NovelToon NovelToon
Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Terapi Sentuhan untuk Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Arka R.

Renard mengidap *skin hunger syndrome* — tubuhnya mendambakan kontak kulit, tapi mysophobia-nya membuatnya mual jika disentuh orang lain. Satu-satunya pengecualian? Gadis mungil berkulit putih pucat yang baru saja menjadi asistennya.

Sebuah kontrak rahasia pun dibuat: Liana menjadi "terapis sentuhan" Renard — identitas ganda yang tidak boleh diketahui siapa pun, termasuk Renard sendiri. Setiap Sabtu malam, di mansion gelap dengan mata tertutup, sang CEO yang paling ditakuti di Jakarta menyerahkan dirinya di tangan seorang gadis yatim piatu.

Tapi bagaimana caranya menjalankan terapi untuk bos sendiri — tanpa jatuh cinta?

Apalagi ketika bos itu mulai menatapnya terlalu lama di kantor...
Mencium telapak tangannya tanpa sadar...
Dan berbisik dengan suara serak: *"Sentuh aku lagi, Nona Terapis."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2

Aroma yang Sama

Senin pagi, Liana datang tiga puluh menit lebih awal dan langsung menuju pantry lantai dua puluh delapan.

Ia menakar kopi tubruk, sedikit kayu manis, dan sejumput kapulaga. Campuran itu harus tepat. Terlalu banyak kapulaga akan meninggalkan rasa getir, sementara Pak Renard tidak pernah menyisakan kopi yang dibuat dengan benar.

"Anak baru rajin sekali."

Dua perempuan dari divisi legal masuk sambil membawa tumbler. Mereka tidak menyadari Liana dapat mendengar suara mereka dari balik mesin kopi.

"Rajin atau cari muka? Lulusan kampus biasa bisa langsung jadi asisten pribadi CEO. Aneh, kan?"

"Mungkin koneksi."

Liana memasang tutup cangkir tanpa menoleh.

Sebulan bekerja di Tan Group cukup untuk mengajarinya satu hal. Di gedung berkaca biru ini, orang menilai sepatu, universitas, nama keluarga, bahkan kartu kredit yang dipakai saat makan siang. Seorang perempuan dari panti asuhan tanpa nama besar selalu menjadi bahan pertanyaan.

Ia membawa kopi itu keluar tepat ketika pintu lift privat terbuka.

Renard melangkah masuk ke area eksekutif dengan setelan abu-abu gelap. Wajahnya kembali dingin dan rapi, sama sekali tak menyisakan bayangan pria yang semalam menggenggam tangannya selama berjam-jam.

Jantung Liana berdegup satu kali terlalu keras.

"Selamat pagi, Pak Renard."

"Pagi."

Tatapannya singgah di wajah Liana, turun ke cangkir di tangannya, lalu kembali ke matanya. "Rapat pertama?"

"Pukul delapan tiga puluh dengan tim regional. Berkas sudah ada di meja Bapak. Panggilan Singapura dimajukan lima belas menit."

Renard menerima kopi itu. Ujung jari mereka nyaris bersentuhan.

Liana refleks menarik tangannya.

Gerakan kecil itu membuat Renard berhenti. Namun ia tak berkata apa-apa. Ia masuk ke kantornya, dan pintu kayu gelap menutup di belakangnya.

Liana baru mengembuskan napas ketika Rizal muncul dari lorong.

"Mbak Liana, kok mukanya tegang? Kopinya salah?"

"Belum diminum."

"Kalau begitu kita berdoa bersama."

Bayu yang menyusul dari belakang menepuk bahu Rizal. "Kamu saja. Dosamu paling banyak."

Liana hampir tersenyum. "Rapat delapan tiga puluh. Berkas kalian sudah siap?"

Kedua pria itu langsung pergi sambil pura-pura sibuk.

Liana ikut masuk ke ruang rapat lima menit kemudian. Renard duduk di ujung meja, sementara enam kepala divisi memenuhi kedua sisi. Ia baru sempat membuka presentasi ketika direktur regional meminta angka yang tidak tercantum di layar.

"Pertumbuhan bersih setelah biaya distribusi?" tanya Renard tanpa menoleh.

Liana sudah membuka lembar yang tepat. "Delapan koma dua persen, Pak. Proyeksi kuartal berikutnya sembilan koma satu jika kontrak Surabaya ditandatangani minggu ini."

Satu angka, lalu dua dokumen yang ia geser ke samping tangan Renard. Rapat bergerak kembali tanpa jeda.

Di seberang meja, salah satu perempuan dari pantry tadi menutup mulutnya. Liana tidak membalas tatapannya. Ia hanya mencatat keputusan dan mengirim tindak lanjut sebelum semua orang meninggalkan ruangan.

"Data yang kamu minta sudah benar," kata Bayu saat mereka berjalan keluar. "Pantas Pak Renard tidak pernah mengulang instruksi ke Mbak."

Rizal merendahkan suara. "Itu pujian versi Bayu. Sangat langka. Simpan baik-baik."

"Saya kira tadi kalian sibuk berdoa."

"Doanya terkabul. Bos tidak marah."

Liana tersenyum tipis. Bisik-bisik tentang kampus dan koneksi belum tentu berhenti hari ini. Namun ia tidak perlu berdebat. Meja rapat telah memberinya cara yang lebih bersih untuk menjawab.

***

Pukul sembilan lewat sepuluh, Renard memanggil Liana ke kantornya.

Cangkir kopi sudah kosong. Di layar besar, grafik penjualan memenuhi separuh dinding. Liana berdiri di sisi meja sambil menjelaskan revisi jadwal ketika Renard tiba-tiba berkata, "Tanganmu."

Liana berhenti. "Maaf, Pak?"

"Ulurkan tanganmu."

Nada suaranya datar, seolah ia meminta dokumen. Liana tidak menemukan alasan untuk menolak. Ia mengulurkan tangan kanan.

Renard menangkap pergelangan tangannya.

Panas dari telapak pria itu menembus kulitnya. Liana menahan napas ketika Renard mengangkat tangannya lebih dekat ke wajah. Hidungnya nyaris menyentuh pangkal ibu jari Liana.

Ia sedang mencari aroma semalam.

Kesadaran itu membuat denyut di pergelangan Liana melompat liar tepat di bawah jari Renard.

Mata gelap pria itu terangkat. "Gugup?"

"Bapak tiba-tiba memegang saya."

"Kulitmu dingin."

"Pendingin ruangannya enam belas derajat."

Renard melirik panel suhu, lalu tanpa berkata apa-apa menaikkannya menjadi dua puluh satu. Perubahan itu begitu kecil sehingga Liana nyaris mengira ia salah melihat. Pria yang membuat seluruh lantai bekerja dengan jaket karena menyukai udara dingin baru saja mengubah suhu ruangannya hanya karena pergelangan tangannya terasa dingin.

"Aku hanya..."

Renard berhenti. Ia menarik napas sekali lagi, lebih pelan. Yang tercium hanya kopi pahit, sabun ringan, dan kertas yang sejak pagi disentuh Liana. Tidak ada melati. Tidak ada kamboja. Tidak ada aroma manis yang menghantui tidurnya.

Mustahil asistennya adalah perempuan di kamar gelap itu.

Karina memilih terapis melalui jalur tertutup. Liana baru bekerja sebulan. Dua dunia itu tidak mungkin bertemu.

Renard melepaskan pergelangannya. "Tidak apa-apa."

Bekas tekanan tipis tertinggal di kulit Liana. Ia menyembunyikan tangannya di belakang map.

Di meja Renard, ponsel khusus terapi menyala satu kali karena notifikasi jadwal dari sistem Karina. Liana mengenali warna casing hitamnya. Ponsel kembarannya tersimpan mati di laci meja luar.

Keduanya menoleh ke benda itu pada saat bersamaan.

Renard membalik ponsel hingga layarnya menghadap meja. "Bukan urusan kantor."

"Saya tidak bertanya, Pak."

Namun tenggorokan Liana sudah kering. Hanya satu dinding dan satu laci memisahkan dua percakapan yang seharusnya tak pernah bertemu.

"Apakah ada yang lain, Pak?"

"Lanjutkan jadwalnya."

Liana memaksa suaranya tetap stabil. Ia menjelaskan tiga pertemuan berikutnya, menandai dokumen yang harus ditandatangani, lalu mundur satu langkah.

"Kalau begitu saya kembali ke meja."

Renard mengangguk.

"Satu lagi," katanya sebelum Liana mencapai pintu.

Ia menoleh.

"Kopi pagi ini. Gunakan takaran yang sama besok."

Sebuah permintaan biasa, namun itu pertama kalinya Renard mengakui sesuatu yang dibuat Liana cocok dengan seleranya. "Baik, Pak."

Begitu keluar, Liana menutup pintu perlahan. Lututnya terasa lebih lemah dibanding setelah lima jam terapi. Ia berjalan ke mejanya tanpa menoleh dan menaruh map di samping laptop.

Nyaris.

Jika emosinya naik sedikit saja, aroma itu mungkin sudah keluar.

Ia menyentuh pergelangan tangannya, mencoba menenangkan denyut di sana.

Dari balik dinding kaca, Renard masih memperhatikannya.

Liana menunduk untuk membuka surel. Rambut yang semula menutupi tengkuknya bergeser ke satu sisi.

Sebuah noda merah kecil tampak di tengah kulitnya yang cerah.

Renard tak langsung mengenali bentuknya. Lalu ingatan dari kamar gelap muncul, tentang saat ia kehilangan kendali dan menundukkan wajah terlalu dekat ke bahu Nona Terapis.

Rahangnya mengeras.

Tatapannya terkunci pada bekas merah di tengkuk Liana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!