Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.
Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.
Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 007: Bukit di Bandung
Bandung terlihat tenang karena belum tahu cara dunia akan mati.
Dari balik kaca mobil, Hendra melihat barisan rumah, pepohonan basah, jalan yang naik turun, dan langit kelabu tipis di atas dataran tinggi. Udara di luar lebih sejuk daripada Jakarta. Orang-orang masih berkendara pelan, membeli kopi, mengantar anak sekolah, mengeluh tentang macet, dan hidup seperti biasa.
Dalam tiga bulan, kota-kota pesisir akan menangis lebih dulu.
Air laut naik. Hujan gila. Jalan berubah menjadi sungai. Gudang-gudang rendah terendam. Listrik mati. Orang-orang berlari dari panas menuju banjir, dari banjir menuju dingin, lalu dari dingin menuju pintu siapa pun yang masih punya makanan.
Jakarta akan menjadi perangkap.
Surabaya akan tenggelam dalam kekacauan pesisir.
Bandung tidak aman sepenuhnya.
Tidak ada tempat yang benar-benar aman.
Tapi dataran tinggi memberi waktu.
Dan waktu, bagi Hendra, berarti kesempatan untuk menutup pintu sebelum semua orang mengetuknya.
Satu jam setelah masuk kota, ia membeli sebuah mobil off-road bekas dari dealer kecil dekat jalan utama. Mesinnya kuat, bannya tebal, suspensinya tinggi, dan rangkanya cukup keras untuk jalan tanah. Penampilannya biasa, aman dari perhatian.
Penjualnya tersenyum lebar setelah pembayaran masuk.
"Mau dipakai proyek, Pak?"
"Ya."
"Medannya berat?"
"Akan berat."
Penjual itu tertawa, mengira Hendra bercanda.
Hendra mengambil kunci dan tidak menjelaskan lebih banyak.
Dengan mobil itu, ia keluar dari pusat kota menuju pinggiran timur Bandung. Jalan beton berubah menjadi jalan kecil. Ruko berganti rumah rendah. Rumah berganti kebun, lalu kebun berganti tanah miring yang menghadap lembah.
Makelar lokal duduk di sampingnya, berkali-kali menunjuk lahan yang menurutnya bagus.
"Yang ini dekat jalan besar, Pak. Bisa masuk truk."
"Terlalu terbuka."
"Yang sana pemandangannya bagus."
"Terlalu dekat permukiman."
"Kalau yang ini tanahnya luas."
"Aliran airnya buruk."
Makelar itu mulai kehabisan kata.
Bagi orang biasa, Hendra terdengar terlalu pilih-pilih.
Baginya, setiap lahan adalah perhitungan hidup-mati.
Ia tidak mencari vila.
Ia tidak mencari pemandangan.
Ia mencari tanah yang cukup tinggi untuk menghindari banjir, cukup jauh dari jalan utama agar tidak menjadi sasaran pertama orang lapar, tetapi cukup dekat untuk truk beton dan baja masuk sebelum dunia runtuh.
Ia mencari lereng yang bisa digali.
Ia mencari tanah yang tidak menjerit ketika dibangun.
Sore menjelang, mereka tiba di sebidang lahan di pinggiran timur Bandung.
Luasnya 8.160 meter persegi.
Di bagian depan, ada jalan tanah yang bisa diperlebar. Di sisi kiri, kebun tua dan beberapa pohon besar memberi tirai alami dari pandangan permukiman. Di bagian belakang, tanah naik perlahan menuju punggung bukit. Ada bekas bangunan gudang kecil yang sudah lama tidak dipakai, dindingnya retak, atap sengnya berkarat.
Makelar mengangkat tangan. "Ini milik Pak Lukman. Dulu mau dijadikan tempat usaha keluarga, tapi tidak jadi. Sertifikatnya jelas, cuma aksesnya perlu diperbaiki."
Hendra turun dari mobil.
Tanah lembap menempel di sol sepatunya.
Ia berjalan perlahan melewati rumput liar.
Di mata makelar, mungkin ia hanya memeriksa lahan.
Di mata Hendra, ia sedang melihat tiga bulan ke depan.
Di sini, dinding luar bisa dibuat rendah dan tidak mencolok.
Di sana, jalur truk masuk.
Bagian belakang bisa digali lebih dalam, menempel pada lereng, lalu ditutup beton dan tanah kembali seolah hanya gudang pendingin biasa.
Ventilasi harus mengarah ke sisi yang tertutup pohon.
Sumur dalam perlu di sisi kanan.
Pintu utama tidak boleh menghadap jalan.
Pintu darurat harus mengarah ke kebun, tidak ke lereng terbuka.
Jika pagar listrik dipasang nanti, pos pengawas bisa berdiri di bagian atas, menghadap lembah tanpa terlihat seperti benteng.
Semua itu muncul di kepalanya seperti garis-garis dingin.
"Pak Hendra?" suara makelar memanggil. "Bagaimana?"
"Saya mau bertemu pemiliknya."
Tidak sampai satu jam kemudian, Pak Lukman datang dengan sepeda motor tua.
Pria itu berkulit gelap terbakar matahari, berusia sekitar lima puluhan, memakai jaket tipis dan sandal gunung. Ia tidak terlihat seperti orang licik. Matanya waspada, tetapi tidak serakah.
"Bapak yang mau lihat tanah saya?" tanyanya.
"Hendra."
"Lukman."
Mereka berjabat tangan.
Telapak Pak Lukman kasar.
"Terus terang saja, Pak Hendra. Lahan ini bagus, tapi butuh biaya kalau mau dibangun. Jalan masuk mesti diperkeras. Gudang lamanya tidak layak. Kalau Bapak mau buka usaha, modalnya jangan setengah-setengah."
Jawaban itu membuat Hendra lebih puas daripada pujian makelar.
Orang ini tahu kekurangan tanahnya dan tidak menutup-nutupi.
"Saya memang tidak akan setengah-setengah," kata Hendra.
Pak Lukman menatapnya. "Mau buat apa?"
"Gudang pendingin bawah tanah. Untuk logistik pribadi."
"Bawah tanah?"
"Ya. Saya butuh suhu stabil, aman, dan tidak mengganggu warga."
Pak Lukman mengangguk perlahan. Penjelasan itu terdengar aneh, tetapi masih masuk akal. Beberapa orang kaya memang punya hobi dan proyek pribadi yang sulit dimengerti.
"Kalau semua izin dan akta beres, saya tidak masalah," katanya.
"Sertifikat?"
"SHM. Tidak sengketa. Pajak aman. Bisa dicek."
"Harga?"
Pak Lukman menyebut angka.
Makelar langsung menoleh ke Hendra, siap memulai tawar-menawar.
Hendra tidak tertarik.
Di hadapan musim dingin yang akan membunuh miliaran manusia, selisih beberapa ratus juta tidak berarti apa-apa dibanding satu hari lebih cepat mulai menggali.
"Saya bayar sesuai harga itu," kata Hendra. "Syaratnya, proses notaris dimulai besok pagi. Akses jalan boleh langsung saya ukur dan siapkan untuk perbaikan. Setelah uang muka masuk, tidak ada penawaran ke pihak lain."
Pak Lukman terdiam.
Makelar juga terdiam.
"Pak serius?"
"Saya tidak datang dari Jakarta untuk melihat rumput."
Pak Lukman tertawa pendek. "Baik. Kalau begitu, kita urus."
Keesokan paginya, mereka bertemu di kantor notaris Bandung. Sertifikat diperiksa, identitas dicocokkan, pajak dan riwayat tanah dibuka. Berkasnya bersih dari sengketa, blokir, dan warisan rumit.
Hendra membaca setiap halaman.
Akta jual beli tanah itu tidak setebal akta saham, tetapi baginya nilainya jauh lebih besar.
Saham memberi uang.
Tanah ini akan memberi pintu.
Dan pintu, saat badai datang, lebih mahal daripada angka mana pun.
Ia menandatangani.
Pak Lukman menandatangani.
Stempel notaris jatuh.
TOK.
Satu bunyi lagi untuk satu langkah selamat.
Sore hari, Hendra kembali ke lahan itu sendirian dengan mobil off-road barunya.
Angin bukit membawa bau tanah basah dan rumput. Matahari mulai turun, meninggalkan warna emas redup di tepi awan. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat lampu-lampu kecil permukiman di kejauhan.
Orang-orang di bawah sana masih percaya dunia punya banyak pintu.
Hendra tahu sebentar lagi hanya sedikit pintu yang bisa dibuka dari dalam.
Ia berdiri di tengah lahan, menatap bekas gudang tua, lalu menyalakan ponsel dan membuat catatan baru.
Pintu baja.
Dinding beton.
Pelat baja.
Ventilasi satu arah.
Sumur dalam.
Ruang genset.
Ruang stok.
Ruang kontrol.
Kedok: gudang pendingin bawah tanah.
Ia berhenti pada baris terakhir.
Semua ini tidak bisa dibangun dengan pekerja biasa.
Ia butuh kontraktor.
Kontraktor yang cukup rakus untuk menerima uang besar, cukup profesional untuk bekerja cepat, dan cukup bodoh untuk percaya bahwa ini hanya proyek orang kaya eksentrik.
Hendra menutup catatan.
Di bawah tanah yang masih kosong itu, ia seperti sudah melihat bayangan dinding baja berdiri.
Besok, ia akan mencari orang yang bisa menggali benteng sebelum dunia mulai membeku.