NovelToon NovelToon
Sistem Informasi Mingguan

Sistem Informasi Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Data yang Menghasilkan

Dua minggu jadi asisten riset Pak Hardianto, Doni mulai kebiasa sama ritme kerja yang jauh beda dari bayangannya.

Bukan cuma ngetik data atau nyusun tabel Excel doang, tapi juga ikut turun langsung wawancara ke beberapa desa binaan buat proyek riset ekonomi pedesaan itu meski desanya sendiri belum termasuk lokasi sampel karena letaknya di luar jangkauan penelitian.

"Kamu jangan cuma catat angka, coba tangkep juga konteksnya," pesan Pak Hardianto suatu sore, waktu mereka lagi ngolah data hasil wawancara petani kelapa di salah satu desa binaan.

"Data doang tanpa konteks itu kayak masakan tanpa bumbu, ada tapi nggak berasa apa-apa."

Doni manggut-manggut, mencatat kalimat itu di buku catatannya, separuh serius separuh mikir kalimat itu cocok banget dijadiin caption Instagram kalau dia masih rajin update media sosial kayak dulu.

Malam itu, sambil beresin data mentah di kos, dengingan khas yang udah lama nggak muncul tiba-tiba kembali, kali ini jam satu dini hari, bikin Doni sampai kaget separuh ngantuk.

[SISTEM INFORMASI MINGGUAN AKTIF]

Info Minggu Ini: Harga gula aren dan produk turunannya (gula semut) diperkirakan naik tajam dalam tiga minggu ke depan akibat permintaan ekspor mendadak dari salah satu negara Asia Timur yang tengah mengalami kelangkaan pemanis alami. Kenaikan harga di tingkat pengepul diperkirakan mencapai 60–70% dari harga saat ini.

Doni langsung melek sempurna, jantungnya berdegup bukan cuma karena potensi cuan, tapi karena dia sadar ini persis komoditas yang beberapa hari lalu dia tulis di draft proposal riset, waktu ngebahas potensi olahan hasil pertanian desanya sendiri yang selama ini kurang digarap maksimal.

"Ini... kebetulan apa emang sengaja," gumamnya, duduk tegak di kasur sambil natap layar HP yang nunjukin waktu 01.14 dini hari.

Paginya, sebelum berangkat kuliah, Doni buru-buru telepon ke rumah, ngobrol sama bapaknya yang kebetulan lagi istirahat abis subuh.

"Pak, di desa ada yang bikin gula aren nggak selain Mbah Karto?"

"Ada beberapa, Nak, tapi kebanyakan jual ke tengkulak harga murah, soalnya nggak ada akses langsung ke kota. Kenapa emang?"

"Ada info katanya harga gula aren bakal naik gede-gedean bulan depan. Bapak coba kumpulin dulu deh info siapa aja yang biasa produksi, Doni mau bantu carikan pembeli yang harganya lebih adil."

Bapaknya di seberang telepon terdengar ragu, tapi tetap nurut. "Ya udah, nanti Bapak tanya-tanya ke tetangga."

Selama beberapa hari berikutnya, Doni sibuk membagi waktu antara kuliah, kerja asisten riset, dan diam-diam menghubungkan titik-titik.

Dia manfaatin data kontak pengepul dan distributor yang kebetulan dia kenal lewat proyek riset desa binaan Pak Hardianto, lalu nyari tau siapa yang biasa nyuplai gula aren ke kota-kota besar dengan harga lebih layak dibanding tengkulak lokal.

"Lo lagi ngapain sih, Don, kok akhir-akhir ini sibuk telepon-telepon mulu, kayak sales pulsa," celetuk Herman suatu malam, ngeliat Doni sibuk nyatet nomor-nomor kontak di buku kecil.

"Lagi coba nyambungin petani gula aren di kampung gue sama pembeli di kota, Man. Kalau berhasil, mereka bisa dapet harga lebih bagus, gue juga dapet komisi kecil dari selisihnya."

"Wih, jadi makelar gula aren sekarang lo? Makin absurd aja karir sampingan lo."

"Absurd tapi halal, Man. Mending daripada nganggur doang lo."

Herman cuma nyengir, nggak sanggup bantah.

Tiga minggu kemudian, persis seperti info sistem, harga gula aren mulai merangkak naik drastis di pasaran nasional, dipicu berita soal krisis pemanis alami di negara tetangga yang tiba-tiba jadi headline di beberapa media ekonomi.

Doni, yang udah lebih dulu nyiapin jaringan penghubung antara petani desanya dan distributor kota, langsung mendapat pesanan pertama dalam jumlah cukup besar.

Komisi yang dia dapat memang nggak sefantastis untung dari saham atau barang antik kemarin-kemarin, tapi ada kepuasan yang beda karena kali ini bukan cuma dia yang untung. Bapaknya nelepon malam itu, suaranya penuh semangat yang jarang Doni denger sebelumnya.

"Nak, Mbah Karto sama yang lain seneng banget, harga jual mereka naik dua kali lipat dari biasanya! Katanya baru kali ini ada yang bantu carikan pembeli langsung tanpa potongan tengkulak gede-gedean."

"Alhamdulillah, Pak. Doni seneng bisa bantu."

"Kamu jadi kebanggaan desa sekarang, Nak. Kemarin Pak RT nanya-nanya, katanya mau ajak kamu ngobrol soal cara kerja sama kayak gini buat komoditas lain juga."

Doni tersenyum sendirian di kamar kos, ngerasa capeknya selama beberapa minggu terakhir bagi waktu antara kuliah, riset, dan telepon sana-sini kebayar lunas malam itu.

Bukan cuma soal uang yang masuk ke rekeningnya, tapi soal rasa jadi berguna buat orang-orang di kampungnya sendiri, sesuatu yang nggak pernah dia rasain dari transaksi jaket vintage atau saham kemarin-kemarin.

Sebelum tidur, dia sempat mikir buat masukin cerita soal jaringan petani gula aren ini ke laporan riset Pak Hardianto, sebagai semacam studi kasus nyata soal potensi pemberdayaan ekonomi desa lewat pemangkasan rantai distribusi.

Rasanya pas banget, seolah dua dunia yang selama ini terpisah sistem misterius di kepalanya dan riset akademik yang dia jalani susah payah akhirnya ketemu di satu titik yang sama.

Dari balik kelopak mata yang mulai berat, teks yang udah dia hafal formatnya muncul sekali lagi.

[Info berikutnya akan tersedia dalam 6 hari 19 jam 30 menit]

Doni tersenyum dalam gelap kamar, kali ini tanpa rasa was-was seperti minggu-minggu sebelumnya. "Makasih ya," gumamnya pelan ke udara kosong, entah ditujukan ke sistem, ke keberuntungan, atau ke dirinya sendiri yang akhirnya berani ambil langkah lebih jauh dari sekadar untung pribadi.

1
Aisyah Suyuti
good
Wk Annuar
😍😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
RR: terimakasih banyak untuk supportnya, izinn namanya nanti saya masukan sebagai salah satu karakter di beberapa bab kedepan 😁🙏
total 1 replies
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!