Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4: Momen Flashback Sebelum Peristiwa Kecelakaan
Sudah satu minggu sejak Azka kembali pulang dari rumah sakit, dengan ingatan masih belum pulih sepenuhnya.
Pagi itu, cahaya matahari bahkan belum menyentuh tirai ketika Visha terbangun. Mata masih berat, tapi hatinya dipenuhi kesibukan yang tak bisa ditunda. Hari ini, Azka akan kembali bekerja untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu.
Dengan langkah pelan, ia menuju lemari dan memilih pakaian kerja suaminya. Mempersiapkan kemeja rapi dan celana, sudah disetrika malam sebelumnya. Ia menyiapkan sarapan dengan hati-hati, memastikan rasa dan tampilan tetap konsisten, seperti yang biasa Azka sukai.
Tak lupa, ia juga menyiapkan bekal makan siang, dibungkus rapi dalam kotak bersih, lalu menyelipkan pesan kecil diam-diam.
“Semoga harimu lancar”.
Di dapur masih diselimuti kehangatan pagi, Visha tak hanya menyiapkan kebutuhan Azka, tapi juga menyusun kembali, menggali harapan, bahwa perlahan segalanya akan membaik seperti semula atau paling tidak, mendekati.
Visha memutuskan tetap melayani Azka seperti dulu, dengan harapan suatu saat Azka akan mengingatnya.
“Azka, bangun,” kata Visha membangunkan Azka yang semenjak kecelakaan jadi sering bangun siang.
Padahal dulu Azka selalu rajin bangun pagi.
Singkat cerita, waktu bergulir dengan tenang. Di meja makan sederhana namun hangat, Azka duduk menyantap sarapan yang telah disiapkan dengan penuh perhatian. Omelet lembut dengan potongan bawang dan kali ini ditambah sedikit taburan keju di atasnya.
Hidangan itu mengingatkan dirinya pada suatu kenangan meski sebagian memori belum sepenuhnya utuh, rasa itu entah bagaimana terasa akrab.
Visha memperhatikan dari dapur, diam-diam mencatat setiap ekspresi Azka. Tak ada komentar, tapi senyum kecil muncul di sudut bibir pria itu terasa sudah cukup menjadi jawaban.
Usai menyantap suapan terakhir, Azka mengangkat gelas, meneguk sisa kopi, lalu bangkit dari kursi. Ia merapikan lengan kemeja, mengambil map kerja yang sudah disiapkan di meja, siap untuk berangkat.
Hari itu, pertama kalinya sejak semua berubah, ia akan melangkah keluar dari rumah.
“Aku pergi dulu ya,” ucapnya pamit kepada Visha.
Suasana canggung pun terjadi saat mereka yang sebenarnya ingin melakukan kebiasaan setiap pagi.
Biasanya Visha selalu cium tangan Azka sebelum berangkat kerja. Perpisahan itu kemudian ditutup dengan ciuman bibir oleh keduanya.
Visha memberanikan diri untuk mencium tangan Azka. Selanjutnya mereka sama-sama terdiam, saling menunggu.
Beberapa saat kemudian.
“Ya sudah kamu berangkat saja, kebiasaan itu, kita hentikan dulu sementara,” kata Visha, menyadarkan Azka dari lamunan.
“Oke, aku jalan dulu,” jawab Azka canggung lalu masuk ke dalam mobil.
Sebelum benar-benar berpisah, mereka saling melambaikan tangan.
“Jangan lupa dihabiskan bekalnya ya,” pesan Visha.
“Iya,” ucap Azka.
Visha masih memandangi ke arah mobil Azka yang mulai menjauh. Matanya terlihat penuh makna. Ia sangat berharap Azka segera bisa mengingatnya.
***
Begitu melangkah ke dalam gedung kantor, Azka disambut oleh hawa dari pendingin ruangan menusuk perlahan ke kulit, dan suasana khas bangunan perkantoran. Namun dibalik semua itu, ada sesuatu terasa asing.
Ia berdiri sejenak di lobi, memandang sekeliling dengan mata berusaha mengingat. Dinding-dinding putih, lantai mengkilap, derap langkah pegawai lalu-lalang, semua tampak familiar, tapi terasa jauh. Mungkin karena sudah cukup lama ia tak menapakkan kaki di sini atau mungkin karena dirinya yang kembali tak lagi sama seperti dahulu.
Dengan tas kerja di tangan, Azka mulai melangkah menyusuri koridor menuju lift. Setiap langkah menggema pelan di antara dinding, seperti suara dari masa lalu mencoba memanggilnya. Tapi di dalam hatinya, ia tahu, perjalanan kali ini bukan hanya soal kembali bekerja. Ini adalah awal baru dan ia masih mencari tahu siapa dirinya di dalam cerita yang sempat terputus.
Tak lama kemudian, muncul sosok seorang wanita, terlihat familiar.
“Pak Azka?” sapanya.
Azka kemudian menoleh ke arah wanita itu. Sesilia sedang berdiri di sebelahnya.
“Sesilia?,” respon Azka terkejut karena dalam ingatannya, ia adalah sosok yang menjadi istrinya.
“Ya ampun, benar ini Pak Azka. Sudah lama sekali ya, Pak. Syukurlah bapak sudah sehat ya sekarang,” sahut Sesilia.
Seketika saja kepala Azka merasakan sakit luar biasa. Ingatan-ingatan samar baru telah muncul.
Azka kemudian terbawa ke ingatan masa lalu.
***
FLASHBACK ON: SEBELUM KECELAKAAN
Setibanya di gedung kantor, Azka terlihat buru-buru karena hampir terlambat mengikuti rapat lanjutan yang akan membahas progres perbaikan pengawasan minggu kemarin.
Tapi kemudian, secara tidak sengaja, ia bersenggolan dengan seorang wanita muda tak dikenal saat hendak menuju koridor sebelum masuk lift.
“Maaf, maaf, saya sedang buru-buru,” kata Azka.
Hal serupa juga diucapkan wanita muda itu.
“Oh iya, Pak. Tidak apa-apa. Aku salah juga tadi jalan tidak fokus,” ujarnya.
Tak lama setelah itu, mereka melangkah masuk ke dalam lift yang pintunya terbuka dengan suara mendesing halus.
Ruang sempit berlapis baja menyambut mereka dengan keheningan tanpa orang di dalam. Cahaya lampu putih menyilaukan bersinar dari atas. Begitu pintu tertutup kembali, suasana mendadak terasa lebih sunyi.
Di antara dinding logam memantulkan bayangan mereka, waktu seakan berjalan sedikit lebih lambat.
“Lantai berapa?” tanya Azka.
“Tolong ya, lantai delapan, makasih,” pungkas wanita itu.
Saat lift mulai bergerak naik, Azka mencuri pandang ke arah sosok di sebelah. Sekilas saja, tapi cukup untuk memunculkan gelombang kecil di pikiran. Semacam firasat yang sulit dijelaskan.
Tatapannya kemudian beralih ke layar digital di atas pintu, angka-angka lantai berganti perlahan. Seketika, kecurigaan tumbuh liar. Bukan sekadar kebetulan, pikirnya. Ada sesuatu yang belum terucap, sesuatu menunggu di ujung perjalanan sempit ini.
“Maaf, kalau boleh saya tahu, kamu mau kemana ya?” kata Azka penasaran.
Di gedung kantor, lantai delapan terdapat beberapa perusahaan. Wanita muda itu kemudian menjawab, “Aku mau ke PT Sandi Utama, Pak”.
Benar saja, PT. Sandi Utama merupakan perusahaan tempat Azka bekerja. Tapi ia tidak bertanya lebih lanjut tentang kepentingannya karena kebetulan lift sudah terbuka.
“Silakan,” ucap Azka.
Ia kemudian keluar dari lift, diikuti oleh Azka yang kini membelakangi. Azka seakan lupa kalau ia sedang buru-buru.
Setelah mereka masuk ke dalam kantor PT. Sandi Utama, giliran wanita itu yang bertanya.
“Lho, bapak kerja di sini juga?” tanyanya.
Azka mengangguk, “Hehe, iya”.
“Wah ternyata kita satu kantor ya,” ucap wanita itu.
“Kalau gitu, kenalin ya, aku Kaylani. Biasa dipanggil Kayla, hehe” lanjutnya memperkenalkan diri berlagak akrab.
Sedikit terkejut dengan perubahan sikap tiba-tiba begitu ramah, Azka sempat diam sejenak, mencoba membaca maksud dibalik senyum itu.
Namun ia memilih untuk tak menunjukkan keheranannya. Dengan ekspresi tenang, Azka membalas dengan keramahan.
“Halo, salam kenal. Nama saya Azka,” jawabnya.
Namun sayang karena obrolan mereka harus terjeda karena Noval tiba-tiba saja datang.
“Ya ampun, ternyata kalian di sini. Ayo buruan masuk, rapat sudah mulai, cuma nungguin kalian berdua nih,” ujarnya.
Mereka pun baru teringat perihal rapat yang telah menanti.
***
Di dalam ruang rapat.
Setelah teguran keras dilakukan oleh Azka minggu kemarin membuat kepala dari divisi quality control mengundurkan diri. Posisinya ternyata digantikan oleh Kayla, wanita yang ditemui oleh Azka di lift tadi.
Rapat lanjutan ini akan membahas progres perbaikan pengawasan dari divisi quality control sekaligus peralihan jabatan.
Kayla langsung merasa canggung karena baru mengetahui kalau Azka merupakan atasannya di kantor. Ia bahkan sempat sok akrab.
Sedangkan Azka sebenarnya juga terkejut tapi karena posisi ia lebih tinggi, Azka mencoba terlihat lebih santai.
Azka memimpin rapat dengan mengulang sedikit terkait evaluasi rapat minggu kemarin. Tibalah saatnya Kayla berbicara.
Sebagai kepala divisi baru, ia membawa rencana-rencana perubahan yang telah dipersiapkan.
“Baik, mungkin sebelumnya, saya ingin mengucapkan terima kasih atas evaluasi yang diberikan oleh Bapak Azka untuk divisi kami. Tapi setelah saya pelajari secara keseluruhan, saya menemukan bahwa penyebab dari masalah disebutkan juga berkaitan dengan divisi structure engineering,” jelasnya.
“Kalau hanya divisi kami yang dianggap bertanggung jawab secara penuh di sini, maka saya jamin masalah ini tidak akan selesai. Pasti akan terjadi lagi, dan lagi. Jadi menurut saya, untuk rapat selanjutnya, mereka juga harus dihadirkan,” sambungnya.
Belum menuntaskan kalimat, Kayla dengan gesit menggeser langkah ke samping, beralih ke layar besar yang terpasang di dinding ruang rapat.
Layar itu kini menyala terang, menampilkan deck rencana perbaikan yang telah ia siapkan dengan cermat. Slide demi slide mulai berganti, disusun rapi seperti barisan strategi siap ditembakkan.
Sorot matanya tajam, nada bicara berubah sedikit lebih tegas, dan percaya diri. Ia tahu, inilah momen menentukan. Kayla tampak sangat siap untuk mengisi ruang itu, bukan hanya dengan data, tapi dengan keyakinan.
“Berikut ini merupakan langkah-langkah dan upaya yang akan tim kami lakukan untuk meningkatkan pengawasan agar bisa berfokus pada pencegahan terjadinya masalah,” tutupnya.
Mengetahui pemaparan dari Kayla terlihat sangat baik, Azka merasa kagum. Ia bahkan memberikan tepuk tangan untuknya.
“Hebat! Saya yakin setelah ini, tim dari divisi quality control akan jauh lebih baik,” pujinya sambil masih bertepuk tangan juga diikuti anggota lainnya.
Suasana ruang rapat tidak mengikuti semangat Azka. Mereka masih sangat asing dengan Kayla. Terutama Noval kelihatan tidak terlalu senang meski ia sudah berusaha untuk menutupinya.
“Oh iya, Bapak Noval. Jangan lupa note dari Kayla. Pada rapat selanjutnya, undang tim dari structure engineering untuk hadir,” sambung Azka memberi pesan kepada Noval.
“Baik, pak,” respon Noval.
***
Semenjak Kayla menjadi kepala divisi quality control, tanpa disadari, Azka jadi lebih sering mengurusi tentang divisi tersebut.
Ia seperti selalu mencari-cari alasan untuk bisa mengadakan rapat dan pertemuan dengan tim Kayla.
Tentu saja alasannya karena Azka ingin bertemu dengan Kayla. Mengingat saat ini sudah menikah. Ia tidak bisa secara terang-terangan mendekati Kayla.
Sebagai orang yang cukup dekat, Noval mulai mencurigai gelagat Azka. Ia merasa janggal karena intensitas Azka terhadap divisi quality control sudah tidak wajar.
Ia memutuskan untuk datang ke ruangan Azka.
“Permisi Pak,” ucap Noval membuka pintu setelah mengetuk.
Azka sedikit terkejut karena kedatangan Noval secara tiba-tiba.
“Boleh saya masuk, Pak?” kata Noval lagi.
“Masuk saja, Val. Kamu ini seperti orang baru saja,” jawabnya.
Noval melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah tenang namun mantap. Tanpa banyak kata, ia menarik kursi di hadapan Azka, duduk perlahan, menatap pria di depannya dengan sorot mata sulit ditebak. Entah sekadar menyapa atau membawa sesuatu hal lebih dari itu.
Keheningan sempat menggantung di antara mereka, keduanya sedang menunggu siapa yang akan lebih dulu membuka percakapan. Tapi satu kepastian, kedatangan Noval bukan tanpa alasan.
“Ada apa?” ucap Azka masih sibuk dengan beberapa dokumen di meja.
“Saya mau tanya, boleh?” ujarnya misterius.
Azka menghentikan kegiatan. Tangan yang sejak tadi sibuk membolak-balik dokumen kini terhenti di tengah halaman, jemarinya diam di atas kertas.
Ia mengangkat kepala perlahan, pandangan beralih dari tumpukan laporan ke arah sumber gangguan yang tak bisa ia abaikan. Suasana seketika berubah menjadi lebih tegang, menunggu jawaban Azka selanjutnya.
“Wah, ada apa nih? Ada masalah?” kata Azka.
“Tapi janji jangan marah ya pak?” ucap Noval.
Azka menyipitkan mata, memperhatikan gelagat rekan kerja tampak berbeda dari biasa. Gerak-geriknya terlalu hati-hati, senyum terlalu dipaksakan dan kalimat terdengar sudah dipilih dengan sangat cermat.
Ada sesuatu yang tidak umum di balik sikap ramahnya, Azka bisa merasakan itu.
Kecurigaan muncul, seperti kabut tipis menyelimuti pikiran. Ia enggan langsung bertanya, tidak pula menunjukkan rasa percaya. Tapi sorot matanya mulai tajam, siaga, karena naluri mengatakan ada sesuatu sedang disembunyikan.
“Oke, kenapa?,” jawab Azka.
“Kamu tidak ada apa-apa kan sama Kayla?” tanya Noval kemudian membuat Azka salah tingkah.
Pertanyaan meluncur begitu saja, runcing dan tiba-tiba, membuat Azka terdiam sejenak, terpaku, kata-kata lawan bicara telah menyentuh sesuatu yang tepat di dalam dirinya.
Meskipun ekspresi berubah, tak terlalu drastis, tapi cukup untuk terbaca. Mata Azka berkedip cepat, tangan refleks merapikan kertas yang sebenarnya sudah rapi. Ia sempat tertawa kecil, tak mampu menyembunyikan kegugupan.
Ia mencoba merangkai jawaban, tapi pikiran justru melompat-lompat, tak tahu harus mulai dari mana. Pertanyaan Noval terlalu cepat untuk dilemparkan kepadanya.
“Maksud kamu?” Azka pura-pura tidak paham.
Mendadak Noval tidak melanjutkan pertanyaan. Ia kemudian mengalihkan topik pembicaraan.
“Eh sebentar, aku baru ingat. Kamu harusnya ada peninjauan ke proyek mess KCI kan, Pak? Hari ini?” kata Noval.
Walau merasa heran karena tiba-tiba Noval mengganti topik, Azka menanggapi dengan biasa karena masih masuk akal.
“Iya, saya berangkat setelah jam makan siang,” jawab Azka yang kini mulai mengerjakan dokumen di meja.
“Oke deh kalau begitu, saya mau kembali dulu. Tapi mungkin sebelum itu, saya hanya ingin titip pesan. Sebagai teman, di luar dari posisi kita di kantor ini. Jangan main api, kalau belum siap terbakar,” ungkapnya sambil tangan kanan membentuk pistol, meletakkan di dekat alis, lalu menghentak dengan tubuh sedikit menunduk.
Mendengar pesan tersirat sangat jelas, Azka hanya bisa diam melihat Noval beranjak keluar dari ruangan.
Ia sempat termenung, menyadari kalau Noval sudah mengetahui ketertarikannya terhadap Kayla.