Demi melunasi utang orang tuanya, Kinara rela mengorbankan dirinya daripada dipaksa menikah dengan pria tua. Dikhianati oleh pria yang dicintainya dan adik tirinya sendiri, ia memilih meninggalkan rumah untuk memulai hidup baru. Namun satu keputusan nekat mengubah segalanya, menyeretnya ke dalam takdir yang mengikatnya dengan pria paling berkuasa yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kumohon, Jangan Malam Ini
“Bersihkan ruangan yang berada di sebelah kamarku. Dia malam ini akan menginap di sini.” Perintah Renald langsung.
Nada itu cukup untuk membuat siapa pun tunduk. Bu Nini, pengurus rumah tangga yang sudah bertahun-tahun setia padanya langsung mengangguk cepat.
“Baik, Tuan.”
Tanpa menunggu perintah kedua, ia segera memanggil beberapa asisten rumah tangga lainnya untuk membantu membersihkan kamar yang akan ditempati oleh Kinara.
Renald lalu mengalihkan pandangan ke arah Kinara yang masih berdiri di ambang pintu. Sorot matanya dingin, tapi ada kilatan samar yang sulit diartikan. Hanya dengan satu anggukan kepala, ia menyuruh wanita itu mengikuti Bu Nini.
“Mari, Non, saya tunjukkan jalannya.” Ucap Bu Nini sopan.
Kinara sempat melirik Renald sekali lagi. Tatapan pria itu menusuk, namun juga penuh kepastian. Ia menelan ludah, lalu melangkah mengikuti Bu Nini yang berjalan di depan.
Suara langkah kakinya terdengar begitu jelas di lorong panjang rumah megah itu, seakan setiap hentakan membawa rasa canggung yang menyesakkan.
Sesampainya di kamar, beberapa asisten rumah tangga lainnya tampak sibuk membersihkan ruangan. Seprai putih berganti baru, tirai jendela ditata rapi, dan aroma lembut pengharum ruangan menyebar memenuhi udara. Kinara berdiri di dekat pintu, tubuhnya kaku, sementara matanya mengikuti gerakan para asisten.
Ia memang terbiasa melihat asisten rumah tangga bekerja di rumahnya sendiri, tapi tidak pernah sekalipun ia diperlakukan seperti ini.
Selama ini, ia lebih sering dikucilkan dan diperlakukan semena-mena oleh keluarganya—bahkan para ART di rumah pun ikut meremehkannya. Di rumahnya sendiri, ia tidak pernah merasakan perlakuan seorang majikan. Padahal, seharusnya dialah yang paling berhak menikmati kemewahan itu.
Lamunannya buyar ketika Bu Nini menghampirinya. “Non, kamarnya sudah bisa ditempati. Jika nanti ada yang dibutuhkan, silakan panggil saya.”
Kinara tersentak kecil, buru-buru mengangguk. “Baik, Bi…”
“Cukup panggil saya Bu Nini, sama seperti Tuan memanggil saya.” Ucapannya diiringi senyum ramah, dengan kerutan lembut yang mulai menghiasi wajahnya.
“Terima kasih, Bu Nini,” jawab Kinara pelan.
Sekilas, ia merasakan sesuatu yang hangat. Panggilan “Bu” dari Renald pada pengurus rumah tangganya membuatnya berpikir, pastilah Bu Nini seseorang yang sangat dekat dengannya.
Tanpa basa-basi lagi, Bu Nini dan para ART mulai meninggalkan ruangan. Keheningan pun menyelimuti kamar itu. Kinara mengembuskan napas lega. Ia bersyukur Renald memberinya kamar sendiri. Itu berarti bayaran yang dimaksud pria itu tadi—hal yang sempat ia pikirkan di mobil—tidaklah seperti dugaannya.
Dengan cepat ia melangkah ke pintu, menguncinya rapat. Bersandar di balik pintu, ia memukul kepalanya pelan. “Bodoh banget sih, Kinara. Bisa-bisanya kepikiran ke arah itu.” Wajahnya memerah, entah karena malu atau kesal pada diri sendiri.
Sebelum tidur, Kinara memutuskan untuk berendam air hangat. Ia merasa perlu melakukan hal ini supaya tidurnya nanti menjadi lebih nyenyak.
Aroma lavender yang menenangkan mengisi kamar mandi, perlahan meredakan gundah yang sedari tadi menggelayut di pikirannya. Ia bersenandung kecil, membiarkan gelembung-gelembung air bermain di jemarinya, seakan dunia luar menghilang.
Tanpa disadarinya, seseorang tengah mendengarkan senandung itu dari balik dinding yang memisahkan kamar mandi dan ruang tidur. Senyum tipis terukir di bibir Renald, menikmati suara lembut yang jarang sekali terdengar dari wanita itu.
Usai puas berendam dan membersihkan diri, Kinara mengenakan bathrobe lembut yang telah disediakan. Rambutnya masih basah, wajahnya segar dengan rona merah alami yang menambah pesonanya. Ia melangkah keluar dari kamar mandi dengan ringan—namun begitu pintu terbuka, langkahnya mendadak terhenti.
Matanya melebar kaget. Di atas ranjang, Renald sudah duduk santai dengan sikap percaya diri.
“Apa kamu begitu senang berada di dekatku sampai-sampai terus bersenandung di kamar mandi?” Ucapnya dengan senyum menantang.
Jantung Kinara seakan berhenti berdetak. “Re-Renald?!” suaranya tercekat.
Entah sejak kapan pria itu masuk ke kamarnya. Dan Kinara merasa ia tadi sudah mengunci pintu kamarnya, lalu dari mana Renald bisa masuk?
Renald kini sudah berdiri tak jauh darinya, perlahan ia melangkah mendekat dengan wibawa yang menekan. Ia berhenti tepat di depan Kinara, tangan kokohnya terulur seakan ingin membuka bathrobe yang menutupi tubuh polos gadis itu. Kinara refleks menutupinya dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar.
“Ma-mau apa kamu, Ren?” Bisiknya dengan suara nyaris tak terdengar.
Renald menunduk, bibirnya begitu dekat di telinga Kinara. “Aku menginginkan bayaranku malam ini.” Bisiknya hingga membuat bulu tipis di bagian leher Kinara meremang.
Wajahnya seketika panas. Pipinya merah padam, sementara tatapan pria itu tidak goyah sedikit pun. Tangan kokoh Renald bergerak, melingkari pinggang rampingnya, menariknya ke dalam pelukan.
“Tu-tunggu, Renald… jangan seperti ini,” Kinara terbata, berusaha menolak.
Pria itu justru terkekeh rendah. “Tenang saja, malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk kita berdua.”
Kinara membuka mulut, ingin membalas, tapi kata-kata tercekat. Ia hanya bisa menatap wajah Renald dengan panik, mencoba menahan tubuhnya agar tak semakin dekat.
“Darimana kamu masuk? Bukannya pintu sudah aku kunci?” Akhirnya ia bersuara, cicit ketakutan.
Renald hanya tersenyum dingin. Dengan jentikan jarinya, ia mengetuk kening Kinara pelan.
“Dasar bodoh. Kamu pikir pintu depan itu satu-satunya jalan masuk? Kamar yang kamu tempati ini terhubung langsung dengan kamarku. Jadi jangan pernah berharap bisa menghindar dariku.” Ujar Renald dengan senyum mengejek.
Sebelum Kinara sempat menjawab, Renald sudah menarik tangannya. Ia menggiring gadis itu melewati pintu penghubung menuju kamarnya sendiri. Begitu pintu terkunci di belakang mereka, aroma maskulin khas Renald segera menyergap indera penciuman Kinara.
Nuansa hitam putih mendominasi ruangan itu—elegan, dingin, dan berwibawa, sama seperti pemiliknya. Namun justru karena itu, Kinara merasa seakan jiwanya semakin terpojok.
Renald tidak memberi kesempatan lagi. Dengan satu tarikan, ia menjatuhkan tubuh Kinara ke ranjang empuk. Gadis itu terperangah, napasnya memburu, wajahnya memerah hebat.
“Re-Ren, kumohon… jangan malam ini.” Cicitnya, lirih dan penuh ketakutan.
Renald menatapnya lama. Ada sesuatu yang bergejolak di matanya—campuran antara hasrat, obsesi, dan kuasa. Ia mendekat perlahan, mengurung tubuh Kinara di bawah bayangannya.
Kinara menutup mata rapat-rapat. Hatinya berdebar tak terkendali, pikirannya kacau balau. Ia tahu, melawan pria seperti Renald hampir mustahil. Tapi ia juga tahu, semakin ia menunjukkan ketakutan, semakin besar pula kekuatan pria itu atas dirinya.
Dalam hati, ia hanya bisa berdoa agar malam itu berakhir dengan selamat—meski tatapan Renald jelas mengatakan bahwa ia tidak akan melepaskannya dengan mudah.
Nyatanya permohonannya tak terkabul. Renald yang sudah menahan dirinya sejak tadi kembali melancarkan aksinya.
Kinara benar-benar merasa tubuhnya sudah sangat remuk. Hari ini sudah dua kali pria yang memiliki kendali atas dirinya itu, menggagahinya bahkan hingga berjam-jam.