Kehidupan yang tidak mudah harus aku jalani. Aku Nisya. wanita usia 29 tahun, seorang Ibu dari 3 orang anak. Awal pernikahan hidup kami baik-baik saja dengan ekonomi yang cukup. namun, setelah tiga tahun menikah dan gaji suami ku jauh lebih besar di banding sebelumnya, ia mulai berubah. Mabuk, judi hingga perselingkuhan mewarnai rumah tangga kami. Bahkan uang bulanan yang biasanya lebih dari cukup itu kini berubah menjadi serpihan kenangan. Ya.. Suamiku, Gani. Kini memberikan nafkah kepada kami dengan asal-asalan, bahkan tak jarang ia justru memberikan makian disaat aku meminta hak kami.
"Kerja kalau mau uang tuh, kerjaannya minta terus. Kamu gak tau kan kalau kerja itu capek, kamu taunya hanya minta saja!" selalu kata itu yang terucap.
Mulai dari situ, hidupku aku rubah. Aku tak ingin lagi berleha-leha. aku ingin merubah hidupku bagaimana pun caranya.
Mari ikuti kisah perjalanan aku mengubah hidupku kali ini😊
Fb : Adivahalwahasanah
Ig : @Adivahasanah
Tt : A.H Hasanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
"Iya Mas... Besok aku akan cari tukang sayur yang lengkap biar bisa nyetok bahan makanan dikulkas" jawabku dengan senyum mengembang.
"Iya.. Tapi... Apa uang kita cukup sampai nanti Ayah gajian lagi Bun?" tanya Mas Gani dengan wajah khawatir.
"Mas nggak usah khawatir, Insyaallah cukup kok. Mas kan gajian tinggal sepuluh hari lagi, uang yang ada di Bunda cukup kok untuk kita sepuluh hari kedepan. Lagian bulan ini nanti kan kita belum mulai bayar uang cicilan kan? Kita bayar di bulan depan, jadi kita bisa mulai berhemat mulai bulan ini biar nanti kita tidak keteteran. Cicilan tiga juta perbulan itu lumayan besar Mas, jadi kita harus pintar-pintar membagi gaji kamu sampai bisa menutup semuanya" kataku menenangkan Mas Gani yang terlihat khawatir.
"Bener bun, tapi semua aku serahin ke kamu ya. Aku bisa pusing sendiri kalau ngurusin soal uang dan rumah, mudah-mudahan kamu bisa kelola uang gaji aku yang nggak seberapa itu" kata Mas Gani membuatku tersenyum.
"Insyaallah Mas, tapi selama ini alhamdulillah gaji kamu selalu lebih dari cukup untuk kita. Buktinya kita bisa ambil rumah yang cukup besar ini kan?" kataku dengan senyuman.
"Iya.. Tapi kali ini beda, kan kali ini cicilannya juga besar. Belum lagi untuk cicilan motor kita, terus listrik rumah ini, belum kebutuhan Adila dan Hawa, belum kebutuhan kamu. Nanti kedepannya juga Adila akan sekolah, pasti perlu biaya tambahan" kata Mas Gani.
"Mas... Setiap anak itu punya rezekinya masing-masing, kalau kemarin-marin gaji kamu lebih dari cukup untuk kita karna kita masih mengontrak. Insyallah kali ini Allah SWT pun akan cukupkan gaji kamu untuk kita, meskipun tidak lebih tapi aku yakin Allah SWT tidak akan membiarkan kita kekurangan" kataku dengan senyum lembut.
"Masyaallah... Beruntungnya aku dapat istri seperti kamu Bun... Terimakasih ya sudah mau memberikan Ayah kesempatan waktu itu, Ayah nggak tau apakah Ayah akan mendapatkan wanita sebaik kamu ketika Ayah kehilangan kamu saat itu" kata Mas Gani.
"Yang lalu biarlah berlalu Mas, kita tidak perlu mengingat nya lagi. Aku sudah bersyukur kalau kamu sudah mau berubah dan semoga kamu tidak kembali ke jalan yang salah" jawabku dengan senyum kecil.
"Iya.. Aku janji nggak akan ngelakuin hal itu lagi. Udah Adzan, Ayo kita sholat maghrib. Ayo kakak" kata Mas Gani mengajak kami untuk sholat berjamaah.
Kami bergantian mengambil Air wudhu, kemudian kembali keruang tv untuk sholat setelah aku gelarkan sejadah dan aku siapkan keperluan sholat mereka sebelumnya.
Setelah selesai sholat, Mas Gani mengajak Adila untuk membeli makan malam. Aku berdua dengan Hawa dengan pintu yang sedikit terbuka.
"Ayo kak kita beli makanan sama jajan, sekalian kita lihat-lihat daerah sini. Kayanya banyak jajan yang akan kamu suka deh" kata Mas Gani tersenyum penuh arti pada Adila.
"Ayo ayo Ayah... Kakak udah nggak sabar buat jalan-jalan, tapi Ayah... Kayanya di sini sepi banget loh Ayah" kata Adila.
"Nggak kok, kata siapa sepi? Di sini rame kok, cuma kan sekarang lagi musim liburan makanya mungkin orang-orang lagi nggak dirumah. Oiya rumah kita ini deket banget sama masjid, sekolah TK dan juga sekolah SDN loh. Jadi kalau kita tinggal di sini, nggak perlu jauh-jauh kalau cari sekolah. Masih dilingkungan kita juga, kecuali sekolah SMP sama SMA ya udah di luar dari lingkungan kita. Tapi masih deket juga, masih di dalam komplek" kata Mas Gani membuatku berbinar senang.
"Kalau begitu, berarti di sini udah ada minimarket dong Ayah? Udah ada supermarket buat belanja kebutuhan kita?" tanyaku pada Mas Gani yang tengah bersiap menggunakan jaket.
"Kalau supermaket kayanya belum ada Bun... Kita harus keluar perumahan buat ke supermarket, tapi kalau minimarket ada di depan yang dideket bunderan itu juga. Pas jalan tadi, Bunda nggak engeh ya ada minimarket?" kata Mas Gani yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala.
"Nggak, aku nggak engehin kalau ada minimarket tadi. Kalau tukang sayur itu jauh nggak ya Mas?" tanyaku.
"Kalau itu... Ayah juga kurang tau ya Bun" katanya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Yasudah kalau begitu besok aku cari sajalah.. Mudah-mudahan ngga jauh dari sini ada tukang sayur, Masa iya komplek seluas ini ngga ada tukang sayur" kataku di angguki Mas Gani.
"Mungkin ada Bun, tapi keliling gitu..." jawabnya. Aku membenarkan dalam hati.
"Kalau begitu kita sekarang ke supermarket aja Mas, kita cari supermarket buat beli Ayam, ikan, daging-dagingan atau frozenan. Biar nanti kalau ada tukang sayur itu tinggal beli sayur freshnya" kataku yang langsung berdiri setelah memberikan ide untuk berbelanja malam itu juga.
"Hah? Yang bener kamu bun? Kamu ngga capek emang, kita belum tau loh supermarket itu jauh atau nggak dari perumahan ini" kata Mas Gani.
"ck... Sekarang Ayah cek di google, cari lokasi supermarket terdekat dari lokasi kita atau cari pasar terdekat. Nggak apa-apa kita cari sekarang, biar sekalian capeknya. Sekalian kita beli makan malam atau makan diluar" kataku yang langsung masuk kedalam kamar dan berganti pakaian. Mas Gani pun menganggukkan kepala terpaksa.
"Iya iya baiklah kalau begitu" katanya sambil membuka ponsel dan mencari yang aku perintahkan.
"Nah.. Ada supermarket dan juga pasar tradisional yang letaknya berhadapan nih Bun.. Gimana?" tanya Mas Gani.
"Nah.. Kebetulan tuh, kalau gitu kita ke supermarket dulu buat cari frozenan dan bumbu-bumbu instan habis itu kita ke pasar tradisionalnya untuk beli perdagingan dan juga bumbu mentahnya. Gimana Mas?" tanyaku.
"Tapi... Emang nggak apa-apa bun? Nggak kasian sama anak-anak?" tanya Mas Gani.
"Mas, kita sebentar aja kok. Cuma beli bahan-bahan yang kita perluin selama seminggu aja, nggak lama-lama. Adila pasti seneng kalau jalan-jalan, iyakan kak?" kataku yang meminta persetujuan Adila.
"Boleh bun... Tapi... Adila nanti es krim ya" kata Adila yang langsung aku acungi jempol.
"Okelah kalau begitu, Ayo kita jalan" kata Mas Gani. Aku langsung menggendong Hawa dalam dekapanku setelah membawa dompet dan memakai kerudung instan.
Mas Gani mengunci pintu dan membuka gerbang rumah, aku menunggu didepan. Memang perumahan ini tergolong sepi jika malam, untungnya masih tertolong dengan adanya masjid yang lumayan besar yang hanya berjarak dua puluh meter dari rumahku.
"Di sini beneran sepi ya Ayah? Liat deh, kesana aja sepi banget. Di sini ketolong sama Masjid itu makanya keliatan agak ramai" kataku pada Mas Gani sambil menunjuk jalan yang berada di gang rumah.
"Iyaa.. Kesana itu ada Tk sama SD yang aku bilang tadi, deketkan?" kata Mas Gani. Aku menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Lumayan deket sih, kakak nanti kalau mulai sekolah bisa lah jalan sendiri ya?" kataku pada Adila yang duduk didepan Ayahnya.
"Boleh aja... Kan nanti pasti ada temannya Bun, nggak mungkin kan kakak cuma jalan sendirian" kata Adila.
"Iya... Pinter banget kakak, tahun depan ya kakak sekolah?" tanya Mas Gani pada Adila yang menganggukkan kepala.
"beberapa bulan lagi juga udah bisa ikut sekolah kok Mas, kan sekarang Adila udah empat tahun." kataku.
"Nanti masuk SD nya terlalu cepat atau nggak kalau masuk Tk nya sekarang?" tanya Mas Gani di sela perjalanan.
"Nggak sih Mas, hitungan aku itu kalau Adila sekolah tahun ini nanti dia masuk ke Sd nya itu sekitar enam tahun enam bulan. Udah cukup untuk masuk SD untuk di daerah kaya disini" kataku.
"Kalau begitu kamu atur aja Bun... Aku ikut aja apapun keputusan kamu, aku serahin semua urusan rumah dan anak-anak sama kamu. Aku percaya kamu pasti berikan yang terbaik untuk mereka" kata Mas Gani membuatku tersenyum lembut.
"Tentu saja Mas, aku nggak mungkin asal-asalan memberikan pendidikan untuk anak. Aku udah lama memikirkan kapan Adila harus mulai sekolah, kapan umur yang pas" kataku dengan mata berbinar.
"Alhamdulillah kalau begitu, nanti Mas akan usahakan biayanya. Kamu ngga perlu khawatir" kata Mas Gani. Aku tersenyum.
"Iya... Aku percaya!" jawabku.
Bersambungggg.
****
Haloooo novel udah bisa di cari ya guys. Jangan lupa like, komen, vote dan juga share ya😊🙏 aku tunggu kritik kalian, ingat ya aku ngga pernah baper sama semua kritik kalian asal kalian juga bisa jaga bicara kalian kalau mengkritik😊🙏