Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.
Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.
Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.
Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
##02
Pintu kayu mahoni berukir lambang dinasti Blackwood tertutup rapat dengan dentum berat yang bergema dingin di sepanjang koridor sayap barat Istana Buckingham.
Di balik pintu itu, kamar pengantin seluas ratusan meter persegi membisu. Ruangan yang dirancang bagai tempat peraduan surgawi—berhiaskan kelopak mawar putih, pencahayaan temaram dari lampu gantung kristal yang dibiarkan redup, serta wewangian lavender dan kayu cendana—seketika terasa kaku, dingin, dan mencekam bagai makam megah yang kehilangan nyawa.
Baxeena berdiri membelakangi pintu, masih terbalut gaun sutra putihnya yang amat berat. Ia melepaskan tiara berlian dari kepalanya dengan gerakan kasar, melempar mahkota berharga jutaan poundsterling itu ke atas meja rias hingga menimbulkan bunyi benturan keras yang memecah kesunyian.
Napasnya memburu, dadanya kempas-kempis menahan sesak yang membakar tenggorokannya sejak ia menginjakkan kaki di altar tadi sore.
Setiap helai udara di istana ini terasa begitu beracun, meremas jantungnya hingga rasanya tak bersisa.
Di sudut lain ruangan, Edmund berdiri di dekat jendela tinggi yang menghadap langsung ke arah taman istana yang gulita. Ia telah menanggalkan jas kebesaran militernya, menyisakan kemeja putih berserat halus yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan garis leher dan rahangnya yang kokoh.
Pria itu memegang sebuah gelas kristal berisi whisky amber, namun ia sama sekali tidak meminumnya. Ia hanya menatap pantulan Baxeena melalui kaca jendela yang memantulkan bayangan kelam.
Keheningan yang membunuh itu bertahan selama beberapa menit, begitu pekat hingga suara jarum jam dinding berdetak bak pemicu bom waktu.
"Kenapa kau tidak menolaknya?"
Suara itu akhirnya pecah.
Bukan suara bernada tinggi, melainkan sebuah vokal bariton yang teramat dalam, teratur, dan begitu dingin.
Suara Alistair tidak memiliki guncangan emosi sedikit pun; itu adalah jenis suara seorang panglima yang terbiasa memberi perintah di tengah kecamuk perang, atau seorang pria yang telah terbiasa membunuh seluruh perasaan di dalam dirinya sendiri.
Suara dingin Alistair malam itu bahkan terasa jauh lebih membeku, lebih asing, dan lebih menusuk daripada suara Baxeena yang sarat akan amarah.
Ia membalikkan badan perlahan, menatap Baxeena dengan manik mata hazel-nya yang legam.
"Kutanya sekali lagi... kenapa kau setuju dengan perjodohan ini, Baxeena?"
Tiba-tiba Baxeena tertawa sumbang.
Tawa yang pecah menjadi lelehan air mata yang dengan cepat ia hapus secara kasar di pipinya. Ia memutar tubuhnya, menatap pria yang berdiri beberapa langkah darinya dengan tatapan yang penuh dengan nyala api kebencian yang terpendam selama satu dekade.
"Kau pikir aku punya pilihan? Hm?" Suara Baxeena bergetar, naik satu nada, sarat akan sarkasme yang menyakitkan.
"Katakan padaku, Alistair! Apa aku punya pilihan?! Ibuku mengancam akan membunuh dirinya sendiri di depanku! Dia menaruh botol racun di meja hanya karena aku berusia tiga puluh tiga tahun dan tidak ingin menikah! Dia memohon padaku seolah aku adalah anak paling tidak berbakti di dunia ini! Jadi katakan padaku, wahai Yang Mulia Pangeran yang Agung... pilihan mana yang kau maksud?!"
Alistair tidak bergeming. Ia melangkah mendekat, langkah footstep-nya di atas karpet beludru tebal begitu konstan dan tak tergesa. Tatapannya terkunci rapat pada manik mata Baxeena yang berkaca-kaca.
"Tapi kau bisa menolaknya, Xeena," kata Alistair serius. Suaranya masih berada di frekuensi yang sama—rendah, tenang, namun menghujam tepat di pusat dada Baxeena. "Kau selalu punya cara untuk lari jika kau mau. Kau bisa menolaknya tepat sebelum dokumen aliansi itu ditandatangani. Kau selalu bisa."
"Bagaimana dengan dirimu?!" potong Baxeena cepat, menyilangkan tangannya di dada dengan pertahanan penuh. Wajah cantiknya memerah menahan ledakan emosi. "Itu artinya kau tahu siapa calon istrimu dari awal? Kau tahu bahwa wanita dari Los Angeles itu adalah aku?! Kau sama sekali tidak terkejut saat aku berjalan ke altar!"
Alistair menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan, hanya menyisakan jarak beberapa meter di antara mereka. Ia meletakkan gelas kristalnya di atas meja konsol dengan ketukan pelan.
"Ya. Aku tahu siapa calon istriku," jawab Alistair tanpa keraguan.
Garis wajahnya yang tegas tak menunjukkan penyesalan sedikit pun. "Dan aku mengira... kau akan menolaknya, Xeena. Aku mengira begitu Mommy mu menyebut namaku, kau akan langsung menghancurkan seluruh rencana ini dan pergi."
Kalimat itu bagai petir yang menyambar Baxeena tepat di ulu hati.
Matanya membelalak, ketidakpercayaan merayapi seluruh paras cantiknya. Sebuah kenyataan pahit baru saja terungkap: pria ini tahu. Pria ini tahu dan membiarkan jebakan ini membelit mereka berdua.
"Kau... kau tahu?!" jerit Baxeena lirih, suaranya tercekat oleh rasa perih yang begitu membakar. "Mommy tidak pernah menyebut namamu! Mommy ku hanya bilang kau adalah seorang duda beranak satu dari Inggris! Pengacara keluarga yang mengurus semua dokumennya! Kalau saja... kalau saja aku tahu mempelai prianya adalah dirimu sebelum aku naik ke altar..."
Baxeena jeda sejenak, napasnya tersengal, dadanya terasa naik turun saat kalimat paling kejam dalam hidupnya lolos dari bibirnya:
"...Aku lebih baik bunuh diri!"
Deg.
Udara di dalam kamar pengantin itu seketika tersedot habis. Kata-kata Baxeena menggantung di udara bagai bilah pisau yang tajam dan beracun.
Untuk pertama kalinya malam itu, topeng es di wajah Alistair pecah. Manik matanya berguncang hebat, sebuah kedipan tak rata terlihat di kelopak matanya saat kalimat "bunuh diri" itu menghantam kesadarannya.
Pertahanan dingin yang dibangun sang perwira militer itu retak dalam sekeping detik yang menyiksa.
"Bunuh diri?" suara Alistair bergetar tipis, sangat tipis, namun di dalam keheningan kamar itu, getaran itu terdengar begitu kentara dan menyedihkan. "Segitu bencinya dirimu padaku, Xeena? Kau... belum memaafkanku?"
"Tidak!" Baxeena berteriak, melangkah satu tapak ke depan dengan jari telunjuk yang mengarah tepat ke dada Alistair. Air matanya kini menetes bebas, membasahi riasan wajahnya yang sempurna.
"Tidak akan pernah, Alistair! Sampai aku mati, sampai napas terakhirku habis, aku tidak akan pernah memaafkan apa yang kau lakukan sepuluh tahun lalu! Kau menghancurkan hatiku, kau menumpahkan seluruh kepercayaanku, dan kau membuatku merasa bagai wanita paling bodoh di dunia ini!"
Alistair memejamkan matanya rapat-rapat selama beberapa detik.
Dibalik matanya yang terpejam, bayangan masa lalu—malam terkutuk di mana ia terbangun dalam jebakan kesalahpahaman yang merusak segalanya—berputar bagai mimpi buruk yang tak pernah selesai.
Saat ia membuka matanya kembali, tatapannya dipenuhi oleh keputusasaan yang tertahan di balik ketegaran seorang calon raja.
"Aku sudah membayar kesalahan itu setiap hari dalam hidupku, Xeena," bisik Alistair, suara beratnya kini merendah, sarat akan duka yang tak terkatakan. "Aku membesarkan putriku sendirian. Aku mengasingkan diriku di medan perang. Aku tidak pernah menyentuh wanita lain sejak hari itu. Apakah Empat Belas tahun penderitaanku masih tidak cukup untuk membayar satu malam kesalahpahaman itu?"
"Kesalahpahaman?!" Baxeena tertawa kencang, tawa penuh kepahitan yang bergema pilu. "Kau menyebut anak yang lahir dari rahim wanita lain sebagai 'kesalahpahaman'?! Pria manis yang berjanji akan menjemputku ke Los Angeles ternyata tidur dengan wanita lain dan membuatnya hamil di saat aku menunggumu di sana! Dan kau menyebutnya kesalahpahaman?!"
Alistair tidak merespons pancingan amarah itu. Ia tahu, makin banyak ia menjelaskan, makin tajam luka itu menggores Baxeena. Luka yang telah membusuk selama bertahun-tahun itu tidak bisa disembuhkan hanya dengan kata-kata malam ini.
Baxeena menyeka air matanya secara kasar dengan punggung tangannya. Ia menghela napas panjang, mencoba menarik sisa-sisa harga dirinya yang tersisa. Wajahnya kembali membeku, dingin dan penuh dengan tembok benteng pertahanan yang tak tertembus.
"Sudahlah," usik Baxeena dingin, memalingkan wajahnya dari Alistair. "Segalanya sudah terjadi. Aku sudah terikat dalam pernikahan tak berguna ini demi Mommy ku. Tapi jangan pernah berpikir kau bisa menyentuhku atau bersikap seolah kita adalah sepasang suami istri. Pernikahan ini hanya di atas kertas."
Alistair menatap punggung Baxeena yang bergetar menahan tangis. "Lalu apa rencanamu? Tinggal di istana ini sebagai patung bernyawa yang membenciku setiap detik?"
"Bukan hanya kau yang membenciku di tempat terkutuk ini," potong Baxeena pelan, namun nadanya begitu menusuk. Ia memutar kepalanya sedikit, menatap Alistair dari sudut matanya dengan senyum sinis yang menyakitkan.
"Putrimu..." lanjut Baxeena. "...dia bahkan mengunciku di kamar rias tadi, tepat setelah aku selesai dandan sebelum naik ke altar."
Alis Alistair bertaut seketika. Raut wajahnya berubah serius, garis-garis ketegangan terpancar jelas di dahi dan rahangnya. "Apa maksudmu? kamar dikunci?"
"Kau tidak tahu, kan?" Baxeena melipat tangannya, menatap Alistair dengan pandangan meremehkan. "Tentu saja kau tidak tahu. Panglima perang yang hebat sepertimu mana mungkin tahu apa yang terjadi di balik tembok istanamu sendiri. Gadis berusia tiga belas tahun itu sengaja memutar kunci dari luar dan membuang kuncinya, membuat para pelayan harus mendobrak pintu agar aku tidak terlambat ke altar."
Alistair mengepalkan tangannya di samping tubuh. Hatinya mencelos. Ia tahu betapa keras dan protektifnya sang putri, namun ia tak menyangka putrinya akan bertindak sejauh itu di hari pernikahan resminya.
"Tentu saja dia melakukan itu," bisik Baxeena, suaranya kini kembali datar, hampa, dan penuh kepasrahan yang menyedihkan. "Mungkin di dalam otak kecilnya yang malang, dia merasa aku adalah wanita jahat yang datang untuk merebut posisi yang harusnya milik ibu kandungnya. Posisi wanita yang pernah tidur denganmu itu."
Baxeena melangkah menuju sofa besar di sudut ruangan, melempar gaun bagian bawahnya yang mengembang agar ia bisa duduk dengan bebas. Ia menatap Alistair tepat di manik matanya, menyunggingkan senyum paling dingin yang pernah Alistair lihat seumur hidupnya.
"Bagaimana, Alistair? Kau puas dengan mahakarya pernikahan yang kau dan ibumu ciptakan ini?"
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭