Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANGAN PILIH SAYA
Sejak percakapan pagi itu, Alya tidak bisa berkonsentrasi.
Bukan karena Arga.
Bukan juga karena pekerjaan.
Melainkan karena satu kalimat Raka yang terus terngiang di kepalanya.
“Ya. Saya cemburu.”
Untuk pertama kalinya, Raka mengakuinya.
Tanpa alasan.
Tanpa berlindung di balik kata pekerjaan.
Tanpa mengatakan bahwa dia hanya menjalankan tugas sebagai atasan.
Alya menatap layar laptop.
Satu dokumen sudah terbuka hampir dua puluh menit, tetapi tidak ada satu pun kalimat yang benar-benar masuk ke kepalanya.
Maya memperhatikannya dari meja sebelah.
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Dari tadi halaman yang sama.”
Alya melihat layar.
Benar.
Dia bahkan tidak sadar.
Maya mendekat.
“Pak Raka?”
Alya menghela napas.
“Jangan tanya.”
“Berarti benar.”
“Aku bilang jangan.”
Maya tersenyum.
“Dia bilang apa?”
Alya diam.
Kemudian berkata pelan,
“Dia mengaku cemburu.”
Maya langsung membelalakkan mata.
“Serius?”
Alya mengangguk.
“Terus?”
“Tidak ada.”
“Tidak ada bagaimana?”
“Dia cuma bilang dia cemburu.”
Maya menatapnya.
“Dan kamu?”
Alya menunduk.
“Aku tidak tahu.”
Maya tersenyum kecil.
“Bukan tidak tahu.”
“Apa?”
“Kamu tahu.”
Alya tidak menjawab.
Karena jauh di dalam hati, dia memang sudah tahu.
Dia menyukai Raka.
Masalahnya bukan lagi apakah dia punya perasaan.
Masalahnya adalah—
apa yang harus dilakukan dengan perasaan itu?
PUKUL 10.30
Pintu ruang Raka terbuka.
“Alya.”
Dia berdiri.
“Iya, Pak?”
“Masuk.”
Alya mengikuti.
Raka duduk di belakang meja.
“Duduk.”
Alya duduk.
Beberapa detik mereka hanya diam.
Akhirnya Raka berkata,
“Pagi tadi…”
Alya menunggu.
“Saya minta maaf.”
“Untuk apa?”
“Karena mengatakan saya cemburu.”
Alya terdiam.
“Kenapa minta maaf?”
“Karena seharusnya saya tidak mengatakan itu.”
Alya menatapnya.
“Bapak menyesal?”
Raka tidak langsung menjawab.
“Tidak.”
Alya sedikit terkejut.
“Lalu?”
“Saya hanya sadar saya tidak seharusnya menempatkan kamu dalam posisi seperti ini.”
Alya menunduk.
“Bapak benar.”
Raka mengangguk.
“Kita harus profesional.”
Alya menarik napas.
“Iya.”
“Karena kalau kita terus seperti ini…”
Raka berhenti.
Alya menunggu.
“Yang akan terluka bukan hanya kamu.”
Alya mengangkat wajah.
“Bapak juga?”
Raka menatapnya.
“Ya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Alya menggenggam ujung jarinya sendiri.
“Pak…”
“Hm?”
“Kalau Bapak memang tahu kita harus menjaga jarak…”
Raka menatapnya.
“Kenapa Bapak selalu mencari saya?”
Raka diam.
“Kenapa Bapak selalu memperhatikan saya?”
Tidak ada jawaban.
“Kenapa Bapak marah kalau saya dekat dengan orang lain?”
Raka menundukkan pandangan.
Alya melanjutkan,
“Dan kenapa Bapak meminta saya tetap di sini?”
Raka mengangkat wajah.
“Karena saya…”
Dia berhenti.
Kalimat itu hampir keluar.
Namun akhirnya dia menghela napas.
“Karena saya tidak ingin kehilangan kamu.”
Alya membeku.
Raka sendiri terdiam setelah mengucapkannya.
Mereka saling menatap.
Alya merasa dadanya sesak.
“Sebagai asisten?”
Raka tidak menjawab.
“Pak?”
Raka berdiri.
“Jangan tanya.”
Alya ikut berdiri.
“Kenapa?”
“Karena saya belum bisa memberikan jawaban yang benar.”
Alya menatapnya.
“Jawaban yang benar atau jawaban yang aman?”
Raka terdiam.
Alya tahu jawabannya.
PUKUL 13.00
Hari itu Alya memilih makan siang sendirian.
Dia ingin berpikir.
Namun baru beberapa menit duduk, Arga datang.
“Boleh?”
Alya mengangguk.
Arga duduk di depannya.
“Saya ingin membahas pagi tadi.”
Alya meletakkan sendok.
“Baik.”
“Saya tahu posisi kamu sulit.”
Alya diam.
“Saya tidak bermaksud membuat kamu tidak nyaman.”
“Terima kasih.”
Arga tersenyum.
“Saya juga tahu kamu punya perasaan terhadap seseorang.”
Alya terdiam.
Arga tidak menyebut nama.
Namun keduanya tahu siapa yang dimaksud.
“Dan saya tidak ingin memaksa.”
Alya menatapnya.
“Pak Arga…”
“Panggil Arga saja kalau tidak sedang di kantor.”
Alya tersenyum tipis.
“Baik.”
Arga melanjutkan,
“Saya hanya ingin kamu tahu bahwa saya serius.”
Alya menarik napas.
“Saya menghargai itu.”
“Tapi?”
Alya terdiam.
“Beri saya waktu.”
Arga mengangguk.
“Baik.”
Tidak ada drama.
Tidak ada paksaan.
Arga berdiri.
“Saya akan menunggu.”
Dia pergi.
Alya menatapnya.
Untuk sesaat, dia merasa bersalah.
Arga baik.
Dewasa.
Terbuka.
Tidak membuatnya bingung.
Tetapi justru karena itu—
Alya semakin sadar bahwa hatinya bukan milik Arga.
PUKUL 15.00
Raka sedang meeting ketika sebuah email masuk.
Dari HR.
Subjek: Evaluasi Struktur Posisi Executive Assistant
Raka membukanya.
Isi email itu membuat ekspresinya berubah.
Dalam restrukturisasi yang akan dilakukan, posisi Executive Assistant akan dialihkan menjadi Executive Office Coordinator.
Artinya Alya tidak lagi hanya bekerja langsung untuk Raka.
Dia akan berada di bawah struktur baru yang menangani seluruh jajaran direksi.
Raka membaca sampai selesai.
Kemudian menutup laptop.
Tidak.
Dia tidak menyukai keputusan itu.
Bukan karena pekerjaan.
Karena artinya—
Alya tidak akan lagi menjadi orang yang selalu berada di dekatnya.
Tidak ada lagi meja Alya di depan ruangannya.
Tidak ada lagi kopi pagi.
Tidak ada lagi suara Alya yang mengomel karena jadwal.
Tidak ada lagi alasan untuk memanggilnya.
Raka sadar bahwa selama ini semua kebiasaan itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Dia mengambil ponsel.
Mengetik pesan.
Alya, ke ruangan saya setelah meeting.
Beberapa detik kemudian balasan masuk.
Baik, Pak.
PUKUL 16.30
Alya masuk.
Raka menunjukkan email HR.
“Baca.”
Alya membaca.
Wajahnya berubah.
“Oh.”
“Mulai bulan depan.”
Alya menatap dokumen.
“Berarti saya pindah posisi?”
“Ya.”
“Tidak lagi menjadi asisten langsung Bapak?”
“Tidak.”
Alya diam.
Anehnya, dia merasa sedih.
Padahal beberapa hari lalu dia sendiri yang ingin menjaga jarak.
Tetapi ketika jarak itu benar-benar akan terjadi karena keputusan perusahaan—
hatinya tidak siap.
Raka memperhatikan ekspresinya.
“Kamu tidak suka?”
Alya menggeleng.
“Bukan.”
“Lalu?”
“Saya cuma…”
Dia berhenti.
Raka menunggu.
“Sudah terbiasa di sini.”
Raka menatapnya.
“Saya juga.”
Alya mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada yang mengatakan apa-apa.
Namun keduanya tahu kalimat itu memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar pekerjaan.
PUKUL 17.00
Alya keluar dari ruangan Raka.
Arga sedang berdiri di dekat lift.
“Boleh bicara?”
Alya mengangguk.
“Ada apa?”
“Saya dengar restrukturisasi.”
Alya terkejut.
“Dari siapa?”
“Sudah dibicarakan di manajemen.”
“Oh.”
Arga tersenyum.
“Kalau kamu masuk ke Executive Office, kita mungkin akan sering bekerja bersama.”
Alya mengangguk.
“Iya.”
“Bagus.”
Alya tersenyum.
“Kenapa?”
“Karena saya senang.”
Alya terdiam.
Arga kemudian berkata,
“Saya tidak akan meminta jawaban sekarang.”
“Terima kasih.”
“Tapi saya akan tetap berusaha mengenal kamu.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Arga pergi.
Raka melihat dari dalam ruangannya.
Dia tidak mendengar percakapan mereka.
Tetapi dia melihat ekspresi Alya.
Dan rasa cemburu itu kembali muncul.
Kali ini lebih kuat.
Namun Raka tidak keluar.
Dia tidak punya hak.
PUKUL 18.30
Alya selesai bekerja.
Dia memasukkan laptop ke tas.
Raka keluar.
“Kamu pulang?”
“Iya.”
“Besok?”
“Seperti biasa.”
Raka mengangguk.
Mereka berdiri berhadapan.
Tidak ada percakapan.
Alya akhirnya berkata,
“Pak.”
“Hm?”
“Kalau saya pindah posisi…”
Raka menatapnya.
“Ya?”
“Apakah kita masih akan sering bertemu?”
Raka menjawab,
“Pasti.”
“Tapi tidak seperti sekarang.”
“Tidak.”
Alya tersenyum kecil.
“Sayang sekali.”
Raka terdiam.
“Kenapa?”
“Tidak tahu.”
Alya menatap lantai.
“Mungkin saya juga sudah terbiasa.”
Raka menatapnya lama.
Kemudian berkata,
“Alya.”
“Iya?”
“Jangan memilih untuk bertahan di sini karena saya.”
Alya mengangkat wajah.
“Kenapa?”
“Karena saya tidak ingin keputusan kariermu dipengaruhi perasaan.”
Alya terdiam.
Raka melanjutkan,
“Kalau kamu punya kesempatan lebih baik, ambil.”
“Bapak ingin saya pergi?”
“Tidak.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Alya menatapnya.
Raka menghela napas.
“Saya ingin kamu memilih yang terbaik untuk dirimu.”
Alya tersenyum.
“Terima kasih.”
Kemudian dia pergi.
Raka menatapnya sampai pintu lift tertutup.
MALAM
Alya duduk di kamarnya.
Di meja ada dua pilihan.
Tetap di Executive Office.
Atau menerima tawaran dari sebuah perusahaan lain yang pernah menghubunginya.
Gajinya lebih besar.
Jabatannya juga lebih tinggi.
Secara logika—
dia harus pergi.
Namun setiap kali membayangkan meninggalkan Mahendra Group, yang muncul di pikirannya bukan kantor.
Bukan pekerjaan.
Bukan gaji.
Melainkan Raka.
Tatapan dinginnya.
Nada suaranya.
Kebiasaan mereka bertengkar.
Kopi pagi.
Perjalanan bersama.
Hujan.
Dan kalimat:
“Saya tidak ingin kehilangan kamu.”
Alya memejamkan mata.
“Kenapa harus dia?”
DI RUMAH RAKA
Raka juga tidak bisa tidur.
Dia membuka email HR sekali lagi.
Kemudian membuka draft rekomendasi untuk Alya.
Dia bisa saja meminta agar posisi Alya tetap berada langsung di bawahnya.
Sebagai direktur, dia punya pengaruh.
Tetapi dia tidak melakukannya.
Karena jika dia melakukan itu—
orang-orang akan mulai bertanya.
Dan jika orang-orang mulai bertanya—
Alya yang akan terkena dampaknya.
Raka menatap layar.
Kemudian menghapus draft tersebut.
“Jangan.”
Dia harus membiarkan Alya memilih.
Meskipun pilihan itu mungkin berarti kehilangan kedekatan mereka.
KEESOKAN PAGI
Alya datang lebih awal.
Raka sudah berada di ruangannya.
Dia membawa dua gelas kopi.
Seperti biasa.
Ketika Alya masuk, Raka menyerahkan satu.
“Untuk kamu.”
Alya menerimanya.
“Terima kasih.”
Mereka duduk berhadapan.
Raka bertanya,
“Sudah memutuskan?”
Alya mengangguk.
“Sudah.”
Raka diam.
“Dan?”
Alya tersenyum.
“Saya tetap di sini.”
Raka tidak langsung bereaksi.
“Yakin?”
“Yakin.”
“Kenapa?”
Alya menatapnya.
“Karena saya masih punya banyak hal yang ingin saya pelajari.”
Raka mengangguk.
“Bagus.”
Alya tersenyum.
“Tapi bukan karena Bapak.”
Raka sedikit tersenyum.
“Bagus.”
Alya berdiri.
“Saya kembali bekerja.”
Namun sebelum pergi, Raka berkata,
“Alya.”
Dia menoleh.
“Ya?”
“Terima kasih.”
Alya tersenyum.
“Sama-sama.”
Dia keluar.
Raka melihat pintu yang tertutup.
Ada rasa lega.
Namun juga ada rasa takut.
Karena sekarang dia tahu—
Alya memilih bertahan.
Tetapi bukan karena dirinya.
Dan itu membuat Raka semakin yakin bahwa jika suatu hari dia ingin memiliki tempat khusus dalam hidup Alya…
dia harus mendapatkannya bukan sebagai bos.
Melainkan sebagai seorang laki-laki.
SATU MINGGU KEMUDIAN
Restrukturisasi mulai berjalan.
Meja Alya dipindahkan.
Dia tidak lagi duduk tepat di depan ruang Raka.
Sekarang dia berada di area Executive Office bersama beberapa staf lain.
Jarak mereka hanya sekitar dua puluh meter.
Tetapi bagi Raka—
rasanya seperti jauh sekali.
Pagi itu dia keluar dari ruangannya.
Refleks menoleh ke meja lama Alya.
Kosong.
Dia berhenti.
Maya memperhatikan.
“Pak?”
Raka tersadar.
“Tidak apa-apa.”
Dia kembali masuk.
Di ruangan barunya, Alya sedang bekerja.
Dia mendengar suara langkah Raka dari jauh.
Alya menoleh.
Raka juga menoleh.
Mereka saling melihat.
Tidak ada yang bicara.
Namun keduanya tersenyum kecil.
Dan saat itu Raka akhirnya memahami sesuatu yang selama ini tidak dia sadari.
Ternyata bukan pertengkaran mereka yang membuatnya terbiasa dengan Alya.
Melainkan kehadirannya.
Karena sekarang ketika mereka tidak lagi sering berdebat…
ketika Alya tidak lagi masuk ke ruangannya setiap beberapa menit…
ketika suara perempuan itu tidak lagi terdengar dari meja depan…
Raka justru merasakan sesuatu yang kosong.
Sesuatu yang tidak bisa diisi oleh pekerjaan.
Tidak oleh meeting.
Tidak oleh investor.
Tidak oleh siapa pun.
Dia akhirnya menyadari—
yang dia rindukan bukan asistennya.
Dia merindukan Alya.