Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.
Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.
Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.
William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.
Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.
"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."
Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.
Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.
Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Di Malam Hari
Tepatnya di kota X.
Langkah milik William terhenti saat menatap Akila masih duduk di sofa yang sama, dia tak tidur tapi duduk dalam diam. Bibirnya tampak pucat, tidak ada makanan yang ia makan sejak berada di tempat William kecuali saat ia sempat makan sarapan bersama Anak-anaknya.
Akila benar-benar rindu Athena dan Atheos.
"Kau bisa pergi Reno." Ucap William pada Reno yang mengikutinya.
"Baik Tuan." Balas Reno menjauh.
Seperginya Reno, terlihat kaki William mendekati Akila.
"Kau begitu tegar sekali, mau sampai kapan mempertahankan sifat keras kepalamu itu?" Ucapan itu membuat Akila mengangkat kepalanya menemukan William berdiri di depannya.
Akila memilih diam. Saat ini ia butuh ponsel untuk mengirim pesan pada Sari. Entah kenapa Akila yakin kalau tas miliknya ada bersama William.
"Kau tak mau bicara denganku? Tak masalah, kau juga tak boleh makan kalau begitu." Ucap William.
Akila membuang tatapannya, ia mengabaikan ucapan William membuat William cukup geram.
Maunya William itu Akila memohon untuk bisa diberi makan, tapi yang terjadi Akila malah keras kepala.
"Akila, jangan membuatku kesal. Kalau aku mengancam tak memberimu makan maka aku akan benar-benar..."
"Tak masalah, tak makan tidak membuatku langsung mati." Ucap Akila dengan santai menjawab.
Suara Akila membuat William semakin geram, ia jadi mengingat dimana Akila sukses menjadi seorang koki di kota Y.
Tangan Akila dicekal oleh William lalu ditariknya hingga tubuh Akila jadi bangkit berdiri.
"Masakan aku sesuatu." Ucap William.
"Tidak!" Tolak Akila langsung.
William yang tak mau mendapatkan penolakan tampak menarik tangan Akila cukup kasar.
Dibawanya Akila ke arah dapur lalu ia lepaskan saat Akila sudah ada di dapur itu. Padahal kaki Akila itu sakit, tapi William menariknya tanpa ada rasa kasihan sama sekali.
"Memasaklah atau kau memilih aku membakar restoran milikmu yang ada di kota Y. Kau tahu bahwa aku tak pernah main-main..."
"Kau memang gila ya! Kau bukan manusia!" Ucap Akila muak mendengar ancaman yang keluar dari mulut William.
William tersenyum saat Akila bergerak melakukan sesuatu.
Tak ada suara lagi, usai mengumpat terlihat Akila diam dan mulai memasak. Bukan masakan yang terlalu luar biasa, ia hanya memasak daging saja.
Setelah masakan itu selesai, terlihat Akila menggeser piring itu di tempat William duduk.
Sungguh Akila ingin segera ini berakhir, berdekatan dengan William membuat Akila muak.
"Suapilah aku. Lalu suapi dirimu sendiri dengan makanan ini pula." Ucap William.
Mata Akila membulat, mana mungkin Akila mau.
"Kau masih punya tangan, dan sudah aku katakan bahwa aku tak akan mati karena tidak makan!" Ucap Akila dengan tegas.
William yang kini dalam posisi duduk segera menarik Akila hingga duduk di satu paha miliknya.
"Lakukan yang aku mau atau aku akan mengeluarkan ancaman yang benar-benar membuatmu menyesal." Ucap William lagi.
Akila benar-benar geram, ingin sekali ia memukuli William sampai pingsan lalu kabur dari Mansion William.
Akila yang tak mau mendapatkan ancaman yang mungkin akan terjadi, akhirnya mulai menurut. Ia menggeser piring daging itu lalu memotongnya.
Akila menyiapkan potongan daging pertama itu untuk William.
Setelahnya tiba-tiba saja William menurunkan tubuh Akila dari pangkuannya.
"Kau habiskan saja makanan itu." Ucap William.
Eh? Apa tak enak? Jelas Akila terkejut, selama ini masakan Akila tak pernah dinilai tak enak. Kenapa William hanya mengambil satu suapan lalu pergi?
Melihat perginya William membuat Akila memotong daging itu lalu memakannya.
Hanya orang yang tak punya indra perasa yang mengatakan masakan Akila tak enak. Makanan yang Akila masak sungguh enak.
Akila tak peduli, ia habiskan daging itu bahkan Akila juga pergi ke arah lemari es hanya untuk mengambil beberapa buah segar.
Akila memakannya cukup banyak.
Tak bohong kalau perut Akila sangat kelaparan.
Setidaknya ia harus bertenaga untuk bisa menghadapi William yang gila itu.
William mengukir senyum melihat Akila memasukan buah strawberry, anggur ke mulutnya dengan waktu yang singkat.
'Konyol sekali.' ucap William membatin.
Namun detik setelahnya William mengubah raut wajahnya. Ia pergi tanpa mau mengintip Akila lagi.
---
Malam makin larut.
Akila mengendap pelan ke arah ruangan yang ada di lantai atas, untuk saat ini Akila masih berkeliaran di Mansion mewah William.
Langkah Akila terhenti saat menemukan Reno keluar dari sebuah ruangan. Ah kaki Akila terasa sakit lagi, ia terlalu terkejut sampai lupa kalau saat ini luka di kakinya masih terasa.
'Aku benar-benar butuh pelukan Anak-anak. Kalau aku lama tinggal di tempat ini, mungkin aku akan cepat gila. William ini iblis.' ucap Akila membatin.
Reno menunduk sopan pada Akila.
"Selamat malam Nyonya, Tuan ada di ruangannya kalau memang Nyonya ingin mencari Tuan." Ucap Reno sopan.
"Jangan panggil aku Nyonya. Aku bukan Nyonya mu!" Tegas Akila.
Reno mengangkat kepalanya sebentar lalu kembali menunduk.
"Saya hanya ingin memberi saran pada Nyonya. Selama Nyonya tak membuat Tuan William kesal maka Tuan William pasti akan baik pada Nyonya." Ucap Reno.
Akila menjadi terkehek kecil mendengar ucapan Reno, ia mundur lalu menjauh pelan dari Reno.
"Baik padaku? Omong kosong sekali. Pria seperti William tak akan pernah menjadi sosok yang baik. Dia adalah jelmaan iblis yang tak punya hati! Aku tak peduli kalau dia mau kesal." Ucap Akila.
Mansion sebesar itu tak membuat hati Akila tenang. Jarak dari kota X ke kota Y cukup jauh dan saat ini Akila sungguh merindukan kedua Anaknya, bahkan Akila ingin mendengar rengekan Athena.
'Bagaimana ini? Apa Athena bisa tidur?' kecemasan Akila makin bertambah.
Tiba-tiba...
"Berhenti." Ucap pria yang tak lain adalah William.
Entah kapan pria itu muncul.
Langkah Akila yang pelan menuruni tangga jadi terhenti.
"Naik kembali, dan tidur di kamarku." Ucap William membuat Akila tak ragu untuk makin turun dari tangga itu.
Tidak mau dan tidak sudi bagi Akila tidur sekamar dengan William. Melihat wajah William saja semua kenangan di masa lalu teringat dalam otak Akila.
Langkah itu akhirnya berhenti lagi saat William berucap.
"Ponselmu ada padaku, belum aku lihat. Aku hanya mematikannya saja. Apa kau ingin aku menelpon Sari menggunakan ponselmu?" Tanya William.
Sialan bukan?!
Akila mengangkat kepalanya, ia mendongak menemukan William dengan rambut basah. Sepertinya pria itu baru selesai mandi.
Akila kembali naik dengan kakinya yang cukup sulit.
Tepat sampai di depan William, tangan Akila terulur.
"Dimana ponselku?" Tanya Akila.
"Di kamarku." Ucap William.
Akila menggeleng cepat.
"Jangan main-main denganku! Jika kau menipuku, maka aku akan..."
"Tas dan ponselmu ada padaku, ada di kamarku. Aku tak bohong." Ucap William.
William berlalu pergi usai mengatakan itu, ia masuk ke sebuah pintu membiarkan Akila diam.
Namun Akila akhirnya tak hanya diam saja, ia susul William masuk ke kamar itu.
---
Kamar itu lebih luas dari sebelumnya, bahkan ada ruang kerja sekaligus di dalamnya dan warnanya didominasi dengan warna hitam.
Mata Akila menatap tas miliknya yang ada di meja itu.
Apa William tak bohong kalau ia belum memeriksa ponsel Akila?
Sebenarnya tak ada hal yang membuat Akila cemas kecuali nomor ponsel Sari ada disana. Soal foto Anak-anak, Akila tak pernah menyimpan di ponsel. Karena bagi Akila, ia akan lebih tenang menyimpan foto-foto anaknya di sebuah album dan itu Akila simpan di kediaman miliknya yang ada di kota Y.
Akila mendekati meja kerja William membuat William mengukir senyum.
"Ini akan aku berikan kalau kau sudah mandi." Ucap William mengangkat ponsel milik Akila.
Tangan Akila terkepal.
William ini sungguh menguji emosi Akila.
"Jangan banyak bicara atau memerintahkan. Itu ponselku jadi berikan saja padaku!" Ucap Akila.
William yang kini mendekati Akila, ia menarik pinggang Akila membuat Akila tak sempat mundur.
"Memangnya permintaanku sulit? Aku hanya ingin kau mandi, setelahnya akan aku berikan ponsel ini padamu." Ucap William.
Tangan Akila terkepal.
"Kalau begitu bebaskan juga aku sekalian." ucap Akila.
"Kau sudah tau jawabanku." Ucap William sambil menutup pintu itu.
---
Tidak butuh waktu lama, Akila segera mandi. Ada banyak peralatan untuk perempuan di kamar mandi itu dan kini Akila keluar bersama bathrobe yang cukup besar. Mungkin itu milik William, tak masalah. Akila mau cepat ponselnya kembali.
Di luar sana ia temukan paper bag yang berisi pakaian wanita. Akila tak membuang banyak waktu, ia menggantinya lalu segera melangkah meraih ponsel miliknya yang ada di meja.
Akila menyalakan ponsel itu, ia mengetik pesan untuk Sari dengan hati yang gugup sekali.
[Sari tetaplah di kota Y. Aku sedang ada di kota X, aku dibawa pergi oleh William. Tiba-tiba saja dia muncul dan aku tertangkap olehnya. Aku harap kau mengerti, jaga dirimu. Apapun yang terjadi aku akan bebas dan kembali ke kota Y. Jangan cemaskan soal aku.] Itulah isi pesan yang Akila kirimkan.
Harusnya Sari paham walau Akila tak menyebutkan soal Anak-anaknya. Akila takut sekali jika William mengetahui tentang dua kembar yang kini sudah besar.
Tangan gemetar Akila segera menghapus pesan itu.
[Jangan membalas pesanku Sari. Kau hanya cukup tahu bahwa aku baik-baik saja. Aku harap kau mengerti dengan pesan yang aku kirimkan ini.] Akila kirim lagi pesan itu.
Setelahnya Akila menghapus pesan itu agar tak ada yang tahu kalau Akila telah mengirim pesan pada Sari.
Pintu terbuka membuat Akila terkejut, ponselnya hampir saja jatuh karena kemunculan William yang mendadak.
Senyum terbit lagi di bibir William.
"Sudah selesai memakai ponselnya? Kalau sudah kembalikan lagi ponselnya padaku." Ucap William.
"Ini milikku." Ucap Akila tak terima.
"Tapi aku belum mengeceknya, apa saja yang ada disana dan aku juga penasaran... apa mungkin kalau kau sudah memiliki Suami saat kau pergi dariku selama ini?" Ucap William membuat Akila memasukan ponsel itu ke kantong bajunya.
"Kau gila ya? Untuk apa aku punya suami jika aku bisa hidup seorang diri tanpa bantuan orang lain." Jawab Akila membuat William mengangguk kecil.
"Kalau begitu bagus, karena aku yang akan jadi suamimu." Ucap William dengan santainya.
Akila hendak menjauh tapi lebih dulu pinggangnya di tahan oleh William.
"Besok kita menikah." Ucap William.
"Tidak! Aku tak mau!" Tolak Akila tegas.
"Aku tak butuh persetujuan darimu. Aku hanya memberitahumu bahwa besok aku dan kau akan mengurus surat pernikahan. Akan aku kenalkan kau pada bawahanku dan..."
"Tidak sudi!" Ucap Akila mulai berontak.
Tapi tiba-tiba Akila melemah saat William berbisik dengan sangat pelan.
"Kau mau kepala Sari di acara pernikahan kita ya?" Tawar William.
Akila terdiam saat puncak kepalanya mendapatkan kecupan ringan dari bibir William.
"Lagi-lagi kau membuatku mengancammu, sudah kuduga kalau kau baru mau mendengar jika kau diancam." Ucap William.
Tubuh Akila digendong oleh William menuju ranjang.
"Sekarang tidurlah sebelum aku meminta hal yang aneh padamu." Ucap William.
Akila memutar tubuhnya lalu menarik selimut. Ia memejamkan matanya tapi William malah bergabung tidur disampingnya bahkan memeluk perut Akila dari belakang.
Sebelum Akila bersuara, lebih dulu William berucap.
"Jika kau berisik karena pelukan ini atau kembali menolakku, maka kita bercinta saja Akila." Ucapnya pelan membuat Akila yang hendak bergerak jadi memilih diam.
Akila tak akan pernah sudi mengulang percintaannya dengan William di masa lalu.
William itu luka yang sulit sembuh buat Akila.
Akhirnya air mata Akila jatuh. Ia butuh dua kembarnya dan Akila mau menangis sambil memeluk Anak-anak miliknya.
'Mommy rindu.' batin Akila.
Dada Akila bahkan terasa sesak karena rindu untuk Anak-anaknya dan juga ucapan yang William katakan sangat menyebalkan bagi Akila.
---
Bersambung...
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
lanjut thor😄
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .