NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Molly Marco

Warning

Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.

Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.

Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.

Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rayendra

Rindu kembali menaiki taksi, usai keluar dari hotel itu menuju kantor suaminya, karena sebelumnya Rindu menaruh kendaraan roda empatnya di sana agar rencana menjadi detektif, sempurna. Dan ya, sempurna. Akhirnya, ia menemukan fakta sikap suaminya yang kembali dingin.

Hati Rindu hancur berkeping-keping melihat perselingkuhan itu.

“Hiks … Hiks … Hiks …”

Di dalam mobil sedan berwarna merah, Rindu meluapkan kesedihan. Ia menangis tersedu-sedu meratapi nasib yang tidak pernah berpihak baik. Ia selalu merasa dikhianati, termasuk oleh cinta pertamanya dulu, sebelum bertemu Bella dan wanita paruh baya itu menyukai kesopan santunannya dan menjodohkan pada putranya.

Dahulu, Rindu juga pernah memiliki kekasih, tapi saat pernikahan semakin dekat, ia menemukan fakta bahwa kekasihnya menghamili gadis lain.

Hidup menjadi yatim piatu terkadang diremehkan banyak orang, termasuk pada pria yang ia cintai.

Dan hari ini. Rindu kembali dikecewakan oleh pria yang merupakan suaminya.

Kepercayaan Rindu terhadap laki-laki pun luntur. Dalam keadaan masih menangis, Rindu menyalakan mesin mobil dan menjalankannya. Pikirannya melayang. Bayang-bayang Elang bersama Miskha, si gadis belia tapi memiliki ilmu bercinta yang lebih darinya. Rindu membayangkan suaminya bertukar peluh dan saling menikmati tubuh.

Rindu kembali menangis.

“Hidup memang tidak adil.”

“Mereka yang jahat bisa bahagia, mengapa aku tidak?”

“Tidak adil.”

Rindu berteriak di dalam mobil sambil memukul setir. Ia kecewa, kecewa pada semua. Mobil yang dikendarai Rindu semakin kencang. Tanpa wanita itu sadari ia sudah berada di kecepatan seratus kilometer per jam, sementara kendaraan itu tidak berada di jalur bebas hambatan. Beruntung, jalan yang dilalui Rindu saat ini tidak di area jalan protokol dan cukup lengang.

Rindu terus melajukan kendaraannya lurus dengan kecepatan yang masih sama, hingga ia dikejutkan oleh mobil yang tiba-tiba muncul dari arah kiri untuk menggunakan jalan yang akan ia gunakan saat lurus.

Reflek, Rindu menghindari mobil sedan mewah berwarna hitam itu dan membanting setirnya ke kanan.

Aaaa.” Ia berteriak dan …

Bruk

Mobil Rindu menubruk separator jalan yang membentang sepanjang jalan untuk membatas arus jalan yang berlawanan.

Pemilik sedan berwarna hitam yang akan berbelok tadi pun keluar dari mobilnya. Ia berlari ke arah Rindu.

“Mbak, Mbak…” pria itu mengetuk-ngetuk kaca mobil Rindu.

Namun, Rindu hanya mendengar sayup-sayup. Ia ingin mengangkat kepalanya. Namun, terasa berat. Kepala Rindu masih berada di atas kemudi setir. Dahinya berdarah karena benturan kepala dan setir itu. Matanya buram melihat banyak kerumunan orang di luar mobilnya. Tangan Rindu pun mencari tombol sentral lock untuk membuka mobilnya yang memang ia kunci dari dalam saat memasuki kendaraan ini.

Klik

Saat Rindu langsung terpejam. Ia hanya merasakan suara seseorang dan tubuhnya pun melayang.

“Bawa mobil saya ke sini, cepat!”

“Cepat! Dia bisa kehabisan darah. Ayo cepat!”

Suara teriakan pria itu masih terdengar. Suara itu terdengar panik. Sepertinya tubuh Rindu sedang berada dalam gendongan pria yang berteriak itu.

Setelah itu, Rindu tidak ingat apa pun.

Rindu mulai mengerjapkan mata dan perlahan membuka matanya. Ia menghirup aroma khas rumah sakit. Rindu juga melihat tangan kanannya yang terpasang jarum infus serta kantong infusan yang menggantung.

“Ah.” Rindu merintih sembari memegang dahinya yang sudah berbalut perban.

Alhamdulillah, akhirnya Ibu sadar juga,” ucap seorang wanita yang memakai seragam perawat.

Rindu pun menoleh ke perawat yang berdiri di samping tiang infusan dan sedang meletakkan obat di atas meja kecil.

“Saya letakkan obat anti nyeri di sini ya, Bu. Nanti kalau sudah ada makanan yang masuk ke perut ibu, segera minum obatnya.”

Rindu mengangguk patuh. Ia juga menggerakkan sedikit tubuhnya untuk merubah posisi agar lebih nyaman, meski berada di atas tempat tidur pasien.

Lalu, perawat itu melihat ke arah seorang pria yang tertidur di sofa. “Duh, ibu beruntung banget punya suami kaya gitu.”

Sontak, Rindu mengikuti arah mata si perawat. Ia terkejut melihat seorang pria yang sedang meringkuk di atas sofa dengan tubuh berbaring miring menghadap dinding sofa. Namun, melihat postur tubuh yang berbeda dengan milik suaminya, Rindu tidak yakin bahwa pria yang sedang meringkuk di sofa itu adalah Elang.

“Suami ibu keren banget loh. Dia lari-lari dari lobby IGD sampe koridor lorong menggendong Ibu, udah seperti di drama korea. Panik banget melihat Ibu kepalanya berdarah,” ujar perawat itu lagi.

Rindu pun hanya tersenyum. Padahal hatinya ikut bertanya, siapa dia?

“Infusnya juga sudah saya gantikan yang baru ya, Bu. Sekarang saya permisi,” ucap perawat itu lagi sambil berpamitan karena tugasnya di ruangan ini sudah selesai.

Rindu mengangguk. “Iya, Sus.”

“Kalau ada apa-apa tekan tombol ini untuk memanggil saya.” Perawat itu menunjuk pada bel yang berada di samping tempat tidur Rindu.

Rindu kembali mengangguk. “Terima kasih, Sus.”

Sama-sama, Bu.”

Usai perawat itu pergi, perlahan Rindu menggerakkan tubuhnya untuk sedikit bangkit. Ia menatap ke arah sofa yang kebetulan berada lurus di depannya. Sofa yang diisi oleh pria dengan postur tubuhnya yang tinggi. Dan memang setinggi Elang, atau pria itu malah lebih tinggi sedikit.

Kaki pria itu pun harus ditekuk karena sofa itu tidak bisa membungkus tubuhnya yang memang lebih tinggi dari panjangnya sofa. Namun, Elang tidak memiliki lengan bidang seperti yang Rindu lihat saat ini. Walau dalam keadaan miring membelakanginya, Rindu cukup bisa melihat dada bidang serta lengan kekar itu.

Beberapa detik Rindu memperhatikan pria itu, tiba-tiba tubuh itu pun bergerak dan mengubah posisi menjadi miring ke arahnya.

“Sepertinya wajah itu familiar,” ujar Rindu.

yang pernah melihat wajah itu.

Rindu mencoba mengingat. Ia terus mengingat hingga akhirnya menemukan ingatan yang sedari tadi dicari. “Ah, ya!”

Rindu baru menyadari bahwa ia melihat pria itu saat di acara pesta di rumah mertuanya waktu itu. Ia pun ingat saat keluar dari mobil, gadis remaja yang masih duduk SMA dan ia ketahui bernama Miskha, memanggilnya Daddy.

“Hei, kamu sudah sadar?” tanya pria itu yang juga sudah terjaga.

Rindu membeku. Suara bariton itu terdengar lembut.

Melihat Rindu yang sudah terbangun, pria itu bangkit dan mendekat. “Kamu haus? Mau minum? Tidak perlu bangun. Biar aku yang ambilkan.”

Rindu mengangguk. Dengan sigap, pria itu menuangkan air ke gelas dan memberikannya pada Rindu.

“Minumlah!”

Rindu menerima gelas dari tangan kekar itu dan meminumnya.

“Maaf, gara-gara saya, kamu jadi terluka.”

Rindu melirik. Ternyata ia baru mengetahui bahwa pria ini adalah orang yang berada di dalam mobil sedan hitam mewah yang ia hindari di jalan tadi.

Sesaat Rindu tertegun dengan paras tampan dan penuh dengan kedewasaan. Usai menghabiskan sebagian air di dalam gelas itu. Rindu berusaha meletakkan sendiri gelasnya ke meja kecil yang ada di samping.

“Sini, biar saya bantu!”

“Terima kasih.”

Rindu melihat ketelatenan pria itu.

Lalu, pria yang sudah tidak muda dan tetap terlihat tampan perkasa itu pun menatap Rindu.

“Sepertinya, kita pernah bertemu? Tapi di mana, ya?” tanyanya.

“Di acara pesta keluarga Herlambang.”

Wajah pria itu langsung sumringah. “Ah, iya benar.”

“Oh ya, apa kamu menantu Bella?”

Rindu mengangguk dan wajah pria itu kembali tersenyum ramah.

Ingin sekali Rindu menceritakan apa yang menjadi penyebab dirinya tertabrak dan hilang kendali malam ini. Ini semua karena ulah istri dan anak pria yang kini sedang menolongnya.

“Siapa namamu?” tanya pria itu.

Rindu"

Om juga siapa namanya?” tanya Rindu juga.

“Rayendra. tapi biasanya orang - orang memanggil saya Rayen.”

“Oh, Om Rayen.”

Pria itu pun mengangguk. “Apa perlu aku hubungi Elang untuk datang?”

Rindu segera menggelengkan kepalanya. “Tidak. Tidak perlu. saya tidak ingin mengganggu Elang yang sedang kerja diluar kota.”

Rayen kembali mengangguk - anggukkan kepalanya. “Kamu pengertian sekali. kalau istri saya yang begini, dia sudah menyuruh saya pulang, meski saya sedang berada di luar negeri.”

Rayen tertawa.

Rindu pun membalas tawa itu dengan getir. Mengingat Miskha dan ibunya, membuat perasaannya tak karuan. Namun, melihat wajah teduh Rayen, tidak seperti wajah menyebalkan Miskha dan ibunya. Sepertinya, Rayen berbeda dari dua wanita serigala berbeda usia itu.

Hingga menjelang tengah malam, Rindu tidak mengabarkan kecelakaan ini pada Elang, tidak juga pada Bella, mertua yang ia sayang layaknya ibu kandung. Mungkin besok pagi, Rindu akan memberi pesan pada Elang dan beralasan tidak pulang selama tiga hari ke depan karena sedang menemani bosnya meendadak keluar kota.

Seperti sebelumnya, izin dadakan ini bagi Elang bukanlah hal pertama. Dan Elang selalu memaklumi kesibukan sang istri.

1
Mawar
masih nyimak lnjut kak.
Mawar
itu sirindu tambah malu rayen.
Mawar
elang mmg gila sex bukannya taubat malh mkin menggila.
Mawar
rasain km elang,kepergik ma bella.
Mawar
kalau soal wanita bw agama klw soal hkum yg lain lp ma agama, yg km lakukan zina elang dosa besar.
Mawar
lnjut kak.
Mawar
apa yg akan tejadi sama rindu ya,😕😕
Mawar
cerai ja rindu km lebih baik sm rayen aja drpd sm elang udh celup sana sini.
Mawar
lnjut kak.rindu merasa bersalah sdangkan elang biasa ja tu.
Mawar
jijik lht kelakuan elng.
Mawar
gk ush maafin sielang rindu.
Mawar
itu pasti sielang mau ketemu simiskha jijik deh, kadihan rindu jngn mau diajk bercinta sama elang rindu.
Mawar
laki2 gak peka emang si elang itu meningan hempaskan ja rindu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!