NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 2 : Aturan Sang Suami

Mobil hitam yang membawa Arka Mahendra dan Nadira melaju membelah jalanan ibu kota dengan keheningan yang begitu menyesakkan. Setelah prosesi akad yang berlangsung beberapa jam sebelumnya, tidak ada percakapan hangat sebagaimana lazimnya pasangan pengantin baru. Tidak ada candaan, tidak ada rasa canggung yang diselingi senyum malu. Yang terdengar hanyalah suara mesin mobil dan sesekali deru kendaraan lain yang melintas.

Nadira duduk di kursi belakang dengan kedua tangan saling menggenggam di atas pangkuan. Gaun pengantin yang masih melekat di tubuhnya terasa semakin berat, seolah ikut memikul beban yang memenuhi pikirannya. Sesekali ia melirik ke arah Arka yang duduk di sampingnya.

Pria itu sama sekali tidak menoleh.

Tatapannya lurus ke depan, sesekali memeriksa layar tablet yang sejak tadi berada di tangannya. Beberapa kali ponselnya bergetar karena panggilan masuk, tetapi ia hanya menjawab singkat dengan nada profesional.

"Ya."

"Besok pagi jadwal rapat tetap berjalan."

"Kirimi laporan sebelum pukul tujuh."

Tidak ada sedikit pun pembicaraan mengenai pernikahan mereka.

Bahkan seolah-olah akad yang baru saja berlangsung hanyalah salah satu agenda kerja yang telah selesai dilaksanakan.

Nadira menundukkan kepala. Ia sudah mengingat janjinya pada diri sendiri untuk tidak berharap apa pun dari pria itu. Namun tetap saja, ada rasa asing yang menggerogoti hatinya.

Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil memasuki sebuah kawasan elite yang dipenuhi rumah-rumah megah dengan penjagaan ketat. Gerbang besi berukuran besar terbuka secara otomatis ketika mobil mereka mendekat.

Di balik gerbang itu berdiri sebuah mansion bergaya modern yang begitu luas.

Bangunannya menjulang tiga lantai dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari sore. Halaman depan dipenuhi taman yang tertata rapi, lengkap dengan air mancur dan deretan bunga yang bermekaran.

Nadira terpaku.

Rumah itu jauh melampaui apa pun yang pernah ia bayangkan.

Ia yang selama ini tinggal di rumah sederhana hanya bisa menghela napas pelan.

"Mulai hari ini, ini rumahmu."

Suara Arka memecah lamunannya.

Namun kalimat itu tidak terdengar hangat.

Lebih menyerupai pemberitahuan daripada sambutan.

Pintu mobil dibukakan oleh seorang pelayan. Begitu mereka turun, beberapa staf rumah tangga sudah berdiri berjajar di depan pintu utama.

"Selamat datang, Tuan Arka."

"Selamat datang, Nyonya."

Ucapan mereka terdengar kompak.

Nadira sedikit terkejut mendengar sapaan itu. Ia masih belum terbiasa dipanggil "Nyonya". Status barunya terasa begitu asing.

Arka hanya menganggukkan kepala singkat sebelum melangkah masuk.

Nadira mengikuti dari belakang.

Bagian dalam rumah itu bahkan lebih mewah dibandingkan tampilan luarnya. Langit-langit tinggi dihiasi lampu kristal besar. Lantai marmer putih mengilap memantulkan bayangan setiap orang yang melintas. Lukisan-lukisan bernilai tinggi menghiasi dinding, sementara berbagai perabot tampak dipilih dengan cita rasa yang elegan.

Namun di balik kemewahan itu, suasananya terasa dingin.

Rumah sebesar ini justru sunyi.

Tidak terdengar tawa keluarga.

Tidak ada suara televisi.

Tidak ada aroma masakan rumahan.

Semuanya tampak begitu rapi hingga menyerupai hotel berbintang.

Arka berhenti di ruang keluarga.

"Ikut."

Nadira mengangguk pelan.

Mereka memasuki sebuah ruang kerja yang luas. Rak-rak buku memenuhi salah satu sisi ruangan, sementara meja kerja besar berdiri menghadap jendela.

Arka duduk di kursinya.

Ia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah map hitam.

"Lihat ini."

Nadira menerima map tersebut dengan kedua tangan.

Di halaman depannya tertulis jelas:

**Aturan Pernikahan Kontrak**

Jantung Nadira berdegup pelan.

Ia mulai membuka halaman demi halaman.

Arka berbicara tanpa sedikit pun mengubah ekspresi wajahnya.

"Agar tidak terjadi kesalahpahaman, semua aturan kita tertulis di sana."

Nadira membaca dengan saksama.

Setiap poin disusun rapi.

Setiap kalimat terdengar begitu resmi.

Seolah-olah ia sedang menerima peraturan perusahaan, bukan aturan rumah tangga.

Arka mulai menjelaskan satu per satu.

"Aturan pertama."

Ia menatap Nadira.

"Kita tidur di kamar terpisah."

Nadira mengangguk pelan.

"Aku sudah menyiapkan kamarmu."

Ia kembali membuka halaman berikutnya.

"Aturan kedua."

"Kita tidak ikut campur urusan pribadi masing-masing."

Arka melanjutkan penjelasannya.

"Aku tidak akan bertanya tentang kehidupanmu sebelum menikah. Begitu juga sebaliknya. Jangan pernah bertanya mengenai pekerjaanku, hubungan bisnis, ataupun keputusan pribadiku."

Nadira mengangguk lagi.

Ia memahami bahwa sejak awal Arka memang ingin menjaga jarak.

"Aturan ketiga."

"Hanya tampil sebagai pasangan ketika diperlukan."

Arka bersandar di kursinya.

"Di depan keluarga, rekan bisnis, media, atau acara resmi, kita adalah suami istri yang harmonis."

Ia berhenti sesaat.

"Begitu acara selesai, kita kembali menjalani kehidupan masing-masing."

Nadira menarik napas panjang.

Semuanya sesuai dengan isi kontrak yang telah ia baca sebelumnya.

Namun mendengar penjelasan langsung dari Arka membuat kenyataan itu terasa semakin nyata.

Arka melanjutkan.

"Aturan keempat."

"Privasi."

"Kamar kerjaku tidak boleh dimasuki tanpa izin."

"Kau juga berhak memiliki ruang pribadimu."

"Jika ada sesuatu yang ingin kau butuhkan, sampaikan kepada kepala pelayan."

Nadira kembali mengangguk.

Ia mulai memahami bahwa semua hal di rumah ini berjalan berdasarkan sistem yang teratur.

Bahkan hubungan suami istri pun diatur sedetail mungkin.

"Aturan kelima."

"Tidak ada hubungan emosional."

Kalimat itu membuat Nadira perlahan mengangkat wajah.

Arka berkata dengan nada yang sama dinginnya.

"Jangan menganggapku sebagai suami dalam arti yang sebenarnya."

"Kita menjalankan peran."

"Bukan membangun perasaan."

Hening kembali memenuhi ruangan.

Nadira menggenggam map itu sedikit lebih erat.

Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan.

Meski ia telah menyiapkan diri sejak awal, tetap saja mendengar semua aturan itu membuat hatinya terasa perih.

Ia mencoba tersenyum tipis.

"Aku mengerti."

Arka memperhatikannya beberapa saat.

"Kau tidak keberatan?"

Nadira menggeleng.

"Aku sudah mengetahui isi kontrak sebelum menandatanganinya."

"Tugas kita hanya menjalankan kesepakatan."

Arka tampak cukup puas dengan jawaban itu.

"Bagus."

Ia berdiri dari kursinya.

"Kau tidak akan mengalami kesulitan selama mematuhi semua aturan."

Nadira menatap map yang masih berada di tangannya.

"Apakah ada lagi yang harus aku ketahui?"

Arka menjawab singkat.

"Untuk sementara cukup."

Kemudian ia memanggil seseorang melalui interkom.

Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya memasuki ruangan.

"Wati."

"Ya, Tuan."

"Antarkan Nyonya ke kamarnya."

Wanita itu tersenyum ramah kepada Nadira.

"Silakan ikut saya, Nyonya."

Senyum hangat itu menjadi hal pertama yang sedikit mengurangi ketegangan di hati Nadira sejak memasuki rumah tersebut.

Mereka menaiki tangga menuju lantai dua.

Sepanjang perjalanan, Wati menjelaskan letak beberapa ruangan.

"Itu ruang baca."

"Sebelah sana ruang olahraga."

"Di ujung koridor ada balkon yang menghadap taman."

Nadira hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk.

Rumah ini terlalu besar untuk dihafalnya dalam satu hari.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu berwarna putih.

"Inilah kamar Nyonya."

Pintu dibuka perlahan.

Ruangan itu begitu luas dengan dominasi warna krem dan putih. Tempat tidur berukuran besar berada di tengah ruangan. Lemari pakaian, meja rias, sofa, hingga balkon pribadi semuanya telah tersedia.

Bahkan sebuah ruangan khusus untuk berjalan masuk ke dalam lemari pakaian dipenuhi berbagai pakaian baru yang masih berlabel.

Nadira memandang semuanya dengan tertegun.

"Apa semua ini… untukku?"

Wati tersenyum.

"Semua sudah dipersiapkan oleh Tuan Arka."

Nadira sedikit terkejut.

"Beliau yang memilih?"

"Beliau meminta tim khusus menyiapkannya."

Jawaban itu membuat Nadira kembali sadar.

Semua fasilitas ini bukan karena perhatian seorang suami.

Melainkan bagian dari tanggung jawab dalam kontrak.

Tetap saja, ia bersyukur.

Setidaknya keluarganya kini terbebas dari lilitan utang.

Setelah Wati pamit keluar, Nadira duduk perlahan di tepi tempat tidur.

Ruangan itu begitu sunyi.

Ia memandang cincin yang melingkar di jari manisnya.

Beberapa jam lalu cincin itu menjadi simbol ikatan pernikahan.

Namun kini terasa seperti pengingat bahwa kehidupannya telah berubah sepenuhnya.

Tak lama kemudian terdengar ketukan pelan.

"Nyonya?"

"Silakan masuk."

Seorang pelayan membawa beberapa koper.

"Barang-barang dari rumah lama sudah kami pindahkan."

Nadira mengucapkan terima kasih.

Ia membuka salah satu koper dan menemukan foto keluarganya.

Foto sederhana ketika mereka masih bisa tersenyum tanpa beban.

Ia memegang bingkai itu cukup lama.

"Ayah... Ibu..."

Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh.

Namun hanya beberapa tetes.

Ia segera mengusapnya.

Ia tidak ingin larut dalam kesedihan.

Malam mulai tiba.

Rumah besar itu kembali tenggelam dalam keheningan.

Wati datang mengetuk pintu.

"Nyonya, makan malam sudah disiapkan."

Nadira turun menuju ruang makan.

Meja panjang dipenuhi berbagai hidangan mewah.

Namun hanya ada dua kursi yang telah disiapkan.

Tak lama kemudian Arka datang.

Ia sudah berganti pakaian menjadi kemeja santai berwarna gelap.

Meski penampilannya lebih kasual, ekspresinya tetap sulit ditebak.

Mereka duduk saling berhadapan.

Tak satu pun membuka percakapan.

Yang terdengar hanyalah denting sendok dan garpu.

Nadira sesekali ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengingat aturan yang baru diterimanya, ia mengurungkan niat.

Arka sendiri tampak fokus menikmati makan malam.

Beberapa menit kemudian ia meletakkan alat makannya.

"Besok pagi aku berangkat ke kantor pukul tujuh."

Nadira mengangguk.

"Baik."

"Kau tidak wajib ikut."

"Jika keluarga datang, Wati akan memberi tahu."

"Kalau ada acara resmi, sekretarisku akan mengirim jadwal."

"Baik."

Jawaban Nadira tetap singkat.

Arka berdiri.

"Selamat malam."

"Selamat malam."

Pria itu langsung meninggalkan ruang makan tanpa menoleh lagi.

Nadira memperhatikan punggung suaminya hingga menghilang di balik koridor.

Hubungan mereka bahkan terasa lebih asing dibandingkan dua orang yang baru saling mengenal.

Malam itu Nadira berdiri di balkon kamarnya.

Angin berembus lembut menerpa wajahnya.

Dari kejauhan terlihat gemerlap lampu kota yang begitu indah.

Namun keindahan itu tidak mampu mengusir rasa sepi yang memenuhi hatinya.

Ia sadar, mulai hari ini kehidupannya akan berjalan berdasarkan aturan.

Ia memiliki kamar yang nyaman, pakaian yang indah, dan rumah yang megah.

Namun semua kemewahan itu tidak serta-merta menghadirkan kehangatan.

Di sisi lain koridor, Arka memasuki kamar pribadinya.

Ia melepaskan jas yang masih dikenakannya sejak sore.

Tatapannya sempat tertuju pada cincin pernikahan di jari manisnya.

Selama beberapa detik ia terdiam.

Kemudian ia menarik napas pelan sebelum kembali membuka laptop dan melanjutkan pekerjaannya seperti biasa.

Bagi Arka, pernikahan itu hanyalah solusi.

Sebuah kesepakatan yang akan mempermudah berbagai urusan keluarga dan perusahaan.

Tidak lebih.

Sementara bagi Nadira, pernikahan itu adalah pengorbanan terbesar dalam hidupnya.

Ia telah menyerahkan masa depan dan impiannya demi menyelamatkan kedua orang tuanya.

Kini, di bawah atap rumah yang sama, dua insan menjalani kehidupan dengan tujuan yang sangat berbeda.

Mereka resmi menjadi suami istri.

Namun dipisahkan oleh tembok tak kasatmata yang dibangun dari aturan, jarak, dan hati yang sama-sama memilih untuk tidak saling mendekat.

Malam pertama mereka pun berlalu dalam dua kamar yang berbeda, menandai dimulainya kehidupan sebagai pasangan yang hanya akan tampak bersama ketika dunia membutuhkannya, sementara di balik pintu rumah mewah itu, mereka hanyalah dua orang asing yang terikat oleh sebuah kontrak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!