NovelToon NovelToon
Dua Hati,Satu Pilihan

Dua Hati,Satu Pilihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: Azqia putri

Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.

Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Dua Hati, Satu Pilihan

Hujan turun rintik sore itu. Persis kayak hari pertama kita ketemu di koridor sekolah. Tapi kali ini gue gak berdiri sendirian di pojok. Gue berdiri di depan gerbang, dan Farhan jalan ke arah gue sambil bawa payung — sama kayak dulu, tapi beda banget.

"Udah lama nunggu?" tanyanya sambil senyum, buka payung buat kita berdua.

"Bareng aja tiba."

Jalan di bawah payung yang sama. Langit kelabu, tapi gak kerasa gelap. Karena di sebelah gue ada orang yang sama — yang dulu nawarin pulang, yang kemudian nawarin hati, dan sekarang nawarin masa depan.

"Lo inget gak hari kayak gini dulu?" tanyanya pelan.

"Inget banget. Gue takut, nanggung, ngerasa sendirian." Gue natap dia. "Sekarang... gue tau. Badai gak selamanya. Dan biasanya di belakangnya ada langit yang lebih bersih."

"Dan ada orang yang bawa payung," tambahnya lembut.

Malam itu, kita semua kumpul lagi di rumah Farhan — Bapak, Ibu, Bu Sari, Pak Budianto, Dimas, dan gue. Bukan acara besar. Cuma makan bareng, cerita, ketawa.

"Gue mau bilang sesuatu," kata Farhan tiba-tiba sambil berdiri di tengah ruangan. Semua natap dia. "Dulu gue pikir cerita ini soal siapa gue sebenarnya. Siapa ayah gue, nama apa yang gue pakai, keluarga mana yang gue punya. Ternyata..." Dia natap gue, lalu semua orang di ruangan itu. "Ternyata cerita ini soal — di antara semua kemungkinan, di antara semua keraguan — siapa yang berani tetap. Dan siapa yang gue pilih untuk temani sepanjang hidup."

Dimas tepuk tangan pelan, senyumnya tulus banget. "Bagus, Han. Bukan soal siapa yang menang. Tapi soal siapa yang bertahan sampai akhir."

"Dan gue..." Dimas berdiri juga. "Gue belajar satu hal — kesalahan bukan akhir. Selama lo berani minta maaf dan mulai lagi... lo masih punya tempat di cerita orang-orang yang sayang sama lo."

Bu Sari menangis haru, pegang tangan Ibu yang merawat Farhan. "Kita semua kira kita datang ke sini untuk memberi. Ternyata kita yang diberi. Satu anak, dua keluarga, satu cerita."

Bapak mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Dan di tengah semua itu... ada Amira. Yang tidak pernah menuntut, tidak pernah pergi, tidak pernah memihak selain kebenaran dan kebaikan."

Gue pipi panas, senyum sampe gak bisa ngomong. Cuma bisa tunduk pelan, mata terasa hangat.

Saat semua mulai pulang, Farhan ajak gue duduk sebentar di beranda. Langit udah bersih, bintang mulai muncul.

"Lo tau gak dulu gue takut banget?" katanya pelan. "Takut gue harus milih antara dua orang. Takut nyakiti salah satu. Takut salah langkah."

"Gue juga," jawab gue. "Gue pikir pilihannya cuma antara dua hati. Ternyata bukan."

"Pilihannya apa?"

"Memilih jadi diri sendiri dulu. Baru kemudian memilih orang yang mau kita sayangi." Gue natap dia dalam-dalam. "Dan di akhir... gue gak bingung lagi. Gue cuma punya satu pilihan. Satu arah. Satu rumah."

Farhan genggam tangan gue erat, jari-jarinya menyelip di sela jari gue. "Dua hati... tapi satu pilihan. Satu jalan. Satu tujuan."

Minggu berikutnya, kita datang ke makam ayah Farhan berdua. Bunga segar di atas batu nisan. Angin berhembus lembut, bawa bau rumput basah dan bunga melati.

"Yah..." kata Farhan pelan, berdiri tegak di depan nisan. "Gue mau bilang. Gue udah tau siapa ayah gue. Dan gue bangga. Tapi gue juga bangga sama nama yang Bapak dan Ibu kasih di rumah. Gue Farhan. Gue juga Raka. Dan gue mau hidup layak — buat dua nama itu. Buat dua Ibu. Buat semua orang yang sayang sama gue."

Dia diam sebentar, lalu senyum pelan. "Dan... gue bawa orang yang gue sayang. Kayak yang Bapak dulu lakuin. Gue jaga dia. Dan dia jaga gue."

Di pulang jalan, kita jalan pelan-pelan. Gak buru-buru.

"Han..."

"Iya?"

"Kalau nanti jauh, sibuk, banyak hal baru... kita bakal berubah gak?"

"Pasti berubah." Dia berhenti, natap gue lurus ke mata. "Rambut kita bakal beda, muka kita bakal beda, kita bakal tau hal-hal yang sekarang belum kita tau. Tapi satu hal gue janji — arah gue gak bakal berubah. Hati gue gak bakal pindah tempat."

"Gue juga." Gue senyum, pegang tangannya. "Kalau lo berubah... berubahlah jadi lebih baik. Tapi jangan berubah jadi orang yang lupa jalan pulang."

"Gak bakal lupa. Karena lo jalan di samping gue. Gue tinggal ikutin langkah lo."

Malam itu, gue tulis halaman terakhir di buku catatan gue. Tulisan rapi, tenang, dan penuh:

 

Dua Hati, Satu Pilihan

Dulu gue pikir cinta segitiga itu soal memilih satu dan nyakiti yang lain. Ternyata bukan.

Yang kita pelajari:

- Farhan belajar — dia bukan di antara dua hati. Dia harus pulang ke hatinya sendiri dulu. Baru dari sana dia bisa memilih dengan jujur.

- Dimas belajar — jatuh bukan berarti hilang. Dan sayang kadang cuma soal jadi teman yang baik, bukan harus jadi orang yang dipilih.

- Gue belajar — gak ada yang lebih berharga dari tetap berdiri di tempat yang benar, walau semua orang pergi.

Dan di akhir... bukan dua hati yang harus dipilih. Tapi satu hati yang akhirnya utuh. Dan satu pilihan yang sudah jelas.

Bukan karena gampang. Tapi karena dia — Farhan — adalah tempat di mana gue bernapas paling lega. Tempat di mana gue gak harus jadi orang lain. Tempat di mana gue pulang.

Dan untuk dia... gue adalah hal yang sama.

Dua hati. Bukan saling berebut. Tapi saling melengkapi. Sampai akhirnya mereka jalan ke arah yang sama.

Satu pilihan.

Satu jalan.

Selamanya.

 

Gue tutup buku pelan. Taruh di meja, di sebelah bingkai foto kecil — kita berempat: gue, Farhan, Dimas, dan Sari. Tersenyum lebar di bawah langit cerah.

HP bunyi, pesan dari Farhan:

"Buku cerita lama udah kelar. Gue mau mulai yang baru. Judulnya belum ada. Tapi tokoh utamanya kita berdua. Boleh?"

Gue ketik balas cepat, senyum melebar sendiri:

"Boleh. Dan gue tau akhir ceritanya — kita bahagia. Bukan tanpa masalah. Tapi bareng. Selalu bareng."

"Setuju. Sampai akhir halaman."

"Sampai akhir halaman."

Di luar, angin sore berhembus sejuk. Langit jingga memudar jadi biru tua. Bintang mulai muncul satu-satu.

Dan di dunia yang penuh perubahan ini... ada satu hal yang gue yakini sepenuhnya.

Dua hati yang dulu sempat bingung dan terpisah, akhirnya menemukan arah. Bukan karena tak ada pilihan lain. Tapi karena mereka sadar — di antara semua kemungkinan, cuma ada satu tempat yang terasa seperti rumah.

Dan di sanalah mereka berdiri. Berdampingan. Siap menulis cerita yang sebenarnya milik mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!