NovelToon NovelToon
Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Kecanduan Sentuhan Suami Posesifku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Strategi Joce

Sebastian berhenti hanya beberapa sentimeter dari wajah Vivi.

Napas Vivi ikut berhenti.

Pria itu mengangkat tangan. Ibu jarinya bergerak ke sudut bibir Vivi, menghapus noda kecil krim tiramisu yang entah bagaimana masih tertinggal sejak dari kafe.

“Kotor,” katanya.

Hanya itu.

Ia mundur, mengambil jas lain dari lemari, lalu memanggil sekretaris seolah baru saja tidak membuat otak Vivi berhenti bekerja.

Jocelyn kembali dari area luar kantor. Ia memandang wajah Vivi yang merah, lalu Sebastian yang sudah sibuk menandatangani berkas.

“Aku pergi tiga puluh detik,” bisiknya. “Apa yang terjadi?”

“Ada krim.”

“Di mana?”

Vivi menunjuk bibir.

Jocelyn menatapnya datar. “Kalian benar-benar butuh bantuan profesional.”

***

Setengah jam kemudian, mereka duduk di sudut gerai minuman dekat pusat perbelanjaan SCBD. Jocelyn memesan teh susu dengan dua porsi boba. Vivi hanya memegang gelas lemon tea dingin tanpa minum.

“Sekarang bicara,” kata Jocelyn. “Semalam kamu bilang punya firasat. Hari ini perempuan bernama Celine benar-benar masuk kantor suamimu sambil melepas pakaian. Itu bukan firasat biasa.”

Vivi memutar sedotan di antara es batu.

“Aku tidak tahu cara menjelaskannya.”

“Coba saja.”

“Aku melihat potongan-potongan buruk. Kadang seperti mimpi, kadang terasa seperti ingatan.” Vivi memilih setiap kata dengan hati-hati. “Celine tidak akan berhenti pada kejadian hari ini. Aku merasa dia akan menyebarkan cerita bohong, mengganggu Mama dan Papa, membuatku dipermalukan di depan banyak orang.”

Wajah Jocelyn kehilangan sisa candanya. “Sampai sejauh apa?”

Vivi menatap bayangannya sendiri di permukaan minuman. “Sampai aku menangis begitu lama hingga pandanganku kabur.”

“Kurang ajar.”

Kata itu keluar cukup keras hingga dua orang di meja sebelah menoleh.

Jocelyn menurunkan suara. “Kalau semua ini berhubungan dengan Sebastian, pilihan paling aman sederhana. Cerai saja.”

Es di dalam gelas Vivi beradu pelan.

Pintu besi kembali terbanting di kepalanya. Ia merasakan dinding tanpa jendela, napas yang semakin pendek, dan gagang pintu yang tak pernah bisa dibuka dari dalam.

“Tidak.”

Jawabannya terlalu cepat.

Jocelyn menyipitkan mata. “Kenapa?”

“Aku punya firasat lebih buruk tentang perceraian.”

“Sebastian akan melakukan apa?”

Vivi menekan jari ke gelas yang dingin. “Mengurungku.”

Jocelyn terdiam.

“Secara harfiah?”

“Aku tidak tahu,” Vivi berbohong pelan. “Tapi tubuhku selalu ketakutan setiap kali memikirkan kata itu.”

“Vivi, dengarkan aku. Kalau kamu benar-benar merasa dia bisa membahayakanmu, aku bisa membawa kamu ke rumah keluargaku malam ini. Kita cari pengacara.”

“Dia belum membahayakanku di kehidupan ini.”

Jocelyn menangkap dua kata terakhir itu. “Di kehidupan ini?”

Jantung Vivi tersentak. Ia cepat-cepat menunduk. “Maksudku, selama pernikahan ini.”

Sahabatnya tidak terlihat sepenuhnya percaya, tetapi tidak mendesak.

“Lalu kamu mau apa?”

Vivi memikirkan Sebastian yang tiba dalam sepuluh menit, boneka beruang yang menyimpan aromanya, foto keluarga Winata di sistem keamanan, dan tangannya yang dingin di kantor tadi.

Semua itu tidak menghapus akhir kehidupan pertama.

Namun, semua itu juga tidak cocok dengan pria yang selama ini ia kira hanya jijik menyentuhnya.

“Aku ingin mencoba,” katanya akhirnya. “Tidak langsung mencintainya. Tidak pura-pura lupa bahwa aku takut. Aku hanya ingin memberi pernikahan ini kesempatan.”

Jocelyn mengembuskan napas panjang. “Kamu sadar dia tidak terlihat ingin melepasmu, kan?”

“Justru itu.”

“Dan kamu tetap mau mendekat?”

“Aku ingin tahu apa yang dia sembunyikan.”

Jocelyn mengetuk meja dengan kuku telunjuk. “Aku akan menghormati keputusanmu, tapi kita pasang pengaman. Lokasi ponselmu selalu dibagikan kepadaku. Kalau kamu mengirim emoji bulan hitam, aku datang bersama pengawal keluargaku. Tidak peduli jam berapa.”

“Joce, itu berlebihan.”

“Kamu baru bilang mungkin dikurung oleh suami konglomerat. Dalam kamusku, itu belum cukup berlebihan.”

Vivi memikirkan rumah besar dengan terlalu banyak pintu, pengawal yang lebih patuh pada Sebastian daripada hukum alam, dan dirinya yang pernah gagal keluar dalam kehidupan pertama.

“Baik,” katanya. “Emoji bulan hitam.”

Jocelyn mengambil ponselnya, mengaktifkan berbagi lokasi permanen, lalu memperlihatkan layar sebagai bukti. “Dan kamu tidak boleh mematikan ini hanya karena suamimu memasang wajah sedih.”

“Sebastian tidak pernah memasang wajah sedih.”

“Semua pria punya versi wajah sedih. Punyanya mungkin hanya turun satu milimeter di sudut bibir.”

“Baik.” Jocelyn menegakkan punggung. “Kalau begitu jangan mendekat setengah-setengah. Pancing dia sampai topengnya jatuh.”

“Caranya?”

“Kamu selama ini terlalu penurut. Mulai sekarang, buat dia bereaksi. Kirim foto yang tidak bisa dia abaikan. Goda sedikit. Kalau dia benar-benar tidak menginginkanmu, kita akan tahu. Kalau dia meledak...”

Jocelyn tersenyum. “Lebih bagus. Kita jadi tahu bentuk aslinya.”

Ponsel Vivi bergetar sebelum ia sempat menjawab.

Sebuah portal bisnis mengirim notifikasi utama.

Wijaya Group menarik diri dari tiga proyek bersama Gunawan Group.

Berita itu baru diterbitkan dua menit lalu. Di bawah judul, harga saham Wijaya Group mulai turun. Pernyataan resmi menyebut “perbedaan standar tata kelola” sebagai alasan.

Vivi membaca artikel itu dua kali.

Dalam kehidupan pertama, Celine terus muncul sampai berbulan-bulan kemudian. Kali ini, belum satu jam berlalu dan tiga proyek sudah hilang.

Roda masa depan bergerak lebih cepat daripada ingatannya.

“Suamimu tidak main-main,” gumam Jocelyn setelah membaca layar. “Dia baru saja mengubah pelecehan di kantor menjadi gempa bisnis.”

“Aku memintanya memberi jalan keluar.”

“Dia memberi jalan. Sambil membakar jembatan di belakangnya.”

Vivi tak bisa membantah.

Jocelyn menghabiskan minumannya, lalu berdiri mendadak.

“Ayo.”

“Ke mana?”

Sahabatnya menunjuk pusat perbelanjaan mewah di seberang gerai. Matanya menyala dengan ide yang membuat Vivi langsung waspada.

“Kita cari beberapa pakaian renang yang cukup terbuka untuk membuat gunung esmu kehilangan akal.”

1
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!