NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 23

Bukan Sekadar Kontrak

Keisha tidak menjawab pertanyaan Arya malam itu.

Ia menarik lelaki tersebut kembali ke IGD, meminta jahitannya diperiksa, lalu berdiri di samping ranjang dengan bibir yang masih terasa panas. Untungnya tidak ada jahitan yang lepas. Luka hanya tertarik dan merembes sedikit. Setelah balutan baru terpasang, mereka memberikan keterangan awal kepada petugas keamanan dan sepakat kembali pagi hari untuk laporan resmi.

Tidak satu pun dari mereka membahas ciuman di perjalanan pulang.

Keesokan paginya, keheningan itu ikut duduk di meja makan.

Bu Yati menyajikan nasi uduk, telur, dan teh hangat sambil memperhatikan Keisha yang menatap piring terlalu serius. Di seberang meja, Arya membaca pesan pada ponselnya dengan tangan kanan. Bahu kirinya kembali tertutup perban bersih.

Keisha meraih garam.

Arya melakukan hal yang sama.

Ujung jari mereka bertemu.

Keisha menarik tangannya secepat tersengat listrik. Arya tidak bergerak selama satu detik, lalu mendorong wadah garam ke arahnya.

"Kamu dulu," katanya.

Suara serak itu mengembalikan seluruh ingatan di bawah atap rumah sakit: telapak di tengkuk, rasa hujan di bibir, dan pertanyaan tentang mengubah kontrak.

Keisha menjatuhkan sendok.

Bu Yati membungkuk mengambilnya. "Tangannya masih gemetar, Bu? Mungkin karena kedinginan semalam."

"Iya. Dingin."

Arya mengangkat cangkir untuk menyembunyikan gerak sudut bibirnya.

"Pak Arya juga kelihatan kurang tidur," lanjut Bu Yati. "Mungkin lukanya sakit?"

"Bukan lukanya," jawab Arya.

Keisha menendang kakinya di bawah meja.

Arya tidak mengaduh, hanya menatapnya dengan tenang. "Ada masalah, Dokter?"

"Tidak ada. Makan obatmu."

Bu Yati berbalik ke dapur. Bahunya bergerak menahan tawa.

Setelah sarapan, Arya menunjukkan salinan laporan yang sudah disiapkan. Rekaman kamera mobil menangkap wajah kedua lelaki dan sebagian pengakuan tentang perintah Herman. Rumah sakit telah mengamankan CCTV. Bagian hukum juga mempertahankan penundaan pemindahan Anindita sampai seluruh pemeriksaan selesai.

"Sore ini kita buat laporan resmi," kata Arya. "Pengacaramu boleh mendampingi. Aku hanya menyerahkan bukti milikku."

Keisha membaca dokumen itu. Tidak ada ancaman kosong, tidak ada perintah gelap. Semuanya berjalan melalui rekaman, saksi, dan prosedur.

"Kamu menyiapkan ini kapan?"

"Tadi pagi."

"Kamu baru tidur dua jam."

"Cukup."

"Tidak cukup untuk orang terluka."

Arya bersandar, menatapnya. "Kamu khawatir?"

"Saya dokter."

"Tentu."

Nada itu membuat pipi Keisha kembali panas.

"Duduk," perintahnya untuk menutup rasa gugup. "Aku periksa perbannya sebelum kamu pergi ke mana-mana."

Arya menurut. Keisha membuka dua kancing atas kemejanya agar balutan terlihat. Tidak ada rembesan baru. Tepi luka tetap rapat, hanya kulit di sekitarnya sedikit merah karena tarikan semalam.

Ketika Keisha menempelkan plester tambahan, napas Arya menyapu rambut di pelipisnya. Ingatan tentang ciuman datang terlalu cepat. Jari Keisha menekan plester lebih keras dari perlu.

"Pelan," kata Arya.

"Katanya tidak sakit."

"Aku sedang memberi informasi baru."

"Bagus. Berarti pasien mulai jujur."

Keisha mundur, tetapi Arya sempat menangkap tatapannya. Keduanya terdiam, sama-sama tahu luka bukan alasan utama napas mereka berubah.

Ponsel pengganti sementara miliknya berbunyi. Dokter penanggung jawab Anindita memberi kabar bahwa semua layanan berjalan seperti biasa. Permintaan transfer akan dibahas hanya setelah evaluasi multidisiplin dan fasilitas penerima memenuhi syarat. Herman tidak bisa lagi masuk membawa formulir dan memaksa pemindahan pada hari yang sama.

Keisha mengembuskan napas lega.

"Kamu ikut campur?" tanyanya.

"Aku meminta bagian hukum memastikan keberatanmu diterima dan tagihan tambahan tetap dibayar langsung. Keputusan medis tetap pada tim rumah sakit."

"Kamu melakukan itu tanpa bilang."

"Aku baru akan memberitahumu sekarang."

"Itu tetap berarti kamu mengurus masalahku."

"Masalahmu membuat dua orang datang malam-malam. Sekarang itu juga menyangkut keselamatan rumah ini."

Jawabannya rasional. Namun Keisha tahu Arya bisa saja hanya menyerahkan uang sesuai kontrak. Ia tidak harus datang dalam hujan, menjaga bukti, atau memastikan Anindita tidak dipindahkan diam-diam.

"Terima kasih," katanya pelan.

Arya menatapnya lebih lama dari perlu. "Sama-sama, Kei."

Keisha buru-buru berdiri. "Aku harus bersiap ke rumah sakit."

"Aku antar."

"Bahumu masih sakit."

"Ada pengemudi. Aku hanya ikut."

"Kenapa?"

"Karena ponselmu rusak dan orang-orang Herman belum ditemukan."

"Keamanan rumah sakit sudah ditambah."

"Aku tetap ikut."

Nada tegas itu seharusnya menjengkelkan. Keisha malah harus menyembunyikan senyum saat naik tangga.

Di kantor pelayanan, Keisha menyerahkan kronologi tertulis, tangkapan layar yang tersimpan di cadangan akun, serta salinan surat pemaksaan. Arya menyerahkan rekaman kamera mobil tanpa mengubah berkas asli. Petugas menjelaskan bahwa ucapan kedua lelaki tentang Pak Herman masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan, hubungan telepon, dan asal kendaraan.

Keisha menyetujui penyelidikan tanpa menuntut kesimpulan instan. Yang terpenting, ada nomor laporan, bukti tersimpan, dan larangan informal bagi kedua lelaki itu mendekati ruang perawatan sambil menunggu proses lebih lanjut. Salinannya juga diterima bagian keamanan rumah sakit setempat.

Arya tidak mengambil alih keterangannya. Ia duduk di samping, menjawab hanya ketika ditanya tentang rekaman dan tindakannya menahan tangan salah satu pelaku. Setiap kali Keisha harus mengulang bagian saat dikepung, telapak tangan Arya terletak terbuka di antara kursi mereka. Tidak menyentuh, hanya menawarkan.

Pada pengulangan terakhir, Keisha meletakkan ujung jarinya di sana. Tangan Arya menutup perlahan.

Sore hari, setelah laporan resmi dibuat, Keisha pulang lebih awal. Ia menemukan Bu Yati sedang menyiapkan makan malam dan memutuskan membantu.

"Saya mau memasak untuk Pak Arya," katanya.

Bu Yati tampak ragu. "Setelah kejadian telur kemarin?"

"Itu kecelakaan teknis."

"Baik. Saya berdiri di dekat alat pemadam."

Keisha memilih sup ayam yang tampak mudah. Hasilnya terlalu asin, wortelnya tidak matang merata, dan kuahnya keruh. Ia hampir menyuruh Bu Yati membuang semuanya ketika Arya masuk.

"Apa ini?" tanyanya.

"Eksperimen medis."

"Haruskah aku menandatangani persetujuan tindakan?"

"Kalau tidak mau, jangan makan."

Arya duduk dan mengambil satu mangkuk. Suapan pertama membuat alisnya bergerak. Keisha menunggu vonis sambil menyilangkan tangan.

"Asin, kan?"

"Sedikit."

"Wortelnya keras."

"Masih bisa dikunyah."

Ia menghabiskan mangkuk itu. Lalu mengambil mangkuk kedua.

"Mas Arya, kamu tidak perlu memaksakan diri."

"Kamu membuatnya untukku."

Lima kata itu membuat Keisha tidak sanggup mengejek lagi.

Keesokan paginya, Arya bersiap untuk pemeriksaan dinas singkat. Sebelum keluar, ia berdiri di depan Keisha dan merapikan kerah blusnya yang terlipat. Ujung jarinya menyentuh leher Keisha sesaat.

"Jaga diri," katanya. "Kalau ada apa-apa, telepon aku."

Keisha masih terpaku ketika pintu tertutup.

Ponsel penggantinya bergetar.

Akun asing baru mengirim sebuah foto lama. Arya berdiri di samping perempuan berambut panjang yang wajahnya terlihat jelas untuk pertama kali. Tangan perempuan itu melingkari lengan Arya dengan akrab.

Di bawah foto tertulis satu kalimat.

Kami belum selesai.

Kehangatan di dada Keisha langsung tenggelam.

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!