Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".
Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.
Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".
Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.
Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Ggrrrrr!
Serigala Bayangan Beracun itu menggeram marah melihat mangsanya berani menantang.
Monster itu melompat dengan kecepatan penuh, rahang raksasanya terbuka lebar mengarah ke kepala Chen Mo.
Udara di sekitar bergetar karena tekanan energi beracun dari monster Rank B tersebut.
"Chen Mo, menghindar! Kau akan mati!"
Su Mengqi berteriak histeris dari belakang, suaranya parau karena ketakutan.
"Dasar bodoh, dia malah berdiri diam seperti patung."
Lin Feng mencibir sambil menahan rasa sakit di dadanya, berharap Chen Mo segera mati digigit.
Namun, Chen Mo sama sekali tidak bergeser dari posisinya.
Matanya menatap rahang monster yang semakin mendekat itu dengan sangat tenang.
"Terlalu lambat," gumam Chen Mo pelan, suaranya sangat dingin.
Wuuush!
Monster itu menggigit ruang kosong karena tubuh Chen Mo tiba-tiba menghilang dari pandangan.
Langkah Hantu Asura membuat pergerakannya tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang.
Di detik berikutnya, Chen Mo sudah muncul tepat di sisi kiri leher serigala raksasa itu.
"Biar kutunjukkan apa itu Peningkatan Fisik Dasar yang sebenarnya," ucap Chen Mo santai.
Dia menarik tangan kanannya ke belakang, otot-otot lengannya mengencang hingga merobek kain seragamnya.
Buaaagh!
Sebuah pukulan mentah tanpa energi spiritual sedikit pun mendarat telak di rahang serigala itu.
Krak!
Suara tulang retak yang sangat keras menggema ke seluruh penjuru hutan kabut.
Tubuh raksasa serigala itu terpental seperti bola bisbol yang dipukul dengan tongkat besi.
Monster itu menabrak tiga pohon besar berturut-turut sebelum akhirnya ambruk ke tanah.
Bruuuk!
Tanah bergetar hebat, debu dan daun kering berhamburan ke udara.
Keheningan yang mematikan langsung menyelimuti area tersebut.
Rahang Su Mengqi jatuh terbuka, matanya membelalak lebar melihat pemandangan tidak masuk akal di depannya.
Gadis jenius Rank S itu gemetar hebat, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
"A-apa yang baru saja terjadi?"
Zhao Hao berbisik dengan suara bergetar, kakinya lemas hingga dia jatuh berlutut di tanah.
"B-bagaimana mungkin? Pukulan fisik murni bisa menjatuhkan monster Rank B?!"
Lin Feng mengusap matanya berulang kali, menolak percaya bahwa pemuda sampah itu baru saja menyelamatkan nyawanya.
Ego tingginya terasa seperti diinjak-injak ke dalam lumpur hitam.
Di sana, Chen Mo berjalan santai mendekati tubuh serigala yang menggelepar sekarat itu.
Darah ungu beracun mengalir deras dari mulut monster tersebut, mematikan rumput di sekitarnya.
Sruut!
Lendir beracun itu menyiprat mengenai sepatu dan ujung celana Chen Mo.
"Awas, racunnya sangat mematikan!"
Su Mengqi secara refleks berteriak memperingatkan mantan teman masa kecilnya itu.
"Racun itu bisa melelehkan tulang manusia dalam hitungan detik, jangan mendekat ke sana!"
Namun, Chen Mo hanya menatap cipratan lendir ungu di celananya dengan bosan.
Fisik Kebal Segala Racun miliknya secara otomatis menetralkan zat mematikan itu menjadi air biasa.
"Terima kasih atas informasinya, Nona Su," jawab Chen Mo datar tanpa menoleh sedikit pun.
"Tapi sepertinya racun ini tidak memiliki efek apapun."
Chen Mo mengangkat kaki kanannya lalu menginjak leher serigala yang sedang sekarat itu dengan kekuatan penuh.
Craassh!
Kepala serigala itu hancur seketika, mengakhiri hidup monster Rank B tersebut dengan cara yang sangat brutal.
Chen Mo berjongkok, merobek dada monster itu dengan tangan kosongnya yang kuat.
Dia mencari sesuatu di antara tumpukan daging dan darah ungu yang menjijikkan itu.
"K-kau ini manusia atau monster?!"
Lin Feng berteriak dengan suara bergetar dari kejauhan, ngeri melihat kebrutalan Chen Mo.
"Cuma anak manja sepertimu yang takut mengotori tangan untuk mendapatkan hasil," balas Chen Mo tanpa emosi.
Dia menarik sebuah kristal ungu seukuran kepalan tangan dari dalam dada monster itu.
Itu adalah Inti Monster Rank B, barang berharga yang bisa ditukar dengan ratusan ribu koin bintang di pasar gelap.
Kristal itu memancarkan cahaya ungu redup di tengah hutan yang mulai gelap.
Melihat kristal berharga itu, keserakahan langsung membutakan akal sehat Lin Feng.
Pemuda arogan itu tiba-tiba melupakan rasa takutnya dan berjalan pincang menghampiri Chen Mo.
"Hei, serahkan inti monster itu padaku sekarang juga!"
Lin Feng menengadahkan tangannya dengan sikap memerintah yang sangat menjengkelkan.
Chen Mo perlahan berdiri, membersihkan darah ungu di tangannya menggunakan dedaunan kering.
Dia menatap Lin Feng seolah sedang melihat orang idiot yang baru saja kabur dari rumah sakit jiwa.
"Alasan apa yang membuatmu berpikir aku akan menyerakan benda ini padamu?" tanya Chen Mo dengan nada pelan.
"Kelompok ini berada di bawah kepemimpinanku, jadi semua hasil buruan adalah milikku!"
Lin Feng membusungkan dadanya, mencoba mengintimidasi Chen Mo dengan status kelas elitnya.
"Lagipula, tugasku adalah membunuh monster, sedangkan tugasmu hanya membawa barang dari belakang."
"Kau beruntung monster itu sudah kulemahkan dengan seranganku tadi, jadi cepat serahkan padaku!" tambahnya tanpa rasa malu.
Mendengar logika konyol itu, Chen Mo tiba-tiba tertawa pelan.