NovelToon NovelToon
Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Aku Terpaksa Kayak Gini Karena Hutang!

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Komedi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:270
Nilai: 5
Nama Author: Mujahid Al Fattih

Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.

Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.

Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!

Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!

Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!

Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16.5 Mereka Jadi Tamu Tak Diundang?

Sambil berjalan, Moiro menoleh pada Mika lalu bertanya padanya—sekaligus mengalihkan pikirannya tentang kencan yang sempat terlintas, "Sano, memangnya kau mau pergi ke mana?"

Mika menoleh perlahan dengan ekspresi bingung, lalu tersenyum setelahnya, "Oh, iya. Aku belum ngasih tau, ya?"

Mika mengambil ponselnya lalu menggeser-geser layarnya, sedang mencari sesuatu.

Moiro hanya senyap di sampingnya, menunggu.

"Ah! Ini dia!" seru Mika, lalu memperlihatkan layar ponselnya pada Moiro, "Kita akan ke sini!"

Di layar itu, terlihat sebuah postingan bergambar Taman Hiburan yang indah dan menyenangkan.

"Taman Hiburan?" tanya Moiro pelan.

"Benar!" jawab Mika antusias, "Katanya ada wahana dan tempat baru di sana, jadi aku kepengen datang!'

"Ooh. Begitu, ya?"

Sementara Moiro dan Mika sedang berbincang sambil berjalan santai menuju stasiun kereta, jauh di belakang keduanya ada orang berpakaian aneh dan tertutup sedang memantau mereka.

Oi, siapa kau? Penguntit?

Orang itu berbisik sendiri, "Kayaknya mereka akan pergi ke stasiun. Aku harus mengikutinya. Kalo tidak, aku bisa ketinggalan."

"Kamu ngapain di sini?"

Orang itu terkejut saat suara pelan namun tajam terdengar di belakangnya.

Dia menoleh dengan gerakan pelan dan kaku, pupilnya mengecil, jelas takut kalau dia akan dicurigai.

Pasti dicurigai lah. Pakaian kau aja kek gitu.

Saat dia menoleh, dia malah menemukan sosok perempuan tegas yang sedang berkacak pinggang, Yuka.

Yuka mengangkat kedua alisnya, tak menyangka, "Ternyata benar, kamu Yamaguchi kan?"

Lah? Ngapai kau nguntit mereka, Setan?!

Ryuji berdiri tiba-tiba lalu berbisik nyaring, "Ke-Ketua kelas?! Kenapa kau bisa tau kalo ini aku?!"

"Dari suaranya aja aku dah bisa nebak," balas Yuka santai.

Yuka melipat dua tangannya di depan, lalu menatap tajam sambil kembali bertanya, "Jadi, kamu ngapain di sini?"

Ryuji melepas kacamata dan menurunkan maskernya. Sedikit kaku karena panik.

"Ketua kelas... Itu... Nganu...!" balas Ryuji sedikit panik.

"Panggil pake nama aja. 'Ketua kelas' terdengar aneh kalo dipake di sini."

"Yaudah, kalo gitu... Yuka!"

Degup!

Jantung Yuka berdegup seketika.

Yuka terkejut, wajahnya memerah samar, "Ke-Kenapa kamu malah manggil namaku?!"

Apakah Yuka... Mwehehe. Ternyata gitu, ya...?

"Tadi kau suruh panggil pake nama. Bukan begitu?" tanya Ryuji kembali. Wajahnya mulai datar karena merasa ucapan Yuka barusan bertolak belakang.

Yuka mengacungkan telunjuknya ke wajah Ryuji, "Ta-Tapi... maksudnya itu panggil nama keluarga, bukan nama depan!"

Ryuji berpaling, kedua tangan dan bahunya diangkat seolah tak peduli, "Terserahku lah. Lebih enak kalo manggil nama depan daripada marga."

Yuka menggigit bibirnya. Suaranya bergetar, "Ka-Kalo gitu..."

Ryuji menoleh, ekspresinya nampak heran mendengarnya.

Bibir Yuka terlihat mengerucut. Wajahnya tampak merah padam saat matanya menatap Ryuji.

Dia melipat kedua tangannya, "Aku terpaksa melakukan ini karena kamu gak mau memanggilku dengan marga! Jadi..."

Wajahnya dipalingkan cepat, pipinya menggembung.

"A-Aku akan memanggilmu dengan..." ucapannya tertahan sejenak, lalu dengan gugup melanjutkan, "Na... Nama depan juga..."

"Ha?" sahut Ryuji pelan, tak memahami apa yang dimaksud oleh Yuka barusan.

"Hmph. Kalo kamu memaksa, aku juga tak masalah memanggilmu dengan nama," lanjut Yuka sambil memejamkan matanya. Sok buang muka yang sudah memerah sepenuhnya.

Ryuji mulai menyeringai lebar setelah memahami maksudnya, "Kalo begitu malah jadi bagus. Aku menyukainya."

"'Suka'?!" jerit Yuka dalam hatinya. Jantungnya berdegup lebih kencang. Matanya terbelalak penuh binar-binar samar.

Perlahan, wajahnya diarahkan kembali pada Ryuji—sedikit menunduk. Matanya menatap ke sembarang tempat. Kedua telunjuknya dimainkan di depan wajahnya.

Dengan gugup, Yuka berkata pelan, "Ka-Kalo gitu..."

Matanya terangkat, penuh kilauan, menatap mata Ryuji yang sudah sepenuhnya menghadap ke arah dirinya.

"R-Ryu... Ryu..." suaranya bergetar, mencoba memanggil nama depannya.

Ryuji hanya mengerjap bingung, sekaligus menunggu perkataan yang akan keluar dari mulut Yuka.

Yuka menggigit bibirnya lagi, lalu berucap cepat, "R-Ryuji!"

"Siap?!" sahut Ryuji nyaring sambil hormat.

Terdasar, dia menurunkan tangannya.

"Gak perlu teriak juga kali? Aku sampe kaget dengernya," balas Ryuji datar, "Astaga..."

Tiba-tiba, Ryuji teringat sesuatu. Kilatan halus menyambar otak kosongnya.

"Oh iya!" teriaknya.

"Ah?! A-Ada apa...?!" tanya Yuka terkejut, sampai kacamata bulatnya sedikit melorot.

"Aku harus ke stasiun sekarang. Kalo tidak, aku bakal ketinggalan dan gak bisa ngikutin mereka!" balas Ryuji sedikit panik dan terburu-buru.

"'Mereka'...?" bisik Yuka pelan, lalu memperbaiki posisi kacamatanya.

Matanya membelalak, lalu menunjuk Ryuji panik, "Ka-Kamu sedang menguntit, ya?!"

Betul! Tangkep aja dia!

"Bukan! Aduh, sudahlah. Aku pergi dulu!" balas Ryuji cepat.

Dia langsung berpaling dan berlari menuju ke arah stasiun kereta.

"Tunggu!" seru Yuka sambil sedikit menunduk. Dua tangannya lurus di samping tubuh.

Ryuji terhenti, lalu menoleh pada Yuka dengan bingung dan terburu-buru.

Yuka mengepalkan kedua tangannya. Diangkatnya setinggi bahu.

"A... Aku mau ikut!" seru Yuka sambil menatap Ryuji. Tatapannya terlihat tajam dengan pipi yang nampak memerah.

"Ya ampun," desis Ryuji pelan sambil memutar bola matanya.

Dia langsung berlari ke arah Yuka lalu memegang tangannya, "Sini."

"Eh—?!" jerit Yuka tertahan. Dia terkejut saat Ryuji tiba-tiba memegang dan menarik tangannya.

"Cepatlah. Kalo tidak, kita akan terlambat!" lanjut Ryuji sambil berlari menarik Yuka.

Yuka ikut berlari. Matanya menatap tangannya yang dipegang lembut oleh Ryuji, lalu tersenyum tipis sedikit malu.

"Ba-Baiklah. Tapi ini hanya karena kamu memaksaku, ya."

"Kau kalo ngomong selalu sulit dipahami. Jangan dibikin ribet, dah."

"H-Haah...?!"

Aseeek, dibikin pasangan baru ya? Mantap, Author!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!