Chloe Weiss, pewaris tunggal di keluarga Weiss tapi nasibnya tidak seindah yang dibayangkan, Chloe dengan kondisinya yang sehat harus menelan pil pahit, saat ibu kandungnya meninggal dunia.
Ayah dan ibu tirinya bersekongkol memasukkannya ke rumah sakit jiwa, dan menguasai seluruh harta kekayaan yang di tinggalkan oleh ibunya.
Tapi setelah lima tahun kemudian, Chloe kembali dengan jiwa yang berbeda untuk merenggut apa yang menjadi miliknya.
Bukan hanya itu saja, Chloe juga mengambil calon suami saudara tirinya, dan apa yang di lakukannya itu membuat Ayah dan ibu tirinya sangat murka.?
Siapakah sosok jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss, gadis yang di kenal sangat lamah dan bodoh?
Apakah jiwa yang berada di tubuh Chloe Weiss itu juga mempunyai dendam dengan seseorang di kehidupan sebelumnya sehingga Alam dan semesta memberikannya kehidupan kedua.?
Yang penasaran, ikuti terus ceritanya sampai akhir 🤗🤗🥰.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Kemiripan
Sesampainya di dalam kamar, Chloe meletakkan piring berisi jeruk di atas nakas, lalu ia melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sebelum tidur.
Air hangat mengalir dari shower, membasahi rambut panjangnya yang tergerai. Uap memenuhi ruangan. Chloe memejamkan mata.
Di kepalanya berputar semua kejadian hari ini. Penjara bawah tanah di markas Black Kobra. Markas milik Daddy-nya, Tuan Maximilian, yang berada di Geneva.
Tangan Vivian yang bergetar hebat saat menandatangani surat pelepasan hak.
Teriakan Serena di mansion keluarga Weiss, yang tidak terima semua harta warisan yang ia rampas lima tahun lalu diambil kembali oleh Chloe, sang pemilik asli.
Dan Eleanor yang tiba-tiba berubah dan peduli kepadanya.
DUG
Chloe membuka mata. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang sudah berkabut.
Wajah itu masih terlihat tirus, tapi cantik. Dan jika diperhatikan terlalu lama, wajah Chloe Weiss ini ada kemiripannya dengan wajah Queen Daisy.
Chloe tersenyum. "Jiwa Chloe memang sudah mati... tapi jiwa Queen Daisy menolak mati," gumamnya pelan. Air masih menetes dari dagunya. "Dan sekarang Chloe yang dulunya polos, bodoh, dan lemah kini menjadi Chloe yang menuntut."
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu membilasnya. Setelah selesai, Chloe keluar dengan balutan handuk putih. Rambutnya masih basah.
Ia segera melangkah ke lemari besar dan mengambil dress tidur sutra hitam, lalu memakainya.
Lalu ia melangkah ke tepi ranjang king size, duduk di sana sambil mengusap kepalanya dengan handuk kering.
Angin malam dari jendela yang sedikit terbuka menyapu kulitnya. Dingin.
Chloe menatap langit-langit kamar yang luas. Kamar Erivo yang bernuansa hitam dan putih. Senyumnya terukir di bibir cantiknya.
"Sudah dua tahun lamanya... tapi kenapa dia belum bisa melupakan cinta masa lalunya," gumamnya.
Ia meraih piring jeruk di atas nakas. Jeruk yang tadi dikupas Eleanor untuknya. Ia memakannya pelan. Manis. Tapi di ujung lidahnya tetap ada rasa pahit.
TOK TOK
Suara ketukan pelan di pintu membuat gerakannya terhenti.
Chloe tidak langsung bersuara. Ia meletakkan piring jeruk kembali ke atas meja nakas, dan merapikan duduknya.
"Masuk."
Pintu terbuka. Eleanor berdiri di ambang pintu, masih mengenakan dress rumah berwarna cream. Di tangannya ada segelas susu hangat.
"Aku kira kau sudah tidur," ucap Eleanor, suaranya lembut.
Chloe menatapnya datar, tapi tidak sedingin biasanya. "Belum, Ma," ucapnya.
Eleanor melangkah masuk, lalu meletakkan susu di nakas sebelah piring jeruk. "Minum ini, biar tidurmu nyenyak."
"Terima kasih," jawab Chloe singkat. Tapi nada suaranya tidak setajam biasanya.
Eleanor tersenyum tipis. Ia menatap Chloe dari atas ke bawah. "Kenapa kau mirip dengan mantan kekasih Erivo? Dari kelakuan, karaktermu, ekspresimu, dan wajahmu juga sedikit ada kemiripan?"
DUG
Jantung Chloe seakan berhenti sejenak. "Jangan samakan aku dengan dia, Ma," potong Chloe. Suaranya rendah.
Eleanor mengangguk. "Aku tidak menyamakanmu. Hanya saja setiap melihatmu aku selalu teringat dia." Wanita paruh baya itu menarik napas. "Istirahatlah. Jangan menunggu Erivo pulang. Mungkin dia masih sangat sibuk."
Tanpa menunggu jawaban, Eleanor keluar dan menutup pintu pelan.
Kamar kembali hening.
Chloe menatap gelas susu itu lama. Lalu ia meraihnya, menyesap sedikit. Hangat.
Dalam hati ia bergumam, "Tentu aku mirip mantan kekasih Erivo yang orang kira sudah mati itu... Karena aku adalah jiwa yang sama tapi tubuh yang berbeda."
Ia mematikan lampu. Kamar gelap.
Hanya cahaya bulan yang masuk dari jendela, jatuh tepat di wajah Chloe yang terbaring.
Malam semakin larut. Sunyi.
Chloe memejamkan mata, tapi otaknya tidak berhenti bekerja. Dua hari. Waktu itu terus berputar di kepalanya.
Apakah Alexander akan patuh?
Apakah Serena akan mengamuk?
Dan Erivo... seperti apa reaksinya nanti jika pria itu tahu, jika jiwa yang ada di dalam tubuh Chloe Weiss ini adalah jiwa Queen Daisy, mantan kekasihnya yang kabarnya sudah meninggal karena dibunuh musuh dengan cara yang sangat tragis?
Chloe kembali membuka matanya, menghela napas dengan cukup kasar. "Hidup ini dipenuhi dengan tantangan... Aku kembali hidup di tubuh saudara tiriku yang lemah. Tapi di kehidupan ini, aku harus berhadapan dengan balas dendam yang sangat sulit."
Chloe menatap keluar jendela. Bulan bersinar begitu terang menyinari kota Geneva di malam hari.
Perlahan ia kembali memejamkan mata. Hanya ada satu mimpi. Mimpi tentang dirinya sendiri berdiri di puncak Weiss Group. Dengan nama Chloe Weiss.
Sebagai seorang Daisy Aira Schwarz, ia tidak kekurangan harta dan kekuasaan sedikit pun. Mengingat Papinya, Maximilian Schwarz, seorang pengusaha besar di kota Zurich. Bukan hanya perusahaan yang besar, tapi juga bisnis gelapnya yang luas.
Tapi sebagai Chloe Weiss, ia sangat pantas merebut kembali harta peninggalan ibunya yang dikuasai oleh Alexander dan Serena selama lima tahun ini.
Tak lama, suara pintu kamar terbuka. Chloe tidak membuka mata. Ia tahu siapa yang datang.
Erivo. Yang baru pulang dari kantor.
Erivo melangkah masuk dengan pelan dan sangat hati-hati saat ia melihat Chloe sudah tidur di atas ranjang. Pria itu sama sekali tidak ingin mengganggu tidur wanita itu.
Jas hitamnya ia lepas, digantung di sofa. Dasinya ia kendurkan. Wajahnya terlihat lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya cukup jelas.
Erivo melirik ke arah nakas. Ada piring jeruk setengah habis dan segelas susu yang sudah tersentuh.
Alisnya sedikit berkerut, lalu tersenyum tipis.
Tatapannya jatuh pada Chloe. Dress tidur sutra hitam, rambut masih setengah basah, dan wajah yang tenang di bawah cahaya bulan.
Dadanya sesak tanpa sebab.
"Sudah dua tahun..." bisik Erivo sangat pelan. Seolah takut membangunkan Chloe. "Tapi kenapa kau membuatku merasa seperti melihatnya lagi."
DUG
Chloe di dalam selimut mengepalkan tangannya. Tapi ia tetap tidak bergerak. Napasnya dibuat teratur seolah benar-benar tertidur.
Erivo berjalan mendekat. Berhenti di tepi ranjang. Ia menatap Chloe lama. Dari ujung rambut sampai ujung kaki.
Ada kemiripan. Cara tidur miring. Cara alisnya sedikit mengerut saat tidur. Bahkan cara bibirnya terkatup rapat.
Tapi tidak mungkin. Queen Daisy sudah mati. Dua minggu lalu.
Erivo menghela napas. Ia meraih selimut dan merapikan selimut Chloe dengan hati-hati. Jarinya sempat menyentuh pipi Chloe. Dingin.
Chloe menahan napas.
"Maaf," ucap Erivo pelan. "Maaf karena saudara tirimu yang pergi entah ke mana, kaulah yang menjadi penggantinya. Menjadi istriku. Maaf aku belum bisa memberimu tempat di hatiku."
Chloe ingin tertawa. Ingin membuka mata dan mengatakan, "Tidak perlu minta maaf, karena akulah yang sudah merencanakan itu semua."
Tapi ia tidak melakukannya. Waktunya belum tepat untuk Erivo ketahui.
Erivo berbalik, berjalan ke kamar mandi. Suara shower terdengar dari dalam.
Baru setelah suara air mengalir, Chloe membuka matanya.
Matanya tajam. Tidak ada kantuk sama sekali.
Ia duduk, menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
Dalam hati ia bergumam, "Jadi selama dua minggu ini kau masih meratapi kematianku, Erivo. Sebesar itu kah cintamu kepadaku... Kepada Queen Daisy yang raganya sudah mati dan hancur, tapi jiwanya masih hidup dan kini menjadi istrimu, berada di depan matamu."
Chloe meraih gelas susu tadi. Diminumnya sampai habis. Hangat.
"Baiklah, Erivo... Di kehidupan keduaku ini kau tidak akan mengenaliku sebagai Queen Daisy. Tapi sebagai Chloe Weiss. Wanita yang akan menghancurkan semua orang yang pernah menyakitiku. Kekejamannya lebih kejam dari Queen Daisy yang kau kenal dulu."
KLIK
Suara pintu kamar mandi terbuka. Uap keluar.
Erivo keluar dengan handuk melingkar di pinggang. Air di rambutnya masih menetes. Dada bidangnya yang berotot terlihat jelas. Ia terkejut saat melihat Chloe duduk di atas ranjang.
Keduanya saling tatap. Hening.
Chloe tersenyum tipis. Dingin. "Selamat malam, Tuan Erivo."
Erivo mengerutkan keningnya. Dengan cepat ia meraih kaos di atas sofa dan memakainya.
"Kau belum tidur?"
Chloe mengangguk. "Aku menunggu suamiku pulang. Bukankah itu tugas istri."
DUG
Erivo terdiam. Tatapannya menyapu wajah Chloe. Ada sesuatu yang mengusik di kepalanya. Sesuatu yang familiar.
----
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys 😊🙏 Like, komen dan Vote 🥰🤗.
dan skraang queen ad ddsnaa ,, d tubuh Chloe weiss
baru berkarya lgiii ,,
tenang aq gx kmn2 tetap mantengin NT buat nunggu kelanjutan cerita kk ,,
🤭🤭🤭🫣🫣🫣😂😂😂😂😂
tp apa gx kaget tuh nanti pa mertua dr Zurich dtg ke geneva ,,🤔🤔🤔🤔😂😂😂
sebagai penebus dy dlu menyakiti queen daisy tanpa sadar ,,
menguasai harta yg bukan hak ny ,,
membuang pewaris ,, tp tenang karma mereka sdang otw menghampiri 😏😏😏😏😏
dtggu kelanjutan ny yx kak
semakiiiiin memanaaas ,,