Aran, seorang pembunuh bayaran yang hidup di balik bayang-bayang, diselamatkan setelah sebuah misi gagal hampir merenggut nyawanya. Takdir membawanya ke Pondok Pesantren Al-Ikhlas, tempat ia bertemu Shanum, seorang wanita kaya yang dingin, tenang, dan sulit didekati.
Ketika ancaman mulai mengincar Shanum, Aran menerima tugas untuk menjaganya. Namun, semakin dekat ia dengan wanita itu, semakin sulit baginya membedakan antara tugas dan perasaan.
Di balik senyum Shanum tersembunyi dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan kekuasaan. Sementara di belakang Aran masih menunggu masa lalu kelam yang belum selesai.
Ketika seorang pembunuh ditugaskan menjaga hati seorang wanita, mampukah ia melindunginya tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pondok Pesantren Al-Ikhlas
Kabut tipis menyelimuti permukaan Sungai Al-Ikhlas yang mengalir di belakang kompleks pesantren saat fajar menyingsing. Udara dingin menembus kulit, membawa aroma tanah basah dan daun bambu yang tertimpa embun. Suara gema shalawat dari pengeras suara masjid sayup-sayup terdengar, menandakan waktu Subuh telah dekat.
Di tepi sungai yang berbatu, Mubin—santri remaja berusia belasan tahun—berjalan memeluk ember plastiknya dengan tubuh sedikit menggigil. Tugas piket Subuh mengharuskan dirinya membersihkan area wudhu luar. Namun langkah kaki Mubin terhenti seketika. Matanya melotot menatap sebuah bayangan hitam besar yang terdampar di antara celah bebatuan dan perakaran pohon sarindai.
"A-apaan itu?" gumam Mubin gemetar.
Ia melangkah perlahan dengan jantung berdebar kencang. Saat jaraknya tinggal beberapa meter, Mubin menjerit pelan seraya membuang embernya. Seorang pria jangkung terbaring tengkurap. Kemeja hitamnya robek-robek, dan air sungai di sekitarnya ternoda warna merah pekat yang terus mengalir dari tubuh pria itu.
"Tolong! Ada orang sekarat! Ning Layla! Pak Kyai!" teriak Mubin panik seraya berlari kencang kembali ke kompleks pesantren.
Tiga puluh menit kemudian, suasana di dalam ruangan Klinik kecil milik Pesantren Al-Ikhlas terasa sangat tegang. Baunya dipenuhi campuran aroma antiseptik, minyak kayu putih, dan bau anyir darah yang menyengat.
Ardebaran terbaring di atas ranjang periksa beralas kain putih. Di sampingnya, Ning Layla—seorang dokter muda berbalut pakaian muslimah bersahaja yang dilapisi jas putih medis—sedang bergerak cepat namun cekatan. Di sebelah Layla, berdiri Kyai Syahuri dengan jubah dan peci putihnya, mengamati dengan raut wajah teduh meski matanya memancarkan kecemasan murni.
"Luka di bahu kirinya hanya lintasan peluru, tapi yang di rusuk samping... proyektilnya masih tertanam di dalam," ujar Ning Layla dengan nada suara yang terkontrol, berusaha menekan kepanikan di dalam dadanya saat menggunting sisa kemeja hitam Aran.
"Apakah bisa dioperasi di sini, Layla? Kalau harus dibawa ke rumah sakit kota, jaraknya satu jam perjalanan. Kondisinya sangat lemah," tanya Kyai Syahuri lembut.
"Pendarahan internalnya terlalu deras, Bah. Kita tidak punya waktu," sahut Layla tegas seraya menyiapkan nampan berisi peralatan bedah minor, kassa steril, dan cairan alkohol. Tangannya yang terbungkus sarung tangan medis tidak gemetar sedikit pun. "Fasilitas anestesi kita terbatas. Saya hanya bisa memberikan anestesi lokal di sekitar jaringan luka, tapi saat mencabut pelurunya... dia akan merasakan sakit yang luar biasa."
Kyai Syahuri menangkupkan kedua tangannya, mulai merapalkan doa-doa keselamatan dengan suara pelan yang amat merdu.
Layla menyiramkan cairan disinfektan ke atas luka tembak Aran, lalu memegang bilah pinset bedah panjang. Tepat saat ujung besi steril itu menyentuh jaringan luka di rusuk Aran, sebuah respons instingtif mendadak terjadi.
Greb!
Mata Aran terbuka lebar menatap Layla tajam, sekering es, dan memancarkan aura membunuh yang mengerikan. Tanpa ada jeda satu detik pun, tangan kanan Aran yang bebas meluncur secepat kilat, mencengkeram pergelangan tangan Ning Layla dengan kuncian taktis yang sanggup mematahkan tulang dalam sekali putar.
Layla menahan napas, terkejut oleh kecepatan dan kekuatan cengkeraman tersebut. Namun, alih-alih berteriak atau mundur ketakutan seperti kebanyakan orang saat diancam, mata bening Layla menatap lurus ke dalam iris mata Aran yang kelam.
"Tenanglah, Tuan," ucap Layla pelan. Suaranya begitu lembut, tenang, dan tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. "Anda berada di tempat yang aman. Saya sedang mencoba menyelamatkan nyawa Anda."
Aran terpaku. Selama hidupnya di dunia hitam, setiap kali ia menatap mata orang lain saat situasinya terdesak, yang ia temukan hanyalah ketakutan, kebencian, atau niat membunuh balik. Namun wanita di hadapannya ini—seorang dokter muda berhijab—menatapnya murni dengan kepedulian dan ketenangan seorang penyembuh.
Pandangan Aran bergeser ke samping. Kyai Syahuri perlahan meletakkan telapak tangannya yang hangat di atas dahi Aran yang membasah oleh peluh dingin.
"Bismillah, Nak... Kamu aman di sini," bisik Kyai Syahuri dengan senyuman yang begitu teduh.
Cengkeraman jemari Aran di pergelangan tangan Layla perlahan mengendur. Otot-otot tubuhnya yang tegang mendadak melunak. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya sebagai Pembunuh bayaran, Aran membiarkan pertahanannya ditembus oleh rasa percaya pada orang asing.
"Maaf..." gumam Aran pelan dengan nada suaranya yang sopan dan dingin.
"Tidak apa-apa. Tahan sebentar," sahut Layla seraya kembali memfokuskan pandangannya pada luka.
Proses pencabutan proyektil berlangsung menegangkan. Tanpa bius total, rasa sakit yang membakar merayap menembus setiap saraf di rusuk Aran saat bilah pinset merogoh jaringan dagingnya. Peluh dingin mengucur deras dari pelipis Aran, dan rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang. Namun, Aran tidak mengerang sedikit pun. Ia hanya menarik dan menghembuskan napas secara teratur—sebuah ketahanan fisik yang membingungkan bagi Layla.
Kling!
Bunyi proyektil timah panas bernoda darah yang dijatuhkan ke atas nampan stainless steel bergema di ruangan sunyi itu. Layla dengan cepat menjahit pembuluh darah yang robek, membersihkan luka, lalu membungkus dada Aran dengan perban steril.
Setelah seluruh proses selesai, Layla menarik napas lega. Ia mengusap dahinya seraya melepas sarung tangan medis.
Aran berbaring lemah, mengamati setiap gerak-gerik wanita itu. Di dalam dadanya yang biasa terasa hampa dan dingin, timbul sebuah rasa kagum yang tak biasa. Aran tahu pasti bahwa luka yang ada di tubuhnya adalah luka tembak—sebuah bukti tak terbantahkan bahwa ia terlibat dalam dunia yang berbahaya dan berdarah. Di luar sana, siapa pun yang melihat luka ini akan langsung melapor ke polisi atau memandangnya sebagai penjahat yang menjijikkan.
Namun wanita ini, juga pria tua di sampingnya, sama sekali tidak menanyakan identitasnya. Mereka tidak menghakiminya, tidak mempermasalahkan latar belakangnya yang dipenuhi kegelapan, dan merawatnya dengan ketulusan yang luar biasa murni.
"Pendarahannya sudah berhenti," ujar Layla seraya membetulkan selimut linen di atas tubuh Aran. Gerakannya begitu lemah lembut dan penuh kehati-hatian, seolah Aran adalah barang pecah belah yang harus dijaga. "Anda butuh istirahat total. Jangan banyak bergerak dulu agar jahitan di rusuk Anda tidak lepas."
Aran menatap wajah Layla yang tampak lelah namun memancarkan ketenangan yang hangat. Ada sesuatu pada diri Layla—sikapnya yang sopan, keteguhan hatinya saat membedah, dan kelembutan jiwanya yang tanpa prasangka—yang perlahan menarik perhatian batin Aran. Seorang pria skeptis yang tidak percaya pada kebaikan dunia, kini dipaksa menyaksikan kebaikan nyata berwujud seorang wanita.
Aran menganggukkan kepalanya pelan, menyunggingkan senyum tipis yang sangat bersahaja.
"Terima kasih banyak atas bantuannya, Dok... dan Bapak," kata Aran dengan intonasi suara yang amat sopan dan teratur, meski staminanya berada di titik terendah. "Saya telah menyusahkan kalian berdua."
Kyai Syahuri terkekeh pelan, mengelus janggut putihnya yang rapi. "Tidak ada yang disusahkan dalam menolong sesama manusia, Nak. Siapa pun kamu, dari mana pun asalmu, pintu rumah ini terbuka untukmu."
Layla tersenyum kecil melihat kesopanan pria misterius itu. Muka dingin dan tubuh kekarnya tampak kontras dengan kesantunan bahasa yang diucapkannya.
"Saya buatkan teh hangat manis untuk menambah energi Anda," ucap Layla lembut sebelum membalikkan badan dan melangkah keluar ruangan.
Aran mengiringi langkah Layla dengan pandangan matanya sampai pintu kayu itu tertutup rapat. Di dalam keheningan klinik yang perlahan diterangi cahaya mentari pagi, Aran memejamkan mata. Rasa sakit di tubuhnya masih menari-nari, namun untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hidup dalam pelarian dan darah, hati Aran merasakan sebentuk kedamaian yang asing.
saling support sabi kali thor🤭