NovelToon NovelToon
Dari Benci Menjadi Bucin

Dari Benci Menjadi Bucin

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27.Berusaha Menjadi Jarak, Namun Sulit

Setelah menyadari betapa dalam perasaan yang tumbuh di antara mereka, keraguan perlahan kembali menyelinap masuk. Ada rasa takut yang tak disangka-sangka muncul di hati Kenzo maupun Anisa. Takut jika perasaan ini terus tumbuh tanpa terkendali, takut jika suatu saat mereka terluka, dan takut jika ikatan yang terbentuk ini justru membawa dampak yang tak diinginkan. Karena rasa takut itulah, satu keputusan terbentuk dalam hati mereka yang sama: berusaha menciptakan jarak. Menjauh perlahan, berharap perasaan itu akan perlahan memudar seiring renggangnya pertemuan dan percakapan. Namun ternyata... menciptakan jarak jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan.

Anisa memulainya lebih dulu. Ia berusaha berjalan terlebih dahulu meninggalkan kelas tanpa menunggu Kenzo seperti biasanya. Saat berpapasan di koridor, ia membuang muka dan berpura-pura tak melihat. Jika Kenzo mendekat untuk menyapa atau sekadar berbicara hal-hal kecil, Anisa akan menjawab singkat, seperlunya saja, lalu buru-buru berpamitan seakan ada urusan mendesak. Ia berusaha memasang dinding tebal di sekeliling hatinya, berharap jarak yang ia bangun perlahan akan membuat segalanya kembali seperti sedia kala. Namun setiap kali ia berpaling menjauh, hatinya justru terasa semakin berat dan sesak. Setiap kali ia berpura-pura tak melihat, matanya justru menyembunyikan rindu yang tak mampu dibendung. Dan setiap kali ia menjawab singkat lalu pergi, langkah kakinya terasa berat bagai tertanam di tanah—seakan kakinya ingin berbalik kembali, namun akalnya memaksanya terus melangkah menjauh.

Kenzo pun merasakan hal yang sama. Melihat Anisa yang perlahan menjaga jarak, hatinya sempat terasa perih. Namun ia pun ikut berusaha melakukan hal serupa. Ia berusaha tidak lagi menunggu Anisa di pintu kelas. Berusaha tidak lagi melirik ke arah mejanya berulang kali. Berusaha tidak lagi berjalan beriringan saat pulang. Namun betapa sulitnya hal itu dilakukan. Matanya seakan memiliki kekuatan sendiri—selalu mencari keberadaan Anisa di kerumunan, selalu berhenti lebih lama saat melihat sosoknya, dan selalu merasa sepi seketika saat Anisa tak tampak di pandangannya. Ia berusaha menyibukkan diri agar tak memikirkannya, namun setiap sudut ruangan seakan menyisakan bayang-bayang senyum Anisa. Semakin ia berusaha menjauh, semakin hatinya menariknya mendekat. Semakin ia berusaha menciptakan jarak, semakin ia menyadari betapa tak ingin ia berjauhan dengan gadis itu.

Suatu siang yang mendung, mereka berpapasan di lorong sepi seperti yang sering terjadi belakangan ini. Anisa hendak berjalan cepat melewati Kenzo tanpa menoleh, namun kali ini langkahnya terhenti. Kenzo berdiri diam di hadapannya, menatapnya lekat-lekat dengan sorot mata yang tampak lelah namun penuh perasaan. Ia tak menyapanya, tak menyeringai, hanya berdiri di sana seakan menunggu sesuatu yang tak mampu diucapkan.

Hening sejenak tercipta di antara mereka. Jarak yang sengaja mereka bangun kini terasa begitu semu. Meski tubuh mereka tak lagi berdiri berdampingan seperti dulu, hati mereka justru terasa semakin tertarik satu sama lain, seakan ada ikatan tak kasat mata yang terus menarik, membuat upaya menjauh itu terasa sia-sia belaka.

"Mengapa..." suara Kenzo terdengar pelan, memecah keheningan dengan nada yang bercampur lelah dan sayu. "Mengapa kita saling menjauh padahal hati kita justru ingin saling mendekat?"

Anisa terdiam, menunduk dalam menahan getaran di dadanya. Ia ingin melangkah pergi, namun kakinya tak sanggup bergerak sedikit pun. Ia ingin menjawab bahwa tak ada alasan, bahwa semuanya baik-baik saja. Namun kerongkongannya terasa tercekat, tak satu pun kata mampu meluncur dengan lancar.

"Kita berusaha menciptakan jarak," lanjut Kenzo perlahan melangkah selangkah mendekat, tanpa menyentuh namun cukup untuk membuat jarak buatan itu perlahan runtuh. "Berpikir bahwa semakin jauh kita berdiri, semakin mudah melupakan apa yang tumbuh di hati. Tapi ternyata salah besar. Semakin aku berusaha menjauhimu... semakin aku menyadari bahwa hatiku justru tak ingin pergi. Semakin aku mencoba menciptakan jarak... semakin aku tahu bahwa tak ada jarak apa pun yang mampu memisahkan perasaanku padamu."

Anisa mendongak perlahan, matanya berkaca-kaca menatap Kenzo. Di matanya tampak ketakutan, namun di balik itu tersembunyi kerinduan yang tak kalah dalamnya. "Aku takut..." ucapnya bergetar pelan. "Aku takut jika kita terlalu dekat, nanti saat salah satu pergi... yang tertinggal akan terluka terlalu dalam. Itulah sebabnya aku mencoba menjauh. Agar tak terluka kelak."

Kenzo menatapnya lembut, namun suaranya teguh dan penuh keyakinan. "Justru dengan menjauh seperti ini... hatiku justru terasa semakin terluka setiap harinya. Jarak yang kita bangun ini tak melindungi kita dari rasa sakit. Ia justru menyakiti kita perlahan setiap saat. Karena ternyata... kehadiranmulah yang menjadi kedamaianku. Dan menjauh darimu sama saja dengan menjauhkan diriku dari kedamaian itu sendiri."

Kalimat itu seakan menyadarkan Anisa seketika. Selama ini ia berpura-pura menjauh demi melindungi hati, namun ternyata setiap langkah menjauh itu justru menambah rasa sakit yang tak disangka-sangka. Ia menyadari satu hal yang kini tampak begitu nyata: menciptakan jarak itu mudah diucapkan dan dipikirkan, namun nyatanya... hati tak pernah ikut menjauh. Hati tetap tertaut, tetap merindukan, tetap menarik kembali ke sisi tempat kedamaian itu berada.

Anisa menatap Kenzo lekat-lekat, air matanya menetes pelan namun kali ini bukan karena sedih. Ia menyadari betapa sia-sianya ia berusaha menjauh. Karena meski tubuhnya berusaha melangkah pergi, hatinya tetap berdiri tepat di sisi Kenzo. Tak ada jarak yang mampu ia bangun di antara dua hati yang telah saling menyatu.

"Aku mengerti..." ucap Anisa pelan sambil mengangguk lemah namun pasti. "Menciptakan jarak ternyata jauh lebih sulit daripada yang kubayangkan. Karena setiap kali aku berusaha melangkah mundur... hatiku justru melangkah maju mendekatimu."

Kenzo menatapnya dengan senyum yang lega namun tetap samar dan lembut. Ia tak melangkah mendekat lebih jauh, hanya berdiri di sana dengan pandangan yang tak berpaling sedikit pun. "Maka janganlah diciptakan jarak yang tak mampu kita jangkau kembali. Biarlah kita berdiri sedekat yang diizinkan hati. Karena pada akhirnya... jarak yang kita bangun hanyalah milik tubuh saja. Sedangkan hati kita... tak pernah saling berjauhan sedetik pun."

Dan pada hari itu, di lorong yang sepi itu, upaya mereka menciptakan jarak pun berakhir. Mereka menyadari satu kebenaran yang tak dapat dibantah: hati yang telah saling menemukan tak akan pernah bisa dijauhkan sekalipun tubuh dipaksa berjauhan ribuan mil. Bahwa menciptakan jarak memang mudah diputuskan dalam pikiran, namun sangat sulit dijalani oleh hati yang saling merindukan. Dan pada akhirnya... mereka berdua pun paham: lebih baik berdiri berdampingan dan menerima apa pun yang terjadi kelak, daripada menciptakan jarak yang menyiksa tanpa alasan yang berarti.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!