Pura-pura menjadi orang miskin malah mempertemukan Ruby dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan sombong bernama Melvin.
Bagaimana rasanya menjadi orang yang tidak berdaya diejek dan ditindas orang lain karena menyembunyikan identitasnya?
Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."
"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."
Belum tahu saja mereka kalau orang yang sedang dihina juga anak seorang pengusaha besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTAMA BERTEMU DKK
Ruby berdiri terpaku menatap kampus megah yang ada di hadapannya. Setelah kalah debat dengan papanya, terpaksa ia bersedia untuk pindah kampus lagi. Supaya papanya mau pulang ke kota sebelah dan tidak mengganggunya lagi.
Kata papanya, akreditasi jurusan yang ia pilih di kampus biasa kemarin kurang bagus. Sementara, papanya ingin setidaknya ia bisa lulus dari kampus ternama dengan kualitas yang baik dan akreditasi jurusan yang baik pula.
Oke, Ruby menyerah. Terpaksa ia meninggalkan surga demi masuk ke neraka yang tampak indah. Kampus horror dengan spesies langka ikan pari seperti yang pernah Yorin ceritakan. Ia jadi ingin tertawa setiap kali membayangkannya.
Meskipun kata Yorin harus menghindari DKK, tapi setidaknya dia benar-benar ingin melihat Si Ikan Pari dengan mata kepala sendiri.
”Selamat pagi.” sapa Yorin yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
”Selamat pagi.” balas Ruby.
”Sudah siap?” tanya Yorin seraya merangkul teman kerjanya itu.
Ruby hanya mengangguk dengan senyuman. Kemudian mereka berjalan beriringan dengan langkah riang.
”Hari pertama kuliah harus diawali dengan kegembiraan.” kata Yorin menyemangati.
Ruby memijit kepalanya. Rasanya belum siap saja harus pindah lagi. Tempat kuliah kemarin sudah terlalu nyaman untuknya. Tiba-tiba Yorin berhenti.
”Kenapa?” tanyanya penasaran.
”Aku melupakan sesuatu.” jawabnya.
"Apa?"
”Tunggu sebentar, aku ada urusan!” serunya sambil berlari cepat dengan spontan.
Belum sempat menjawab pertanyaan, Yorin sudah lari duluan. Temannya itu memang kadang aneh dan ceroboh. Kali ini apa lagi yang ia lupa? Ruby jadi ikut-ikutan memikirkannya.
Akhirnya Ruby hanya bisa menunggu, karena ia tak tahu dimana ruang kuliahnya. Yorin yang tahu. Ia juga merasa bodoh, kenapa tidak mempelajari denah kampus yang biasa ia lakukan saat hendak mengunjungi tempat baru.
Beberapa mahasiswa terlihat hilir mudik di depannya, tampak sedang membahas sesuatu yang menarik. Dandanan mahasiswinya sangat modis dan cantik ala anak-anak kaum artis atau selebgram. Ruby melihat dirinya sendiri dan membandingkan dengan gadis-gadis itu. Sangat jauh. Tapi dia hanya tersenyum. Ia lebih senang dengan penampilannya sekarang. Penampilan sederhana ala kadarnya seperti rakyat jelata. Apalagi memakai baju 20 ribu miliknya, kebanggaannya jadi meningkat.
Beberapa menit tak kunjung melihat kedatangan Yorin, ia mulai bosan. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan sendiri di kampus yang belum ia tahu. Tempat pertama yang ia tuju adalah taman. Taman yang cukup rindang dengan cukup banyak pepohonan. Pohon-pohonnya lumayan bagus untuk dipanjat. Letaknya juga di belakang kampus yang lumayan sepi.
Ketika hendak duduk di salah satu bangku taman, ia menemukan sebuah buku kecil berwarna pink tergeletak di sana. Bentuknya lucu, sepertinya milik seorang wanita. Sejenis buku catatan atau buku harian. Mungkin salah satu mahasiswi di sana pemiliknya.
Rubu mengambil kaleng minuman dari dalam tasnya, kemudian membukanya, lalu meneguknya. Minuman yang memiliki rasa anggur itu menjadi favoritnya.
Ruby membolak-balikkan buku tersebut untuk mencari nama pemiliknya. Tapi, tidak ada keterangan apapun yang merujuk pada pemiliknya. Saat ia membuka lembaran buku itu.... matanya melebar melihat tulisan di dalamnya.
Kalau Melvin tak bisa menyukaiku, akan aku buat orang-orang membencinya. Hanya aku yang bisa memahaminya.
"Gila.... Sepertinya aku menemukan buku diary psikopat yang jatuh cinta." gumannya. "Hebat sekali targetnya bukan main.... Pentolan kampus Si Ikan Pari. Parah parah.... "
Seharusnya Melvin bisa menyukaiku kalau saja tidak ada adik sialannya.
Aku rasa ibunya tukang selingkuh bisa menghasilkan anak seperti Reino.
Kampus tidak menyenangkan sejak Reino datang. Melvin semakin susah didekati.
Apa perlu aku bunuh Reino?
Ruby menelan kembali minumannya hingga tersisa seperempatnya. Pemilik buku itu benar-benar psikopat. Tulisan di dalamnya sangat mengerikan.
Ia lemparkan kaleng minuman ke keranjang sampah yang ada di depannya.
Plak!
"Ah!" pekik seseorang.
Ruby tersentak kaget karena ada orang yang terkena lemparan kalengnya.
"Aduh, maaf ya.... " ucapnya panik.
Lelaki yang terkena lemparan kaleng itu memegangi dahinya. Ia mengarahkan pandangan kepada Ruby dengan tatapan penuh kemarahan.
Lelaki berambut blonde bergelombang yang wajahnya kebule-bulean. Rambut bagian belakangnya memanjang seperti ekor ikan pari.
Ruby menutup mulutnya yang menganga saking terkejut. Orang yang ada di hadapannya sekarang adalah Si Ikan Pari yang sering diceritakan Yorin. Rasanya sama saja terjun ke neraka di hari pertama kuliah langsung bertemu dengan makhluk fenomenal yang paling terkenal di kampus.
Dia tahu hidupnya tidak akan tenang setelah hari ini. Apalagi dia sudah berbuat salah.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya salah seorang temannya yang berambut hitam pendek dan badan berotot. Sepertinya dia penyuka fitnes sampai badannya tampak sedikit kekar.
"Gila ya, ada cewek bar-bar sembarangan lempar sampah." ujar lelaki berambut kecoklatan yang menakai kalung. Dari penampilannya sepertinya dia tipe playboy.
"Emm.... Aku.... Aku.... Minta maaf, ya. Tadi tidak sengaja." Ruby memberanikan diri maju ke depan untuk meminta maaf sekali lagi. Ia mere*mas-rem*as jemarinya untuk menghilangkan rasa gugup.
"Siapa dia? Kamu kenal dia?" tanya si badan kekar itu.
"Tidak, baru kali ini aku melihatnya." lelaki yang menurut Ruby seperti playboy memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Biasanya kamu kenal semua mahasiswi di sini."
"Dia sepertinya anak polos, bukan tipeku. Kamu anak baru, kan?" tanyanya.
"Iya, ini hari pertamaku masuk kampus." Ruby menjawab pertanyaan itu dengan nada yang masih sedikit takut.
Ia melirik ke arah lelaki yang terkena lemparan kalengnya. Lelaki itu sedang melihat darah yang menempel di tangannya. Dahinya berdarah karena mengalami luka gores.
"Kak, biar saya bantu obati lukanya di ruang kesehatan."
Lelaki itu tersenyum sinis seakan merendahkan, "Heran kampus bisa menerima mahasiswa jorok seperti ini. Miskin lagi. Ini kampus atau yayasan sosial. Mekanisme yang aneh."
"Hahaha.... Kata-katamu kejam sekali, Vin. Kasihan dia masih baru di sini. Nanti kena mental."
"Sejak dulu aku sudah tidak setuju kalau sekolahan ini juga menerima mahasiswa dari kalangan bawah. Mau sepintar apapun, adat dan kebiasaan mereka berbeda dengan kita. Mungkin juga orang tuanya tidak mengajarinya tata krama."
Ruby yang awalnya takut menghadapi mereka karena merasa bersalah kini menjadi kesal. Ia mengepalkan kedua tangannya untuk menahan amarah ditertawakan para seniornya.
Kampus seperti ini bukan yang pertama baginya. Orang songong seperti mereka juga banyak. Tapi, masuk di tempat orang songong dengan identitas orang biasa ternyata membuatnya diperlakukan dengan buruk. Dulu, meskipun teman-temannya mau berteman karena memanfaatkannya, tapi setidaknya mereka tidak pernah menghina di depannya. Baru kali ini ia direndahkan tepat di depan mata.
"Apa ini?"
Seseorang muncul lagi di sana. Lelaki itu memungut buku catatan psikopat yang sebelumnya Ruby temukan.
calon mertua/Tongue/