NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN SANG PEWARIS SAKTI

KEBANGKITAN SANG PEWARIS SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
​Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
​Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Badai di Danau Bintang dan Surat Tantangan Dewa Pedang

​Mobil Rolls-Royce hitam itu melaju tenang membelah jalanan malam Kota Jiangbei, meninggalkan mayat-mayat utusan Lembah Raja Obat yang perlahan mendingin di jalanan pegunungan.

​Di kursi kemudi, Ye Chen menyetir dengan satu tangan. Sisa-sisa kabut keemasan dari Teratai Salju Berdarah telah sepenuhnya membaur ke dalam pori-porinya. Tidak ada lagi rasa sesak di dada. Napasnya panjang, tenang, dan selaras dengan ritme alam semesta. Setiap kali jantungnya berdetak, energi kehidupan (Qi) yang sangat masif memompa kekuatan tanpa batas ke seluruh tubuhnya.

​Ia telah sepenuhnya menguasai Alam Master Puncak, dengan kekuatan fisik yang kini mampu menahan ledakan True Qi (Qi Sejati) dari Warisan Tabib Naga tanpa takut meridiannya hancur.

​Sesampainya di Hotel Ritz-Carlton, Ye Chen memarkir mobil dan menarik napas panjang. Ia menekan seluruh aura tiraninya, menyembunyikan kilatan keemasan di matanya, dan kembali menjadi 'Ye Chen si Suami Biasa'.

​Cklek.

​Pintu kamar Presidential Suite terbuka tanpa suara.

​Lampu utama sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu tidur temaram. Di atas sofa ruang tamu, Su Yuhan tertidur dengan posisi duduk meringkuk, masih mengenakan piyama sutranya. Sebuah selimut tebal merosot ke lantai, dan dokumen-dokumen kontrak berserakan di atas meja. Dia rupanya kelelahan menunggu Ye Chen pulang.

​Hati Ye Chen melembut. Aura pembunuh yang sempat membeku di jiwanya seketika mencair tak bersisa.

​Ia berjalan tanpa suara, memungut selimut itu, lalu dengan sangat perlahan mengangkat tubuh Yuhan ke dalam pelukannya. Wanita cantik yang dijuluki Ratu Es di dunia bisnis itu kini terasa begitu ringan dan rapuh di lengan Ye Chen.

​Saat Ye Chen membaringkannya di atas ranjang yang empuk, Yuhan menggeliat pelan. Matanya terbuka setengah, menatap wajah Ye Chen dengan pandangan kabur karena kantuk.

​"Kau... sudah pulang?" gumam Yuhan dengan suara serak yang menggemaskan, jauh dari citra CEO-nya yang angkuh.

​"Sst, tidurlah. Aku sudah pulang," bisik Ye Chen, menarik selimut menutupi bahu istrinya.

​Yuhan secara refleks meraih ujung kemeja Ye Chen, menggenggamnya pelan. "Jangan pergi kemana-mana lagi... Jiangbei ini terlalu berbahaya."

​"Aku tidak akan pergi ke mana-mana," Ye Chen tersenyum, mengelus rambut Yuhan hingga napas wanita itu kembali teratur dan terlelap dalam mimpi.

​Ye Chen duduk di tepi ranjang dalam kegelapan. Tangannya menopang dagu, matanya menatap keluar jendela kaca raksasa yang menampilkan kelap-kelip lampu Kota Jiangbei.

​Jiangbei memang berbahaya bagi orang biasa, Yuhan. Tapi mulai besok... akulah bahaya yang sesungguhnya di kota ini, batin Ye Chen dingin.

​Sementara itu, di tempat lain, seluruh dunia bawah dan komunitas bela diri Provinsi Jiangbei sedang terguncang oleh gempa bumi berskala epik!

​Kabar turun gunungnya Jian Nantian, sang Dewa Pedang sekaligus Ketua Asosiasi Bela Diri, menyebar seperti api liar di padang sabana kering. Selama sepuluh tahun, pria tua legendaris itu mengasingkan diri untuk berlatih menembus Alam Semi-Ilahi (Half-step Divine). Tidak ada yang pernah melihatnya mencabut pedang lagi.

​Namun malam ini, sebuah Surat Tantangan Pedang Darah telah disebarkan ke seluruh keluarga besar dan konglomerat di Jiangbei.

​Di ruang rapat Keluarga Utama Su, Su Zheng tertawa terbahak-bahak hingga air mata menetes dari matanya. Di tangannya terdapat replika surat tantangan tersebut.

​"Hahahaha! Bagus! Bagus sekali! Dewa Pedang telah bergerak!" Su Zheng menggebrak meja dengan penuh euforia.

​Penatua Gu, yang berdiri di sampingnya, juga tersenyum licik. "Tuan Besar, Jian Nantian telah menetapkan lokasi duel di Danau Bintang esok hari saat matahari terbenam. Beliau juga mengundang seluruh tokoh elit Jiangbei untuk menyaksikan eksekusi ini. Ini bukan sekadar balas dendam, ini adalah unjuk kekuatan mutlak Asosiasi Bela Diri!"

​"Tentu saja!" Mata Su Zheng memancarkan kebencian yang berbisa. "Ye Chen telah membunuh dua Tetua Asosiasi. Jika Jian Nantian membunuhnya diam-diam, reputasi Asosiasi tidak akan pulih. Dia butuh panggung besar untuk memenggal kepala bocah sombong itu di depan ribuan mata!"

​"Lalu, apa rencana kita, Tuan Besar?"

​Su Zheng menyeringai kejam. "Kirim undangan VIP ke Su Yuhan! Pastikan wanita jalang itu hadir di Danau Bintang besok sore. Aku ingin dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana suaminya dicincang menjadi makanan ikan! Begitu pelindungnya mati, kita akan langsung merampas resep Salep Dewi Luo dan melempar Yuhan ke rumah bordil!"

​Malam itu, tidak ada satu pun tokoh elit di Jiangbei yang bisa tidur nyenyak. Semua orang membicarakan pemuda gila bernama Ye Chen yang berani memprovokasi kemarahan langit.

​Keesokan paginya.

​Sinar matahari masuk melalui celah tirai hotel. Su Yuhan terbangun dan mendapati sarapan mewah sudah tersaji di meja ruang tamu, beserta secangkir kopi hangat kesukaannya. Ye Chen sedang duduk di sofa seberang, membaca koran pagi dengan tenang.

​"Pagi," sapa Yuhan sambil tersenyum, meregangkan tubuhnya. Tidurnya semalam sangat nyenyak berkat Giok Hetian di dadanya.

​"Pagi. Makanlah, kau punya pertemuan dengan pemasok botol kristal siang ini, kan?" Ye Chen melipat korannya.

​Namun, sebelum Yuhan sempat menyentuh garpunya, bel pintu kamar berbunyi dengan sangat brutal, seolah seseorang sedang memukul pintu dari luar.

​Brak! Brak! Brak!

​Ye Chen mengerutkan kening. Ia bangkit dan membuka pintu.

​Master Tang Zhenhai berdiri di sana dengan napas terengah-engah, wajahnya sepucat kertas putih. Mantan jenderal yang biasanya tenang dan berwibawa itu kini berkeringat dingin dari ujung kepala hingga ujung kaki. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak kayu panjang berwarna hitam kemerahan.

​"T-Tuan Ye! Gawat! Bencana besar!" Master Tang menerobos masuk tanpa permisi.

​Yuhan segera meletakkan cangkir kopinya. "Master Tang? Apa yang terjadi? Apakah Keluarga Su memboikot kita lagi?"

​Master Tang menggeleng panik, matanya menatap Ye Chen dengan keputusasaan. "Bukan boikot bisnis, Nyonya Su! Ini... ini Surat Tantangan Pedang Darah!"

​Master Tang meletakkan kotak kayu itu di atas meja dan membukanya. Di dalamnya, terdapat sebuah pedang kayu kecil berwarna merah darah, diikat dengan kain putih bertuliskan huruf kaligrafi hitam tebal:

​[Senja Hari. Danau Bintang. Nyawa Dibayar Nyawa.]

[Pengirim: Jian Nantian]

​Yuhan yang tidak tahu apa-apa tentang dunia bela diri hanya mengerutkan dahi. "Jian Nantian? Siapa itu? Masalah bisnis apa lagi ini?"

​Master Tang menelan ludah. "N-Nyonya Su... Jian Nantian bukanlah pebisnis. Dia adalah Ketua Asosiasi Bela Diri Provinsi Jiangbei. Julukannya adalah Dewa Pedang. Sepuluh tahun lalu, dia sendirian membantai tiga ratus anggota sindikat bersenjata api hanya dengan sebilah pedang besi!"

​Wajah Yuhan seketika memucat. Ia menatap Ye Chen dengan panik. "Ye Chen?! Kenapa orang seperti itu mengirimimu surat berdarah?! Apa yang kau lakukan di belakangku?!"

​Ye Chen menghela napas pelan. Ia tidak ingin istrinya panik, tapi sepertinya mustahil menyembunyikannya lebih lama.

​"Yuhan," ucap Ye Chen tenang, mengusap bahu istrinya. "Orang-orang dari Keluarga Utama Su tahu mereka tidak bisa melawanmu di meja bisnis karena hak paten dari Swiss itu. Jadi, mereka menyewa preman tingkat tinggi ini untuk menyingkirkanku."

​"T-Tuan Ye, ini bukan preman!" Master Tang nyaris menangis melihat ketenangan Ye Chen. "Dia adalah dewa! Setengah langkah menuju Alam Ilahi! Dia bisa membelah air terjun dengan satu tebasan! Dia menantang Anda duel publik di Danau Bintang senja ini. Jika Anda tidak datang, dia mengancam akan membantai seluruh anggota Keluarga Su di Jiangcheng, termasuk Nyonya Yuhan!"

​Mendengar ancaman itu, kaki Yuhan melemas. Ia mencengkeram lengan Ye Chen dengan kuat.

​"Ye Chen, kita lapor polisi! Kita panggil tentara! Atau... atau kita batalkan semua bisnis ini dan lari ke luar negeri menggunakan perlindungan Konsorsium temanmu itu!" Yuhan meracau dengan air mata mulai menggenang. Baginya, uang dan perusahaan tidak ada artinya jika nyawa suaminya menjadi taruhan.

​Ye Chen tersenyum hangat. Ia mengangkat tangannya dan menghapus air mata di sudut mata istrinya.

​"Lari? Aku tidak pernah lari, Yuhan."

​Ye Chen mengambil pedang kayu berdarah itu dari atas meja. Hanya dengan sedikit remasan tangannya...

​KRAK.

​Pedang kayu simbol tantangan tertinggi itu hancur menjadi serbuk kayu yang berjatuhan ke karpet.

​Master Tang terbelalak. Menghancurkan Surat Pedang Darah adalah penghinaan paling mutlak bagi seorang ahli bela diri!

​"Master Tang," suara Ye Chen mendadak berubah. Tidak ada lagi kelembutan. Yang tersisa hanyalah otoritas mutlak dari seorang Tuan Besar yang memandang rendah seluruh makhluk fana.

​"Beri tahu Jian Nantian. Senja ini, aku akan datang ke Danau Bintang. Suruh dia menyiapkan peti matinya sendiri."

​"T-Tuan Ye... Anda yakin?" Master Tang gemetar.

​"Ye Chen, jangan!" Yuhan memeluk lengan suaminya. "Kau tidak bisa melawan monster gila dengan pedang! Kau hanya bisa bela diri biasa!"

​Ye Chen menatap mata Yuhan lekat-lekat. Kilatan emas samar melintas di pupil hitamnya, memberikan efek penenang yang aneh.

​"Yuhan, percayalah padaku. Aku berjanji padamu, sebelum matahari benar-benar tenggelam, aku akan kembali ke hotel ini untuk makan malam bersamamu. Kau hanya perlu menyelesaikan rapat bisnismu siang ini, dan anggap saja suamimu sedang pergi membuang sedikit sampah."

​Setelah mengatakan itu, Ye Chen berbalik menuju pintu, mengenakan jaket kasualnya.

​"Master Tang, tetap di sini. Gunakan nyawamu untuk memastikan tidak ada satu pun lalat dari Jiangbei yang mengganggu istriku hari ini," perintah Ye Chen tanpa menoleh.

​"Baik, Tuan Ye!" Master Tang bersujud dengan satu lutut. Ia tahu, hari ini adalah hari penentuan. Jika Ye Chen menang, peta kekuasaan seluruh Provinsi Jiangbei akan berubah selamanya. Jika kalah, mereka semua akan mati.

​Ye Chen melangkah keluar dari kamar hotel.

​Di luar, matahari bersinar terik, namun udara di Kota Jiangbei terasa sangat berat. Seluruh pandangan kota kini tertuju pada satu lokasi.

​Danau Bintang.

1
yos helmi
sdh banyak cerita seperti alur ini.. tp semua ng pernah tamat.. cerita ciplakan/saduran.. jd jgn harap tamat
Marthen
dari teknik bela diri penakluk naga apakah ada sutra naga penyerap energi agar kultivadinya naik lagi kan sayang energi musuh yg terbuang....?
Arinto Ario Triharyanto
mantap ini😎
Marthen
banjir darah mewarnai pesta ulangtahun
Arinto Ario Triharyanto
tegas lugas gak pake lama... mantul 😎
Marthen
seru sekaLi.....
Marthen
keren....suka dgn jalan ceritanya.....
Fajar Fathur rizky
cepat bantai Asosiasi bela diri sampai ke akar akarnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai semua musuhnya sampai ke akar akarnya
Fajar Fathur rizky
cepat bantai su zheng bikin dia menyaksikan sendiri pas yechen bantai semua klan su sampai ke akar akarnya bikin su zheng mengutuk putranya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!