Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.
Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.
Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.
Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.
Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.
Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
##19
Kebahagiaan yang memancar hangat di dalam Penthouse mewah di pusat kota Los Angeles terasa begitu kontras dengan keheningan dingin yang mencekam di bangsal VIP Hospital Saint Jude. Pendar matahari pagi yang menembus jendela kaca rumah sakit tidak mampu menghangatkan ruangan yang dipenuhi aroma antiseptik dan hawa keputusasaan tersebut.
Di atas ranjang rumah sakit, Amelia Giger duduk bersandar. Wajah cantiknya tampak pucat pasi, namun sepasang matanya menyala-nyala oleh api obsesi yang kian membakar. Jemari tangannya mencengkeram erat ponsel pintar di genggamannya.
Penolakan Braxton yang kesekian kalinya kemarin sore—dingin, tajam, dan tanpa rasa iba sedikit pun—benar-benar telah menghancurkan sisa-sisa akal sehat Amelia.
Braxton tidak hanya menolaknya; pria itu secara terang-terangan menegaskan bahwa hatinya telah dimiliki secara utuh oleh wanita lain.
Dalam kehampaan dan rasa frustrasi yang memuncak, hanya ada satu orang yang selalu menjadi tempat bagi Amelia untuk meluapkan seluruh kegilaannya. Satu-satunya tempat beralih di mana ia merasa dipahami, didengar, dan diberi saran-saran ekstrem tanpa penghakiman.
Amelia menggeser layar ponselnya, menekan satu nomor kontak yang tersimpan dengan nama rahasia.
Panggilan terhubung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di dalam kamar utama Penthouse, bayangan malam pertama yang penuh gairah dan momen romantis pagi hari masih menyisakan kehangatan yang manis.
Lux—yang dalam dunia seni independen dan komunitas kreatif terselubung lebih dikenal dengan nama panggilannya, Samantha—tengah duduk bersandar nyaman di atas peraduan empuk. Tubuhnya yang memar manis berhias corak kemerahan terbungkus rapi oleh jubah mandi sutra yang lembut.
Braxton baru saja pamit keluar sebentar menuju kedai kopi dan toko kue langganan di lantai bawah Penthouse untuk membelikan beberapa camilan manis dan jus buah segar yang diidamkan istrinya setelah kelelahan hebat.
Saat sedang menunggu sang suami kembali, ponsel Lux berdering. Melihat nama pengirim panggilan masuk yang tertera di layar Rachel—Lux langsung mengangkatnya.
Di dunia perkuliahan dan lingkaran seni Los Angeles, Lux dan wanita di seberang telepon itu adalah dua kawan dekat dari angkatan dan kampus yang berbeda.
Mereka kerap saling berbagi keluh kesah, berdiskusi tentang karya, hingga saling mencurahkan masalah pribadi yang paling intim. Namun, karena kerahasiaan identitas dan kehidupan pribadi masing-masing yang sangat tertutup, mereka memiliki panggilan akrab khusus: Rachel menyapa Lux sebagai "Samantha", dan Lux memanggilnya "Rachel".
Tanpa Lux sadari sedikit pun, wanita yang dipanggilnya "Rachel" itu adalah sosok Amelia Giger yang sebenarnya. Dan sebaliknya, Amelia tidak pernah tahu bahwa "Samantha" yang selalu menjadi tempat curhatnya adalah Lux Victoria—wanita yang kini bertatus sebagai istri sah dari pria yang dikejarnya.
"Samantha..." suara di seberang telepon terdengar parau, terengah, dan sarat akan racun keputusasaan.
Lux membetulkan posisi duduknya, menopang punggungnya dengan bantal empuk. "Rachel? Ada apa dengan suaramu? Kau baru saja mengirimiku pesan singkat yang sangat dramatis tadi malam."
Di bangsal rumah sakit, Amelia mengepalkan tangannya. "Dia menolakku lagi, Sam... Dia benar-benar menolakku tanpa belas kasihan."
Lux menaikkan sebelah alisnya, menghela napas panjang. Ia sudah terbiasa mendengar kisah cinta tragis Rachel selama hampir dua tahun terakhir.
Dalam narasi yang selalu diceritakan Rachel, ia sedang menjalin hubungan dengan seorang pria kaya berinisial Mr. B—pria yang sangat ia cintai hingga rela mati, namun tega mengkhianatinya, mencampakkannya demi wanita lain, bahkan secara kejam membuatnya keguguran hingga ia kehilangan calon buah hati mereka.
Tentu saja, seluruh narasi tentang kehamilan dan keguguran itu hanyalah ilusi dan halusinasi buatan otak Amelia yang obsesif untuk membenarkan kegilaannya. Namun Lux, yang tidak tahu latar belakang sebenarnya, menganggap cerita Rachel sebagai kenyataan pahit dari seorang wanita korban pengkhianatan pria brengsek.
"Pria itu lagi? Mr. B?" tanya Lux dengan nada kesal yang mulai tersulut.
"Ya..." isak Amelia di seberang sana, mengusap air mata obsesifnya. "Selama tiga bulan ini aku tidak ada kabar karena aku koma, Sam. Aku mengambil tindakan paling nekat... aku mencoba bunuh diri tepat di depan matanya, seperti solusi yang pernah kau katakan padaku! Aku melompat agar dia melihat betapa besarnya cintaku! Tapi... tapi saat aku terbangun, dia tetap dingin. Dia bahkan mengancam akan menghancurkanku jika aku mendekatinya lagi!"
Lux yang duduk bersandar di tempat tidur membelalakkan matanya gemas. Rasa simpati dan amarahnya sebagai sesama wanita langsung mendidih mendengar betapa menyedihkannya nasib sahabatnya yang terus-terusan mengalah dan dihancurkan oleh pria berinisial Mr. B tersebut.
Lux sama sekali tidak menyadari bahwa pria berinisial Mr. B yang diceritakan Rachel dengan segala tuduhan palsu itu adalah Braxton Desmon—suami penyayang yang baru saja memanjakannya di atas ranjang beberapa jam yang lalu.
"Rachel, dengarkan aku!" tegas Lux dengan nada suara yang lantang, emosinya meluap-luap. "Aku benar-benar sudah muak mendengar kisahmu tentang pria pengecut itu! Jika dia memang tidak mau bertanggung jawab atas patah hatimu dan semua rasa sakit yang kau tanggung, ganggu saja kekasih barunya di masa depan! Hancurkan hidupnya! Aku benar-benar kesal pada kekasihmu yang berselingkuh dan tidak punya nurani itu!"
Di seberang telepon, Amelia menyunggingkan senyum miring yang amat mengerikan. Matanya berkilat mendengarkan dorongan dari sahabatnya.
"Tapi dia tidak mau kembali padaku, Sam..." bisik Amelia racun. "Dia bilang dia sudah milik wanita lain sepenuhnya."
Lux menggeram gemas, meremas sprei sutra di bawah jemarinya. Sifat galak dan dorongan emosionalnya sebagai seorang anak seni yang membenci ketidakadilan membuat Lux mengucapkan kalimat paling ekstrem tanpa memikirkan konsekuensinya.
"Kalau begitu jangan biarkan siapapun memilikinya!" seru Lux lantang di seberang telepon. "Tabrak mati saja dia! Jika kau tidak bisa mendapatkannya sesuai dengan penolakannya yang jahat itu, maka dia juga tidak boleh didapatkan oleh wanita lain! Biar dia hancur sekalian!"
Kalimat brutal yang terlontar dari mulut Lux sejatinya adalah luapan emosi frustrasi seorang sahabat yang kesal melihat teman dekatnya terus-menerus dibodohi oleh cinta buta. Lux tidak pernah membayangkan bahwa kata-katanya akan ditelan mentah-mentah oleh jiwa seorang psikopat yang nyata.
Di bangsal VIP Hospital Saint Jude, Amelia Giger terdiam sejenak.
Sebuah tawa pelan yang amat dingin, beracun, dan penuh kepuasan meluncur dari bibir pucat Amelia. Api obsesi yang tadinya redup kini membara menjadi percikan pembunuhan yang sempurna.
"Idemu sangat bagus, Samantha..." bisik Amelia dengan nada suara yang begitu tenang namun memancarkan bahaya yang mematikan. "Tabrak mati saja dia... Ya, kau benar. Jika Braxton tidak bisa menjadi milikku, maka tidak boleh ada wanita lain yang menyentuhnya di dunia ini."
Deg!
Lux di seberang telepon mendadak merinding halus. Ada sesuatu dari nada suara Rachel yang terdengar tidak biasa—seseuatu yang teramat dingin dan mengerikan.
"Rachel... tunggu, aku hanya bercanda soal menabraknya—"
KLIK.
Di balik layar, mata Amelia Giger membelalak lebar. Binar kegilaan dan obsesi hitam di matanya meletup seketika, seolah baru saja menemukan kunci dari teka-teki pembalasan dendamnya.
Sebuah tawa kecil yang terdengar begitu bergidik dan dingin meluncur pelan dari bibir pucat Amelia.
"Idemu sangat bagus, Samantha..." bisik Amelia dengan suara pelan yang amat pekat oleh obsesi yang membahayakan. "Tabrak mati saja dia... Ya, kau benar. Jika Braxton tidak bisa menjadi milikku, maka tidak boleh ada wanita lain yang memilikinya di dunia ini."
Sebuah tawa kecil yang terdengar begitu bergidik dan dingin meluncur pelan dari bibir pucat Amelia.
"Tabrak mati saja dia..." ulang Amelia berbisik pada dirinya sendiri, diiringi tawa gila yang kian keras bergema di ruangan yang sunyi itu. "Kau jenius, Samantha... Kau sangat jenius."
°
°
Panggilan terputus secara sepihak dari seberang sana.
Lux menurunkan ponselnya dari telinga dengan kening berkerut rapat. Rasa tidak nyaman yang aneh mendadak menyusup ke dalam dadanya, membuat hawa hangat di kamar utama Penthouse perlahan mendingin.
Tepat pada saat itu, pintu kamar utama terbuka.
Braxton melangkah masuk dengan senyum tampan yang amat menawan. Di kedua tangannya, ia membawa nampan berisi dua cangkir kopi aroma hangat, sepotong croissant cokelat yang masih mengepul, serta secangkir jus stroberi segar.
"Sarapan tambahan untuk istriku yang cantik sudah tiba," ujar Braxton mesra, melangkah mendekati tempat tidur dan mendudukkan dirinya di samping Lux Sambil Tersenyum Hangat. Sebuah senyuman penuh cinta yang amat tulus dan protektif, sama sekali tidak tahu bahwa kalimat lantang yang baru saja diucapkan istrinya di telepon telah memicu lonceng kematian dari rencana gila Amelia Giger.
Lux menatap wajah tampan suaminya, merangkul leher Braxton dengan penuh rasa bersyukur, merasa amat beruntung bahwa pria yang menjadi suaminya adalah Braxton Desmon—bukan pria brengsek seperti Mr. B yang diceritakan oleh sahabatnya.
Namun jauh di luar sana, roda takdir yang mengerikan telah mulai berputar. Sebuah benang merah rahasia antara "Samantha", "Rachel", dan "Mr. B" telah terikat rapat dalam konspirasi obsesi yang membahayakan—menunggu waktu yang tepat untuk menghantam kebahagiaan yang baru saja mekar di antara Braxton dan Lux.
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux