NovelToon NovelToon
The Light We Found

The Light We Found

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: Tr_w

Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.

Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.

Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

Sore harinya, masih di hari yang sama.

Tirta baru saja memarkirkan motornya dan hendak masuk ke dalam kontrakan ketika seorang pria menghampirinya. Pria paruh baya itu sangat ia kenali. Sepertinya, pria itu memang sudah menunggunya.

“Selamat sore, Tirta...” sapa pria yang merupakan pemilik kontrakannya itu.

Tirta sedikit heran. Seingatnya ia sudah memperpanjang kontrak. Lalu, ada masalah apa sampai pria yang hampir tidak pernah ditemuinya itu datang langsung ke kontrakan?

“Selamat sore, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanya Tirta dengan ramah. Dirinya juga penasaran dengan kedatangan pria tersebut.

“Maaf mengganggu, Tirta. Bapak ingin mengabarkan kalau seluruh kontrakan ini akan diperbaiki mulai besok. Jadi kamu harus keluar dari kontrakan ini selama sebulan.” Mendengar penjelasan itu, Tirta langsung terkejut.

Kenapa tiba-tiba seluruh kontrakan harus diperbaiki?

“Maksud Bapak bagaimana? Saya sudah membayar kontrakan ini untuk satu tahun ke depan. Sesuai kontrak, selama setahun ini saya adalah penyewanya. Lalu bagaimana bisa Bapak memperbaiki kontrakan secara tiba-tiba tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu?” Omel gadis itu yang mendadak kesal. Menurutnya, ini sama sekali tidak adil.

“Sekali lagi Bapak minta maaf. Bapak tidak bisa melewatkan kesempatan dari orang dermawan itu. Bapak mendapat bantuan untuk memperbaiki seluruh kontrakan supaya menjadi lebih bagus lagi.” Ucap pria itu dengan nada penuh rasa sungkan.

“Lagi pula, Bapak akan mengembalikan lima puluh persen uang kontrakanmu. Setelah renovasi selesai, kamu tetap bisa tinggal di sini sampai masa kontrakmu habis.” Lanjutnya dengan wajah memelas.

Tirta masih merasa kesal. Namun, melihat pria itu yang begitu pandai bersilat lidah membuatnya juga merasa tidak enak hati.

Perdebatan panjang pun terjadi.

Pada akhirnya, Tirta menyetujui keputusan tersebut. Ia menerima pengembalian lima puluh persen uang kontrakannya, sementara haknya untuk tetap tinggal selama satu tahun penuh tetap berlaku.

Keesokan harinya, sepulang kerja, Tirta mulai mengeluarkan beberapa barang yang dianggap penting. Sementara barang-barang lainnya akan dipindahkan dan disimpan di gudang milik pemilik kontrakan yang berada di sebelah rumah.

Sore itu Lala datang membantu mengangkat tas dan beberapa barang milik Tirta. Namun hingga kini, Tirta masih bingung harus tinggal di mana selama satu bulan ke depan. Pulang ke rumah orang tuanya atau menginap di rumah Lala. Sahabatnya itu bahkan dengan senang hati menawarkan kamarnya untuk ditempati bersama.

Sayangnya, sang pacar sedikit keberatan.

Pria itu merasa jika Tirta tinggal bersama mereka, maka waktu berduaan dan mengobrol dengan Lala setiap malam akan terganggu. Terlebih di rumah itu memang tidak ada kamar kosong selain kamar Lala. Jika Tirta memilih pulang ke rumah orang tuanya, kemungkinan besar ia harus mengambil cuti selama seminggu. Sementara seminggu sisanya ia harus pulang pergi dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam.

Sejak kemarin gadis itu sudah pusing memikirkan akan tinggal di mana. Bahkan Lala masih terus berdebat dengan kekasihnya mengenai dirinya. Tirta semakin merasa tidak enak hati. Seolah dirinya menjadi penyebab pertengkaran keduanya.

Bahkan saat Lala membantu mengeluarkan barang-barangnya pun mereka masih bertengkar. Pacar Lala beberapa kali menyindir dan bahkan mengancam akan putus jika gadis itu tidak menuruti keinginannya.

Tirta hanya diam.

Kalau dirinya ikut bicara dan emosinya meledak, habislah pria itu dimarahinya. Di tengah perdebatan Lala dan kebingungan Tirta, sebuah mobil berhenti tepat di depan kontrakan. Tak lama kemudian, turunlah seorang pria berkacamata hitam. Pria itu menurunkan sedikit kacamatanya, menatap Tirta, lalu tersenyum.

Entah apa arti senyum aneh itu. Tirta bahkan tidak bisa membedakan apakah itu senyum bahagia atau justru senyum penuh siasat licik.

“Ada apa ini ribut-ribut, Tirta? Kenapa kalian membawa barang-barangmu? Apa kamu diusir?” Tanya pria itu sambil menunjuk tas Tirta dengan dagunya. Tirta mengembuskan napas panjang lebih dulu untuk menurunkan emosinya.

“Begini, Kak. Kontrakan ini akan direnovasi mulai besok, jadi aku harus mencari tempat tinggal selama sebulan. Tapi—”

“Syuttt....” Pria itu meletakkan telunjuknya di depan bibir, lalu mengangguk pelan.

“Aku sudah mengerti, Tirta. Jadi aku akan menawarkan tempat tinggal untukmu selama sebulan. Tidak perlu bayar. Gratis.” Tawarnya dengan penuh keyakinan.

“Tidak mau! Aku lebih memilih pulang kampung.” Mendengar jawaban itu, Arga langsung terkejut hingga melepas kacamata hitamnya.

“Kenapa? Ini tawaran yang bagus.” Pria itu mulai panik dan berusaha meyakinkan Tirta. Lala yang sejak tadi menyimak hanya melipat kedua tangannya sambil menatap curiga.

Ada yang aneh.

“Aku tidak mau tinggal di rumah angker seperti rumah pria itu. Dia sendiri bilang kalau di sana banyak hantunya.” Ucap Tirta sambil bergidik ngeri saat mengingat ucapan Marchel tempo hari.

Sial! Dia membuatku harus mencari alasan yang masuk akal!

Batin Arga kesal.

“Sebenarnya itu hanya dongeng belaka. Pria tua itu hanya malas menghidupkan lampu.” Arga mencoba membuat ceritanya terdengar meyakinkan.

“Kenapa begitu?” Tirta mengernyit penasaran. Arga melambaikan tangannya agar Tirta mendekat. Lala pun ikut menyimak.

“Karena usianya yang hampir menginjak tiga puluh tahun, jadi dia mulai sedikit pelupa. Bahkan kemarin saja dia lupa sudah makan atau belum. Dia hanya tidak mau terlihat pikun, makanya mengarang cerita seperti itu.” Jelas Arga dengan gaya layaknya sedang bergosip tentang sepupunya sendiri.

“Tapi kamu juga seumuran dengannya, kan? Kenapa kamu tidak pikun?” Tanya Lala yang kini ikut menyela.

“Aku pria yang rajin olahraga, jadi ingatanku kuat. Kalian juga tahu sendiri bagaimana kondisi Marchel.”

Skakmat.

Tirta mulai menunjukkan rasa simpatinya dan mengangguk pelan, seolah mempercayai semua penjelasan Arga.

“Jadi kamu benar-benar menawarkan Tirta tinggal di rumah belakang itu? Atau di rumahmu yang depan?” Tanya Lala langsung pada intinya. Arga mulai merasa tidak suka dengan gadis yang terlalu banyak ikut campur itu.

Namun mau bagaimana lagi. Sepertinya hidupnya dan hidup Marchel akan selalu diikuti oleh gadis bernama Lala ini. Arga tersenyum sambil mengatupkan giginya menahan kesal.

“Di rumah belakang. Lagi pula tempat itu sangat aman, dan Marchel tidak akan mengganggunya.”

“Kenapa bukan di rumahmu saja?” Lala kembali menginterogasi. Jika pria itu memiliki niat tersembunyi, maka ia harus memastikan niat itu baik atau buruk.

“Karena semua kamar di rumah depan sudah dipakai oleh aku dan kedua orang tuaku.” Jawab Arga yang mulai kehilangan kesabaran.

“Mereka suami istri. Bagaimana bisa menempati kamar yang berbeda? Bukannya kemarin aku lihat ada tiga kamar?” Tanya Lala lagi.

“Mereka pisah ranjang! Sudah, jangan banyak bertanya!” Bentak Arga yang mulai frustrasi.

“Bagaimana, Tirta? Kamu mau ikut denganku?” Nada bicaranya langsung berubah lembut saat berbicara kepada Tirta.

Maaf, Ibu... aku sedikit berbohong soal kalian yang pisah ranjang.

Batinnya sambil berharap tidak dikutuk menjadi batu hanya karena harus membuat situasi ini terdengar meyakinkan.

“Baiklah, Kak. Aku akan ikut. Tapi aku tetap akan membayar biaya tinggal selama satu bulan. Aku tidak mau berutang budi padamu.” Arga langsung mengangguk senang.

Terserah apa maumu, yang penting sekarang kamu pindah dulu ke rumah itu. Soal yang lain biar aku urus nanti.

Ting!

Sebuah pesan dari Marchel masuk dan seketika membuat Arga berkeringat dingin sambil celingukan ke segala arah.

"Hati-hati dengan lidahmu, Sepupuku. Atau kepalamu akan hancur di detik berikutnya oleh peluru yang bersarang di dalamnya."

Pesan itu membuat jantung Arga serasa berhenti berdetak.

Pandangannya menyapu sekitar hingga akhirnya menemukan seorang pria berpakaian serba hitam sedang menyandarkan tubuh di seberang jalan sambil mengisap rokok. Itu adalah salah satu anak buah Marchel. Arga baru teringat bahwa ia lupa memerintahkan pria itu untuk menjauh.

Namun, meski begitu, apa pun yang dilakukannya memang tidak pernah luput dari pengawasan pria bernama Marchel itu.

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!