Terbangun dari koma, Amira Zoe dipaksa masuk ke dalam pernikahan sandiwara tanpa cinta oleh Daniel Narendra, seorang CEO kaya. Semua demi menjadi sosok "ibu" bagi Felia, putri Daniel yang kritis karena trauma kehilangan ibu kandungnya, Selena. Amira bersedia membimbing bocah itu, asalkan statusnya tetap menjadi diri sendiri, bukan bayang-bayang masa lalu.
Namun, di balik kemegahan mansion Daniel, sebuah rahasia kelam menanti. Amira menemukan fakta mengejutkan bahwa kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya adalah sabotase berencana. Seseorang di lingkaran terdekat sengaja mengincarnya karena wajahnya yang sangat mirip dengan mendiang Selena, demi memalsukan dokumen dan mencairkan dana asuransi kematian bernilai fantastis. Kini, di tengah getar asmara yang perlahan tumbuh di hatinya, Amira harus bertaruh nyawa mengungkap dalang kriminal tersebut sebelum dirinya benar-benar dihabisi.Akankah pernikahan sandiwara ini membuka jawaban semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Ibu Amira yang mendengar kegaduhan di teras bergegas keluar.
Mengetahui maksud kedatangan Daniel yang ingin membawa putrinya kembali ke Jakarta, wajah wanita paruh baya itu langsung mengeras.
Ia melangkah maju, memisahkan tangan Daniel dari jemari anaknya.
"Tidak. Mama tidak setuju," ujar sang mama tegas, menatap Daniel yang masih berlutut.
"Amira sendiri baru saja keluar dari masa-masa sulit setelah kehilangan calon suaminya. Jiwanya belum sepenuhnya pulih. Mama tidak bisa membiarkan dia pergi begitu saja ke Jakarta menjadi pengasuh atau bayang-bayang masa lalu untuk anakmu."
Daniel mendongak, matanya yang merah menatap ibu Amira dengan tatapan memohon yang teramat sangat.
"Lalu saya harus bagaimana, Bu? Nyawa putri saya taruhannya..."
Ibu Amira menghela napas panjang, menatap putrinya yang terduduk di kursi roda, lalu kembali menatap Daniel.
"Mama baru akan setuju jika kalian menikah terlebih dahulu secara sah. Setelah statusnya jelas sebagai istrimu, baru Mama setuju dan mengizinkan Amira ikut bersamamu ke Jakarta."
Mendengar tuntutan itu, Amira tersentak hebat. Matanya membelalak tak percaya.
"Ma, ini gila! Aku tidak mencintai Daniel! Bagaimana bisa Mama menyuruhku menikah dengan pria asing yang baru aku kenal kemarin?"
Sang mama berlutut di samping kursi roda Amira, menggenggam kedua tangan putrinya dengan tatapan mata yang berkaca-kaca namun penuh keyakinan.
"Ini untuk kebaikanmu, Amira. Kamu butuh awal yang baru, dan anak itu butuh seorang ibu. Pernikahan ini akan melindungimu dari fitnah, dan ini adalah jalan yang ditunjukkan Tuhan setelah kamu selamat dari koma. Tolong, pikirkan masa depanmu, Nak."
Amira menggelengkan kepalanya, air matanya luruh.
Pikiran dan hatinya benar-benar kacau. Ia benci dipaksa masuk ke dalam takdir orang lain.
Di tengah penolakan Amira, Daniel yang menyadari detak waktu Felia kian menipis di Jakarta, tidak memiliki kemewahan untuk bernegosiasi.
Baginya, pernikahan ini hanyalah sebuah transaksi dan status di atas kertas demi menyelamatkan napas putrinya.
Tanpa ragu sedikit pun, Daniel menganggukkan kepalanya dengan pasti.
"Baik, saya setuju," ucap Daniel, suaranya parau namun terdengar mutlak di tengah deru angin sore.
Ia berdiri dengan tubuh yang masih menggigil akibat demam, lalu menatap ibu Amira.
"Saya terima syarat itu. Saya meminta tolong kepada Mama untuk segera mencari penghulu sekarang juga. Kita lakukan akad nikah di sini, saat ini juga."
Tanpa membuang waktu, mama segera mengambil ponselnya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, mama menghubungi penghulu yang dulu seharusnya menikahkan Amira dengan mendiang calon suaminya.
Mengingat kedekatan dan rasa simpati sang penghulu atas tragedi masa lalu Amira, beliau langsung menyanggupi untuk datang ke rumah secepatnya begitu mendengar situasi darurat ini.
Setelah menyelesaikan panggilan telepon, mama beralih menatap Daniel yang masih berdiri dengan pakaian basah kuyup di teras.
Rasa iba muncul di hati wanita paruh baya itu melihat kondisi fisik Daniel yang kian melemah.
Mama melangkah ke dalam rumah dan mengambil sepasang pakaian kering milik almarhum ayah Amira yang masih tersimpan rapi di lemari.
"Ini, Nak Daniel, gantilah pakaianmu dulu di kamar mandi tamu," ucap mama sembari menyerahkan sehelai kain dan pakaian ganti.
"Setelah itu, kamu harus makan dulu yang sudah Mama siapkan di meja agar tidak masuk angin. Tubuhmu sudah sangat panas."
Daniel menerima pakaian itu dengan tangan bergetar, lalu mengangguk lemah sebagai tanda terima kasih sebelum melangkah menuju kamar mandi.
Melihat ibunya yang begitu sibuk mempersiapkan segalanya, Amira mencengkeram lengan kursi rodanya erat-earat. Air matanya terus mengalir deras membasahi pipi.
"Ma, aku tidak mau. Tolong jangan paksa aku seperti ini," bisik Amira dengan suara yang nyaris habis, memohon belas kasihan.
Mama berjalan mendekati Amira, lalu berlutut di hadapannya.
Ia mengusap air mata di pipi putrinya dengan kelembutan seorang ibu, namun sorot matanya tidak terbantahkan.
"Amira, dengarkan Mama. Ini semua untuk kebaikanmu. Tuhan tidak mungkin membangunkanmu dari koma selama satu bulan jika tidak ada takdir besar yang menantimu. Pernikahan ini akan menjadi jalan bagimu untuk keluar dari bayang-bayang kesedihan masa lalu."
"Tapi aku tidak mengenalnya, Ma! Aku tidak mencintainya!" seru Amira tertahan.
"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, Nak. Sekarang, hilangkan keras kepalamu. Mama akan mendandanimu agar kamu pantas bersanding di hadapan penghulu," ucap mama dengan tegas namun penuh kasih sayang.
Tanpa memberikan kesempatan lagi bagi Amira untuk mendebat, mama langsung berdiri dan mulai mendorong kursi roda Amira masuk ke dalam kamar tidur.
Di dalam kamar yang sejuk itu, mama mulai bergerak cekatan menyiapkan pakaian terbaik yang ada, siap mendandani putri tunggalnya untuk sebuah pernikahan kilat yang akan mengubah seluruh garis hidup Amira selamanya.
Satu jam kemudian, suasana rumah yang semula sunyi berubah menegangkan saat penghulu yang ditunggu akhirnya tiba.
Mengingat situasi yang darurat, prosesi akad nikah langsung dipersiapkan di ruang tamu yang sederhana.
Pintu kamar terbuka perlahan. Mama dengan langkah teratur mendorong kursi roda Amira masuk ke dalam ruangan.
Amira mengenakan kebaya putih sederhana milik mamanya, dengan riasan tipis yang natural.
Rambutnya disanggul rapi, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah pucatnya.
Di sudut ruangan, Daniel yang sudah berganti pakaian kering seketika terpaku.
Ia menelan salivanya dengan berat saat melihat kecantikan Amira yang begitu bersinar.
Di bawah pendar lampu ruang tamu, wajah Amira benar-benar terlihat sangat cantik, serupa dengan mendiang Selena hingga membuat dada Daniel kembali berdesir ngilu.
Namun, bayangan Felia yang sedang bertaruh nyawa di rumah sakit Jakarta segera membuyarkan lamunan Daniel. Waktu mereka tidak banyak.
"Ayo kita mulai sekarang," ucap Daniel dengan nada suara yang bergetar namun tegas, menatap langsung ke arah penghulu.
Penghulu itu mengangguk takzim, lalu menjabat tangan kanan Daniel dengan erat di atas meja kayu kecil.
Saksi-saksi dari tetangga sebelah yang sempat dipanggil mama sudah mengambil posisi duduk di sekeliling mereka.
Suasana seketika berubah khidmat dan hening.
"Saudara Daniel Narendra bin almarhum Baskoro, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Amira Zoe binti almarhum Ridwan, yang walinya telah berwakil kepada saya, dengan mas kawin uang dua puluh juta rupiah dibayar tunai."
Dengan satu tarikan napas dan tatapan mata yang tajam tanpa ragu, Daniel menyahut lantang,
"Saya terima nikah dan kawinnya Amira Zoe binti almarhum Ridwan dengan mas kawin uang dua puluh juta rupiah dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah!"
"Sah!"
Doa penutup segera dipanjatkan, menggema di dalam ruangan itu.
Amira hanya bisa menundukkan kepalanya, mencium punggung tangan pria yang kini telah resmi menjadi suaminya dengan air mata yang menetes pelan. Statusnya telah berubah dalam sekejap mata.
Begitu prosesi administrasi selesai ditandatangani, Daniel langsung berdiri dari kursinya.
Ia tidak bisa membuang waktu satu menit pun lagi.
Daniel segera melangkah mendekati mama untuk berpamitan, lalu bersiap membawa Amira masuk ke dalam mobil.
Melihat menantu barunya bergerak tergesa-gesa, mama tampak panik dan menahan lengan Daniel.
"Pakaian Amira bagaimana? Tunggu sebentar, Mama kemaskan dulu ke dalam koper."
Daniel menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak usah, Ma. Pakaian Amira tidak usah dibawa. Nanti setelah tiba di Jakarta, saya sendiri yang akan membelikan semua kebutuhannya yang baru," jawab Daniel mutlak.
Tanpa menunggu balasan lagi, Daniel dengan sigap langsung membopong tubuh Amira dari kursi roda ke dalam pelukannya.
Ia membawa sang istri baru keluar menembus sisa rintik hujan sore itu, mendudukkannya di kursi penumpang, dan segera melajukan mobilnya sekencang mungkin kembali menuju Jakarta demi menyelamatkan nyawa putri kecilnya.