Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.
Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.
Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.
Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.
Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.
Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
##3
Interior mobil SUV hitam yang melaju kencang menyusuri jalanan malam Los Angeles terasa begitu mencekam.
Bau kulit jok yang mahal bercampur dengan ketegangan yang pekat. Di kursi baris paling belakang, Lux Victoria dan pria asing bernama Braxton duduk bersisian dalam kurungan yang ketat.
Di baris tengah, dua orang pengawal bertubuh tegap berjas hitam duduk kaku seperti benteng bernapas, memastikan tidak ada satu pun dari kedua anak muda itu yang mencoba melompat keluar dari mobil yang sedang melaju.
"Demi Tuhan, Dad! Aku tidak hamil! Ini semua kesalahpahaman!" jerit Lux histeris dari kursi belakang.
Suaranya serak, matanya yang sembap berkilat penuh frusutrasi. "Tolong dengarkan aku! Hasil tes di klinik tadi pasti keliru! Dan pria di sebelahku ini... aku bahkan baru melihat wajahnya sepuluh menit yang lalu!"
Namun di kursi depan, suara Lux seolah hanya menjadi angin lalu. Marcus Victoria terus memegang kemudi dengan buku-buku jari yang memutih karena cengkeraman yang terlalu kuat. Wajah sang ayah mengeras seperti batu granit.
Di samping Marcus, Eleanor hanya bisa menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menangis sesenggukan tanpa henti.
Hatinya teriris menjadi serpihan-serpihan kecil. Dalam benak Eleanor, jeritan penolakan Lux hanyalah bentuk kepanikan seorang remaja yang takut menghadapi kenyataan.
Entah apa yang ada di pikiranmu, Sayang... Apakah kau begitu takut hingga berpikir untuk tidak bertanggung jawab atas janin itu?
Tidak... Mommy tidak akan pernah membiarkanmu menggugurkan kandunganmu. Kau harus menikah dengannya, malam ini juga, batin Eleanor meratapi nasib putrinya seraya menatap bayangan lampu-lampu jalanan kota yang melintas samar di kaca mobil.
Di baris belakang, Lux mengusap wajahnya yang basah oleh air mata dengan kasar. Ia menoleh ke samping, menatap pria yang duduk di sebelahnya.
Pria itu tampak terdiam, menatap lurus ke depan dengan raut wajah yang sulit diartikan—campuran antara syok, takjub, dan kebingungan yang luar biasa.
"Maafkan aku..." bisik Lux pelan, nada suaranya mendadak melunak penuh penyesalan saat menatap Braxton. "Kau... kau terseret dalam masalah besar keluargaku."
Braxton menoleh pelan. Ia menatap gadis di sebelahnya yang kini terlihat begitu rapuh meski beberapa menit lalu sanggup melayangkan pukulan keras ke ulu hatinya.
Pria itu menelan ludah, lalu berbisik sangat pelan agar tidak terdengar oleh dua pengawal tegap di depan mereka.
"Jika aku harus menikahi seorang janda atau wanita dengan masa lalu rumit, aku mungkin tidak akan terlalu kaget..." bisik Braxton dengan nada datar. "Tapi dirimu... kau hamil, kan? Testpack yang terjatuh tadi itu untuk..."
"Aku sama sekali tidak hamil, dasar bodoh!" potong Lux cepat dengan bisikan yang mendesis tajam. Matanya melotot marah. "Ini semua salah paham! Aku sama sekali tidak pernah melakukan hal gila itu dengan siapa pun! Paham?!"
Braxton menaikkan sebelah alisnya. "Kau serius?"
"Tentu saja aku serius, Sialan! Bantu aku untuk menjelaskan pada ayahku!" desak Lux dengan raut wajah memohon yang amat sangat. "Katakan pada mereka kalau kita bahkan tidak saling kenal!"
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia justru memperhatikan detail wajah Lux di bawah pendar lampu interior mobil yang remang-remang.
Mata abu-abu gadis itu yang berkilat marah, tato artistik dilengannya hingga tato yang mengintip di balik kerah jaketnya, serta keberaniannya yang tak terduga.
Di mata Braxton, Lux Victoria bukan sekadar gadis ngawur yang ia temui di apotek—dia adalah wanita galak yang sangat menarik.
Sebuah senyum miring yang tipis dan jahil mendadak terukir di sudut bibir Braxton.
"Aku Braxton," ucapnya tiba-tiba, memperkenalkan diri dengan santai di tengah badai krisis ini. "Braxton Valerio Desmon."
Lux membelalakkan mata, tidak percaya pria ini malah mengajak berkenalan. "Aku tidak peduli siapa namamu!"
"Well, jika boleh jujur..." Braxton menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Lux dengan tatapan yang mendadak percaya diri. "Aku sebenarnya tidak keberatan jika harus menikahimu. Syukurlah kalau kau ternyata tidak hamil."
Kata-kata itu membuat Lux mendelik tak percaya. "Apa yang kau katakan, Sialan?! Aku tidak mau menikah! Apalagi menikah dengan pria stres dan lancang sepertimu!"
Tanpa memedulikan bisikan Braxton, Lux kembali memajukan tubuhnya sejauh yang diizinkan oleh rentangan tangan pengawal di depannya. Ia berteriak lagi ke arah depan.
"Dad! Demi Tuhan, percaya padaku! Aku tidak hamil! Aku bahkan tidak mengenal pria ini, Dad! Mommy... tolong bicara pada Daddy!" seru Lux menahan tangisnya.
Mendengar jeritan Lux yang tiada henti, Braxton tiba-tiba menegakkan tubuhnya.
Tatapan matanya yang jahil berubah menjadi tatapan penuh drama. Dengan nada suara yang diatur sedemikian rupa—terdengar begitu penuh penyesalan, lembut, sekaligus dramatis—Braxton memotong jeritan Lux.
"Baby... kumohon, jangan berkata seolah-olah kau tidak mengenalku seperti itu," potong Braxton dengan nada memohon yang sangat meyakinkan.
Deg.
Seketika itu juga, keheningan membeku di dalam mobil.
Di kursi depan, kepala Marcus dan Eleanor terangkat secara bersamaan. Pandangan mereka berdua terpaku pada kaca spion tengah, menatap sosok Braxton di belakang dengan tatapan tak percaya.
Kata "baby" yang lolos dari mulut pria asing itu seolah menjadi paku terakhir yang menyegel kebenaran dalam pikiran kedua orang tua Lux.
Lux membeku. Matanya nyaris keluar dari rongganya saat menoleh ke arah Braxton. "Kau... apa yang kau—"
Belum sempat Lux menyelesaikan makiannya, Braxton menatap lurus ke arah kaca spion tengah, menantang pandangan mata Marcus yang menyala-nyala.
Pria muda itu mengambil napas dalam-dalam, lalu mengucapkan kalimat yang menghancurkan seluruh sisa harapan Lux malam ini.
"Saya akan bertanggung jawab atas kehamilan Lux, Sir."
CITTTTTTTTTTTTTTTTT!
Decitan ban beradu kasar dengan aspal malam yang sepi. Marcus menginjak pedal rem sekuat tenaganya. Sedan SUV besar itu terhenti secara mendadak di pinggir jalan tol yang sepi, membuat seluruh penumpang di dalamnya terdorong ke depan secara dramatis.
Bau karet ban yang terbakar menyeruak masuk melalui sistem ventilasi mobil. Keheningan yang mengerikan menyelimuti kabin selama beberapa detik.
Lux memegang kepala dan dadanya yang naik turun berpacu cepat. Matanya menatap Braxton dengan rasa panik dan kegilaan yang membuncah.
"Kau bosan hidup, hah?!" teriak Lux histeris pada Braxton, suaranya melengking tinggi memecah kesunyian malam.
Napas Lux memburu hebat, dadanya kempas-kempis menahan gelombang amarah yang terasa siap membakar seluruh interior mobil SUV tersebut.
Tangannya bergetar hebat saat ia mencengkeram kerah jaket bomber milik Braxton, menarik pria itu mendekat hingga jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter.
"Kau pikir ini lucu?!" jerit Lux lagi, suaranya kini pecah berhias kefrustrasian yang luar biasa. "Kau baru saja menghancurkan hidupku! Apa yang kau katakan pada orang tuaku?!"
Braxton sama sekali tidak membalas cengkeraman itu.
Pria itu hanya menatap Lux dengan sepasang mata cokelatnya yang berkilat misterius. Ada sedikit rasa bersalah di sana, namun tertutupi oleh dorongan keputusasaan dan jiwa nekat khas anak muda yang menyelimuti pikirannya malam ini.
Braxton tahu betul, jika ia mengaku bahwa mereka tidak saling kenal dan ciuman di apotek tadi hanyalah taruhan konyol, pria paruh baya berkharisma di depan sana bersama para pengawalnya tidak akan melepaskannya begitu saja. Ia bisa dituntut atas tuduhan pelecehan seksual, atau lebih buruk lagi: dihajar habis-habisan di tempat oleh para pengawal tegap ini.
Satu-satunya cara agar ia bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup adalah dengan 'mengikuti' arus permainan gila ini—setidaknya untuk sementara waktu.
"Lux, tenanglah..." bisik Braxton sangat pelan, hampir tak terdengar, berusaha meredakan amarah gadis di depannya.
"Jangan menyuruhku tenang, Sialan!" amuk Lux seraya mendorong dada Braxton hingga pria itu terbentur keras ke sandaran kursi belakang.
Brak!
Suara pintu depan yang terbuka kasar menghentikan pertengkaran mereka seketika.
Marcus Victoria turun dari kursi kemudi. Langkah kakinya yang berat mengikis aspal jalanan sepi di pinggir Sunset Boulevard.
Wajah sang ayah yang biasanya memancarkan ketenangan hangat seorang pengusaha sukses, kini gelap gulita tersapu amarah yang teramat sangat.
Pintu baris belakang ditarik terbuka dari luar oleh salah satu pengawal.
Udara malam Los Angeles yang dingin menusuk masuk ke dalam kabin mobil yang terasa panas.
Marcus membungkuk sedikit, menatap langsung ke dalam mata Braxton. Aura intimidasi yang dipancarkan pria tua itu begitu kuat hingga Braxton secara refleks menegakkan posisinya, menelan ludah yang terasa sesak di tenggorokan.
"Kau..." suara Marcus terdengar rendah namun begitu bergetar menahan gejolak emosi. "Siapa namamu?"
Braxton mengambil napas dalam-dalam, mencoba mempertahankan sisa-sisa ketenangannya yang kini diuji di batas maksimal. "Braxton, Sir. Braxton Valerio Desmon."
Mendengar nama belakang tersebut, kening Marcus mengerut sejenak.
Pamannya Lux yang duduk di dalam SUV lain yang kini ikut berhenti di belakang mereka, bergegas turun dan mendekat.
"Desmon?" gumam Marcus, matanya menyipit tajam. "Anak dari AJ Desmon?"
Braxton mengangguk perlahan. "Ya, Sir. Austin Jaxon Desmon adalah ayah saya."
Keheningan sejenak kembali melingkupi mereka. Nama keluarga Valerio-Desmon bukanlah nama sembarangan di kalangan atas Los Angeles.
Mereka adalah dinasti pemilik properti dan bisnis real estat papan atas. Fakta ini, bukannya meredakan amarah Marcus, justru semakin mempertegas keputusan dingin yang sudah dibuatnya sejak di apotek tadi.
Seorang penerus keluarga Desmon telah menghamili putri tunggalnya dan membuat masa depan putrinya hancur sebelum sempat melangkah ke jenjang perguruan tinggi—begitulah skenario yang tertanam kokoh di dalam kepala Marcus Victoria saat ini.
"Bagus," ucap Marcus dingin, tanpa sedikit pun keraguan dalam intonasinya. "Paling tidak putriku tidak dihamili oleh pria gelandangan yang tidak bertanggung jawab."
"Dad! Stop! Demi Tuhan, dengarkan aku dulu!" Lux mencoba menyela, air matanya kembali menetes deras membasahi pipinya. Ia memegang lengan kemeja ayahnya dari dalam mobil.
"Dia bohong! Dia cuma pria gila yang ketakutan! Kami sama sekali tidak punya hubungan apa-apa! Kami tidak pernah tidur bersama! Sungguh, Dad! Percaya padaku..."
Marcus menatap putrinya dengan pandangan terluka yang teramat dalam. "Cukup, Lux. Jangan membuat dirimu terlihat semakin menyedihkan dengan terus berbohong dan mencoba melarikan diri dari kenyataan. Pria ini sudah mengakui perbuatannya di depan mata dan kepala Daddy sendiri. Dan dia baru saja menolak untuk membiarkanmu menanggung beban ini sendirian."
"Tapi aku tidak hamil, Dad!" jerit Lux frustrasi, merasa suaranya seperti menghantam dinding tebal yang tak berongga.
"Cukup!" bentak Marcus keras, hingga Lux terlonjak kaget. Selama sembilan belas tahun hidupnya, ini adalah pertama kalinya sang ayah membentaknya dengan suara seperti itu.
Marcus lalu kembali menatap Braxton dengan tatapan tajam yang mengunci. "Kau sudah mendengar vonisku di apotek tadi, Braxton. Kau bilang kau mau bertanggung jawab, bukan?"
Braxton merasakan hawa dingin merayapi tengkuknya. Taruhan konyol di depan apotek bersama teman-teman asramanya kini berbalik menjadi perangkap besi yang siap mencengkeram kebebasannya.
Namun, tatapan membunuh dari dua pengawal tegap dan wajah tegas Marcus tidak memberinya pilihan untuk mundur.
"Ya, Sir," jawab Braxton dengan suara yang dibuat semenandak mungkin, meski hatinya menjerit histeris. "Saya akan bertanggung jawab."
"Bagus. Karena malam ini juga, kau tidak akan kembali ke manapun," tegas Marcus dingin. Ia berpaling pada para pengawalnya.
"Bawa mereka berdua ke mansion. Hubungi pendeta keluarga dan pengacara kita sekarang juga. Saya ingin dokumen pernikahan ini disiapkan sebelum fajar menyingsing."
"Dad! Tidak! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" histeris Lux dari dalam mobil. Tangannya menggapai-gapai pintu, namun pengawal dengan cepat menutup pintu belakang kembali.
Brak!
Mobil SUV itu kembali melaju membelah kegelapan malam Los Angeles, membawa dua jiwa yang terjebak dalam pusaran kesalahpahaman raksasa menuju satu takdir yang tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun.
Di kursi belakang yang kini terasa makin sempit, Lux bersandar ke pintu mobil, membenamkan wajahnya di antara kedua lututnya dan menangis tanpa suara.
Seluruh pertahanannya runtuh. Impian masa kuliahnya, kepercayaan ibunya, dan kehidupannya yang bebas kini lenyap terbawa angin malam.
Di sebelahnya, Braxton menatap keluar jendela. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seorang Braxton Valerio Desmon—pria paling berkarisma dan narsis di kampusnya—merasa sangat bodoh. Ia menoleh pelan ke arah Lux yang bahunya terguncang oleh heningnya tangisan.
Braxton mengulurkan tangannya ragu-ragu, mencoba menyentuh bahu gadis itu untuk memberikan sedikit rasa tenang. Namun sebelum jemarinya sempat menyentuh Lux, gadis itu menepis tangannya dengan kasar tanpa mengangkat kepala.
"Jangan sentuh aku, Brengsek..." bisik Lux, suaranya mengandung kebencian yang begitu murni. "Aku bersumpah demi hidupku... aku akan membuat setiap detik dalam pernikahan konyol ini menjadi neraka untukmu."
Braxton hanya menelan ludah seraya menarik kembali tangannya. Ia mengusap wajahnya yang mendadak terasa kebas, menyadari bahwa malam ini, sebuah permainan taruhan konyol telah resmi menyeretnya ke dalam neraka yang diciptakannya sendiri.
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux