NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Naga

Reinkarnasi Sang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
​Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Malam Hujan di Jinling

​Tiga hari setelah pameran farmasi yang menggemparkan itu, lanskap bisnis Kota Jinling telah berubah total.

​Konsorsium Wei hancur berantakan akibat ditariknya dukungan Keluarga Shen. Saham mereka anjlok, dan Wei Zixuan beserta ayahnya kini sedang diselidiki oleh pihak berwajib atas berbagai tuduhan penipuan medis. Sebaliknya, Grup Su bak naga yang terbang ke langit. Pesanan untuk Embun Surgawi mengalir dari seluruh penjuru provinsi, memaksa Su Ruoxue untuk segera membuka kantor cabang dan pabrik baru di Jinling.

​Sebagai ungkapan terima kasih yang tiada tara, Shen Wanshan menghadiahkan sebuah properti paling eksklusif di Jinling kepada Lin Chen: Vila Puncak Awan (Cloud Peak Villa).

​Terletak tepat di puncak Gunung Ungu (Zijin Shan), vila ini tidak hanya menawarkan kemewahan super premium, tetapi juga dikelilingi oleh formasi alam yang mengumpulkan energi spiritual. Bagi seorang praktisi bela diri, tempat ini adalah surga kultivasi.

​Malam itu, hujan turun dengan sangat lebat mengguyur Kota Jinling. Petir menyambar membelah langit hitam, diikuti gemuruh guntur yang menggetarkan kaca jendela.

​Di dalam kamar utama Vila Puncak Awan yang hangat, Su Ruoxue tertidur pulas karena kelelahan setelah tiga hari berturut-turut memimpin rapat ekspansi perusahaan. Napasnya teratur, wajahnya tampak damai di bawah cahaya lampu tidur yang temaram.

​Di ruang tamu lantai satu, situasinya sangat berbeda.

​Lin Chen duduk bersila di tengah ruangan yang gelap gulita. Hanya setiap kali kilat menyambar, wajahnya yang setenang patung es terlihat sekilas.

​Dua pecahan Giok Penelan Surga melayang perlahan di atas telapak tangannya, memancarkan cahaya biru redup. Energi alam dari Gunung Ungu tersedot ke dalam tubuhnya dengan kecepatan gila-gilaan, menyempurnakan dan memperluas kapasitas Dantian-nya.

​[Ding!]

​[Pemurnian Dantian Selesai!]

[Kapasitas Qi Host telah diperluas hingga 10x lipat. Stabilitas Fondasi: Sempurna.]

[Host kini dapat menggunakan 'Seni Pedang Roh Pembelah Langit' tanpa risiko kerusakan internal.]

​Mata Lin Chen perlahan terbuka. Sebuah kilatan cahaya pedang yang tak kasat mata melintas di pupilnya, memancarkan ketajaman yang bisa merobek jiwa siapa pun yang menatapnya.

​Ia perlahan berdiri dan berjalan menuju jendela kaca raksasa yang menghadap ke arah jalan setapak menuju vila.

​Hujan di luar semakin deras. Angin menderu kencang. Namun, pendengaran Lin Chen yang telah diperkuat melampaui batas manusia menangkap suara lain di balik gemuruh badai. Suara tetesan air yang jatuh bukan di atas tanah, melainkan di atas bilah logam.

​Satu... tiga... lima... tujuh orang.

​Lin Chen tersenyum tipis. Senyum yang tidak mengandung kehangatan sedikit pun.

​"Intelijen Lin Tian rupanya cukup cepat," gumam Lin Chen.

​Ia mengambil sebuah payung hitam dari sudut ruangan, mengenakan mantel panjangnya, lalu melangkah keluar dari pintu utama vila. Ia sengaja mengunci pintu dari luar dan menyebarkan lapisan Qi pelindung di sekitar bangunan agar suara pertarungan tidak membangunkan Su Ruoxue.

​Di luar, hujan turun seperti tirai air. Lin Chen membuka payung hitamnya dan berjalan santai menyusuri jalan setapak berbatu yang membelah taman vila.

​Tepat sepuluh meter di depan gerbang utama taman, tujuh sosok berjubah hitam legam berdiri diam mematung di bawah derasnya hujan. Wajah mereka tertutup topeng logam polos tanpa ekspresi. Masing-masing memegang senjata yang berbeda: pedang rantai, belati kembar, tombak pendek, hingga sabit raksasa.

​Mereka adalah Tujuh Pembunuh Bayangan (Seven Shadow Assassins) dari Asosiasi Assassin Ibukota.

​Pemimpin mereka, Bayangan Satu, berdiri di tengah. Ia tidak memegang senjata apa pun, namun aura pembunuh yang memancar dari tubuhnya sangat pekat hingga tetesan air hujan di sekitarnya menguap menjadi kabut sebelum menyentuh bahunya.

​Setengah Langkah Tahap Langit (Half-step Heaven Stage).

​Ini adalah tingkat kekuatan yang jauh melampaui Guru Sekte Gunung Hitam. Keluarga Lin di Ibukota benar-benar tidak main-main. Demi membunuh seorang "kakak tiri yang cacat", Lin Tian rela menggelontorkan dana untuk menyewa eksistensi mengerikan ini.

​"Kau sudah tahu kami akan datang," suara Bayangan Satu terdengar serak dan datar dari balik topeng logamnya, menembus suara hujan. "Kepekaanmu sangat tajam untuk pemuda seusiamu. Pantas saja Sekte Gunung Hitam yang rendahan itu bisa kau hancurkan."

​Lin Chen menghentikan langkahnya. Ia memutar payung hitamnya perlahan, membiarkan rintik hujan terpental dari permukaannya.

​"Hanya sekelompok anjing suruhan Ibukota. Apa Lin Tian tidak punya nyali untuk menemuiku sendiri?" balas Lin Chen tenang.

​Bayangan Satu mendengus pelan. "Tuan Muda Lin Tian adalah langit, sedangkan kau hanyalah lumpur di bawah sepatu. Mengirim kami ke mari sebenarnya adalah pemborosan. Namun, karena kami sudah dibayar, kami akan memastikan kau mati dalam keadaan utuh agar kepalamu bisa kami bawa ke Ibukota."

​"Formasi Bayangan Tujuh Bintang. Bunuh dia dalam sepuluh detik."

​Tanpa basa-basi atau teriakan klise, enam pembunuh lainnya langsung bergerak!

​Kecepatan mereka luar biasa gila. Dalam sekejap mata, mereka telah mengepung Lin Chen dari enam arah mata angin yang berbeda. Hujan di sekitar mereka terbelah oleh tebasan senjata yang dilapisi Qi maut.

​SYUUUT!

​Sebuah pedang rantai melesat dari belakang, mengincar leher Lin Chen. Dari sisi kiri dan kanan, belati kembar dan sabit raksasa menyapu, mengunci ruang geraknya. Tidak ada celah untuk melarikan diri!

​Ini adalah formasi pembunuhan absolut yang pernah membantai seorang Grandmaster Tahap Langit di masa lalu!

​Namun, Lin Chen bahkan tidak repot-repot menoleh.

​"Seni Pedang Roh Pembelah Langit: Bentuk Pertama..." gumam Lin Chen pelan.

​Alih-alih menggunakan tinjunya, Lin Chen hanya mengangkat tangan kanannya yang tidak memegang payung, merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk postur pedang (Sword Fingers).

​Ia menyalurkan Qi murni dari Dantian-nya ke ujung jarinya. Seketika, energi alam di sekitarnya bergejolak hebat. Udara di atas jari Lin Chen bergetar dan memadat, membentuk sebilah pedang transparan bercahaya putih sepanjang satu setengah meter!

​Ini bukan sekadar pedang Qi biasa yang mudah hancur. Ini adalah Pedang Roh!

​"...Tebasan Bulan Sabit."

​Lin Chen mengayunkan dua jarinya dalam satu gerakan melingkar yang sangat santai, seolah sedang melukis bulan di udara.

​ZRIIIIING!!!

​Suara dengungan pedang yang sangat melengking mengalahkan suara petir di langit!

​Sebuah gelombang energi berbentuk bulan sabit putih melesat menyapu udara dalam radius 360 derajat.

​CLANG! KRAK! TLETAK!

​Pedang rantai putus! Sabit baja raksasa hancur menjadi serpihan! Belati kembar patah bagaikan ranting kering!

​Namun gelombang pedang Lin Chen tidak berhenti pada senjata mereka. Tebasan tak kasat mata itu terus melaju dengan kecepatan cahaya, menembus tubuh keenam pembunuh elit tersebut.

​Hening.

​Keenam sosok berjubah hitam itu membeku di tempat mereka. Gerakan mematikan mereka terhenti di udara.

​Tetesan hujan kembali jatuh membasahi bumi.

​Satu detik... dua detik...

​Crot!

​Garis merah lurus muncul di pinggang keenam pembunuh tersebut. Sedetik kemudian, tubuh bagian atas mereka tergelincir dari pinggang dan jatuh ke genangan air hujan. Mereka terbelah menjadi dua bagian yang sempurna. Darah segar seketika membanjiri jalan setapak taman vila itu, hanyut terbawa derasnya air hujan.

​Enam ahli Kelas Bumi Puncak... terbunuh hanya dengan satu lambaian jari!

​Mata Bayangan Satu di balik topeng logamnya melebar hingga nyaris robek. Jantungnya, yang telah dilatih untuk tidak merasakan emosi selama puluhan tahun, kini berdetak gila-gilaan karena teror yang tak bisa dijelaskan.

​"P-Pedang Qi yang memadat menjadi wujud nyata... K-Kau bukan Tahap Bumi... Kau adalah Grandmaster Tahap Langit Puncak?!" Suara Bayangan Satu bergetar hebat. Informasi intelijen Lin Tian salah besar! Pemuda ini bukan sekadar ahli bela diri jenius, dia adalah monster!

​Lin Chen perlahan melangkah melewati potongan tubuh keenam anak buah Bayangan Satu. Sepatunya menginjak genangan darah, namun entah bagaimana, cipratan kotoran itu tidak menempel di celananya.

​"Kau bilang ingin membunuhku dalam sepuluh detik?" Lin Chen bertanya dengan senyum dingin. "Ternyata kalian sendiri yang kehabisan waktu."

​Bayangan Satu mengertakkan giginya. Ia tahu melarikan diri dari ahli pedang sekuat ini adalah hal yang mustahil. Satu-satunya jalan adalah bertarung mempertaruhkan nyawa.

​"JANGAN MEREMEHKANKU!"

​Bayangan Satu meraung. Ia mengumpulkan seluruh Qi Setengah Langkah Tahap Langit-nya ke kedua telapak tangannya. Warna kulit tangannya seketika berubah menjadi hitam legam seperti besi sekeras berlian.

​"Telapak Pelebur Jiwa!"

​Ia melesat maju menembus hujan, tanah berbatu di bawah pijakannya meledak. Tekanan auranya membuat udara di sekitar Lin Chen menjadi sangat padat, mencoba mengunci gerakan pemuda itu.

​Lin Chen menatap serangan mematikan itu dengan pandangan bosan.

​Ia mengangkat tangan kanannya lagi. Kali ini, ia tidak mengayunkan tangannya, melainkan menunjuk lurus tepat ke arah jantung Bayangan Satu yang sedang melesat ke arahnya.

​"Bentuk Kedua: Titik Penembus Bintang."

​Dari ujung jari telunjuk Lin Chen, seberkas sinar putih sekecil jarum melesat keluar. Sinar itu terlihat sangat rapuh di tengah derasnya hujan dan dahsyatnya Telapak Pelebur Jiwa.

​Namun...

​SYUUT!

​Sinar putih itu menembus pertahanan Qi Bayangan Satu seolah menembus kertas tisu basah.

​Bayangan Satu tiba-tiba berhenti di udara. Tubuhnya menegang kaku, jaraknya hanya satu meter di depan Lin Chen. Telapak tangan hitamnya yang penuh maut perlahan kehilangan tenaganya dan jatuh terkulai.

​Pria itu perlahan menundukkan kepalanya. Di dada kirinya, tepat di bagian jantung, terdapat sebuah lubang hangus berukuran sebesar kelereng. Lubang kecil itu telah menembus jantungnya dengan sangat presisi.

​"K-Kau... monster..." bisik Bayangan Satu dengan darah segar mengalir dari balik topeng logamnya. Tubuhnya kemudian ambruk ke depan, jatuh bersimbah darah di bawah kaki Lin Chen.

​Tujuh Pembunuh Bayangan elit dari Ibukota, rata dengan tanah dalam waktu kurang dari satu menit.

​Lin Chen memutar payung hitamnya dengan santai.

​"Sistem, bakar sampah-sampah ini. Aku tidak ingin Ruoxue melihat darah saat dia bangun besok pagi."

​[Ding!]

​[Menggunakan 1.000 Poin untuk mengeksekusi Pembersihan Area Tingkat Lanjut.]

​Sebuah api spiritual berwarna kebiruan tiba-tiba menyala dari udara kosong, melahap ketujuh mayat dan genangan darah di taman itu. Dalam hitungan detik, semuanya menguap tanpa meninggalkan sedikit pun abu atau bau hangus. Jalan setapak taman itu kembali bersih bersinar akibat guyuran hujan, seolah pertarungan mematikan tadi hanyalah sebuah ilusi.

​[Ding!]

​[Berhasil memusnahkan 'Tujuh Pembunuh Bayangan'. Menerima 8.000 Poin Sistem.]

​Lin Chen berbalik dan melangkah kembali menuju vila.

​Ia mengeluarkan ponselnya dan menekan sebuah nomor rahasia. Panggilan itu langsung tersambung ke Paman Bai di Donghai.

​"Paman Bai," suara Lin Chen mengalahkan deru badai.

​"Ya, Tuan Muda! Apakah Anda butuh sesuatu di Jinling?"

​"Suruh Ah Fei mengumpulkan delapan belas Pengawal Naga Hitam. Waktu istirahat kalian sudah habis." Mata Lin Chen menatap lurus menembus kegelapan malam, memancarkan kaisar absolut. "Urusan di Jinling sudah selesai. Besok... kita terbang ke Ibukota Jingcheng."

1
Arinto Ario Triharyanto
muantaffff 😎
Arinto Ario Triharyanto
mantap ini 😎 ☕☕☕
Arinto Ario Triharyanto
yoiii lanjutken..😎
Arinto Ario Triharyanto
yoiii😎
Arinto Ario Triharyanto
yoi😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!