NovelToon NovelToon
Setelah Kata Usai

Setelah Kata Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Fahri Sohil Munawar

Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
​Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
​Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
​"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 emosi yang tak dapat di kendalikan

Melihat reaksi dingin itu, Andre merasa diabaikan. “Eh, sombong banget kagak mau jawab,” ucap Andre sekali lagi, sedikit menyenggol bahu Alex.

Sentuhan itu memicu sesuatu di dalam diri Alex. Karena merasa sangat risih dan kepalanya sudah mau pecah oleh masalah Putri, Alex kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Detik berikutnya, tangan kanan Alex melayang cepat ke arah wajah Andre.

BUGH!

“Diam lo, anjing!” bentak Alex berapi-api.

Pukulan itu telak mengenai rahang Andre hingga cowok itu terhuyung ke belakang. Seketika itu juga, ruang kelas yang tadinya bising mendadak hening. Semua mata tertuju ke arah mereka dengan tatapan tidak percaya. Seorang Alex yang dikenal paling tidak bisa marah, baru saja melayangkan jotosan di dalam kelas. Umam dan Marco yang melihat itu langsung berdiri dari bangku mereka, bersiap melerai.

Beruntung, ketegangan itu terputus saat dosen pelatnas masuk ke dalam kelas beberapa saat kemudian. Semua mahasiswa bergegas kembali ke tempat duduk masing-masing, termasuk Andre yang mundur sambil mengusap rahangnya dengan tatapan kesal sekaligus bingung.

Pelajaran pun dimulai. Namun, fokus Alex sudah hilang sepenuhnya. Di tengah keheningan kelas saat dosen menjelaskan materi di depan, rasa bersalah yang amat besar perlahan merayap di dada Alex. Amarahnya surut, digantikan oleh rasa sesal yang menyesakkan. Ia menatap telapak tangannya sendiri yang bergetar.

“Ah, sial! Kenapa tadi gue malah emosi sampai mukul Andre, ya?” tanyanya dalam hati, merutuki kebodohannya sendiri. Rasanya hari ini semua hal berjalan salah bagi hidupnya.

Alex mengembuskan napas pendek yang terasa berat, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan frustrasi.

“Gara-gara wanita itu, gue sampai tega mukul orang yang gak tahu apa-apa”, batin Alex lagi, merasa sangat bersalah sekaligus benci pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengontrol emosi. Rasanya hari ini semua hal benar-benar berjalan salah bagi hidupnya.

Begitu dosen menutup kelas dan melangkah keluar, helaan napas lega terdengar dari beberapa mahasiswa. Namun tidak dengan Alex. Rasa bersalah yang sedari tadi mengganjal di dadanya membuat cowok itu langsung berdiri. Ia melangkah menghampiri meja Andre yang sedang merapikan buku-bukunya.

“Ndre, gue minta maaf soal kejadian tadi. Gue bener-bener refleks,” ujar Alex tulus, menatap temannya itu dengan perasaan bersalah.

Andre sempat tertegun sejenak, lalu sebuah senyuman tipis terbit di wajahnya. Ia menepuk bahu Alex pelan. “Gak apa-apa, Lex. Santai aja. Salah gue juga tadi langsung nyenggol lo, padahal gak ngerti kondisi lo lagi kayak gimana.”

Lantas, rasa penasaran tidak bisa disembunyikan dari wajah Andre. Ia memajukan badannya sedikit lalu bertanya rendah, “Tapi beneran, deh... sebenarnya ada apa sih, Lex? Tumben banget lo sampai emosi begitu.”

Alex terdiam sesaat, menelan ludah sebelum akhirnya menjawab dengan suara pelan, “Gue... putus sama Putri.”

Hah? Kok bisa?!” balas Andre spontan, matanya membelalak kaget.

Mendapat pertanyaan itu lagi, Alex tidak lagi menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat kedua pundaknya ke atas, memasang isyarat tubuh bahwa dirinya sendiri pun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam semalam. Tanpa menunggu respons Andre lebih lanjut, Alex membalikkan badan dan berjalan keluar, meninggalkan Andre yang masih termangu sendirian di dalam kelas.

Saat berjalan di koridor menuju area parkiran dengan langkah gontai, telinga Alex menangkap suara derap langkah kaki yang tergesa-gesa di belakangnya, disusul suara panggilan yang sudah sangat ia hafal. Itu Marco dan Umam.

“Lex!” seru kedua sahabatnya itu berbarengan sambil berlari kecil menyusul langkahnya.

Alex menghentikan langkahnya tanpa berbalik. “Hmm?” sahutnya bergumam malas.

Umam yang berhasil menyetarakan langkah langsung merangkul pundak Alex. “Nongki dulu lah kita, di kafe pinggir kampus yang biasa. Ngopi-ngopi dulu,” ajak Umam bersemangat.

“Malas. Gak mood,” jawab Alex singkat, berniat melanjutkan langkah ke parkiran motornya.

Melihat respons dingin itu, Umam tidak menyerah. Ia tahu sahabatnya ini sedang butuh tempat untuk meluapkan isi kepala. “Ayolah, Lex. Kita nongkrong sambil lo cerita ke kita apa yang sebenarnya terjadi semalam. Ya nggak, Mar?” ujar Umam sambil menyenggol lengan Marco, meminta dukungan.

Marco yang berjalan di sisi lain langsung mengangguk cepat. “Iya, bener. Kita berdua penasaran banget nih dari tadi di kelas.”

Alex tetap bergeming, menatap aspal jalanan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Isyarat penolakan masih terlihat jelas dari bahasa tubuhnya.

Melihat Alex yang masih keras kepala, Umam langsung mengeluarkan jurus pamungkasnya. “Udah, santai aja! Kali ini Marco yang bayarin, lo tinggal duduk manis!”

Seketika itu juga, langkah Marco terhenti. Cowok itu melotot, sontak terkejut setengah mati mendengar ucapan Umam yang asal ceplos. Marco buru-buru mengingat isi dompetnya yang sebenarnya sudah kempis dan tinggal sedikit.

Namun, saat matanya beralih menatap wajah Alex yang terlihat begitu frustrasi dan berantakan, ego Marco melunak. Sebagai sahabat, dia tahu Alex sedang butuh didengar.

Sambil menelan ludah pahit dan memasang muka datar menahan kesal pada Umam, Marco akhirnya menghela napas pasrah. “Iya... ayo. Gue yang traktir,” sahut Marco pelan.

Sesampainya di kafe, Umam langsung berjalan menuju meja kasir untuk memesan kopi, sementara Alex dan Marco melangkah ke area pojok mencari tempat duduk yang lebih sepi. Suasana canggung masih terasa pekat.

Sambil menarik kursi kayu di hadapan Alex, Marco mencoba mencairkan suasana yang kaku. “Lex, gila ya AC kelas siang ini tadi dingin banget. Mana si Andre mukanya langsung pucat pas lo sabet,” ucap Marco, mencoba memancing reaksi dengan nada bercanda ringan.

Alex hanya mendengus pelan, menyandarkan punggungnya pasrah. “Gue gak tahu, Mar. Pikiran gue lagi semrawut banget.”

“Iya, gue paham. Tenang dulu aja,” sahut Marco menepuk meja pelan, tepat saat Umam datang membawa nampan berisi tiga cangkir kopi hangat.

Begitu pantatnya mendarat di kursi, Umam yang sudah tidak tahan langsung mencondongkan badannya ke depan.

“Lex, sebenarnya apa sih yang terjadi semalam?”

Alex menatap asap yang mengepul dari cangkir kopinya, lalu mengembuskan napas berat. “Gue putus. Dan parahnya, gue gak tahu apa masalahnya.”

Marco mengerutkan dahi, ikut heran. “Kok bisa lo gak tahu?”

“Nggak tahu, Mar! Tiba-tiba dia nge-chat gue minta putus. Pas gue tanya salah gue apa, dia cuma jawab: 'cari kesalahanmu sendiri'. Dia malah jawab gitu, kan bego ya?” gerutu Alex dengan nada frustrasi yang kembali naik.

Mendengar kutipan chat dari Putri, Umam malah spontan tertawa pelan demi mengurangi ketegangan. “Sabar, Lex. Emang perempuan kadang suka pakai kode-kodean begitu. Lu kayak baru pertama kali pacaran aja.”

Percakapan itu perlahan-lahan mencair. Marco dan Umam sengaja mengalihkan topik ke obrolan-obrolan random seputar tugas kuliah yang menumpuk dan dosen pelatnas yang menyebalkan, berusaha keras membuat Alex melupakan sejenak beban di pundaknya.

Setelah dirasa cukup, mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk pulang karena langit mulai mendung pekat. Namun di tengah jalan, hujan deras langsung mengguyur bumi dengan kejam.

Pandangan menjadi kabur, tetapi Alex yang masih terbawa emosi dan hatinya sedang kacau parah, justru menarik gas motornya dengan begitu kencang. Gemuruh air hujan di jalanan seolah berkejaran dengan gemuruh di dadanya.

CIIIIIIIIIITTTTT!

Ban motor Alex berdecit keras di atas aspal yang basah. Motornya berhenti mendadak, hampir saja menghantam bemper sebuah mobil sedan di depannya.

Seorang bapak-bapak paruh baya langsung menurunkan kaca mobilnya, berteriak murka menembus suara hujan. “Eh! Lo lihat nggak itu lampu merah?! Mau mati lo?!”

Alex yang tersadar dari lamunannya langsung mengangguk-angguk panik dengan tubuh gemetar.

“Iya, Pak! Maaf, Pak! Maaf!”

Tanpa memedulikan makian lebih lanjut, Alex segera memutar gasnya lagi, melanjutkan perjalanan membelah hujan dengan jantung yang berdegup dua kali lebih cepat. Hari ini benar-benar hari terkutuk baginya.

Di sisi lain, di dalam kehangatan kamarnya, Marco baru saja selesai mandi. Namun, rasa penasarannya dari kejadian di kampus tadi belum juga hilang. Kalimat Alex di parkiran terus terngiang-ngiang di kepalanya.

Karena tidak tahan lagi, Marco meraih ponselnya di atas kasur, lalu membuka ruang obrolan dengan Putri lewat WhatsApp.

Karena tidak tahan lagi, Marco meraih ponselnya di atas kasur, lalu membuka ruang obrolan dengan Putri lewat WhatsApp.

Marco: Eh, lo beneran putus sama Alex, Put?

Tidak butuh waktu lama, ponsel Marco

bergetar. Sebuah balasan masuk.

Putri: Iya, gue putus. Si Alex gitu orangnya.

Marco mengernyitkan alis, jarinya dengan cepat mengetik balasan.

Marco: Gitu gimana maksudnya?

Beberapa detik status 'typing...' muncul di layar ponsel Marco, sebelum akhirnya Putri mengirimkan pesan yang tidak terduga.

Putri: Sambil teleponan kali ya, Mar? Gue malas ngetik panjang lebar.

Marco tertegun sejenak menatap layar ponselnya. Setelah menimbang-nimbang perasaan Alex, egonya kalah oleh rasa penasaran.

Marco: Oh, oke.

Hanya dalam hitungan detik, layar ponsel Marco berubah menampilkan panggilan masuk dari Putri. Marco menarik napas dalam-dalam sebelum menggeser tombol hijau ke atas, tanpa pernah menyadari bahwa panggilan telepon malam itu adalah awal dari runtuhnya persahabatan yang telah ia bangun bertahun-tahun bersama Alex.

1
Putry Chan
deskripsi terlalu bertele-tele, belum nyambung.
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa

dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita
Fahri Sohil Munawar: terimakasih kak atas sarannya akan saya perbaiki terimakasih mohon bimbingannya
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
Fahri Sohil Munawar: makasih kak sudah mampir 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!