Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASA KANAK-KANAK
Sudah hampir satu bulan sejak aku memasuki tubuh bayi ini setiap hari banyak kosakata baru yang aku pelajari dan juga berita-berita dari para wanita yang sedang bergosip, mulai dari siapa bayi ini sebenarnya, dari mereka aku akhirnya tahu kalau bayi yang badannya sekarang aku tempati adalah seorang anak dari Tunggul ametung dan seorang wanita yang pernah menyelamatkannya ketika Tunggul ametung terluka akibat sergapan dan kena racun, yang aku miliki saat ini hanyalah sebuah cincin peninggalan ibuku yang katany pernah diberikan Tunggul ametung sebelum dia meninggalkan tugaran dan tidak pernah kembali lagi.
Hingga akhirnya sebuah berita hangat terdengar di seluruh penjuru tentang terbunuhnya Tunggul ametung oleh kebo ijo, lalu mereka membahas tentang Ken Arok yang mengadili Tunggul ametung dan memegang kekuasaan singhasari sementara disisi lain berita tentang istri Tunggul ametung yang sedang hamil besar juga diambil istri oleh Ken Arok.
Saat itu aku akhirnya sadar kalau sekarang aku berada dizaman Singosari, dan kehadiranku mungkin saja membawa cerita berbeda dengan sejarah yang ada, tapi siapa peduli aku datang dari masa depan dan menganggap saat ini hanyalah sebuah dunia novel, bercerita sedikit novel yang aku tulis yang menyebabkan ku terseret kesini adalah novel tentang kerajaan- kerajaan di nusantara tapi aku tidak menyangka akan terseret ditimeline Singosari.
Orang- orang memanggilku dengan Sena.. Arya Sena, selama tujuh tahun ini, aku diasuh oleh seorang wanita tua sering dipanggil nyai Purnama, dia adalah wanita yang melajang dan tidak bersuami, dari cerita-cerita yang aku dengar nyai purnama pernah punya seorang kekasih sayangnya kekasihnya terbunuh lalu nyai purnama memilih untuk tidak menikah seumur hidupnya.
Disisi lain aku tidak hanya diasuh oleh nyai Purnama ada juga seorang kakek yang disegani disini mereka menyebutnya mpu Pala, dia mengajariku untuk puasa dan tanpa sejak dini dia juga sesekali berlatih ilmu ketika sedang senggang, mungkin maksudnya untuk menarik perhatianku, tentu saja aku tertarik kapan lagi bisa belajar Kanuragan dan ilmu-ilmu yang dizaman modern sudah tidak dipakai lagi.
Sesekali juga aku mendengar sebuah kabar tentang singhasari dari gosip-gosip yang beredar sampai akhirnya mpu Pala mengajakku untuk bertamu atau menemui kenalannya mpu Parwa.
Hah, mpu Parwa, benar dia adalah ayah dari Ken Dedes, diperjalanan mpu Pala beberapa kali memberikan nasihat-nasihat untukku ketika bertemu dengannya harus begini begini, jaga sikap, sopan santun, ya pokoknya begitulah orang tua yang sedang mengajari anaknya.
Sesampainya ditempat mpu Parwa kami disambut oleh beberapa orang dan disuruh menunggu dulu karena beliau sedang melakukan semedi, setelah menunggu cukup lama akhirnya kami dipersilahkan untuk bertemu langsung dengan beliau, setelah perbincangan yang cukup lama akhirnya mpu Pala bertanya kepada mpu Pala tentang diriku dan spontan aku langsung memperkenalkan diriku yang akhirnya beliau terkejut ketika mengetahui identitas asliku adalah seorang anak dari Tunggul ametung lalu beliau bergumam "Berarti dia kakanya Anusapati."
Dan setelah mpu Pala menyelesaikan tujuan kedatangannya kesana aku diajak untuk bangun tetapi aku tidak menurut begitu, aku bersujud didepan mpu Parwa dan "mpu tolong jadikan saya muridmu."
Beliau hanya terdiam dan tertawa kecil lalu "kamu masih terlalu kecil untuk berlatih dibawah bimbinganku, tunggulah sampai kamu sudah tiga belas tahun baru datang lagi nanti, untuk sekarang lebih baik tetap berguru dengan mpu pala saja."
Aku anggap ini adalah tantangan dan cara beliau menguji kesabaranku baiklah kalau begitu.
Setelah kembali ke Tugaran aku kembali berlatih dengan mpu Pala sampai umurku 13 tahun nanti, tapi tidak hanya sendiri aku bersama seorang teman yang tidak sengaja aku dapat namanya Rabu Tilawang, orang tuanya adalah pendatang dari luar dan bermukim di tugaran.
Tentu bukan hanya Kanuragan saja yang aku pelajari, dari nyai Purnama aku mempelajari pengobatan racun dan sebagainya konon beliau jugalah yang mengajari ibu dari tubuh asli ini.
Beberapa waktu berlalu ditempat mpu Parwa Dedes dan anusapati mengunjungi kediaman sederhana itu, dan disaat itulah mpu Parwa membagikan sebuah kebenaran yang baru diketuainya kepada Dedes, kalau sebenarnya Anusapati memiliki seorang saudara, awalnya Dedes terkejut lalu mpu Parwa menenangkannya dan berkata dia akan melatih anak itu untuk membantu mengokohkan pijakan Anusapati nanti, mpu Parwa juga sesekali mengumpat tentang tindakan Arok didepan Dedes, permainan politik licik lah apalah, Dedes hanya diam mendengarkan tanpa berkata apapun.
Di lingkungan istana singhasari anak-anak lain sedang bermain bersama dan Anusapati seperti diasingkan dirumahnya sendiri terbukti dari perbedaan yang diterimanya mulai dari guru anak-anak arok yang lain mendapatkan guru terbaik sedangkan Anusapati hanya mendapatkan guru yang bahkan namanya tidak dikenali banyak orang, dan juga gurunya itu tidak memperlakukan Anusapati dengan baik, seperti memukul Anusapati dengan dalih memberikan pelajaran atau apalah dan tidak ada yang melarangnya melakukan itu, saat Dedes mengeluhkan perilaku yang diterima anusapati Arok hanya mengatakan itu bagian dari metode pengajaran yang dilakukan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Dimalam hari Dedes selalu mencoba menghibur Anusapati dan menyemangatinya untuk tetap bertahan, dan jangan pernah tertarik untuk mempelajari ilmu perang, Anusapati bertanya dengan polosnya lalu, Dedes kemudian menangis dan menyuruhnya untuk berjanji untuk tidak mempelajari itu.
Disisi lain ken Arok raja singhasari semakin gencar mencari dan menghabisi sisa sisa pengikut dari penguasa terdahulu entah itu Tunggul Ametung atau sisa-sisa dari abdi Kediri yang berada didaerahnya.
Beberapa ilmu sudah diserap oleh Sena ada tiga yang paling dikuasainya halimunan menyembunyikan langkah kaki dan juga ilmu belut.
Pembunuh pertamanya terjadi secara tidak sengaja saat berjalan-jalan dihadang oleh sekelompok preman yang merasa tertantang karena ditatap oleh Sena "Lihat apa kamu, Nantang kah?.", Rabu mencoba untuk menahan Sena agar dia tidak emosi "Sudah Sena kita lebih baik tetap jalan aja tidak usah dengarkan dia" tetapi takdir berkata lain Sena yang berumur tiga belas tahun berbekal ilmu yang diajarkan mpu pala berlari menuju preman itu dan perkelahian terjadi, Sena dengan mudah mematahkan leher preman itu lalu menghajar anak buahnya sendirian.
Perasaan yang dialami Sena ketika membunuh orang pertama kalinya adalah hambar, Sena menganggap dunia ini bukanlah tempat asalnya dan menganggap orang lain hanyalah karakter figuran yang tidak terlalu penting, saat ini yang mengganggu pikirannya adalah untuk apa dia disini dan apa tujuannya.
Pikiran itu yang selalu mengganggunya sejak pertama berada didalam tubuh bayi sampai saat ini, dan dia juga sedang mencoba mencari jawabannya dengan meditasi bertapa tapi belum juga mendapatkan apa tujuan sebenarnya dia berada disana.