NovelToon NovelToon
Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: masadepan_

Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.

Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.

Awalnya hanya kontrak.

Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sangkar Emas

Setelah kejadian di ruang tamu. Aurelia berjalan perlahan menaiki anak tangga. Pipinya masih terlihat memerah dengan sudut bibirnya yang robek. Di pertengahan anak tangga, Aurelia menghentikan langkahnya. Dia berjongkok dan mencopot heelsnya. Kemudian ia tenteng dan mulai berjalan ke arah kamarnya.

Tak lama setelah Aurelia memasuki kamar, Tyana datang dengan terburu-buru. Wanita itu sudah siap dengan kotak obat ditangannya. Ia melihat ke arah Aurelia yang sedang duduk di kasur, atasannya itu sedang mengikat rambutnya yang lepek dan berantakan.

"Biar saya obatin, nona." Tyana berdiri dan menatap Aurelia. Matanya melihat Aurelia yang mengangguk menyetujui, barulah Tyana duduk disamping Aurelia. Wanita itu bergegas membuka kotak obatnya.

"Tyana." Aurelia memanggil Tyana yang sedang menuangkan alkohol di kapas.

"Iya, nona?" Wanita itu mulai membersihkan sudut bibir Aurelia dengan hati-hati.

"Wajah aku masih cantik, kan?" Aurelia bertanya dengan senyum yang mengembang.

Tyana hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah atasannya. Wanita itu menghembuskan napas kasar. Hal biasa yang selalu dilakukan Aurelia, adalah tersenyum di atas lukanya. Seolah ia adalah wanita paling bahagia tanpa luka. 

"Wajah anda selalu terlihat seperti itu." Balas Tyana seadanya. Tangan Tyana mulai mengoleskan salep di sudut bibir dan pipi Aurelia yang terlihat begitu merah.

"Tapi alangkah baiknya, kalau anda ingin menangis, jangan selalu menahannya." Tyana berkata dengan jujur. Ia sudah muak melihat senyuman palsu atasannya.

Aurelia menghela napas dan menghembuskannya kasar. Wanita itu bergerak melepaskan jasnya.

"Kah, udah biasa." Senyum itu kembali terbit. Aurelia beranjak berdiri, ia bergerak mencari sesuatu di laci.

Tyana membereskan kotak obatnya.

"Jangan mandi dulu, non." Tuturnya, ia khawatir karena salep itu akan terbawa air kalau Aurelia mandi.

Tangan Aurelia berhenti bergerak, kemudian berbalik menghadap Tyana. "Kan bisa, mandi badannya aja. Wajahnya gak usah." Tangannya mulai bergerak menggulung rambutnya asal.

Tyana hanya mengangguk, ia tidak mau lagi membantah ucapan atasannya. Tubuhnya lebih memilih untuk mundur dan berjalan ke arah lemari. Tyana akan memilihkan piyama yang akan digunakan oleh Aurelia.

Melihat Tyana yang sudah patuh. Aurelia berjalan ke arah kamar mandi. Kakinya mulai melangkahkan di bathtub yang berisi air hangat. Ia akan menghilangkan kelelahannya bersama guyuran air shower.

Ia berharap air hangat mampu membawa pergi rasa perih di pipinya.

Sayangnya... Luka di hati tak pernah bisa hanyut bersama air.

Setelah kurang dari tiga puluh menit Aurelia mengurung dikamar mandi. Wanita itu akhirnya sudah selesai dan sedikit merasa lega, ia sudah mengenakan piyama tidur. Rambutnya yang basah sudah kering menggunakan hairdryer.

Wajah gadis itu terlihat jauh lebih segar. Nyatanya... Ia berbohong pada Tyana, wajahnya basah, ia membasuhnya hingga salep itu bersih tersapu air.

Kini, Aurelia berdiri di balkon. Ia menatap langit  yang dipenuhi bintang-bintang. Ia selalu mencari bintang paling bersinar, dan disana, ia menempatkan wajah Mamanya. Setiap kali ia menemukan bintang paling bersinar... Maka ia akan memanggilnya, Mama. Kebiasaan yang tidak pernah hilang sejak kecil.

Suara langkah Tyana membuat perhatiannya teralihkan. Ia hanya menengok kebelakang sekilas. Kemudian kembali menatap langit dengan senyum yang mengembang.

"Tyana..."

"Aku bosen liat wajah kamu terus." Tangan Aurelia bergerak seperti menghitung sesuatu di langit. Kemudian wajahnya beralih menatap Tyana yang berdiri dibelakangnya.

"Kamu gak ada niatan mau nikah?" Matanya menyipit tajam. Senyumnya hilang seketika. Kemudian kakinya melangkah kecil. Ia melihat tubuh Tyana dari atas sampai bawah.

"Padahal aku udah ijinin kamu." Aurelia berkacak pinggang. Gadis itu kemudian memutar tubuhnya lagi menghadap keluar balkon.

"Tapi saya belum siap, nona." Tyana menjawab seadanya. Gadis itu masih mengenakkan pakaian serba hitam dengan setelan jas. Wajahnya cantik, tapi terlihat terlalu serius dan kaku.

Aurelia tidak lagi menjawab, wanita itu masih sibuk menatap langit. Sesekali, ia membentangkan kedua tangan dan menghirup udara dengan rakus.

"Nona... Perihal perjodohan anda."

Deg!

Aurelia langsung mengepalkan kedua tangannya. Ia tidak suka dengan pembahasan ini. Rahangnya mengeras seketika.

"Apa kamu mau melanjutkan ucapan kamu, Tyana?"

Aurelia membalikkannya tubuhnya. Ia menatap Tyana yang menghadapnya, tapi mata Tyana selalu tidak berani menatap langsung wajah Aurelia.

"Itu adalah perintah dari tuan Giovani. Beliau menyuruh saya untuk membahas ini dengan anda malam ini juga."

Aurelia masih mengepalkan tangannya erat. Wanita itu memilih untuk mendudukkan dirinya. Kemudian tangannya bergerak mengambil secangkir kopi susu hangat dan meneguknya perlahan.

Matanya menatap tajam ke arah Tyana yang masih berdiri tegap.

"Lalu apa lagi?" Aurelia meletakkan cangkir itu secara perlahan. Tubuhnya bersandar di kursi dengan kaki yang terlipat.

"Nona akan bertemu dengan pria itu secepatnya. Kalau nona menolak...." Tyana menjeda sebentar kalimatnya. Ia tahu Aurelia tidak suka, tapi ia harus menyampaikan ini demi kebaikan bersama.

"Nona harus membawa tuan Adriant kehadapan tuan Giovani dengan membawa kepastian."

Aurelia memejamkan matanya sesaat. Ia menggeram kemudian membuka matanya.

"Kamu tahu, kan?Adriant belum siap untuk menikah, Tyana." Aurelia memutar bola matanya. Ia kembali meminum secangkir kopi.

"Kalau begitu tinggalkan dia, dan mencari pria yang lebih siap." Tubuh Tyana bergerak menghadap Aurelia.

"Itu lebih baik, nona. Anda harus mengambil keputusan secepatnya."

Aurelia menyipitkan matanya. Ia ingin mencaci-maki Tyana. Tapi ia sadar, kalau Tyana tidak salah. Ia hanya menyampaikan pesan dari Papanya, dan mengeluarkan pendapatnya. Tapi bagi Aurelia....

Meninggalkan Adriant adalah keputusan konyol. Aurelia sangat mencintai kekasihnya itu. Tapi sayangnya, Papanya tidak menyetujui hubungan mereka karena Adriant terlalu lama melamar Aurelia. Sedangkan Giovani ingin sebuah kepastian, sehingga ia akan menjodohkan Aurelia agar kekayaan mereka bertambah.

"Aku bingung, Tyana." Kedua tangan Aurelia meraup wajahnya kasar. Ia dilanda kebingungan.

"Anda hanya bingung karena menunggu yang tidak pasti, nona."

Aurelia memicingkan matanya tajam. Tyana selalu saja membuat dirinya seperti gadis yang hilang arah. "Dia pasti. Hanya butuh waktu." Ucap Aurelia, rautnya serius.

"Tapi waktu tidak butuh dia."

Aurelia menatap tajam pada Tyana yang asal bunyi.

"Kenyataannya anda yang sedang dikejar waktu. Tinggalkan dia, dan mencari pria lain yang lebih memberikan kepastian. Itu keputusan tepat."

Aurelia memutar bola matanya. Kemudian matanya teralihkan pada ponselnya yang berdering.

Aurelia menatap layar ponselnya yang dipenuhi dengan nama seseorang. Kemudian matanya berganti menatap ke aray Tyana, lalu kembali lagi ke ponselnya.

"Nathaniel Alister?" Aurelia membaca dengan jelas nama itu. Seorang pemilik perusahaan properti yang tadi pagi mengirimkan proposal.

"Angkat, nona. Mungkin itu penting." Tyana ikut menatap layar ponsel Aurelia.

Sedangkan Aurelia hanya berdecak. Wanita itu sedang mendinginkan pikiran. Ia tidak ingin melibatkan pekerjaan di malam yang membingungkan ini.

Bunyi ponselnya berhenti. Aurelia mendengus kemudian menatap Tyana yang sedang menatapnya dengan tatapan serius. Aurelia tahu Tyana akan mengomel panjang lebar.

"Aku tahu itu penting, Tyana."

"Tapi bisa besok. Kamu sendiri yang bilang kalau ini adalah waktunya istirahat, bukan?" Aurelia menaik turunkan alisnya dengan senyum menggoda.

"Tapi ini beda, nona."

Aurelia berdecak lagi, "bedanya apa?" Lalu matanya kembali teralihkan oleh bunyi notifikasi. Ia melirik sekilas, mengintip sebuah pesan yang masuk.

"Saya sudah mencoba menghubungi Anda dua kali.

Hubungi saya ketika Anda memiliki waktu."

Nathaniel Alister.

Entah mengapa, nama itu terasa asing.

Namun juga... Seolah akan membawa sesuatu yang besar ke dalam hidupnya.

Ia mengunci layar ponselnya.

"Besok saja."

Tanpa Aurelia sadari...

Di sisi lain kota...

Nathaniel Alister baru saja memutuskan sesuatu. Keputusan yang akan mengubah hidup mereka berdu

1
Lalapouu
dmi apaa makin seru
Lalapouu
siapa?
Lalapouu
betull ituuu
Muhtarom Ardianto
semangat
Muhtarom Ardianto
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!