NovelToon NovelToon
Dari Benci Menjadi Bucin

Dari Benci Menjadi Bucin

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Kenzo yang keras dan Anisa yang berani selalu tak akur, saling berselisih setiap hari. Namun saat terpaksa bekerja sama, benci perlahan berubah menjadi cinta manis yang tak disadari keduanya. Dari yang saling menentang, kini berubah menjadi tak bisa berpaling satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13.Anisa yang Ternyata Lembut Hatinya

Sejak Anisa mulai menyadari kebaikan yang tersembunyi di balik sikap dingin Kenzo, perlahan hal serupa pun terjadi sebaliknya. Kenzo yang sedari tadi selalu melihat Anisa sebagai gadis yang suka menentang, berani membantah, dan tak pernah takut padanya, kini mulai menemukan sisi lain yang sama sekali tak disangkanya. Di balik keberaniannya yang tegap dan tatapannya yang selalu menantang, ternyata tersembunyi hati yang jauh lebih lembut, lebih tulus, dan jauh lebih halus dari yang pernah ia bayangkan.

Suatu siang seusai jam pelajaran, langit tiba-tiba berubah kelabu dan menurunkan hujan deras tanpa peringatan. Angin berhembus kencang, membawa udara dingin yang menusuk hingga ke tulang. Kenzo berjalan kembali ke ruang kelas untuk mengambil buku yang tertinggal, dan tepat di ambang pintu, langkahnya seketika terhenti. Di dalam ruangan yang sepi itu, tampak Anisa sedang berdiri di dekat jendela yang terbuka lebar. Bukan sekadar menutup jendela seperti yang dipikirkannya, melainkan sedang menangkupkan kedua telapak tangannya di dada, berbicara pelan pada sekawanan burung pipit yang sayapnya tampak basah kuyup dan bergigil kedinginan di ambang jendela.

"Jangan takut ya... hujannya memang deras sekali," suara Anisa terdengar lembut dan rendah, begitu halus hingga nyaris tertelan suara rintik hujan. Dengan hati-hati, ia merobek selembar tisu bersih dari tasnya, lalu perlahan-lahan mengeringkan bulu-bulu halus burung itu. Tangannya bergerak begitu lembut dan berhati-hati, seakan takut lukaan sedikit pun pada makhluk kecil itu. "Sebentar saja ya, tunggu sampai hujannya reda... lalu kalian bisa terbang lagi ke sarang."

Kenzo terpaku di tempatnya. Selama ini telinga Kenzo terbiasa mendengar suara Anisa yang lantang menentang perkataannya, nada bicaranya yang tegas dan penuh keyakinan. Namun hari ini, mendengar suara yang begitu lembut dan penuh kasih sayang itu, hatinya seakan tersentuh sesuatu yang hangat namun tak dapat ia ucapkan. Matanya tak berkedip menatap punggung Anisa—yang tegap namun kini terlihat begitu lunak, begitu tenang, begitu meneduhkan.

Tak hanya itu. Sore harinya, Kenzo kembali menyaksikan hal lain yang membuat pandangannya perlahan runtuh. Saat seorang siswi di kelas jatuh pingsan karena tak sarapan dan kelelahan, semua orang tampak bingung dan berkerumun tanpa tahu harus berbuat apa. Anisa yang baru saja melangkah keluar, seketika berbalik kembali dengan wajah yang tampak cemas namun tetap tenang. Tanpa banyak bicara, ia segera menopang tubuh siswi itu perlahan, melapiskan kepalanya di atas pangkuannya, lalu dengan sigap mengipasinya menggunakan buku catatannya sendiri. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan bekal makan siangnya yang belum tersentuh sama sekali—satu kotak nasi lengkap dengan lauk yang sengaja dibawanya dari rumah—lalu memberikannya kepada gadis itu dengan tulus, tanpa ragu dan tanpa pamrih.

"Makanlah pelan-pelan... jangan dipaksakan. Kalau masih ada yang kurang sehat, beri tahu aku ya," ucap Anisa lembut sambil tersenyum tulus, menatap teman itu dengan sorot mata yang penuh perhatian dan ketulusan. Tak ada sedikit pun rasa enggan atau berlebihan dalam sikapnya. Ia melakukannya begitu saja, secara alami, seakan itulah hal yang paling wajar untuk dilakukan.

Kenzo berdiri tak jauh dari sana, menyaksikan semuanya dalam diam. Hatinya perlahan mulai menyadari kesalahannya selama ini. Selama ini ia hanya menilai Anisa dari pertemuan-pertemuan mereka yang penuh pertikaian. Ia mengira Anisa itu gadis yang keras kepala, suka melawan, dan tak pernah mengalah. Padahal... ketegasan yang ia lihat selama itu hanyalah kulit luarnya saja. Di balik keberaniannya untuk membela kebenaran dan menolak diperlakukan tidak adil, tersembunyi hati yang begitu lembut, begitu peduli pada orang lain, begitu tulus tanpa mengharapkan balasan apa pun.

Anisa yang selama ini berani menatapnya tajam saat berselisih, ternyata adalah gadis yang sama yang berbicara lembut pada burung kecil yang kedinginan. Anisa yang selalu melawan setiap kali merasa diperlakukan semena-mena, ternyata adalah gadis yang tak segan-segan memberikan bekal makan siangnya sendiri kepada teman yang membutuhkannya. Kekerasan yang selama ini ia tampakkan hanyalah tameng pelindung, bukan sifat aslinya. Sifat aslinya justru begitu halus, begitu hangat, begitu menyentuh hati.

Saat Anisa berbalik dan tak sengaja bertatapan mata dengan Kenzo, seketika wajahnya memerah karena malu. Ia buru-buru menurunkan pandangannya, tersenyum canggung, lalu berjalan pergi perlahan meninggalkan ruangan. Kenzo tetap berdiri mematung di tempatnya, menatap punggung Anisa yang perlahan menjauh. Jantungnya berdetak pelan namun terasa kuat di dadanya.

Mulai hari itu, sesuatu berubah dalam diri Kenzo. Setiap kali Anisa berbicara tegas kepadanya, tak lagi ia pandang sebagai tantangan atau pembangkangan. Ia justru mulai melihat di balik ketegasan itu: ada kelembutan yang dijaga dengan kuat, ada kebaikan yang tak ingin dipamerkan kepada siapa pun. Dan perlahan, tanpa disadarinya... rasa hormat dan kekaguman mulai tumbuh perlahan di hatinya, menyadari bahwa gadis yang selama ini selalu berselisih dengannya ternyata memiliki hati yang jauh lebih lembut, jauh lebih indah, dan jauh lebih mulia daripada yang pernah ia kenal seumur hidupnya.

BERSAMBUNG...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!