NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2 Sayembara

Pagi datang terlalu cepat.

Ketika pelita di Puri Timur dipadamkan satu per satu, Arjuna sudah berdiri di depan cermin perunggu dengan jubah kebesaran Pangeran Mahkota melekat di bahunya. Kain batik sogan berlapis benang emas jatuh rapi sampai mata kaki. Keris kecil terselip di pinggang, bukan sebagai hiasan, melainkan pengingat bahwa kehidupan ini tidak boleh lagi ia jalani dengan mata tertutup.

Adi merapikan tepi jubahnya dengan gerakan hati-hati. Sejak semalam, pemuda itu tidak berani banyak bicara. Barangkali ia mengira tuannya sakit, atau sedang memikirkan sayembara.

"Yang Mulia ingin sarapan dahulu?" tanya Adi.

"Tidak."

"Setidaknya wedang jahe, Yang Mulia. Semalam Yang Mulia..."

Arjuna meliriknya lewat cermin.

Adi langsung menunduk. "Hamba lancang."

Arjuna menarik napas pelan. Dalam kehidupan lalu, ia terlalu sering membiarkan orang-orang setia di sekitarnya hanya mengenal sisi dinginnya. Ia tidak bisa berubah menjadi orang lain dalam semalam, tetapi ia tidak ingin mengulang kebutaan yang sama.

"Simpan wedang itu. Aku akan minum setelah kembali."

Wajah Adi sedikit cerah. "Baik, Yang Mulia."

Di luar, bunyi gamelan dari Balai Agung mulai terdengar. Lembut, teratur, dan penuh kemegahan. Hari ini seluruh keluarga bangsawan besar mengirim putri mereka ke keraton. Di mata orang banyak, sayembara ini adalah upacara memilih pendamping Pangeran Mahkota. Di mata Permaisuri Ratih, ini adalah kesempatan memasukkan bidak ke Puri Timur. Di mata Prabu Naradewa, ini cara mengikat keluarga yang paling berguna untuk takhta.

Bagi Arjuna, hari ini adalah hari ia menjemput kembali takdir yang pernah ia sia-siakan.

***

Balai Agung dipenuhi warna. Para putri bangsawan duduk berderet di sisi kanan, ditemani ibu atau kerabat perempuan. Para adipati dan pejabat tinggi berada di sisi kiri. Di tengah, karpet merah terbentang sampai singgasana Prabu Naradewa.

Arjuna memasuki balai dengan langkah tenang.

Semua orang menunduk.

"Pangeran Mahkota tiba."

Suara Ki Ageng Purwa menggema, disusul hening yang tertib. Arjuna memberi hormat kepada Prabu Naradewa yang duduk di singgasana utama. Di sisi raja, Permaisuri Ratih mengenakan kebaya hijau tua dengan tusuk konde emas berbentuk bunga cempaka. Senyumnya halus, nyaris sempurna. Tidak jauh dari sana, Baskara duduk dengan wajah ramah seorang adik yang tampak ikut berbahagia.

Arjuna tahu isi hati mereka.

"Ananda datang tepat waktu," kata Prabu Naradewa. "Bagus. Hari ini bukan hanya urusan rumah tanggamu. Ini urusan kehormatan kerajaan."

"Ananda mengerti, Baginda."

"Maka pilihlah dengan mata jernih."

Arjuna menunduk. "Tentu."

Permaisuri Ratih tersenyum lebih lebar. "Semua putri yang hadir telah disaring oleh Badan Upacara. Mereka berasal dari keluarga baik-baik. Akan tetapi, Pangeran Mahkota tetap harus mempertimbangkan keseimbangan di dalam keraton."

Keseimbangan.

Kata itu pernah menjadi tali yang mengikat lehernya. Demi keseimbangan, ia menahan diri. Demi keseimbangan, ia membiarkan Ratih memasukkan orang-orangnya. Demi keseimbangan, ia membuat Anindya berdiri sendirian di tengah istana yang lapar.

Kali ini tidak.

"Permaisuri benar," jawab Arjuna datar. "Justru karena ini menyangkut keseimbangan, aku harus memilih orang yang tidak mudah dibeli."

Senyum Ratih berhenti sekejap.

Baskara menunduk untuk menyembunyikan kilatan matanya.

Upacara dimulai. Satu per satu putri bangsawan maju. Ada yang membacakan puisi Jawa Kuno, ada yang menjawab pertanyaan tentang tata rumah tangga keraton, ada yang memainkan kecapi kecil. Setiap kali seorang gadis selesai memberi hormat, Ratih menyebutkan kelebihan keluarganya dengan nada lembut.

Ketika Raden Ayu Anggraini maju, bisik-bisik di balai terdengar lebih jelas.

Ia cantik, sadar bahwa ia cantik. Kebayanya berwarna putih gading, rambutnya disanggul rendah, matanya sedikit menunduk seolah malu. Di kehidupan lalu, wajah polos itu menjadi racun yang merusak kepercayaan Anindya.

"Raden Ayu Anggraini dari keluarga Tumenggung Prabowo," kata Ki Ageng Purwa.

Anggraini berlutut anggun. "Hamba memberi hormat kepada Baginda, Permaisuri, dan Yang Mulia Pangeran Mahkota."

Ratih menoleh pada Arjuna. "Raden Ayu Anggraini dikenal lembut dan pandai mengurus rumah besar. Keluarganya setia pada kerajaan."

Setia pada Baskara, tepatnya.

Arjuna tidak membiarkan matanya tinggal lama pada Anggraini. "Bagus."

Hanya satu kata.

Anggraini tampak kehilangan irama. Ia masih tersenyum, tetapi ujung jarinya mencengkeram kain di pangkuan.

Beberapa kandidat lain maju. Arjuna menjawab secukupnya. Tidak kasar, tetapi tidak memberi ruang harapan. Balai mulai gelisah. Banyak orang mengira Pangeran Mahkota memang sedingin kabar yang beredar.

"Dewi Anindya dari Kadipaten Jayawardana."

Arjuna merasakan seluruh dunia mengecil menjadi satu garis pandang.

Anindya maju dari deretan kursi. Kebayanya berwarna biru lembut, tanpa perhiasan berlebihan. Di rambutnya hanya ada rangkaian melati kecil. Langkahnya teratur, punggungnya tegak, tetapi Arjuna melihat tangan kirinya menahan ujung kain sedikit lebih erat dari perlu.

Ia gugup.

Dulu ia tidak menyadarinya.

Dulu ia hanya melihat cucu Adipati Agung Jayawardana, sebuah nama besar yang bisa memperkuat kedudukannya. Ia tidak melihat gadis muda yang memasuki sarang keraton dengan seluruh keberanian yang dikumpulkan diam-diam.

Anindya berlutut. "Hamba memberi hormat kepada Baginda, Permaisuri, dan Yang Mulia Pangeran Mahkota."

Suaranya jernih. Tidak terlalu pelan, tidak dibuat manis.

Prabu Naradewa mengamati dengan wajah sulit dibaca. "Cucu Jayawardana."

"Benar, Baginda," jawab Anindya.

"Kakekmu tidak hadir?"

"Eyang Jaya memohon ampun karena kesehatannya belum memungkinkan datang ke Balai Agung. Beliau menitipkan hormat untuk Baginda."

Kebohongan yang rapi. Arjuna tahu Eyang Jaya tidak datang bukan karena sakit, melainkan karena tidak sudi menyaksikan Naradewa memainkan cucunya seperti alat politik. Dalam kehidupan lalu, ia baru memahami keberanian lelaki tua itu bertahun-tahun kemudian.

Ratih tersenyum tipis. "Kadipaten Jayawardana sudah lama tidak terlalu aktif di Majelis Kerajaan. Apakah Gusti Putri terbiasa dengan urusan keraton?"

Pertanyaan itu halus, tetapi cukup tajam untuk membuat beberapa ibu bangsawan menunduk menahan senyum.

Anindya mengangkat wajah sedikit. "Hamba belum berani mengatakan terbiasa, Permaisuri. Namun Eyang mengajarkan hamba membaca laporan lumbung, catatan pajak tanah, dan perjanjian dagang keluarga sejak kecil. Bila keraton membutuhkan seseorang yang mau belajar, hamba akan belajar."

Balai Agung sunyi.

Jawaban itu tidak manis, tetapi kuat.

Arjuna hampir tersenyum.

Ratih mengangkat alis. "Laporan pajak dan dagang?"

"Keluarga Jayawardana pernah menjaga perbatasan, Permaisuri. Prajurit tidak bisa hidup dari pedang saja. Mereka butuh beras, kain, garam, dan jalur dagang yang aman."

Kali ini beberapa adipati tua benar-benar mengangguk.

Arjuna melihat Baskara menggeser posisi duduk. Sekecil apa pun, kegelisahan itu nyata. Baskara tidak suka jika keluarga Jayawardana terdengar berguna di hadapan raja.

Ki Ageng Purwa hendak mempersilakan Anindya kembali ke tempatnya, tetapi Arjuna lebih dulu berdiri.

Gerakan itu membuat seluruh balai terdiam.

"Tunggu."

Anindya membeku di tempat.

Arjuna turun dari undakan Pangeran Mahkota. Tidak ada bagian dalam tata upacara yang mengizinkan seorang pangeran mendekati kandidat sebelum keputusan diumumkan. Karena itulah setiap pasang mata langsung mengikuti langkahnya.

Adi yang berdiri di belakang pilar tampak hampir menjatuhkan nampan.

Arjuna berhenti di depan Anindya. Jarak mereka hanya dua langkah.

"Angkat wajahmu," katanya, suaranya lebih lembut daripada yang biasa didengar orang dari dirinya.

Anindya menurut. Mata mereka bertemu.

Untuk sesaat, Balai Agung, gamelan, Ratih, Baskara, bahkan Prabu Naradewa menghilang dari kesadaran Arjuna. Ia melihat lagi mata yang semalam tertutup di pangkuannya. Mata yang pernah memintanya agar tidak membiarkannya menunggu sendirian.

Tangannya bergerak mengambil bunga melati kecil yang terlepas dari sanggul Anindya dan jatuh di bahunya. Ia tidak menyentuh kulitnya. Hanya mengangkat bunga itu, lalu meletakkannya di atas nampan perak milik Ki Ageng Purwa.

Gerakan sederhana itu membuat bisik-bisik meledak tertahan.

Wajah Anindya memerah tipis. "Yang Mulia..."

"Kamu menjawab dengan baik," kata Arjuna.

Ratih akhirnya bersuara. "Pangeran Mahkota, upacara belum selesai."

Arjuna menoleh ke singgasana. "Baginda meminta Ananda memilih dengan mata jernih."

Prabu Naradewa menyipitkan mata. "Lalu?"

Arjuna berdiri tegak di tengah Balai Agung. Suaranya tidak keras, tetapi cukup jelas untuk mencapai sudut terjauh pendopo.

"Ananda memilih Dewi Anindya dari Kadipaten Jayawardana sebagai calon Putri Mahkota."

Hening jatuh seperti gong yang dipukul terlalu keras.

Anggraini menatapnya tanpa berkedip. Beberapa ibu bangsawan menutup mulut. Baskara masih tersenyum, tetapi buku jarinya memutih di lengan kursi. Permaisuri Ratih memandang Arjuna dengan mata yang tetap indah, hanya kehangatannya menghilang.

"Keputusan besar tidak semestinya tergesa," ujar Ratih pelan.

"Aku tidak tergesa," jawab Arjuna.

"Pangeran Mahkota baru mendengar satu jawaban darinya."

"Satu jawaban cukup untuk menunjukkan isi kepala seseorang."

Prabu Naradewa menatap putranya lama. Di wajah raja itu muncul sesuatu yang dulu sering Arjuna abaikan, rasa curiga yang selalu lebih cepat tumbuh daripada kasih.

"Kau yakin?" tanya Naradewa.

Arjuna menunduk hormat, tetapi tidak menurunkan suaranya. "Yakin, Baginda."

Anindya masih berlutut di depannya. Ia seharusnya merasa lega, bangga, atau takut. Namun yang paling kuat justru rasa aneh yang menekan dadanya. Pangeran Mahkota tidak menatapnya seperti seorang pria yang baru saja memilih kandidat terbaik.

Tatapan itu terlalu dalam.

Terlalu sakit.

Seolah ia telah mencarinya di tempat yang sangat jauh, lalu akhirnya menemukannya kembali di tengah balai penuh orang.

Ketika Ki Ageng Purwa mengumumkan keputusan itu dengan suara bergetar, semua orang menunduk memberi selamat. Anindya ikut menunduk, tetapi pikirannya tetap tertahan pada mata Arjuna.

Mengapa Yang Mulia menatapku seperti seseorang yang baru menemukan kembali miliknya yang hilang?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!