Di benua tempat langit dan bumi saling menyatu, kekuatan sejati bukanlah tentang seberapa tajam pedang yang kau genggam atau seberapa tinggi tingkatan kultivasimu melainkan seberapa murni hatimu dan seberapa tulus kasih sayang yang kau berikan kepada dunia.
Lin Mo seorang pemuda yang lahir tanpa bakat istimewa di mata orang lain memulai perjalanan panjangnya menembus kabut tebal yang menyelimuti langit dan bumi. Ia menghadapi petir surgawi yang menggetarkan jiwa saat menerobos setiap tingkat kekuatan. Ia menembus hutan purba yang dijaga makhluk purba yang tak pernah menampakkan wujudnya kepada siapa pun. Ia mendaki puncak salju abadi yang membekukan jiwa bahkan sebelum membekukan tubuh.
Dengan hati yang tetap murni dan rendah hati meskipun kekuatan di tangannya semakin dahsyat Lin Mo mengumpulkan kembali empat kekuatan suci yang telah terpisah ribuan tahun. Cahaya api yang membakar kejahatan. Cahaya kehidupan yang menyembuhkan luka. Cahaya keheningan yang melatih kesabaran. Cahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 KEKUATAN YANG BARU TERBANGUN
Lin Mo melangkah perlahan menembus kabut tebal yang menyelimuti Lembah Kematian. Udara dingin yang sedetik lalu terasa menyengat hingga ke tulang, kini seakan tak lagi mampu menyentuh kulitnya. Setiap langkah kakinya yang menapak di tanah berlumuran darah dan bebatuan tajam terasa ringan namun kokoh, seakan ada kekuatan tak kasat mata yang melindunginya dari segala bahaya yang mengintai di setiap sudut lembah mengerikan itu. Cahaya keemasan samar yang sempat menyelimuti tubuhnya kini telah menyatu sempurna ke dalam aliran darahnya, menyembunyikan wibawa luar biasa itu dari pandangan siapa pun yang tak pantas melihatnya. Namun Lin Mo sendiri dapat merasakannya dengan sangat jelas — kekuatan yang kini mengalir di dalam dadanya jauh melampaui apa pun yang pernah diketahui atau dipelajarinya selama bertahun-tahun di sekte. Kekuatan itu bukanlah seni bela diri biasa yang dipelajari dari buku atau diajarkan oleh guru. Itu adalah kekuatan yang lahir bersama langit dan bumi, kekuatan yang telah ada sejak zaman purba ketika para dewa dan makhluk suci masih berjalan di atas dunia ini.
Saat Lin Mo berjalan menyusuri jalan sempit yang berkelok di antara tebing-tebing batu yang menjulang tinggi, ia mulai menyadari perubahan-perubahan luar biasa yang terjadi pada tubuh dan kesadarannya. Pandangan matanya kini mampu menembus kegelapan pekat seakan diterangi cahaya terang benderang. Jarak yang dulunya tampak jauh dan samar, kini terlihat begitu dekat dan jernih hingga Lin Mo mampu melihat urat-urat daun yang tumbuh di dinding tebing tinggi sekalipun. Pendengarannya pun menjadi tajam luar biasa. Suara tetesan air dari celah batu, derap langkah binatang buas yang berjarak berlipat-lipat jauh, bahkan detak jantung makhluk-makhluk kecil yang bersembunyi di balik tanah, semuanya terdengar jelas dan teratur bagaikan bunyi yang berdentang di telinganya sendiri. Dan yang paling luar biasa, Lin Mo dapat merasakan aliran energi di sekelilingnya. Ia dapat merasakan kekuatan yang tersimpan di dalam bebatuan, di dalam air yang mengalir, di dalam pepohonan tua, dan di dalam udara yang berhembus menyapu wajahnya. Semua itu kini seakan menjadi bagian dari dirinya sendiri, seakan alam semesta telah membukakan pintu rahasianya lebar-lebar di hadapan Lin Mo yang baru saja mewarisi darah Naga Abadi.
Lin Mo berhenti sejenak di tepi sungai kecil yang airnya tampak keruh dan berbau menyengat karena racun yang menyebar ke seluruh lembah. Ia menatap bayangannya sendiri di permukaan air yang tenang. Wajahnya masih sama — wajah yang dulu sering dipandang rendah dan disepelekan oleh banyak orang karena terlihat terlalu lembut dan pendiam. Namun kini, di balik wajah yang tenang itu, sepasang matanya menyimpan kedalaman yang tak terukur dan cahaya keemasan samar yang sesekali melintas di bawah pelupuk matanya, mengingatkannya pada kekuatan luar biasa yang kini mengalir di dalam pembuluh darahnya. Lin Mo perlahan mengangkat kedua tangannya. Dengan sekejap mata, air sungai yang keruh dan beracun itu tiba-tiba bergerak naik melawan hukum alam, membentuk pilar air yang melayang di udara tepat di hadapan telapak tangannya. Cahaya keemasan samar menyelimuti pilar air itu, dan dalam sekejap, segala kotoran dan racun yang terkandung di dalam air itu terpisah keluar dan jatuh kembali ke sungai, menyisakan air yang jernih dan murni bagaikan air mata air yang baru saja muncul dari dalam tanah.
Lin Mo tertegun sejenak melihat apa yang baru saja dilakukannya. Ia sama sekali belum berlatih atau mempelajari cara menggunakan kekuatan itu. Namun begitu ia menginginkannya, kekuatan itu langsung merespons seketika, patuh dan tak tertahankan. Seakan-akan tubuhnya telah terbiasa dengan kekuatan tersebut sejak ribuan tahun yang lalu, dan kini hanya menunggu waktu agar kembali teringat dan digunakan sesuai kehendak hatinya.
"Ini... kekuatan apa yang begitu dahsyat?" gumam Lin Mo pelan suaranya terdengar rendah namun penuh kekaguman sekaligus tekad yang semakin kuat. "Suara itu berkata... ia adalah Naga Abadi... bahwa darah kuno di tubuhku ternyata belum mati... Jadi selama ini, kekuatan yang mengalir di dalam tubuhku bukanlah milik keluarga Lin maupun milik sekte..."
Lin Mo perlahan menyadari satu hal besar yang tak pernah ia ketahui sebelumnya. Selama ini, semua orang mengira kekuatan yang dimilikinya berasal dari warisan keluarga dan ajaran sekte. Mereka mengira bahwa racun yang merusak inti sari kekuatannya beberapa bulan lalu telah merampas segalanya dan membuatnya menjadi orang biasa yang tak berdaya. Namun ternyata, kekuatan yang sesungguhnya telah tersembunyi jauh lebih dalam, terkunci rapat di dalam darahnya sendiri, menunggu saat yang tepat untuk terbangun kembali. Dan saat itu tiba tepat ketika nyawanya berada di ambang pintu kematian, di saat semua orang mengira ia telah binasa dan tak akan pernah kembali.
"Lin Tian... Xu Yao... Kalian kira telah merampas segalanya dariku..." ucap Lin Mo perlahan menatap jauh ke arah puncak tebing yang samar terlihat di kejauhan. "Kalian kira telah merampas masa depanku dan membuatku hancur tak berdaya. Namun kalian sama sekali tidak tahu... bahwa apa yang kalian ambil hanyalah sebutir debu saja dibandingkan dengan apa yang kini mengalir di dalam tubuhku. Kalian telah membukakan pintu bagi kekuatan yang kalian sendiri tak akan pernah mampu hadapi. Tunggulah... tunggulah saat aku kembali berdiri di hadapan kalian..."
Belum sempat Lin Mo melanjutkan ucapannya, suara gemuruh dahsyat tiba-tiba terdengar dari arah hutan belantara yang lebat di sebelahnya. Tanah di bawah kakinya ikut bergetar hebat seakan ada gempa bumi yang datang tiba-tiba. Pepohonan besar berguncang hebat dan dedaunan berjatuhan berhamburan ke segala arah. Dari balik rimbunan pepohonan tua yang gelap, tiba-tiba melesat keluar sesosok bayangan besar berwarna kelabu tua yang melesat dengan kecepatan luar biasa menuju ke arah Lin Mo. Itu adalah Binatang Iblis Tingkat Tinggi yang telah lama bersemayam di Lembah Kematian, makhluk buas yang kejam dan kuat luar biasa, yang keberadaannya saja cukup untuk membuat siapa pun yang melintas di lembah itu ketakutan dan melarikan diri secepat mungkin.
Binatang itu melompat tinggi ke udara lalu menerjang ke bawah dengan mulut yang terbuka lebar memperlihatkan taring-taring tajam yang berkilauan. Napas yang keluar dari mulutnya berbau busuk dan panas, disertai gelombang kekuatan yang cukup untuk menghancurkan batu-batu besar berkeping-keping. Binatang itu melancarkan serangan dengan penuh niat membunuh, seakan ingin melahap hidup-hidup pemuda yang melintas di wilayah kekuasaannya tanpa rasa takut sedikit pun.
Namun di mata Lin Mo, serangan yang tampak mengerikan dan mematikan itu justru terlihat lambat dan penuh celah. Karena penglihatan dan kesadarannya kini telah ditingkatkan berkali-kali lipat oleh kekuatan Naga Abadi yang mengalir di dalam dirinya, setiap gerakan binatang buas itu terlihat begitu jelas dan terukur bagaikan air yang mengalir tenang. Lin Mo tidak mundur. Ia tidak berusaha melarikan diri. Ia bahkan tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Hanya sepasang matanya yang menatap tajam ke arah binatang besar itu yang sedang meluncur jatuh tepat ke arahnya dengan kecepatan penuh.
Saat taring-taring tajam itu hampir menyentuh wajahnya, Lin Mo akhirnya mengangkat satu tangan ke depan dan menangkis serangan itu dengan telapak tangannya yang terbuka. Tidak ada teriakan, tidak ada gerakan yang berlebihan. Hanya satu gerakan sederhana yang dilakukan dengan tenang dan mantap.
Terdengar suara dentuman keras yang memekakkan telinga. Cahaya keemasan memancar keluar dari telapak tangan Lin Mo membentuk perisai tak kasat mata yang menahan serangan dahsyat binatang itu seketika. Tubuh besar binatang buas itu terpental mundur seketika bagaikan daun kering yang diterjang badai. Ia berguling-guling di tanah hingga menabrak belasan pohon besar yang tumbang berantakan sebelum akhirnya berhenti dengan napas yang terengah-engah dan mata yang melotot penuh rasa takut yang luar biasa. Binatang itu menatap pemuda yang berdiri tenang di kejauhan, dan seketika itu juga, ia merasakan tekanan yang begitu berat dan mengerikan datang dari sosok pemuda itu — tekanan yang seakan berasal dari penguasa tertinggi di antara semua makhluk hidup. Binatang itu gemetar hebat sekujur tubuhnya. Ia merasakan aura keagungan dan kekuasaan Naga yang tak tertandingi, aura yang membuatnya merasa kecil dan tak berdaya bagaikan seekor semut di hadapan gunung yang menjulang tinggi.
Lin Mo melangkah perlahan mendekati binatang besar itu. Setiap langkah kakinya jatuh dengan tenang namun tekanan yang ditimbulkannya semakin berat menindih tubuh binatang itu hingga ia tak mampu bergerak sedikit pun. Binatang buas yang kejam dan buas itu kini hanya bisa bergetar ketakutan, menatap pemuda yang mendekat dengan tatapan yang tenang namun menggetarkan jiwanya.
"Kau ingin membunuhku?" tanya Lin Mo pelan suaranya rendah namun terdengar jelas di telinga binatang itu seakan berdenting bagaikan guntur. "Namun kekuatanmu belum cukup untuk itu. Bahkan seluruh kekuatan yang kau miliki tak berarti apa-apa di hadapan kekuatan yang kini bersamaku."
Binatang itu seakan mengerti maksud ucapan Lin Mo. Ia menundukkan kepalanya yang besar dan mengerikan itu ke tanah dengan penuh ketundukan dan rasa hormat yang mendalam. Aura keagungan Naga yang memancar dari tubuh Lin Mo telah menaklukkan jiwa buasnya seketika tanpa perlu pertarungan yang panjang dan melelahkan.
Lin Mo berhenti tepat di hadapan binatang itu. Ia menatap mata binatang buas itu dengan pandangan yang tenang namun tegas.
"Aku tidak akan melukaimu," ucap Lin Mo perlahan. "Namun mulai hari ini, kau akan menemaniku keluar dari lembah ini. Kau akan menjadi saksi perjalananku. Dan kelak, kau akan melihat dengan matamu sendiri bagaimana dunia yang telah mencampakkanku akhirnya tunduk dan gemetar ketakutan menyambut kedatanganku."
Binatang itu seakan mengangguk patuh. Ia berdiri perlahan dan merendahkan punggung besarnya ke tanah seakan mempersilakan Lin Mo untuk menaiki punggungnya. Lin Mo menatapnya sejenak, lalu tanpa ragu sedikit pun, ia melangkah maju dan duduk di atas punggung binatang buas itu. Seketika itu juga, binatang itu berdiri tegak dan melesat membawa Lin Mo melintasi hutan belantara dengan kecepatan luar biasa, menembus kabut tebal dan kegelapan pekat, menuju jalan keluar dari Lembah Kematian yang selama ini tak ada satu pun orang yang berani harapkan untuk kembali hidup-hidup.
Di atas punggung binatang buas yang melesat cepat menembus lembah, Lin Mo menatap ke depan dengan pandangan yang tajam dan tak tergoyahkan. Di hadapannya masih terbentang jalan yang sangat panjang dan penuh bahaya. Ia tahu bahwa kekuatan yang dimilikinya saat ini baru permulaan. Ia masih harus memahami cara mengendalikannya, masih harus menempa jiwanya agar seimbang dengan kekuatan besar yang dipunyainya. Dan di luar sana, di puncak gunung tempat sekte berada, masih menantinya dua orang pengkhianat yang sedang bersukacita mengira ia telah binasa. Masih menantinya dunia yang penuh kebencian, keserakahan, dan kejahatan yang harus dibersihkan.
Namun Lin Mo tidak merasa takut sedikit pun. Di dalam dadanya kini mengalir darah Naga Abadi. Di dalam jiwanya kini bersemayam kekuatan purba yang tak tertandingi. Dan di pundaknya kini terbebani janji suci yang harus ditepati.
"Lin Tian... Xu Yao... Tunggulah kedatanganku..." ucap Lin Mo pelan di tengah hembusan angin yang menerpa wajahnya. "Aku tidak akan datang sendirian dengan tangan kosong. Aku akan datang membawa kekuatan yang tak mampu kalian pahami. Dan saat aku kembali berdiri di hadapan kalian... penyesalanlah yang akan menjadi hukuman abadi bagi kalian berdua."
Binatang buas itu melesat semakin cepat meninggalkan bagian terdalam lembah. Cahaya keemasan samar sesekali memancar dari tubuh Lin Mo yang duduk tenang di atas punggung binatang itu, menyinari jalan di hadapannya yang gelap dan berbahaya. Dan jauh di atas puncak tebing yang menjulang tinggi, langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah mendung seketika. Angin kencang berhembus menderu seakan-akan alam semesta sendiri sedang bersiap menyambut kedatangan seseorang yang baru saja bangkit dari kematian dan akan kembali untuk menuntut haknya yang telah dirampas dengan keji.