Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Setahun berlalu dengan tenang bagi Nina dan Roni yang hidup di desa. Kini mereka hidup bahagia bersama Gendis, putri kecil mereka, di rumah Nek Nilam yang telah direnovasi total. Rumah yang dulu hanya terbuat dari papan kayu sederhana, kini disulap menjadi bangunan indah nan kokoh dengan halaman luas yang tertata rapi.
Nina menikmati setiap detik peran barunya sebagai seorang ibu, sementara Roni terus bekerja keras di pabrik kayu demi mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya. Kehidupan terasa jauh lebih damai di desa, membentang jarak yang aman dari penderitaan dan intrik keluarga kota.
Namun, di balik senyum tulus dan hangatnya tatanan keluarga kecil mereka, ada bahaya yang perlahan mulai mengintai. Ruhi dan Rukmini tak pernah benar-benar melupakan kebencian pada Nina. Mereka tak akan membiarkan Nina menikmati kedamaian begitu saja. Di saat yang sama, sebuah benih baru mulai disebar untuk menggoyahkan pondasi kebahagiaan yang telah Roni dan Nina bangun dengan penuh cucuran keringat.
Di kediaman Rukmini, suasana yang biasanya sunyi mendadak riuh saat seorang wanita berparas jelita datang berkunjung. Wajahnya yang cantik dengan penampilan serba menor seketika menarik perhatian Rukmini dan Ruhi. Wanita itu adalah Hana, mantan kekasih Roni semasa sekolah yang kini tumbuh semakin memikat.
Hana adalah mantan pacar Roni sebelum pria itu bertemu dengan Nina. Namun, hubungan mereka dulu harus kandas karena Hana terbukti selingkuh dengan pria lain. Kini, tanpa rasa malu, ia kembali menunjukkan batang hidungnya.
Rukmini, yang sejak awal tak pernah merestui Roni menikahi Nina, langsung melihat secercah peluang emas. "Hana, kau masih cantik seperti dulu," puji Rukmini mengulas senyum lebar. "Tak disangka kau masih mengingat jalan ke rumah ini."
Hana tersenyum lembut, namun binar matanya menyembunyikan maksud terselubung. "Tentu saja, Bu Rukmini. Saya ingin bersilaturahmi, apalagi setelah mendengar kabar kalau Roni sudah menikah."
Ruhi yang duduk di samping ibunya menatap Hana penuh arti. 'Mungkin inilah saatnya mengembalikan segalanya,' batin Ruhi bersorak. Hana bisa menjadi senjata pamungkas untuk menghancurkan rumah tangga Roni dan Nina.
"Di mana Roni dan istrinya? Mengapa aku tidak melihat mereka?" tanya Hana penasaran.
Tanpa membuang waktu, Rukmini membeberkan seluruh cerita dari sudut pandangnya. Ia menceritakan betapa Nina sangat buruk dan tidak diterima dengan baik di rumah itu, bagaimana konflik tak berkesudahan terus terjadi, hingga puncaknya Nina memaksa Roni untuk pergi pindah ke desa.
"Dia tidak pernah memenuhi harapan kami. Selalu ada saja masalah," keluh Rukmini dengan nada sarat kepahitan. "Roni bahkan tega meninggalkan ibunya demi wanita itu. Menurutku, Nina memang sangat tidak layak untuk Roni."
Mendengar hal itu, Hana merasakan gelombang kemenangan. Dalam hatinya, ia merasa puas mengetahui pernikahan Roni tidak seindah yang dibayangkan. "Benarkah, Bu? Ternyata dugaanku tidak salah tentang istrinya Roni," sahut Hana dengan nada mengejek. "Dia pasti sangat tidak pantas mendampingi Roni."
Rukmini tersenyum puas. "Kalau kau ingin bertemu Roni, aku bisa memberikan alamatnya di desa. Kau bisa berbicara padanya dan melakukan sesuatu untuk membawanya kembali ke pangkuanmu."
Hana mengangguk, wajahnya berseri-seri. "Aku sangat ingin bertemu Roni. Mungkin ini saatnya aku menunjukkan bahwa aku masih sangat peduli padanya."
Sebuah rencana busuk mulai dirancang. Rukmini tiba-tiba memajukan duduknya. "Hana, aku punya ide. Bagaimana kalau kau sekalian pindah dan menyewa rumah di desa tempat Nina tinggal? Dengan begitu, kau bisa lebih dekat dengan Roni dan menyusun strategi yang matang."
Mata Hana berbinar mendengar saran itu. "Ibu benar! Jika aku tinggal di sana, aku bisa mengawasi mereka dan mencari celah untuk mendekati Roni. Aku bisa membuat Roni merasa terombang-ambing di antara aku dan Nina."
"Persis! Buat kesan seolah kau adalah sosok yang jauh lebih pantas mendampinginya," timpal Rukmini bersemangat. "Kita bisa mempengaruhi Roni agar ia sadar betapa salahnya ia telah memilih Nina."
Hana tersenyum lebar, menyanggupi rencana tersebut. "Rencana yang sempurna, Bu! Aku akan segera mencari kontrakan di desa itu. Ini kesempatan emas untuk merebut kembali hati Roni."
*
Sementara itu di desa, Nina duduk bersantai di teras rumah sembari mengawasi Gendis yang sedang asyik bermain dengan boneka di atas tikar. Senyum Nina tak pudar melihat putri kecilnya yang berusia satu tahun itu tertawa ceria dan belajar melangkah perlahan.
Rumah hasil keringat Roni itu berdiri anggun, dikelilingi bunga-bunga indah tanaman Nek Nilam yang tumbuh subur.
"Gendis, hati-hati ya Nak, jangan sampai jatuh!" panggil Nina lembut saat Gendis mencoba melangkah menuju ayunan kayu. Gendis tertawa sembari mengangguk kecil, seolah mengerti kecemasan ibunya.
Meski kebahagiaan mengepung hidupnya, terkadang rasa cemas akan ancaman masa lalu dari keluarga Roni masih suka terlintas di benak Nina. Namun, ia buru-buru menepisnya dan merangkul Gendis yang mulai kelelahan. "Kita harus selalu bersyukur ya, Sayang. Kita punya rumah yang hangat dan saling mencintai," bisik Nina mengecup lembut puncak kepala putrinya.
*
Di tempat kerja Roni, riak mesin dan riuh para pekerja terdengar memecah keheningan pabrik kayu tempat Roni bekerja. Roni bergerak lincah mengawasi pemotongan kayu. Pikiran Roni sesekali melayang ke rumah, membayangkan tawa renyah Gendis dan senyuman hangat Nina yang menunggunya pulang.
"Ron, kau baik-baik saja? Kenapa melamun?" tegur Anton, rekan kerjanya.
"Ah, tidak apa-apa, Ton. Hanya sedikit lelah saja," sahut Roni menyunggingkan senyum tipis, menyembunyikan beban pikiran tentang ibunya yang perlahan mulai membayangi kedamaian mereka.
🤨🤨🤨🤨🤨
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...
💪💪💪
🤣🤣🤣🤣🤣
Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...
Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭