan mertua yang murka, Naya tampil anggun membela Arka demi menuntaskan tugas kontraknya.
Namun di balik layar, Naya menampar ego suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Malam Sebelum Persidangan-1
Di dalam mobil sepanjang perjalanan pulang, keheningan terasa begitu hangat. Kenzie tidur terlelap di dalam dekapan Naya, kelelahan setelah menangis histeris. Jemari Naya bergerak lembut mengusap rambut halus anaknya, sementara tatapan matanya menatap lurus ke luar jendela, membaca situasi yang kian meruncing.
Sesampainya di rumah, Arka yang sudah mendapat laporan kilat dari Heri langsung menunggu di ruang tengah. Wajah tegas sang tuan muda tampak luar biasa tegang, dengan rahang yang mengeras sempurna.
"Kenzie tidak apa-apa, Naya?" tanya Arka cepat, suaranya bariton berat, sarat akan kecemasan yang membara saat melangkah mendekati istrinya.
"Kenzie sudah tenang dan sedang tidur di kamarnya, Mas Arka. Tolong jangan bangunkan dia dengan suara panik Anda," potong Naya dingin, suaranya yang rendah seketika meredam kepanikan di ruangan tersebut.
Arka mengembuskan napas panjang, menundukkan kepalanya dengan rasa frustrasi yang luar biasa. Ia duduk di sofa, menumpukan kedua tangannya di atas lutut. "Saskia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. Dia nekat menyerang ke sekolah."
Naya mengambil posisi duduk di sebelah Arka, namun ia sengaja memangkas jarak di antara mereka. Ia mengulurkan tangannya, meletakkan telapak tangannya yang halus di atas punggung tangan Arka yang terasa dingin karena cemas.
*Sentuhan itu terasa begitu hidup di antara keheningan mereka.*
"Saskia bergerak impulsif karena dia tahu posisi mereka lemah setelah acara amal kemarin malam, Mas," tutur Naya dengan nada bicara yang menenangkan, matanya menatap lurus ke dalam manik mata elang Arka. "Tindakannya di sekolah tadi justru menjadi senjata makan tuan. Saya sudah meminta kepala sekolah untuk mengamankan rekaman CCTV koridor dan membuat surat pernyataan resmi tentang insiden tadi sebagai bukti tertulis untuk Baskara."
Arka mendongak, menatap lekat-lekat wajah jernih Naya dari jarak yang sangat dekat. Desir hangat yang belakangan selalu mengacaukan logikanya kembali merayap naik, memenuhi dadanya dengan rasa kagum dan gelombang cinta yang kian tak terbendung. Di saat ia yang berkuasa merasa rapuh karena takut kehilangan anak, wanita di sampingnya ini selalu berdiri kokoh bagai benteng pertahanan yang tak terkalahkan.
"Terima kasih, Naya ... Terima kasih karena selalu ada di depan untuk melindungi anakku," bisik Arka, suaranya serak karena emosi yang teramat dalam.
Arka membalikkan telapak tangannya, membalas genggaman tangan Naya dengan sangat erat, menyalurkan seluruh kehangatan murni yang mengalir dari lubuk hatinya.
***
Malam merayap makin larut di langit Jakarta, menyisakan kesunyian yang mencekam di balik dinding-dinding kokoh kediaman Dewangga. Di luar, angin malam berembus kencang, mengetuk kaca-kaca jendela besar kamar utama dengan ritme yang konstan, seolah ikut menghitung mundur jam-jam yang tersisa menuju hari esok—hari persidangan pertama perwalian Kenzie.
Di dalam kamar tidur utama yang luas, pendaran lampu kuning temaram dari sudut ruangan menciptakan siluet bayangan yang panjang. Suasananya begitu sunyi. Kenzie sudah terlelap sejak beberapa jam lalu di kamar belajarnya yang baru, sementara di kamar ini, dua orang yang terikat oleh selembar kertas kontrak sedang berhadapan dengan badai pikiran mereka masing-masing.
Naya duduk di tepi ranjang king size yang empuk. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan gaun tidur katun berwarna pastel yang longgar, sementara rambut hitam lebatnya dibiarkan terurai bebas di bahunya. Di tangannya, sebuah cangkir porselen berisi teh chamomile hangat masih mengepulkan uap tipis. Wajah Naya tetap jernih, tenang menghanyutkan sekeras baja. Tidak ada sekerat pun riak ketakutan yang ia perlihatkan, meskipun ia tahu bahwa besok pagi, seluruh masa lalu keluarganya akan ditelanjangi oleh tim pengacara Clarissa di ruang sidang yang dingin.
Di sudut lain ruangan, tepat di depan meja kerja kayu mahoni yang besar, Arka berdiri kaku. Pria itu menolak untuk duduk sejak dua jam lalu. Kemeja tidurnya yang berwarna gelap sengaja tidak dikancingkan sepenuhnya di bagian atas, memperlihatkan guratan urat lelah di lehernya. Sepasang mata elangnya menatap nanar ke arah tumpukan dokumen draf pembelaan yang sudah disiapkan oleh Baskara. Jemarinya yang besar berulang kali menyugar rambutnya yang sudah acak-acakan, sebuah gestur frustrasi yang sangat jarang ia perlihatkan di dunia luar.
"Mas Arka, berhentilah mondar-mandir seperti itu. Teh Anda akan dingin," ucap Naya lembut, memecah kesunyian malam dengan suara rendahnya yang menenangkan.
Arka menghentikan langkah kakinya secara mendadak. Ia membuang napas panjang yang terdengar berat dan kasar, lalu memutar tubuhnya menghadap Naya. Di bawah temaram lampu kamar, wajah tegas sang tuan muda tampak luar biasa tegang, dengan rahang yang mengeras sempurna karena menahan beban kecemasan yang membakar dadanya.
"Bagaimana aku bisa diam dan minum teh, Naya?" suara Arka terdengar parau, baritonnya merendah sarat akan tekanan emosi yang pekat. Ia melangkah mendekati ranjang, menatap Naya dengan pandangan mata yang menggelap penuh kerapuhan. "Pak Stanley baru saja mengirim pesan teks sepuluh menit lalu. Kubu Siska berhasil mendatangkan salah satu mantan tetangga rumah ibumu di kampung untuk menjadi saksi tambahan. Mereka mau membuktikan di depan hakim bahwa pernikahan kita adalah rekayasa finansial murni untuk menutupi utang-utang lamamu."
Arka duduk di tepi ranjang yang sama dengan Naya. Kali ini, tidak ada lagi tumpukan bantal pembatas yang sengaja ditaruh di tengah kasur seperti malam-malam sebelumnya. Jarak di antara mereka mengikis, menyisakan ruang tipis yang membuat Arka bisa mencium dengan jelas aroma harum esensial lavender yang menenangkan dari tubuh istrinya.
"Mereka akan menyerang harga dirimu besok pagi, Naya. Di depan hakim, pengacara Saskia akan menggunakan kata-kata yang paling merendahkan untuk menguliti latar belakangmu," lanjut Arka, menundukkan kepalanya dalam-dalam, menumpukan kedua telapak tangannya di atas lutut dengan rasa bersalah yang teramat sangat. "Aku ... aku mengutuk diriku sendiri malam ini. Ego dan kekuasaanku sebagai seorang Dewangga justru menjadi alasan kenapa seorang wanita baik-baik sepertimu harus diseret ke dalam lumpur sekotor ini."
Naya menatap profil samping wajah Arka yang tampak begitu rapuh di sisinya. Pria yang biasanya selalu tampil dominan, kaku, dan memegang kendali atas ribuan nasib karyawannya itu, malam ini terlihat seperti seorang ayah biasa yang sedang ketakutan setengah mati karena takut kehilangan harta paling berharganya: anaknya.
Naya meletakkan cangkir tehnya di atas nakas, lalu menggeser posisi duduknya. Tanpa ada keraguan atau kecanggungan kontrak lagi, Naya mengulurkan tangannya yang halus, meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan Arka yang terasa dingin, lalu menggenggamnya dengan sangat erat.
Sentuhan itu terasa begitu hidup di dalam keheningan malam.
Bersambung...
arkaaaa....masih blm ke buka juga pikiranmu...
sorry mom....esmosi jd nya ...belain mantan sampe segitunya...guwwedek sy mom....
lanjut mom...makin seru....
tau seberapa dalam dan sakitnya Naya,,,,Ku pikir akan bahagia ketika main layangan di luar dan ketawa bersama itu
ternyata kesempatan Arka yang di berikan Naya tetapi di sia siakan ,,, ketika kesekolahan bersama bergandengan tangan,,,kini tinggal kenangan tak mungkin terulang kembali,,,arka lupa jalan pulang atau memang ceroboh ahirnya lewat jalur yang salah,,,karena harusnya jalan kerumah Naya dan Kenzie,,,ini ketempat gisele Yo uwis piye maneh,,,biar pelajaran buat arka yang mengabaikan perasaan Naya seolah tidak penting,,,dan sekarang barulah menyesali sudah tertutup rapat hati Naya,,, ahirnya Kenzie lah yang jadi korban nya lagi,trim mommy sudah update,,,besok kalau mommy sibuk balap karung update nya malam ga apa apa 🤩🤭hua hua