Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Panggung utama dipadati penonton ketika giliran kelas 10-A tampil membawakan drama musikal mereka. Rean berhasil menyelinap ke barisan depan bersama Ethan dan Lucas, yang bergantian menjaga stan agar semua bisa menonton.
Lampu panggung menyala, musik pembuka mulai mengalun, dan Elora melangkah keluar sebagai salah satu pemeran utama, mengenakan kostum sederhana namun elegan. Suaranya yang jernih mengisi seluruh lapangan ketika ia mulai menyanyikan bagian pembuka cerita.
Rean menatap penampilan itu dengan mata berbinar, benar-benar terpukau. Ia belum pernah melihat seseorang tampil di depan begitu banyak orang dengan percaya diri seperti itu.
"Dia keren banget," gumamnya spontan, lebih kepada dirinya sendiri.
Di sisi lain panggung, Kieran berdiri di balik layar bersama kru produksi, mengawasi jalannya pertunjukan dengan teliti. Sesekali pandangannya melirik ke arah penonton, mencari sosok tertentu di antara kerumunan.
Ia menemukan Rean di barisan depan, menatap panggung dengan ekspresi kagum yang tulus, bertepuk tangan paling semangat setiap kali Elora menyelesaikan bagiannya.
Sesuatu di dada Kieran terasa semakin berat melihat pemandangan itu.
Pertunjukan berlangsung mulus hingga akhir, ditutup dengan tepuk tangan meriah dari seluruh penonton. Para pemeran membungkuk memberi hormat, wajah mereka berseri-seri karena kelegaan setelah berminggu-minggu berlatih keras.
Begitu turun panggung, Elora langsung dikerumuni teman-teman yang memberi selamat. Namun matanya sibuk mencari satu wajah tertentu di antara kerumunan.
"Rean!" serunya begitu menemukan sosok itu, berlari kecil menghampirinya masih dengan kostum panggung.
"Kamu keren banget tadi," puji Rean tulus, tepuk tangannya masih terasa panas di telapak tangan. "Aku sampai nggak sadar waktu berlalu saking terpukaunya."
Wajah Elora merona mendengar pujian sesederhana itu, jauh lebih bahagia dibanding pujian dari siapa pun yang sudah ia terima hari itu.
"Makasih," jawabnya, tersenyum lebar. "Nanti kalau ada waktu, aku ceritain proses latihannya, seru banget tapi juga capek."
"Aku mau dengar," jawab Rean antusias.
Dari kejauhan, Kieran memperhatikan interaksi itu, berdiri diam di antara kerumunan yang mulai membubarkan diri. Tidak ada yang menyadarinya, tidak ada yang memperhatikan ekspresinya yang berusaha keras tetap tenang di permukaan.
Ia berbalik, melangkah pergi sebelum siapa pun sempat memanggilnya, membawa perasaan yang semakin sulit ia beri nama pasti.
- - --------
Festival Starline ditutup dengan pertunjukan kembang api di lapangan utama menjelang malam. Seluruh siswa berkumpul di area terbuka, duduk lesehan di atas tikar atau berdiri berkelompok, menunggu pertunjukan dimulai.
Kelas 10-B, yang stannya sukses besar sepanjang hari, merayakan pencapaian mereka dengan duduk melingkar sambil menghabiskan sisa makanan yang belum terjual.
"Ini festival terbaik yang pernah ada," seru salah satu teman sekelas, disambut sorak setuju yang lain.
Rean duduk di antara mereka, memandangi langit malam yang mulai dihiasi kerlip bintang, dadanya masih dipenuhi rasa hangat dari seluruh rangkaian hari itu — antusiasme pengunjung stan, penampilan Elora di panggung, kebersamaan dengan teman-teman yang baru beberapa bulan ia kenal namun terasa begitu dekat.
"Rean." Suara familiar memanggil dari belakang.
Ia menoleh. Elora berdiri di sana, sudah berganti dari kostum panggung ke seragam biasa, membawa dua cup cokelat panas di tangannya.
"Duduk sini," ajaknya, menyodorkan salah satu cup begitu Rean bergeser memberi tempat.
Mereka duduk berdampingan agak menjauh dari keramaian utama, cukup dekat untuk tetap melihat panggung tempat kembang api akan diluncurkan.
"Hari ini seru banget, ya," kata Elora, menyesap cokelat panasnya.
"Iya," Rean mengangguk, tersenyum tulus. "Ini festival pertamaku, dan rasanya... jauh lebih menyenangkan dari yang aku bayangkan."
"Nanti kalau festival tahun depan, kita bikin stan bareng lagi, ya?" usul Elora, meski dalam hatinya berharap jauh lebih dari sekadar kerja sama stan.
"Boleh banget," jawab Rean antusias, sama sekali tidak menangkap nada berharap yang tersembunyi di balik ajakan sederhana itu.
Tepat saat itu, kembang api pertama meluncur ke udara, meledak menjadi kilatan warna-warni yang menerangi langit malam. Sorak kagum terdengar dari seluruh penjuru lapangan.
Elora memandangi langit dengan mata berbinar, namun sesekali pandangannya justru tercuri ke arah wajah Rean yang tampak begitu terpukau menyaksikan kembang api untuk pertama kalinya — ekspresi polos penuh kekaguman yang menurutnya jauh lebih indah dari pertunjukan cahaya di atas sana.
"Rean," katanya pelan, hampir tenggelam oleh suara ledakan kembang api.
"Ya?" Rean menoleh, masih dengan senyum lebar di wajahnya.
Elora menatapnya lama, kata-kata yang ingin ia ucapkan tertahan di ujung lidah. Pada akhirnya, ia hanya tersenyum, menggelengkan kepala pelan.
"Nggak apa-apa. Cuma senang bisa nonton ini bareng kamu."
Rean mengangguk, kembali menatap langit yang dipenuhi kilatan warna, tidak menyadari betapa banyak makna yang tersembunyi di balik kalimat sesederhana itu.
Malam itu, di bawah langit yang dipenuhi kembang api, sebuah perasaan yang selama ini tumbuh perlahan di dada Elora semakin mengakar dalam — sementara di sisi lain lapangan, sepasang mata lain memandangi mereka berdua dari kejauhan, membawa perasaan yang jauh lebih rumit untuk dijelaskan.