Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.
Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.
Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.
Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.
“Liam…”
“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”
“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”
“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”
Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
“Priiiwiittt...”
Terdengar siulan lembut memecah sunyi dari alat kecil seperti potongan bambu, yang digunakan Lyanna.
Tak lama, dari balik kabut putih yang menggantung di udara dingin, muncul sosok pria berpakaian tebal. Di belakangnya, segerombolan serigala berjalan beriringan dengan langkah gagah.
“Itu Jacob,” ujar Lyanna sambil melambaikan tangan.
“Ya ampun... Apa itu! Ukuranya besar sekali,” gumam Fiona Duncan, matanya membulat melihat ada satu serigala yang ukurannya jauh lebih besar dari serigala yang lain.
“Itu Fenrir,” jawab Elizabeth dengan sorot mata berbinar penuh kekaguman.
Davira menelan ludah. "Glek!"
Jantungnya berdebar cepat, rasa panik mulai menjalar ketika tatapannya terpaku pada serigala raksasa yang disebut Fenrir itu.
Elizabeth yang sejak tadi tak sabar akhirnya berlari ke arah Jacob sambil berseru riang memanggil nama Fenrir.
“Fenrir! Lihat siapa yang datang!” serunya dengan tawa kecil, seolah sedang memanggil sahabat lama.
Serigala raksasa itu menoleh, matanya berkilat tajam namun penuh pengenalan. Ekornya bergoyang pelan, dan Elizabeth tersenyum lega.
Setelah mendekat, Elizabeth menatap Jacob yang berdiri gagah diam kaku, seperti biasanya, tanpa ekspresi.
“Bagaimana perkembangan Fenrir?” tanyanya penuh antusias.
Jacob tersenyum tipis, mengelus kepala serigala besar itu dengan lembut.
“Dia makin kuat… tapi juga makin sulit dikendalikan,” jawabnya singkat.
Elizabeth membuka mantel tebalnya dan mengeluarkan sebuah kantung kulit kecil. Aroma daging segar langsung menyeruak begitu kantung itu dibuka.
“Seperti biasa, aku bawa sesuatu untuk para serigala,” ucapnya lembut.
Jacob mengambil sebagian potongan daging dari tangannya, lalu mulai membagikannya pada kawanan serigala lain yang menunggu dengan sabar di balik kabut salju. Satu per satu hewan buas itu menerima bagiannya dengan patuh.
Namun untuk Fenrir, Elizabeth memilih melakukannya sendiri. Ia melangkah perlahan mendekati serigala besar itu, menatap matanya yang berwarna keperakan.
“Aku tahu kamu masih mengingatku, bukan?” bisiknya sambil menyodorkan potongan daging di telapak tangannya.
Fenrir mendekat dengan hati-hati, mencium tangan Elizabeth sebelum akhirnya mengambil daging itu dengan lembut dari genggamannya.
Davira hanya bisa memperhatikan dari jauh, antara kagum, takut, dan… entah, mungkin sedikit cemburu.
"Bagaimana caranya bisa membuat serigala sebesar itu patuh…?"
Davira menatap Fenrir, tak lepas dari rasa kagum sekaligus takut.
"Jika saja aku bisa memerintahkan serigala itu… sudah pasti aku akan menyuruhnya… menghabisi Liam dan Idette." pikirnya.
Memikirkan hal itu dengan senyum licik yang hampir tak tertahankan, Davira nyaris melepaskan tawanya.
Fiona, yang kebetulan memperhatikan, menebak dengan nada bercanda, “Lady Elliot, Anda… pasti tidak sabar ingin berkenalan dengan Fenrir,”
Davira langsung melotot, merasa tertangkap basah. “Bu–bukan begitu!” sergahnya, suaranya sedikit bergetar menahan tawa yang hampir lepas.
Elizabeth, yang sedang memberi makan Fenrir, tersenyum tipis sambil menatap Davira. “Sepertinya Kakak ipar ingin punya hubungan khusus dengan serigala besar ini, ya?” godanya, nada suaranya lembut tapi menyimpan sedikit candaan.
Davira merasa wajahnya memanas, menunduk sejenak untuk menutupi ekspresinya. Sementara itu, Fenrir menoleh ke arahnya, matanya keperakan menatap tajam, seolah bisa merasakan pikiran Davira yang licik itu.
Elizabeth menoleh ke Davira, matanya penuh harap. “Ayo kakak Ipar… mendekatlah sedikit pada Fenrir.”
Davira menelan ludah dan mengangkat kaki untuk melangkah. Tapi, baru satu langkah, Fenrir mengerang, suaranya dalam dan menggetarkan udara di sekitarnya.
Grrrr....!!
Sontak, Kapten Lyanna mencabut pedangnya dengan sigap, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Jacob pun menegakkan badan, matanya tajam, jelas penuh kewaspadaan.
“Lebih baik jangan mendekat, My Lady,” ujar Jacob dengan suara tegas, menatap Davira agar ia tetap di tempatnya.
Elizabeth yang menyaksikan itu menunduk, bibirnya mengerucut sedikit kecewa. Ia tahu Fenrir biasanya patuh pada orang yang ia percaya… namun sepertinya belum pada Davira.
Berbeda dengan Fiona. Wanita itu tersenyum lebar, matanya berbinar-binar penuh rencana. Seolah-olah momen ini memberinya kesempatan emas—entah untuk menguji Davira atau… melihat Fenrir bereaksi terhadapnya.
Davira tak bisa bergerak, tubuhnya membeku di tempat. Jantungnya berdebar kencang, napasnya terasa berat. Entah kenapa, tatapan Fenrir begitu tajam, seolah serigala raksasa itu mencoba menembus pikirannya, merasuk ke dalam jiwanya.
Mata mereka saling bertemu beberapa saat. Hening menyelimuti sekeliling, hanya terdengar desiran angin salju dan napas mereka masing-masing.
Davira bisa merasakan getaran aneh di dadanya—campuran rasa takut, kagum, dan… sesuatu yang sulit ia jelaskan.
“Hass! Hass!” teriak Jacob, suaranya nyaring memecah keheningan.
Fenrir menggeram rendah, menatap Davira sekali lagi sebelum akhirnya mengikuti perintah Jacob dan masuk kembali ke dalam hutan, meninggalkan jejak kaki besar di salju.
Debu salju beterbangan di udara saat Fenrir menghilang di balik pepohonan. Davira masih terpaku di tempat, rasanya seperti baru saja terlepas dari tatapan yang menembus jiwanya.
Jacob menoleh pada Elizabeth. “Dia butuh waktu untuk menyesuaikan diri… terutama dengan orang baru,” jelasnya, nada suaranya terdengar kesal.
Elizabeth menatap hutan di mana Fenrir menghilang, rawut wajahnya jelas kecewa.
******
Jam makan siang tiba di pos pertahanan. Di meja kayu sederhana, tersaji sup hangat dan daging rusa panggang yang mengepulkan aroma lezat.
Elizabeth duduk bermuram durja, membuat Elliot menatap adiknya dengan kening berkerut bingung.
Fiona, yang duduk di dekat mereka, langsung tersenyum manis. "Dia sedih karena tadi hanya sempat sebentar melihat Fenrir," ujarnya santai.
Elliot menoleh, sedikit heran. "Bagaimana kau tahu apa yang kupikirkan?"
Fiona tertawa kecil. "Ayolah, Elliot. Kita tumbuh bersama. Aku tahu persis arti ekspresi di wajahmu itu."
Elliot tersenyum kaku, merespons keakraban masa lalu yang sengaja Fiona pamerkan di hadapan semua orang.
Mendengar ucapan Fiona yang sarat akan klaim masa lalu, Davira sama sekali tidak terusik. Wajahnya tetap tenang tanpa ekspresi, seolah ia sedang mendengarkan angin lalu yang sama sekali tidak bernilai.
Ia dengan anggun memotong seiris daging rusa di piringnya, lalu menyuapnya perlahan tanpa terburu-buru.
Sikap dingin dan acuh tak acuh itu justru memberikan efek yang jauh lebih telak ketimbang sebuah balasan tajam—persis seperti cara ia menghadapi Idette yang dulu kerap terang-terangan merayu Liam di depan matanya, tidak ada rasa cemburu, tidak ada rasa terancam, hanya ada ketidakpedulian mutlak yang membuat usaha orang lain terlihat sia-sia.
Elliot, yang melirik ke arah istrinya, mendapati Davira tetap fokus pada makanannya dengan kepala dingin. Rasa risih terhadap keakraban Fiona yang dipaksakan itu kini semakin jelas di benak sang penguasa utara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...